
Udara yang nyaman membuat hari Hayu sejuk begitu juga dengan Devan. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, akan tetapi pikirannya selalu tertuju satu sama lain.
Duh, gimana sih cara bilangnya,' batin Hayu gugup, aneh juga dia yang marah-marah dijuga yang minta maaf. Enggak lucu! (*yang bilang lucu siapa?><)
Hayu berdehem untuk mengusir ke heningan.
"Ehem!"
Devan menoleh, ia seperti menyadari bahwa Hayu ingin berbicara dengannya.
"Ada apa?" tanya Devan lembut. Ia juga bingung cara untuk menjelaskan semuanya kepada Hayu, yang pastinya akan membuat gadis itu marah dengan rencananya yang sembrono.
__ADS_1
"Ak-Aku minta maaf sama kamu, atas kelakukan aku semalam. Maaf ya, mas..." Hayu menunduk malu, tetapi ia juga terus merasa bersalah karena melawan Devan yang berstatus Suaminya.
Devan diam. "Oke. Aku juga minta maaf. Semuanya salahku juga. Karena aku sudah menyembunyikan sesuatu dariku," jelas Devan perlahan menyudahi kegiatannya dan pokus berbicara dengan Hayu.
Hayu tercengang. "Apa yang kamu sembunyikan dari aku! Ini yang pengen aku tanyain sama kamu dari tadi," ujar Hayu melotot. Devan mendadak ngeri sendiri melihat kelakuan istrinya.
Namun, semua tingkah Hayu terasa menggemaskan dan juga lucu di matanya, semuanya terlihat penuh kejutan. Tanpa sadar mereka saling menatap beberapa detik lalu saling menghindari tatapan masing-masing.
"Hah! Jadi... kita bertengkar selama ini cuma gara-gara hal sepele ini? Hahaha... salah paham?" gumam Hayu tak percaya. Mereka sudah perang dunia tapi pucuk permasalah yang Hayu salahkan ternyata hanyalah sandiwara semata Devan. Yang tidak ingin Hayu tahu karena takut rencananya tidak berhasil karena Hayu tidak terlihat merasakan.
Mendengar itu, Hayu serasa senam jantung dimana jantungnya kembang-kempis ingin sekali menabok kepala Suami, tapi takut dosa. Astagfirullah, sabar Hayu. Ingat dosa ini Suami sendiri,' batin Hayu mengelus dadanya.
__ADS_1
"Kamu itu... itulah kenapa Ibu bilang saling terbuka dan sebuah kepercayaan adalah tiang untuk menjaga suatu hubungan rumah tangga. Kenapa kamu diam aja, Mas?" tanya Hayu kecewa, ia merasa tak dihargai sebagai Istri apa lagi ini menyangkut tentang masalah hati. Tentu saja Hayu merasa sakit hati, tapi ia tidak bisa marah karena mendengar semua hal yang dilakukan Devan adalah untuknya, secara tidak langsung Devan menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap Hayu. Hal kecil itu saja sudah membuatnya sangat bahagia.
"Maaf, Yu. Aku cuma enggak mau kamu terlibat tapi lama-lama aku cape ribut terus sama kamu... Karena sekarang bukti udah didapatkan kita hanya perlu lapor pada kepala Desa bagaimana?" tanya Devan, Hayu terdiam lama. Ia berpikir harus dengan cara apa ia membalas Luna dengan perasaan malu berkali-kali lipat dari yang Hayu rasakan.
"Jangan sekarang," jawab Hayu dengan senyum misterius.
Devan yang melihat itu heran, namun ia tahu ada satu rencana yang sudah terlintas dipikiran Istirnya itu, yang pastinya akan berbahaya bagi orang yang dibencinya.
"Aku tahu cara untuk mempermalukan dia lebih dari ini. Dia sudah membuat hubungan rumah tangga orang lain rusak. Dan dia menculikku sangat hebat kau akan merasakannya Luna..." Hayu tertawa, hal itu membuat Devan bergidik ngerti bisa-bisanya Istri polosnya bersikap bak mafia.
Akan tetapi, Devan senang bisa berbaikan dengan Hayu. Begitu juga dengan Hayu, keduanya sama-sama bahagia bisa saling menyapa lagi satu sama lain.
__ADS_1