
Lidah Dafa keluh, ia jadi lupa apa yang akan ia katakan. "Mmm... Aku. Apa bisa aku memesan kue ulang tahun untuk Mamaku di kota," jelas Dafa terbata-bata.
"Tentu saja boleh, Dok. Saya malah senang sekali," ujar Hayu mencoba membatasi dengan panggilan.
Saya? Apakah kita benar-benar tidak bisa dekat?' batin Dafa sedih.
"Baiklah, aku ingin memesan satu," ucap Dafa, Hayu mengangguk.
"Mari, Dok. Kerumah saya, saya akan menjelaskan tentang kuenya." Dafa mengangguk.
Rumah, Hayu!
Dafa mulai menjelaskan berbagai hal kesukaan sang Ibu. Dan, membuat Hayu mengerti dan mencatat satu persatu permintaan Dafa.
"Baiklah, Saya akan membuatnya. Mungkin dia tiga hari lagi akan jadi, Dok."
"Iya, terima kasih." Dafa tertunduk lesu, karena sepertinya sudah tak ada lagi hal yang harus ia katakan pada Hayu. Dan, itu artinya ia harus pergi sekarang atau Hayu akan segera mengetahui bahwa dirinya masih menaruh hati pada Wanita beranak satu itu.
"Baiklah, saya pamit."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dilain Tempat.
Ratna dan Pak Rito sedang berbincang-bincang.
"Menurut saya, Bu. Sebaiknya Ibu segera memberitahukan Hayu tentang semuanya. Karena uang yang sudah diberikan Devan pada saya, sudah menipis. Itu mungkin habis satu dua Minggu lagi," jelas Pak Rito khawatir.
Ia tahu, keluarga Hayu sebenarnya tak lagi terlalu membutuhkan uang. Karena mereka sudah mendapatkan penghasilan yang cukup untuk hidup. Yang ia khawatir nafkah Devan yang pastinya akan berhenti.
Ratna terdiam. Ia juga bingung. "Mmm. Apa memang sudah saatnya ya, Pak. Buat saya jujur sama Hayu. Hayu juga sudah semakin bahagia, saya juga kasihan pada Gio yang tidak mengetahui siapa Ayahnya," jelas Ratna dengan sedih.
"Menurut saya itu yang terbaik, Bu."
"Baiklah, saya akan coba bicarakan pelan-pelan pada Hayu, agar dia mengerti."
Ratna pulang dengan berbagai pikiran dikepalanya. Bagaimana cara ia mengatakannya? Bagaimana jika Hayu nekat?
"Assalamu'alaikum."
"Yeah! Nenek pulang!" teriak Gio, segera memeluk Ratna. Bocah itu, memang terlihat dingin dengan orang lain kecuali Ratna dan Hayu.
"Cucu manja, Nenek. Nih, Nenek bawain roti isi serikaya kesukaan kamu."
__ADS_1
"Yeah makasih, Nek! MUACHH!"
"Ke kamar dulu, ya. Nenek mau bicara sama Mama," pinta Ratna, Gio mengangguk senang sembari membawa rotinya.
Sepertinya Nenek akan membicarakan hal yang penting pada Mama. Tidak biasanya Nenek memintaku pergi, aku hari menyelidikinya.' (Ralat guys, nguping maksudnya,xixi)
"Mau bicara apa, Bu? Kok kaya serius gitu. Sampe Gio disuruh ke kamar?" tanya Hayu, yang merasa Ibunya tak biasa.
Ratna terdiam sekejap. "Sebenarnya Ibu ingin jujur, tentang sesuatu yang selama ini Ibu rahasiakan dari kamu," jelas Ratna menunduk.
"Apa i-itu?" tanya Hayu. Entah kenapa aku merasa seperti ada sesuatu,' batin Hayu.
"Sebenarnya... Selama ini uang yang dihasilkan Ibu tidak hanya dari jualan tapi..."
Hayu membulatkan matanya. "Dari siapa, Bu?" tanya Hayu. Apa mungkin, Ibu memiliki ke-kekasih?' batin Hayu.
"Itu dari... Devan!"
Deg!
Jantung Hayu seolah-olah berhentikan berdetak. "De-Devan, Bu?" tanya Hayu menutup mulutnya tak percaya. Ratna mengangguk sendu.
"Jangan bilang Ibu tau dimana Devan selama ini? tapi Ibu gak bilang sama Hayu! Kenapa, Bu?" tanya Hayu menangis.
Dada Hayu semakin sesak mendengar itu. Ratna terus menjelaskan kenapa Devan melakukan itu. Dugaan Hayu salah selama ini, apa yang dikatakan Devan berarti salah. "Be-berarti dia mencintaiku'kan, Bu?" tanya Hayu dengan tangisnya.
"Ibu rasa iya. Dia sengaja mengatakan tidak padamu saat itu karena tidak tahu pastinya kapan dia kembali dan akan membuat kamu menunggu, itu yang Ibu pikirkan selama ini," jelas Ratna. Hayu menangis dipelukan sang Ibu. "Uang lahiran Gio juga Ibu menggunakan uang Devan."
Ia tak menyangka. Ternyata Devan memerhatikan dirinya. Hayu semakin yakin jika Devan juga mencintai dirinya. Jika tidak untuk apa Devan menitipkan banyak uang agar nafkahnya terus mengalir sampai dirinya kembali.
"Tapi kenapa, Mas Devan belum juga pulang, Bu! Hayu merindukannya, hiks... Apa dia sudah memiliki kekasih lain?" tanya Hayu.
Ratna mencoba menenangkan Putrinya. Mereka saling menguatkan.
Dibalik sana, Gio sama terkejutnya dengan Mamanya. Namun, ia merasa senang ternyata dugaannya tidaklah salah selama ini. Aku akan membantumu, Pa.'
Gio kembali ke kamarnya. Dan, duduk dihadapan laptopnya. Ia tengah mencari keberadaan rumah dan Perusahaan Devan. "Yeah, ketemu. Sampai ketemu nanti, Pa..."
...****************...
Hayu termenung di kamarnya. Menatap foto pernikahannya. Yang sengaja ia keluarkan untuk ia pandangi.
"Kenapa, Mas?" tanya Hayu menahan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu bohong? Hiks... Ak-Aku kira kamu benar-benar melupakanku."
Hayu menahan tangisnya, yang begitu menyesakkan. Apa yang harus ia lakukan sekarang, ia tak ingin pernikahannya dan Devan berakhir begitu saja.
Apa ia harus mencari Devan?
Tapi... kemana?
Bahkan, keluarga Devan pun ia tak tahu?
Hayu meringkukkan tubuhnya di kasur. Kenyataan ini membuatnya berpikir berulang kali. Juga memikirkan apakah sudah saatnya untuk Gio tahu siapa Papanya dan bagaimana Papanya selama ini?
"Baiklah. Aku akan mengatakannya," gumam Hayu mantap. Ia berjalan menuju kamar Gio.
Tok! Tok!
"Gio! Mama masuk, ya," ujar Hayu. "Iya, Ma. Masuk aja!" teriak Gio menyahuti.
Gio buru-buru mematikan laptopnya. "Ada apa, Ma?" tanya Gio. Tapi, didalam hatinya ia sudah menebak apa yang akan terjadi. Mama ingin memberitahu semua tentang Papa, bukan? ... Itu yang aku inginkan selama ini. Tentang Papa...'
"Ikut Mama, ke kamar Mama sebentar," ajak Hayu, menggenggam lengan Putranya.
"Oke."
Sesampainya disana. Gio melihat dengan jelas foto pernikahan Papa dan Mamanya. Melihat dengan jelas bagaimana ekspresi keduanya yang terlihat lucu. "Mama... dan?" tanya Gio, berpura-pura.
"Papamu," lirih Hayu, lalu duduk dipinggir kasur. "Sini, Mama mau cerita tentang Papa," ajak Hayu. Gio menurut.
Hayu mulai menceritakan awal mula bertemunya dia dengan Devan. Juga menceritakan bagaimana keruhnya hubungan mereka selama pernikahan. Banyak hal yang terjadi, yang membuat Hayu semakin lama semakin mencintai sosok Devan.
Hingga, terakhir tentang kepergian Devan yang mendadak. Kepergian yang membawa luka dalam untuk Hayu. Tapi siapa sangka setelah lima tahun ia baru mengetahui bahwa Devan juga mencintainya.
Gio memeluk Hayu. Ia bisa merasakan bagaimana sakitnya perasaan Hayu. Aku akan membalas Papa nanti. Tetapi tugasku sekarang menyatukan mereka dulu.'
"Jika... kita harus bertemu... Papa. Apa Gio mau?" tanya Hayu ragu.
Gio tersenyum. "Tentu saja, Gio mau! Gio sangat menginginkan Papa," kelas Gio dengan gembira. Hayu langsung memeluk Putranya haru.
"Namun... kita harus mencari Papa dimana," lirih Hayu sendu.
Gio tersenyum sepertinya sudah waktunya juga untuk dirinya memberitahu Mamanya tentang kemampuannya selama ini.
"Gio tau dimana Papa berada, Ma."
__ADS_1
Deg!