Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 24 – Terungkap!


__ADS_3

Hayu sudah siap dengan penampilan yang luar biasa. Ia terlihat tomboi karena menggunakan jins dan kemeja. Itu agar ia leluasa bergerak saat nanti mengikuti perlombaan. Namun, ia malah menjadi pusat perhatian dimana semua orang meliriknya.


Tentu saja, dengan sifat cemburuan Devan. Lelaki itu menarik Istrinya kedalam kukungannya agar tidak siapa pun bisa melihat Istrinya.


"Akh! Apa sih yang kamu lakukan, Mas?" tanya Hayu bingung. "Diamlah. Mata keranjang sedang memerhatikanmu!" Mendengar penjelasan Devan membuat Hayu tertawa.


"Haha. Apa sih, kamu mah kalo kata orang sekarang lebay! Biarin aja sih, asalkan aku tidak merespon mereka," jelas Hayu, namun Devan masih kekeh.


"Kenapa kamu selalu terlihat menarik dengan apapun yang kamu kenakan?" tanya Devan heran, namun juga senang. Itulah istrinya ia merasa memiliki kebanggaan tersendiri jika Istrinya terlihat dikagumi banyak orang dan tentunya ia yang berhasil menaklukkan Hayu. Walau dengan cara nikah terpaksa gara-gara kesalahpahaman.


Jujur aku mulai merasakan perasaan itu... tapi aku masih takut,' jujur Devan dalam hatinya.


"Assalamu'alaikum wr.wb."


"Waalaikumsalam wr. wb," jawab semua warga yang terlihat sangat antusias.


"Senang sekali saya sebagai kepala Desa Kawung bisa berdiri disini didepan kalian semua dan mengucapkan selamat untuk kita. Selamat telah membaut Desa kita ini semakin maju dan sejahtera," ucap Pak Kepala Desa memberi kata sambutan untuk pembukaan acara.


"Baiklah, tanpa berlama-lama lagi festival perayaan Desa Kawung dimulai," jelasnya.


"Yeayyyyy!" sorak semua orang, termasuk Hayu.


Permainan juga perlombaan terus berjalan dengan panitia masing-masing. Anak-anak tanpa bermain dengan gembira membuat senyum Hayu tak henti-hentinya merekah. Namun, senyumannya seakan-akan luntur saat mendengar namanya dan Devan disebut diperlombakan joget balon.


"Devan!" pekik Hayu gemas. Ia tidak menyangka Devan benar-benar mendaftarkan mereka untuk ikut.


"Hahaha." Semua orang tertawa menyaksikan Devan dan Hayu yang maju ke tempat perlombaan.


"Ini gara-gara kamu, awas yah," ancam Hayu berbisik. Namun Devan dengan santai mengangkat bahunya.


"Ayo nak! Jangan kalah loh sama bocah!" teriak Ratna paling heboh. Jarang-jarang melihat hal menarik.

__ADS_1


Semua warga tidak melarang hal itu, menurut mereka itu hanya untuk sekedar hiburan saja. Apa lagi diadakannya acara ini ialah untuk memberi hiburan anak-anak dan para petani yang sudah bekerja keras.


Hayu dan Devan meletakan balon berwarga merah dijidat masing-masing. Tentu saja semuanya tertarik menonton. Musik diputar dan saat itu juga Devan bergerak dengan susah payah menyeimbangkan balon.


"Sudah kubilang ini tidak akan mudah, rasain," jelas Hayu disela-sela johetan mereka.


Hayu yang ingin membuat Suaminya kewalahan akhirnya dengan ide bulus. Ia joget dengan asyik meliuk-liukkan tubuhnya dan juga kepalanya. membuat Devan kesusahan menyeimbangi gerakan tubuh sang Istri.


Melihat Devan yang seperti itu, tegang, terlalu serius dan kaku membuat para warga bahkan Kepala Desa tertawa terbahak-bahak melihatnya.


"Astaga, menantumu memang beda, Rat!" ujar Ibu-ibu pada Bu Ratna.


"Benar. Lihatlah gerakan kakunya itu?"


"Hei, pelan-pelan. Kau ingin membuat kita kalah?" tanya Devan dengan panik, karena balon itu sudah berada diantara matanya, bukan di jidat lagi.


"Siapa suruh kamu rese."


"Hah, apa serunya itu! Kau tidak akan tersenyum seperti itu lagi jika tahu aku sudah hampir mendapatkan Suamimu, haha," tawa Luna menatap penuh kebencian pada Hayu.


"Haha! Selamat kalian juara terakhir!" teriak mc tertawa.


Setelah semua acara selesai, malam tiba dimana itu akan ada acara perjamuan makan bersama. Hayu sudah bersiap untuk melawan Luna dan Ibunya malam ini, setelah selesai acara terakhir yaitu ceramah.


Ceramah dimulai, dan bapak ulama menjelaskan tentang apa itu pentingnya kehidupan berumah tangga dan bagaimana menjaga keharmonisan rumah tangga.


Hayu tersentuh, ia terus memikirkan perkataan Ustadz tentang rumah tangga yang sangat mirip dengannya saat ini.


"Tidak ada kehidupan yang selalu baik, juga selalu buruk. Semua berjalan sesuai roda yang berputar. Kepercayaan adalah kunci keharmonisan sebuah keluarga. Istri berbakti pada Suami dan Suami menyayangi Istri," jelas Ustadz.


Apa ia sudah melakukan itu? Berbakti pada Devan? Hayu mengerti kemana hal itu tertuju, ia belum sepenuhnya menjadi Istri Devan karena mereka belum pernah melewatkan malam panas yang sebenarnya. Hayu harusnya percaya pada Devan saat itu, ia ingin hubungan mereka selalu harmonis selamanya! Karena Hayu yakin, jika dirinya mencintai Devan.

__ADS_1


Selesai sudah semua acara. Namun, Hayu dengan cepat menghentikan langkah kaki semua warga yang hendak kembali kerumah masing-masing.


"Mohon menunggu sebentar semuanya, bapak-bapak dan Ibu-ibu. Saya mohon, ada beberapa patah kata yang ingin saya sampaikan," jelas Hayu, memancing rasa penasaran warga.


"Ada apa ini," gumam Ratna yang tka tahu menahu. Ia sangat takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Semua orang sampai sekarang masih salah paham terhadap saya. Mengatakan jika saya berzina! Saya tidak berzina! Niat saya baik saat itu hanya untuk menolong seseorang! Kalian juga tahu saya sempat diculik preman-preman yang entah darimana. Yang jelas bahkan saya tidak memiliki dendam apapun dengan preman-preman itu!"


"Saya mencari tahu, bahkan saya sampai bertengkar dengan Suami saya, Devan! Dan, akhirnya saya mempunyai bukti kuat dari mulut tersangka sendiri." Penjelasan Hayu membuat warga melongo tak percaya.


Hayu memutar rekaman suara yang udah direkam Devan. Dan, menyalurkannya hingga Semua warga Desa mendengar.


"Jadi... benar kamu yang menjebak kami? Kenapa?" tanya Devan dalam video tersebut.


"Maaf, aku tidak bermaksud menjebakmu! Aku hanya membenci Hayu dan keluarganya. tapi aku janji Devan... aku akan membuatmu bercerai dengan Hayu dan menikah denganku," jelas seseorang direkaman itu tidak lain adalah Luna.


Lian terkejut ia terdiam membisu. "Bukan! itu pasti fitnah! Kau memfitnahku!" teriaknya mencoba menyangkal.


Namun, suaranya terpotong saat mendengar cuplikan suara lainnya.


"Dan, kamu juga yang menjebak Hayu hingga ia hampir di perkosa preman-preman?" tanya Devan, dan itu dijawab jujur.


"Benar. Itu salah satu cara supaya kita bisa bersama. Gadis miskin dan kampungan itu harus menderita! Dia tidak layak untukmu!"


"Bohong! Bukan! Bukan saya... itu fitnah!" teriak Luna. Wati yang melihat itu merasa jengkel dengan kebodohan putrinya. Dengan sekali tarikan mereka pergi meninggalkan pesta dengan malu, karena dilempari sisa makanan pesta.


Biar kamu tau rasa juga....


Hayu menatap Devan dengan lega, ia benar-benar merasa sangat senang semua beban pikirannya lepas.


Hayu berlari memeluk Devan. Semua warga yang melihat itu merasa bersalah pada keduanya.

__ADS_1


"Maafkan kami semua. Yang bertindak tanpa berpikir, hingga membuat kalian menderita," ucapan Maaf dari para Warga.


Hayu tersenyum bahagia. "Tidak itu tidak salah kalian. Kalian hanya terprovokasi saja. Dan, karena itu kami bisa bersama sekarang, saya juga berterima kasih."


__ADS_2