
Sejak hari itu, Devan terus mencari keberadaan seseorang dengan nama akun 'HaGid' nama yang begitu membuatnya kalang kabut, sebab sejak hari itu akun tak dikenal itu terus meneror Keamanan Perusahaannya, walau tidak banyak membuatnya rugi.
Tetap saja, itu berbahaya. Devan pikir, mungkin sekarang akun itu tidak di bayar Perusahaan manapun, hanya ingin mengetes dan mempermainkan Perusahaannya saja.
"Jangan bodoh, jika dia memang dibayar. Dia pasti akan menyerang Perusahaan kita habis-habisan, karena aku dapat melihat dia memiliki kemampuan untuk hal itu," jelas Devan, ia merasa gelisah. Tapi, terbesit rasa bangga yang entah berasal darimana.
Harusnya ia kesal dan tidak terima. Karena didunia ini ada seseorang yang bisa mengalahkan kemampuannya dalam bidang hacker. Ralat, lebih tepatnya menyaingi dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain, di Sebuah Desa.
Gio beberapa hari ini terus tersenyum senang. Hingga membuat Hayu terheran-heran sendiri.
"Ada apa denganmu, Nak? kenapa beberapa hari ini kamu selalu tersenyum sendiri?" tanya Hayu, membelai wajah Putranya.
Gio yang ditanyai seketika gugup."Emmm... anuh, Ma. Gio hanya senang saja mendapatkan teman baru di game. Dia sangat baik dan mudah sekali di permainkan," jelas Gio. Namun, dalam hatinya berkata lain. "Aku bertemu Papa dan mempermainkan Perusahaannya."
__ADS_1
"Dipermainkan?"
"Ah, maksudnya diajak bercanda," jelas Gio, takut Mamanya salah paham.
"Oh, begitu."
Hari ini, di Desa ada hari keluarga. Dimana biasanya pasangan suami-istri juga anaknya bermain bersama mengikuti berbagai perlombaan. Hal inilah yang Hayu takutkan, ia takut Gio akan semakin merasakan ketidak hadiran Papanya.
Acara ini sengaja digelar untuk pertama kalinya, untuk mengenang jasa orang tua selama ini, juga memberi kegembiraan untuk keluarga.
"Hei, Gio! Kau ikut perlombaan sama Papa dan Mamamu, tidak?" tanya seorang bocah perempuan.
"Seperti tidak. Aku hanya memiliki Mamaku. Bahkan aku tak memiliki Papa, wajahnya pun aku tidak tahu," jelas Gio, dengan dingin. lalu pergi mendekati Hayu.
Hayu melihat dari kejauhan, hatinya terasa teriris pedih. Ia tahu, walau Putranya selalu bersikap dingin dan diam. Hayu tau jauh di dalam lubuk hatinya Gio menginginkan keluarga.
maafin, Mama Gio. Tapi... Mama tidak bisa menikah lagi untuk memberikan kamu sebuah keluarga. Mama sangat mencintai Devan. apa yang harus aku lakukan, Ya Allah.'
__ADS_1
Hayu terus mengucapkan doa dalam hatinya.
"Mama. Ayo pulang," ajak Gio. Maaf, Ma. Aku sengaja bilang seperti itu.'
Ya, ini rencana Gio. Ia akan memulai rencana dari yang terendah, yaitu membuat Mamanya simpati padanya. Gio sebenarnya tidak terlalu memperdulikan tentang acara keluarga itu. Karena ia juga sudah menemukan Papanya.
Hanya saja ia perlu waktu untuk menyatukan kembali keluarganya. Ia juga harus menjauhkan dokter Dafa dari Mamanya selama ini. Hingga sampai selama ini, Dokter Dafa tidak bisa menemui Hayu.
"Hayu."
Baru saja di pikirkan. Dia sudah datang,' gumam Gio dalam hatinya.
Yaps, Dafa datang. Dia mendekati Hayu. Membuat Gio merasa tidak senang, menurutnya ia masih mendukung Papanya.
Entah kenapa aku yakin. Jika Papa masih mencintai Mama dan menginginkan Mama,' batin Gio dengan pendapatnya saat itu.
"Ada apa, Dokter Dafa?" tanya Hayu ramah. Ia sudah lama tak bertemu Dafa dan menurutnya perasaan Dafa padanya sudah menghilang. Namun, dugaannya salah. Diam-diam Dafa selalu memerhatikan Hayu dan masih menyukainya..
__ADS_1
Hanya saja lelaki itu menunggu momen yang pas untuk dirinya mendekati diri dengan Hayu kembali. Ia harus memulainya dari Gio.
Aku tau, bocah ini tidaklah mudah untuk dihadapi. Tapi aku yakin, aku bisa menghadapinya,' batin Dafa sedikit percaya diri.