
Hayu kembali kerumahnya, setelah menyelesaikan hal-hal gila yang memuakkan dengan orang yang menyebalkan itu. Bagaimanapun ia harus yakin dengan keputusan.
Semoga Devan tidak mengetahuinya setidaknya hanya sampai seminggu...'
Namun, kembali lagi dengan mulut ember warga-warga disini. Hayu yakin sekali, tidak sampai dua hari mungkin Devan sudah mengetahuinya dari cerita-cerita warga-warga disini. Dan, Hayu tentunya tidak menginginkan itu terjadi.
Tapi apa solusinya! Harusnya jujur!
Jelas-jelas kemarin sudah diceritakan apa-apa harus jujur sama Suami supaya tidak terjadi kesalahpahaman,' batin Hayu tersadar. Lalu dengan keberaniannya ia ingin mengatakan sejujur-jujurnya pada Devan.
Sembari menunggu Devan mandi, Hayu menyiapkan makan malam.
"Mas... ayo makan, sekalian nanti ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu," jelas Hayu, membuat rasa curiga Devan semakin besar.
"Baiklah," sahut Devan seadanya. Ia tidak mau kehilangan Hayu tidak saat ini, ia akan menjadikan Hayu miliknya.
Seusai makan, Ratna pergi untuk kumpulan Ibu-ibu bersama Ibu Kades. Dan, itu adalah kesempatan emas yang seolah-olah Allah restui untuknya.
Devan duduk dikamar sambil memikirkan kembali apa yang akan dia lakukan? Apa itu benar?
Ceklek!
Hayu datang menatap Devan. Lalu saat hendak duduk disamping sang Suaminya. Tiba-tiba Devan menarik tubuhnya hingga telentang di kasur.
"Akhhh!" Hayu melotot kaget. Ia terlibat benar-benar syok dengan perbuatan Devan yang tiba-tiba.
"Ap---Apa yang kau lakukan, Mas!" pekik Hayu dengan nafas tersengal-sengal.
__ADS_1
Devan tidak menjawab namun ia lebih dulu membungkam Hayu dengan bibirnya. Hayu melotot sempurna tubuhnya membeku dan ia bahkan menahan nafasnya lama.
Ap-Apa yang sedang terjadi?' batin Hayu, masih diam.
"Bernafaslah, sayang," bisik Devan lembut ditelinga Hayu. Hingga membuat bulu kuduk Hayu berdiri. Tubuhnya meremang seakan-akan meminta lebih yang dirinya sendiri tidak tahu hal apa itu.
"K-kenapa kamu cium aku?" tanya Hayu dengan pipi merona.
Devan menyeringai. "Kenapa? Apa itu haram untukku melakukannya dengan Istriku sendiri?" tanya Devan balik, membuat Hayu diam sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Hening!
Sesaat mereka saling pandang, membuat gejolak dalam diri Devan semakin menggebu-gebu.
Aku menginginkannya.'
Deg!
Jantung Hayu berdegup kencang. "Ap---Apa maksudnya? Hakmu? Hak yang mana?" tanya Hayu, ya walau ia sedikit mengerti, namun ia takut. Takut salah mengartikan permintaan Devan.
Namun, nyatanya....
"Aku menginginkanmu menjadi Istriku seutuhnya." Devan langsung menyerang Hayu, tak membuat gadis itu memiliki waktu untuk menjawab.
Terjadilah, pertempuran luar biasa malam itu. Suara-suara laknat terus mengisi keheningan malam itu, membuat siapa yang mendengarnya tau perbuatan apa itu.
...****************...
__ADS_1
Esoknya.
Hayu terbangun dari tidurnya. Namun, sayang. Ia tidak mendapati Suaminya disampingnya.Kemana Devan? Apa sudah enak ia langsung ditinggal saja?
pikiran-pikiran jahat sudah menguasainya.
Sudahlah. Jangan berburuk sangat dulu, sebaiknya aku mandi. Tubuhku lengket,' batin Hayu.
"Akh!"
Tubuhnya sangat sakit, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Bahkan bagian sensitifnya terasa perih.
Ternyata benar kata Ibu-ibu disini, ada enaknya ada sakitnya,' batin Hayu seketika wajahnya memerah.
Blush!
"Berhenti! Berhenti memikirkan kejadian semalam!" pekik Hayu pada dirinya. Ia memukul-mukul kepalanya agar pikiran kotor itu hilang namun sebelum selesai.
Devan sudah datang dengan cemas karena mendengar suara jatuh.
"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Devan, membantu Hayu yang terduduk dilantai.
"Sakit," rengek Hayu. Namun, Devan hanya diam.
Ya... walaupun sudah dapat jatah semalam bukan berarti dirinya tidak akan marah lagi.
Apa lagi Hayu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi tanpa izin darinya.
__ADS_1