
Maaf, readers... Aku baru sempet up, padahal dah janji kemarin. Doain ya, supaya besok acara drama othor berjalan lancar dan mendapatkan juara, aminnπ€£
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Hayu menatap Devan yang kini sudah tenang. Masih ada rasa cemas didadanya. "Baiklah. Aku sebaiknya tidak memaksakan ingatanmu. Dan juga, aku tidak akan sering-sering berasa didekatmu. Tapi... jika kau penasaran A-Aku ingin kau bertanya padaku," jelas Hayu lebih pengertian. Melihat Devan kesakitan didepan matanya, membuat Hayu tak sanggup. Pasti akan lebih menyakitkan lagi untuk Devan mengingat hal-hal yang berhubungan dengan masa lalunya.
Devan bungkam. "Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Devan. Entah kenapa, ada rasa kecewa saat Hayu mengatakan tak akan sering melihatnya.
Kini Hayu yang terdiam. "Sudahlah. Mungkin memang jalannya seperti ini. Aku juga tidak bisa memaksakan kehendakku dengan egois." Hayu tersenyum kecut, membuat hati kecil Devan terasa dicubit.
"Saya pamit, Pak!"
Setelah kepergian Hayu. Devan kembali terdiam. Ia bingung darimana ia harus memulai semua ini. Kenapa akhir-akhir ini terjadi begitu banyak hal yang membuatnya benar-benar pusing. Mulai dari seorang anak yang mengaku bahwa adalah anaknya, sekarang seorang perempuan yang mengaku sebagai Istri apa besok akan ada yang mengaku sebagai Mamanya?
Tunggu!
Tunggu!
Devan terdiam. "Bukankah, meraka terlihat berhubungan?" gumam Devan, ia memutar otaknya mengingat kejadian beberapa hari lalu saat anak kecil itu menghampirinya dan mengaku sebagai anaknya.
__ADS_1
"Aku tidak akan kembali padamu! Jika, Om saja tidak mengingat aku dan Mamaku!"
"Tapi... Aku akan membawa Mamaku untuk bekerja disini. Jadi, aku ingin Om berusaha untuk mengingat Mamaku," ujar Gio, membuat satu harapan untuk Devan.
Devan terdiam membisu. "Apa... apa mungkin? Pe-perempuan itu adalah Mamanya?" gumam Devan dengan ekspresi terkejut. Bahkan, ia sudah berdiri dari kursi kebesarannya.
Ia kembali mengingat wajah Hayu. Dimana, mata dan bibir Hayu sangat mirip dengan Dev. Dan, hanya bentuk wajah, hidung dan sifat yang sangat mirip dengannya. "Stupid! Kenapa aku bodoh sekali, sialan! Harusnya aku menyadarinya sejak kemarin!" teriak Devan, geram dengan dirinya sendiri.
"Benar! Aku yakin, gadis itu adalah Mamanya Dev. Aku harus mencari tahunya lebih jauh lagi."
...----------------...
Hayu kembali dengan lesu. Pupus sudah harapannya untuk membuat Devan mengingat dirinya dalam waktu satu bulan. Melihat Devan kesakitan pun ia merasa tak sanggup. "Apa yang harus aku lakukan.... Aku benar-benar sangat bingung, apakah aku harus menceritakan ini pada Gio?" gumam Hayu.
"Waalaikumsalam, Mama!" Gio segera berlari ke pelukan Hayu, dengan senang hati Hayu menerimanya. Menyalurkan rasa hangat Putranya. Rasanya seketika ia merasa tenang.
"Mama terlihat sedih lagi... ada apa? Apa Papa menyakiti Mama?" tanya Gio, dengan penuh harap. Ia harus tahu perkembangan Mama dan Papa selama beberapa hari ini.
"Kita cerita didalam, yuk," ajak Hayu, menggendong Putra kecilnya.
__ADS_1
"Ma! Gio sudah besar jangan menggendongku seperti anak kecil," rengek Gio, menampilkan wajah cemberutnya.
"Sudah besar apa? Kau bahkan selalu memintaku menemanimu tidur," ujar Hayu setengah meledek. Membuat wajah Gio merah padam.
Sebenarnya ia lakukan itu agar Mamanya tak terlalu kesepian tanpa ada Papa disamping Mamanya setiap malamnya. Namun, salah diartikan oleh Hayu. Bagaimanapun juga Hayu tidak akan tahu jika Gio tak menentu tahunya.
"Haha... sudah, sudah Mama tidak akan meledekmu lagi," ujar Hayu, menahan tawanya.
"Tadi... Mama memberikan bekal Mama untuk Papamu. Tetapi... Dia langsung kesakitan, dan Mama rasa saat dia mencicipinya dia mencoba mengingat sesuatu. Hingga akhirnya dia kesakitan," jelas Hayu dengan wajah sedih.
Sepertinya Mama tidak bisa melihat Papa kesakitan. Rencananya akan sulit jika menunggu Papa mengingat perlahan-lahan. Itu pasti membutuhkan waktu lebih dari satu bulan,' batin Gio, ia mulai mengoperasikan otaknya mencari jalan keluar yang cocok untuk mereka.
"Tetapi... jika tidak seperti itu, bagaimana kita menepati janji dengan Nenek akan kembali satu bulan?" tanya Gio, membuat Hayu terdiam. "Mama juga tak tahu," jawab Hayu, menunduk.
"Baiklah. Bagiamana jika Mama setiap hari memberikan masakan kesukaan Papa yang sering Mama buat dulu. Tanpa mencoba membuat Papa mengingat sesuatu, mungkin itu akan efektif."
"Lalu, biasakan berbuat sesuatu yang bisa mengingatkan Papa tentang Mama. Jika Papa kembali kesakitan Mama hanya perlu menenangkannya saja. Jika memang kita tidak berhasil... Gio gak papa, kok pulang ke rumah tanpa Papa," jelas Gio berusaha tegar.
Melihat itu, Hayu langsung memeluk Gio erat. "Maafin, Mama. Mama merasa berdosa karena telah membuat anak sekecilmu memikirkan masalah orang-orang dewasa. Mama merasa tidak becus menjadi seorang Ibu, hiks..." Hayu memeluk Gio, dengan tangisannya.
__ADS_1
"Enggak, kok. Mama adalah Mama terbaik bagi, Gio! Mama harus semangat supaya Mama dan Gio bisa bahagia sama Papa," jelas Gio.
"Papa tidak bersalah. Dia hanya amnesia, jika tidak Gio yakin. Papa pasti mencari kita," jelas Gio dengan keyakinannya.