Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 31 – Sakit!


__ADS_3

Setelah insiden sore tadi, mereka sama-sama diam dalam keheningan. Hayu yang malu melihat Devan, dan Devan yang merutuki dirinya karena nafsuan.


Harusnya aku menahannya saja,' batin Devan tak berani menatap wajah Hayu.


Sumpah! Aku deg-degan, rasanya gak kuat lihat wajah Mas Devan. Bawaannya pengen lagi...' batin Hayu, memalingkan wajahnya.


Keduanya sama-sama memiliki pendapat dan ketakutan yang berbeda. Yang membuat Ratna tersenyum geleng-geleng. 'Aku yakin, mereka sudah melakukannya.'


"Sampai kapan kalian mau diem-dieman? Cepetan makan, kalo gak mau sakit," titah Ratna.


"Ah, baiklah," ucap keduanya serentak.


Malam ini sangat indah. Tapi, entah kenapa Hayu merasa sangat resah dan gelisah. Ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.


"Uhuk! Uhuk!"


"Kenapa tenggorokanku terasa kering," gumam Hayu.


Tiba-tiba ada yang menyodorkan segelas air putih. Hayu menoleh dengan heran. "Mas?" Lalu menerima segelas air putih untuk ia minum.


"Makasih, rasanya lega banget." Hayu tersenyum lebar pada Devan.


Devan duduk disebelah Hayu.


"Enggak masuk? Entar sakit diluar dingin," kata Devan, dijawab gelengan kepala.


"Aku mau cari angin. Soalnya pikiran aku lagi kusut, hehe," kekeh Hayu. Namun, matanya tak bisa dibohongi. Ia boleh tersenyum di bibir, namun matanya menyiratkan beban pikiran yang begitu banyak.


Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa sulit sekali untukku mengerti dirimu...' Devan menatap penuh tanya sang Istri.


"Apa yang kau pikirkan? Aku Suamimu jadi jangan sungkan?" tanya Devan. namun Hayu, menatap Devan dengan ragu.


Apa perlu aku ceritakan jika Aku gelisah, dia akan pergi tiba-tiba dari hidupku. Disaat aku sudah sangat mencintainya?' batin Hayu.


Devan tau Hayu ragu. "Apa karena masalah tanah ini? Sebaiknya jangan dipikirin, kita pasti bisa," ujar Devan menyemangati Hayu. Mengelus lembut rambut sang Istri.


Bagaimana aku tidak kepikiran jika sikapmu terhadapku semakin lama semakin membuatku terlena. Aku tidak menginginkan kamu pergi, Massss...'


"Baiklah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


......BESOKNYA......

__ADS_1


Devan terbangun pagi-pagi sekali, karena kulitnya merasakan hawa panas. Saat terbangun, ia terkejut melihat tubuh Istrinya yang penuh keringat.


"Astaga! Hayu bangun," panggil Devan, menepuk-nepuk pelan pipi Hayu.


Tangannya bergerak ke kening Hayu untuk mengecek suhunya.


"Shhh... ini panas sekali," monolog Devan.


Devan bergegas mengambil air kompresan dan mengompres kening Istrinya. Tidak lupa ia membasuh tangan dan kaki istrinya dengan lembut. Merasa terusik, Hayu membuka matanya melihat begitu lembut, hangat dan romantisnya tindakan Devan padanya. Perasaannya semakin tak tertahan, ingin sekali Hayu memeluk Devan dan menangis. Lalu berkata...


Aku sangat beruntung memilikimu dihidupku, Mas. Tetaplah bersamaku, selamanya.'


Namun, semua itu hanya angan-angan saja. Karena pada akhirnya ia hanya diam memerhatikan semua tindakan Devan untuknya. Selagi pria itu tak sadar jika dirinya sudah bangun.


Tubuhku sangat panas. Dan, aku merasa mual.'


"Ughh...!" Hayu tak tahan, dia hampir mengeluarkan isi perutnya saat itu juga.


"Astaga. Kau sudah bangun? Ingin muntah?" tanya Devan. Dia bergegas mengambil kresek dan menghadapinya didepan Hayu.


"Huekk."


"Huekkk."


Hayu mengusap perutnya yang terasa mual. Tiba-tiba ia menjadi sangat pusing. Devan dengan cepat mengelus tengkuk Hayu, agar gadis itu merasa baikan. Hayu yang menerima itu, tiba-tiba merasa lega dan tenang.


Hayu tersenyum. "Maaf, Mas. Lain kali aku akan patuh dan menurut apa kata Suamiku, tercinta," ujar Hayu dengan mata sayup-sayup. Ia terlena... terlena dengan usapan lembut Devan hingga akhirnya ia tertidur.


"Hah... kenapa melihatmu sakit saja, membuatmu sangat panik dan takut?" tanya Devan pada angin lalu.


Tok! Tok!


"Devan? Ibu masuk ya!" teriak Ratna dari depan pintu.


"Oh iya, Bu. Masuk aja!" teriak Devan.


Ceklek!


"Astaga... ada apa dengan Hayu? Dia sakit?" tanya Ratna, melihat Devan yang setia mengelus puncuk kepala Hayu.


"Iya, Bu. Tadi badannya panas dan dia mual-mual," jawab Devan sejujurnya.


"Padahal dia orang yang tidak gampang sakit. Nanti Ibu belikan obat, kamu jagain dia sebentar ya. Habis itu kamu kerja," jelas Ratna, dan dijawab anggukan Devan.

__ADS_1


Karena pukul sudah menunjukkan pukul 06:30 pagi, Devan terpaksa harus meninggalkan Hayu sebentar untuk persiapan ia akan berangkat kerja. Kenapa tidak izin saja? Karena Devan merasa tidak enak karena hari ini barang-barang sayuran yang akan ditanam masuk.


Selesai mandi, Devan kembali ke samping Hayu. Dengan perlahan ia mengecup kening Hayu.


"Tunggu, ya. Mas buatin bubur," bisik Devan, walau tau Hayu tidak akan denger karena Istrinya itu sedang tidur.


"Loh, Devan? Ngapain kamu di dapur?" tanya Ratna, setelah membeli obat.


Devan menggaruk-garuk kepalanya dengan cengengesan. "Aku ingin membuat bubur... tapi aku tidak mengerti caranya, Bu," jawab Devan malu-malu.


"Bubur?" beo Ratna. Akhirnya ia terkekeh, melihat tingkah menantunya yang lucu.


"Baiklah. Ibu akan ajari kamu membuatnya. Ibu tau kamu ingin membuat sarapan untuk Istrimu," jelas Ratna, ia mendekati Devan dan menyajikan semua bahan-bahannya.


"Kau cuci dulu berasnya," titah Ratna. Devan menurut saja.


Devan terus mengikuti arahan Ratna. Hingga akhirnya bubur ayam telah selesai dengan cepat.Sebelun pukul 8:00 pagi. Karena jam delapan ia harus segera berangkat kerja.


"Hayu... bangun, sarapan dulu," bisik Devan, menguncang pelan tubuh Hayu.


"Ugh." Hayu menggeliat nyaman.


"Hei, bangun," ujar Devan lagi.


Hayu akhirnya dengan terpaksa bangun dari tidurnya.


"Hmmm... Ada apa sih, Mas. Ngantuk," rengek Hayu. Membuat Devan gemas, lalu mencubit pipi tembem Hayu.


"Ish... sakit, Mas," keluh Hayu.


"Ya udah, nih makan. Aku buatin kamu bubur," ujar Devan, menyodorkan mangkok bubur.


Hayu membulatkan matanya, syok. "Buatan kamu?" tanya Hayu tak percaya.


Alhasil ia mendapat sentilan di kening. "Kau pikir aku tidak bisa membuatnya, hah?" tanya Devan tak terima, dengan ekspresi tak percaya Hayu.


"Hehe... ya udah, sich. Makasih ya, Suamiku tercinta. Udah repot-repot masakin aku padahal mau kerja," ujar Hayu, menatap Devan dengan tubuh tersenyum hangat.


Devan merasa sangat dihargai di sisi Hayu. "Iya, sama-sama. Maaf, aku gak bisa cuti. Karena barang-barang hari ini masuk," ungkap Devan dengan sendu.


Hayu memegang pelan pipi Devan. "Iya, gak papa. Ini semua sudah lebih dari cukup untuk aku. Kamu sudah terlalu lelah," bujuk Hayu. Devan tersenyum.


Lalu dengan jahil mencium kening Hayu.

__ADS_1


Cup!


"Cepet sembuh ya, Istriku. Gak ada yang masakin kalo kamu sakit," tutur Devan, lalu pergi begitu saja. Setelah membuat jantung Istrinya hampir meledak.


__ADS_2