
Dokter Dafa nampak telingak-telinguk mencari keberadaan seseorang.
"Mmm... Kalo boleh tau dimana Suami, Anda?" tanya Dokter Dafa yang sedikit merasa tidak enak. Sebab, sejak pemeriksaan pertama Dafa tak pernah melihat Suami Hayu, yang ia lihat hanya Ibu Ratna yang setia mengantarkan Hayu setiap cek.
Wajah Hayu menampakkan kemburat kesedihan. "Dia pergi, Dok. Saya juga gak tahu dia dimana," jelas Hayu, membuat Dafa semakin tak enak. Walau, dalam hatinya ia merasa sedikit senang.
"Ah, maafkan saya. Membuat anda mengingat lagi..." Hayu tersenyum kecut. "Tidak apa-apa, Dok. Lagipula saya yakin dia pasti akan kembali, kok," jawab Hayu mantap.
'Padahal, dia jelas-jelas gadis yang baik dan cantik. Kenapa Suaminya pergi?' batin Dafa. Yang sama sekali tidak mendengar berita heboh dan viral saat itu.
Yang pertama ia hanya sibuk bekerja sebagai Dokter dan ia tak memperdulikan berita-berita didepan sana. Bahkan, saat kejadian pertama kali Hayu periksa saja ia tak ingat apa yang dibicarakan Ibu-ibu saat itu.
"Ya sudah. Saya pamit dulu, assalamu'alaikum," pamit Dafa. Namun, baru selangkah suara Ratna menghentikan langkahnya.
"Dokter Dafa!" teriak Ratna. "Dokter mengantar susu?" tanya Ratna.
"Ah, Ibu Ratna. Ya, Bu," jawab Dafa.
"Terima kasih banyak, Dok. Sudah repot-repot untuk anak saya," jelas Ratna.
"Tidak repot kok, Bu. Kan sekalian."
"Dokter mau minum dulu? Atau makan dulu. Ayo Dok," ajak Ratna, membuat Dafa bingung.
"Ah, tidak usah, Bu. Lagipula nanti merepotkan," jawab Dafa, menolak.
"Ibu! Mungkin Dokter Dafa sibuk di klinik," tegur Hayu, yang jengah melihat Ibunya seakan-akan memaksa.
Ratna mencubit Hayu. "Jangan begitu sama orang yang sudah baik sama kita. Setidaknya Ibu membalas dia karena sudah membelikan susunya," bisik Ratna, sembari tersenyum pada Dafa.
"Ish, ya udah terserah Ibu."
"Ayo, Dok."
Di dalam sana Dafa melihat foto pernikahan Hayu dan Devan.
'Ternyata Suaminya sangat tampan pantas saja dia begitu mencintainya. wajar sih, jika seorang gadis cantik mendapatkan pasangan seorang lelaki tampan,' batin Dafa, sedikit kecewa.
__ADS_1
Namun Dafa tidak putus asa ia akan berjuang mendapatkan Hayu karena ia menyukai kelembutan dan senyum Hayu tapi, itu karena ia sudah mencari tahu terlebih dahulu tentang Hayu di desa dari ibu-ibu yang pernah ia dengar saat itu.
Mereka makan bersama dengan tenang
Dafa diam-diam melirik Hayu. Rasanya wajah cantik Hayu selalu menarik matanya seperti magnet untuk terus menatap gadis itu.
"Terima kasih atas makan malamnya, Bu," ucap Dafa. Namun, ia melirik sekilas Hayu. Sebenarnya ia ingin bertanya namun, sedikit takut menyinggung apa lagi mereka tergolong tidak terlalu dekat.
Sudahlah, apa salahnya mencoba,' batin Dafa.
"Bu. Apa saya boleh bertanya sesuatu yang sedikit pribadi?" tanya Dafa berharap.
Ratna tersenyum. "Iya, boleh saja, Dok," jawab Ratna, karena menurutnya Dafa sudah banyak membantu Hayu.
"Apa benar rumor itu? Tentang Suami Hayu yang pergi?" tanya Dafa dengan menggaruk kepalanya.
Ratna berwajah sendu."Ya, itu benar. Dia tiba-tiba ditarik sekelompok orang yang tidak dikenal. Mereka seperti terlihat kaya. Kami tak bisa berbuat apapun," jelas Ratna dengan sedih.
Dafa melihat itu jadi merasa tidak enak. "Maaf, Bu. Jika pertanyaan saya menyinggung perasaan Ibu. Padahal Ibu sedang tidak ingin mengingatnya," jelas Dafa, dijawab gelengan kepala.
"Tidak apa-apa, Dok. Wajar jika Dokter penasaran karena saya yang selalu membawa Hayu cek, bukan Suaminya," jelas Ratna penuh pengertian.
Akhirnya ia pulang. Namun, dijalan tanpa sengaja ia mendengar percakapan para warga yang lagi-lagi menggosipkan Hayu dan Ratna. Tapi, sekarang namanya juga ikut-ikutan terseret.
"Bu! Si Hayu itu udah hamil, ditinggal Suaminya. Eh, sekarang modus deket-deketin Dokter Dafa," ungkap Ibu-ibu.
"Iya, saya juga heran sama keluarga mereka. Gak ada yang beres, mana kemarin membuat kekacauan sekarang mereka ingin mendekati Dokter tampan didesa kita," jawab Ibu-ibu lainnya.
Namun, sebelum obrolan itu berlanjut semakin jauh dan semakin menyesatkan. Daftar segera menghampiri mereka.
"Ibu-ibu! Mohon perhatikan dulu sebelum berbicara. Belum tentu apa yang kalian katakan ada kebenaran. Hayu sama sekali tidak mendekati saya, namun saya yang mendekati dia."
"Apa lagi Hayu adalah pasien saya. Wajar jika kami bertemu," jelas Dafa, dengan tatapan tajam.
Membuat nyali Ibu-ibu disana menciut, mereka tidak tahu harus menjawab apa lagi. Lalu, mereka pergi dengan kesal.
"Haaaa. Ada-ada saja mulut Ibu-ibu, selalu rempong," gumam Dafa memijat keningnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bu. Kok perutku bergerak!" pekik Hayu, dengan gembira juga kaget. Ia meraba-raba perutnya ia merasakan sedikit gerakan kecil di perutnya.
Wajar sih, karena ia sudah 20 Minggu Hayu mengandung. Ratna dengan bahagia mencoba merasakan gerakan Cucunya. Cucu yang sangat ia tunggu-tunggu kehadirannya. Namun, ia rakut Cucunya tak memiliki Ayah sama seperti Hayu.
Ia tak mau itu terjadi, namun ia juga tak tahu keberadaan Devan dimana. Ia juga tak mungkin ke kota untuk mencari Devan karena itu adalah pantangan terbesarnya.
Cucuku. maafkan Oma dan Mamamu, Nak. Kami tidak bisa menjamin kau memiliki seorang Papa,' batin Ratna sendu. Ia memeluk perut Hayu, lalu menciumnya.
"Kesayangannya Oma. Sehat-sehat disana ya," ucap Ratna tersenyum geli.
"Haha. Baiklah Oma, aku sehat kok disini," jawab Hayu menirukan suara anak kecil.
Mereka tertawa bersama, walau rasanya ada yang kurang mungkin ada Devan.
Hayu merenung seorang diri.
"Dimana kamu, Mas?" gumam Hayu menatap awan.
"Ini sudah hampir enam bulan sejak kepergianmu. Namun, kenapa belum ada juga tanda-tanda kau akan kembali dan merawat anak kita bersama... hiks," Isak Hayu, menatap perut buncitnya.
Tiba-tiba perutnya bergerak lagi. Hayu tersenyum haru, ia seperti merasa anaknya mengerti perasaannya dan mencoba untuk menghibur dirinya.
"Baiklah, sayang. Mama akan berjuang untuk kamu. Dengan atau tidak adanya Papamu. Mama yakin, suatu hari dia akan kembali berkumpul bersama kita," jelas Hayu, mengelus perutnya.
"Dan, aku harap kau merasakan jika aku mengandung anakmu, Mas..."
Hayu akhirnya memilih tidur, agar bisa melupakan sejenak perasaan sedihnya. agar tidak memengaruhi bayinya.
"Selamat tidur sayang."
Tanpa Hayu sadari, di lain tempat seseorang sedang merasakan sesuatu yang sangat ekstrim. Sesuatu yang membuat banyak orang khawatir. Namun, mereka tak menemukan penyebabnya.
"Cepat cari Dokter terbaik untuk memeriksa Putraku!" teriak seorang perempuan paruh baya. Walau sudah keriput ia masih terlihat gagah dan cantik.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada Putraku jangan harap kalian bisa ada disini lagi!" teriaknya dengan amarah.
__ADS_1
sedangkan disampingnya, ada seorang perempuan yang sedang menangis. Namun, ia terlihat tidaklah tulus.
"Aku pasti akan mendapatkan dia."