Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 57 – Yang diSukai Devan?


__ADS_3

**Maaf, semuanya.


Telat up, karena kemarin othor sakit karena hujan-hujanan 😂


Alhamdulillah, habis kerikan udah mendingan bisa nulis lagi walau kepala masih nyat-nyut, demi pembaca setia othor ♥♥♥♥


......~HAPPY READING**~......


Hayu kembali dengan lesu. Rasanya energinya sudah benar-benar habis. Sepanjang perjalanan ia berusaha merangkai kata-kata yang tepat yang akan ia beritahukan pada Putranya tentang keadaan Devan. Waktu mereka disini tidak banyak, untuk memulihkan ingatan pastinya membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Assalamu'alaikum." Hayu menatap isi rumahnya terasa hening. Kemana Gio dan Pian?' batin Hayu. Ia melangkah menuju rumah Pian, dan benar saja keduanya sedang asyik mengobrol disana.


"Apa yang kalian bicarakan, sepertinya sangat menyenangkan? Sampai-sampai tidak menyadari kedatanganku?" tanya Hayu, membuat keduanya kaget.


"Mama!" pekik Gio, langsung memeluk Hayu. "Bagaimana hari pertama kerja? Apa Mama bertemu Papa?" tanya Gio, antusias. Melihat wajah berharap Putranya Hayu menjadi semakin uring-uringan, harus apa ia sekarang.


Apa mereka harus disini, membantu Devan mengingat tentang Hayu? Atau, mereka kembali tanpa mendapatkan hasil apapun? Aku hanya takut, bagaimana jika Keluarganya tau Devan memiliki seorang anak dan mereka mengambil Putraku, aku... aku tidak bisa!'


"Y-ya, Mama bertemu dengannya tadi. Hanya saja... di-dia melupakan semua tentang Mama," lirih Hayu, menunduk kepalanya.


"Tidak apa-apa, Ma. Kita bisa membantu Papa mengingat Mama, bukan?" Gio Malaikat kecil itu tersenyum sembari memberikan dukungan kepada Hayu.


Gadis berusia 22 tahun itu, memeluk Putranya dengan tangis haru. "Maafin, Mama... Mama janji, akan berjuang membuat Papamu mengingatmu," ucap Hayu.


Gio dan Pian saling kode dibelakang sana, mengeluarkan jempolnya menandakan rencana mereka berhasil. Maafin Gio, Mama. Tapi ini demi Mama... Kita akan kembali jika kita memang benar-benar tidak berhasil dan Mama menyerah,' batin Gio.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Hei! Kamu anak baru, belikan kopi latte sekarang," ujar seorang pegawai pada Hayu.


"Ah, baiklah." Setelah menerima uang, Hayu segera membelikannya.


"Ada-ada saja... Mentang-mentang aku anak baru, emang harus diperlakukan seperti itu? Orang-orang kota emang gak ada sopan santun," gumam Hayu kesal.


Sebab, baru hari kedua kerja ia sudah mendapatkan banyak perilaku buruk, mulai dari disuruh hal yang bukan tugasnya, membelikan makanan bolak-balik, bahkan dimarahi dengan makian-makian yang menyakitkan hati.


Sabar. Itulah kuncinya. Ia harus sabar demi mengembalikan ingatan Devan. Jika hanya segini saja ia tak mampu, bagaimana nantinya ia menghadapi Devan dan keluarga jika sewaktu-waktu mereka mengetahui tentang Gio dan ingin mengambil Gio.


Karena cafe suku ramai, Hayu kembali setelah lima belas menit dan alhasil, ia dimarahi habis-habisan.


"Kau ini tidak becus, ya! Memesan satu kopi saja membutuhkan waktu selama ini! yang benar saja!" bentak gadis itu, merendahkan Hayu.


"Pasti kau bersantai-santai dulu di luar sana iya, kan! Jawab!" Semua orang menatap Hayu yang dimarahi, mereka kasihan apa lagi atasannya itu memang terkenal galak dan selalu bertindak seenaknya merasa paling tinggi dan sombong.


Hayu menghela nafasnya kasar. Kesal? Tentu saja! Ia bahkan berdiri antri diantara banyaknya orang dan belum lepas rasa lelahnya, ia harus menghadapi ocehan atasannya yang menurutnya tidak penting. "Haaaa... aku ini manusia! Aku juga hanya seorang OB!" tekan Hayu pada kalimat OB.


Ia tidak peduli, mau dianggap buruk atau apalah. Yang penting ia sudah melakukan tugasnya dengan benar. "Kurang ajar! Kamu mau saya pecat, hah!" bentak gadis itu, dengan wajah memerah menahan amarahnya.


Dia pikir aku tidak tahu apa! Dia tidak ada wewenang untuk memecatku,' batin Hayu, cuek.


"Hanya saja aku belum bertemu dengannya seharian ini, bagaimana caranya aku membuatnya ingat jika bertemu saja sulit," gumam Hayu, berjalan lesu menuju dapur kantor.


Sebentar lagi adalah jam istirahat, dan Hayu untungnya membawa bekal dari rumah. Karena menurutnya makanan buatan sendiri itu lebih enak dan nikmat, apa lagi kesehatannya terjamin.


"Hei, Hayu! Hayu, kan?" tanya seseorang.

__ADS_1


"Ya, benar. Ada apa?" tanya Hayu.


Gadis itu nampak ngos-ngosan. "I-itu, bi-bisakah kau menggantikan aku membelikan makan siang, Bos. Soalnya aku harus mengatur jadwal meeting Bos di cafe, karena ini klien yang sangat penting," ujar gadis itu, yang ternyata adalah sekretaris pribadi Devan.


Mendengar itu, hanya tersenyum senang. Baru saja ia memikirkan bagaimana cara bertemu Devan, sekarang ia sudah mendapatkan kesempatan yang sangat bagus untuk itu. Terima kasih, Ya Allah. Kau sangat baik, mengabulkan permintaanku.'


"Bisa, Nona! Saya bisa," ujar Hayu antusias.


Setelah sekretaris Dian memberikan menu makanan Devan hari ini. Hayu bergegas ke kantin untuk membelinya dan segera menyiapkannya di ruangan Devan.


"Hu... tenanglah jantung, aku tau kau merindukannya, sama aku juga. Tapi kita harus bersabar," lirih Hayu.


Tok! Tok! tok!


"Masuk!"


"Pak, saya membawakan makan siang anda. Sekretaris Dian sedang memeriksa cafe untuk pertemuan Bapak dengan klien penting," jelas Hayu, yang hanya di jawab deheman.


"Cih, dasar. Lagi-lagi dia bersikap sok dingin begitu," gumam Hayu kecil, tetapi bisa didengar Devan.


Lelaki itu, menampilkan senyum kecil lalu dalam hitungan detik ia kembali ke wajah awalnya datar tak tersentuh.


Haaa, hanya seperti ini saja? rasanya kemarin seperti tidak terjadi apapun,' batin Hayu, kecewa.


"Makanan Bapak sudah saya siapkan. Selamat menikmati, saya permisi," ujar Hayu, sebelum ia pergi ia sempatkan untuk menatap wajah Suaminya selama lima detik.


Tapi,.belum lima langkah ia berjalan. Devan memanggilnya. "Tunggu! aku belum menyuruhmu pergi," ujar Devan, tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.

__ADS_1


"Ha? Y-ya, Pak? Apa ada sesuatu yang Bapak butuhkan lagi?" tanya Hayu, dalam hati merasa senang Devan memanggilnya.


"Jika kau benar-benar Istriku, pasti kau mengetahui apa yang aku sukai dan tidak sukai. Aku ingin kau jawab itu," ujar Devan, membuat Hayu terdiam ditempatnya.


__ADS_2