Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 29 – Mencoba untuk Menerima!


__ADS_3

Mereka berdamai. Ya, sepertinya memang benar setiap kehidupan sepasang suami-istri akan menghadapi lika-liku baik sulit maupun mudah.


Devan menatap Hayu. "Maaf, karena semalam. Aku khilaf..." Devan menunduk menurunkan sedikit kewibawaannya pada sang Istri.


Mendengar itu, hati Hayu sakit. Ia pikir Devan mencintainya dan melakukan hal itu dengannya, namun ia salah. Devan hanya khilaf.


"Tidak apa-apa." Hayu langsung pergi.


"Ada apa dengannya? Harusnya dia senang aku meminta maaf?"


Di Kebun.


Devan masih memikirkan tentang sikap Hayu tadi pagi.


"Hei, apa yang kau pikirkan? Lihat tanahnya sudah berlubang," tegur Pian, memegang bahu Devan. Menunjukkan sebuah lobang yang sangat besar untuk ukuran sayuran.


"Ah, maaf. Aku lupa..." Membereskan masalahnya.


"Ada masalah apa lagi, sama Hayu?" tanya Pian, yang mengerti.


"Gak ada."


"Jangan berbohong. Kau lupa aku ini sahabat sejak kecil Hayu, mungkin... Mungkin ya, aku bisa bantu," ujar Pian, dengan bangga.


"Cih, kau hanya bantu menyusahkanku saja," cetus Devan.


"Sembarangan! Jadi mau curhat gak nih?"


"Iya, entar."


Mereka duduk sejenak, untuk rehat.


"Jadi... Kami melakukan em--- anuh, itu..." Pian mengernyit heran, namun sedetik kemudian menutup mulutnya terkejut.


"Hah!"


"Beneran! Melakukan itu? Kalian?" tanya Pian berturut-turut karena tidak percaya.


Devan mengangguk dengan sedikit malu-malu.


"Hah... Menyebalkan! Apa yang kau malui, hah! Kau membuatku kesal!" teriak Pian, memukul bahu Devan.


"Hei! Berhentilah membahas itu, karena bukan disitu saja permasalahannya," kilah Devan.


"Lalu apa?"


"Tapi pagi... Aku mengatakan itu karena aku khilaf. Karena sepertinya dia tidak menyukainya," cicit Devan, menghela nafas.


"Hah!"

__ADS_1


"Kau goblok!"


"Hah? Apa sih, Pian! Yang jelas dong... goblok apanya? Dimananya?"


"Haduh... Jadi laki peka dikit napa!"


"Hayu itu penyabar, penyayang juga mudah memaafkan orang lain. Aku menyukai sifatnya itu," jelas Pian, meresapi tanpa sadar raut wajah Devan sudah hampir menelannya bulat-bulat.


"Haha... Dengerin dulu," potong Pian sebelum Devan memakannya.


"Jadi... menurut aku nih. Hayu gak marah soal malam... itu kalian, ya itulah. Dia cuma mau kamu mengatakan kamu mencintai dia. Bagaimanapun hal itu dilakukan oleh orang yang saling mencintai tapi!!! Dengan bodohnya, kamu bilang khilaf!" teriak Pian dengan kesal. Apa amnesia juga menurunkan kadar kepekaan laki-laki?


Devan terdiam! Apa benar seperti itu? Apa harus dia bilang cinta pada Hayu, disaat dirinya sendiri saja belum yakin. Aku akui aku mulai merasa nyaman juga takut kehilangan dia. Tapi... apa ini yang namanya cinta?' Batin Devan.


"Makasih! Bakalan aku pikirin lagi ucapan kamu."


Seperti yang sudah Devan tebak, Hayu tidak datang untuk mengantar makan siang. Cuma ada dua kemungkinan dibenaknya saat ini, yang pertama karena bagian itunya (itulah ya pasti kalian tau!😂) masih sakit. Yang kedua seperti ucapan Pian marah padanya.


Sore.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam. Kenapa tuh Istrimu? Ibu bingung dari tadi dia diam terus?" tanya Ratna, setelah Devan meletakan peralatan kerjanya.


Devan menghela nafas."Sepertinya Devan melakukan kesalahan, Bu. Devan bakalan minta maaf sama Hayu," jelas Devan dengan polosnya. Membuat Ratna terkekeh.


"Kesalahan itu wajar! tapi meminta maaf itu harus. Gih, sana minta maaf."


Astaga... sepertinya dia mimpi buruk,' batin Devan, mengambil lap.


Dengan lembut mengelap keringat Snag Istri. Devan merasa sangat damai hati juga pikirannya, rasa ingin sekali ia selamanya seperti ini. Juga memiliki anak dengan Hayu.


Sepertinya memang benar. Aku melakukan kesalahan itu, aku harus mencoba meyakinkan dia. Setidaknya dia tau, bahwa aku mulai merasakan cinta itu sendiri. Walau aku bahkan tidak tahu bagaimana cinta itu?


"Ugh!"


Karena merasa terusik, Hayu akhirnya membuka matanya. Menatap wajah Suaminya yang super tampan itu.


Rasanya kaya mimpi dapetin kamu, yang sempurna,' batin Hayu.


"Hey. Sudah bangun? Mau minum?" tanya Devan, sontak membuat Hayu kaget.


"Hah!" Tiba-tiba duduk dengan cepat.


Krak!


"Akhh... pingg-pinggangku!" pekik Hayu tertahan. Menahan sakit di pinggangnya.


"Astaga! Pelan-pelan makanya. Sini sakit?" tanya Devan, ia menarik tubuh Hayu ke pangkuannya dan mengelus lembut punggung Hayu.

__ADS_1


Seketika Hayu merona. Ap-Apa yang sedang dia lakukan sih? Ak-Aku malu,' batin Hayu dilema mau senang atau marah.


"Lepasin, Mas! Aku bisa sendiri," pinta Hayu, mencoba memberontak. Sayangnya, kekuatan Devan lebih besar darinya.


"Diam! Atau ingin bertambah sakit lagi?" ancam Devan. Hayu langsung kicep.


"Hey... dengerin aku," ujar Devan tiba-tiba.


"Ah, iy-iya. Apa?" tanya Hayu was-was.


Apa yang sebenernya ingin dia ucapakan? apa lagi-lagi perkataan yang menyakitkan?' batin Hayu dengan wajah ditekuk.


Devan menghentikan aksi memijitnya. Lalu, memutar tubuh Hayu hingga seratus delapan puluh derajat menghadap dirinya. Hayu terdiam kaku, menahan debaran jantungnya. Astaga. Dia sangat tampan, bagaimana ini jantungku berdebar kencang... Ap-apa dua dengar?' batin Hayu.


"Aku... Aku belum bisa mengatakan cinta untukmu,"ungkap Devan, membuat hati Hayu mencelos.


"Ternyata ini..."


"Tapi, aku sudah merasakan cinta itu akan hadir. Aku mohon, bantu aku untuk menerima keadaanku yang tanpa sanak-saudara didunia ini," pinta Devan tulus, membuat Hayu terharu hingga menitikkan air matanya.


"Kamu----." Hayu dengan cepat memeluk Devan.


"Hiks... hiks... aku pasti akan lakukan itu! Kita sama-sama," ujar Hayu.


Perasaan bahagia itu terlihat jelas di wajah masing-masing, ada kelegaan juga ada kenyamanan. Hayu yakin, hubungan mereka akan membaik.


Namun, di hati kecilnya. Ia merasakan gelisah.


...----------------...


"Sudah baikan?" Ratna menatap sepasang Suami-istri yang terus saling pandang tanpa menghiraukan keberadaannya.


Hayu dan Devan tertunduk malu. "Iya, Bu," sahut keduanya kompak.


"Kalian ini banyak banget masalahnya. Lain kali lebih hati-hati supaya ini tidak merambas kerumah tangga kalian," jelas Ratna.


Hayu dan Devan mengangguk. "Emmm, Bu... Hayu mau bilang sesuatu," ucap Hayu ragu.


"Apa itu?"


"Begini, dua hari lalu. Johan datengin aku terus ancam aku supaya mau jalan sama dia, Kalo tidak dia akan... mengusir kita dari tanahnya," jelas Hayu. Membuat Ratna syok, walaupun tidak parah karena ia sudah biasa.


"Haaaa... Ibu juga bingung menghadapi mereka. Andai saja Nenek Sari masih ada, Ibu yakin nenek akan membela kita."


"Tapi, kita juga tiba bisa selamanya tinggal disini di tanah milik orang lain," ungkap Ratna, dengan semburat kesedihan dimatanya.


Hayu memeluk Ratna. Devan hanya melihat dengan kekesalan, karena dia tidak becus sebagai kepala rumah tangga disini. Padahal ia pria satu-satunya yang harusnya merawat Istri dan Ibu Mertuanya. Namun, ia tidak bisa karena dirinya sendiri tidak memiliki apapun untuk membantu.


Uang gajinya yang tak seberapa saja tidak cukup untuk biaya makan sehari-hari.

__ADS_1


Ya Allah, berilah hamba pentujuk. Untuk membantu Istri dan Ibu hamba,' batu. Devan dalam hatinya berdoa.


__ADS_2