
Hayu menyadari sesuatu seperti ada yang berbeda dari sang Ibu. Seperti menyembunyikan sesuatu. Namun, Hayu tak ingin bertanya sesuatu apa itu. Karena ia heran, darimana Ibunya mendapatkan uang yang selalu cukup untuk dirinya juga saat ia melahirkan kenapa Ibunya bisa membiayai semuanya dengan lunas tanpa masalah.
"Hey, Yu. Anak kamu ganteng banget loh, mirip Bapaknya, haha," ujar seorang Ibu-ibu tertawa sembari mencoba memegang Gio.
Gio langsung menghindarinya karena tidak ingin di pegang."Ah maaf, Bu. Gio memang tidak suka disentuh orang-orang asing menurut dia. Pian pun satu bulan baru bisa dekat," jelas Hayu.
Ibu itu nampak tak suka. "Mana ada anak kecil yang seperti itu. Semua anak kecil mau apalagi kalau sudah dibujuk," jelas Ibu itu lalu pergi. Tanpa membeli apapun.
Hayu hanya geleng-geleng kepala. Lalu ia terpikir, tentang bagaimana pertama kalinya Pian dan Gio bertemu. Gio sama sekali tak ingin disentuh oleh Pian. Namun, setelah melakukan pendekatan secara rutin setiap harinya. Juga dengan bujuk rayuan Gio mau dekat dengan Pian.
"Gak papa, sayang. Bagus jika Gio tidak mau disentuh orang lain selain keluarga kita," ujar Hayu, mengacungkan jempolnya. Walau Gio sama sekali tak mengerti.
"Ha.. haha." Gio hanya tertawa menjawab perkataan sang Ibu.
"Gak kerasa, kamu sudah hampir ulang tahun yang ke satu, sayang. Mama gak yakin, bisa rayain ulang tahun kamu. Tapi, Mama janji akan selalu ada buat Gio. Cup!" Hayu mencium kening Putranya yang tersenyum manis.
"Pinter. Gio anak yang cerdas dan baik. Tidak menyusahkan orang tua, bahkan Gio tidak renyeng," jelas Hayu yang bersyukur. Selagi ia berjualan Putranya tak pernah menangis. Walau sempat beberapa kali menangis karena ingin buang air besar dan lainnya.
__ADS_1
...****************...
Hari ini, tepat ulang tahun Gio untuk yang pertama kalinya. Hayu sangat antusias mengundang Pian dan juga beberapa sahabat dekatnya saja. Juga beberapa anak tetangga.
"Masyaallah, anak Mama. Tampan sekali ya," puji Hayu pada Putranya. Ia memasangkan pakaian baru untuk Gio. Walau masih belum banyak mengerti apa-apa Gio hanya tertawa.
Namun, ia menangis kencang setelah kehadiran banyak orang di rumahnya, juga mengerumuninya karena gemas melihat Gio yang terlihat sangat-sangat tampan.
"Sayang, tenang ya. Gio, kan anak laki-laki gak boleh nangis ya... Masa hari ulang tahun nangis, anak Mama senyum dulu dong, baaaa." Hayu berusaha membujuk Putra kecilnya agar tidak menangis lagi. Benar saja, beberapa detik kemudian bocah itu kembali tersenyum dan tertawa.
"Maaf, semuanya. Adik Gio belum bisa interaksi dekat dengan adik-adik ya karena masih sensitif," jelas Hayu, membuat mereka murung.
"Makasih, Bi."
Ratna datang ditengah-tengah percakapan mereka. Ia membawa sepotong kue ulang tahun yang ia buat sendiri untuk ulang tahun pertama Cucunya. Di desain dengan beberapa gambar hewan seperti kambing dan kucing. Bertuliskan nama Giovano.
"Wow! Kuenya bagus sekali, Bu! Hana juga mau kue seperti itu, Bu," rengek seorang bocah setelah melihat kue buatan Ratna.
__ADS_1
"Wah, Bu Ratna pintar sekali membuat kue. Bagaimana jika ulang tahun anak saya satu bulan lagi, saya memesan kue ulang tahun pada Bu Ratna?" tanya Ibu Hana. Membuat Ratna dan Hayu saling pandang dengan tak percaya.
"Boleh! Tentu saja, boleh Bu Hana." Ratna tersenyum senang. Setidaknya menambah penghasilan untuknya.
"Mama aku juga mau!"
"Aku juga."
"Kami juga pesan untuk dua Minggu lagi, Bu Ratna."
Akhirnya beberapa orang memesan kue ulang tahun pada Ratna, dengan berbagai motif yang diinginkan anak-anak itu. Ratna sangat bahagia begitu juga dengan Hayu, mereka merasa hadirnya Gio merupakan berkah tersendiri untuk mereka.
Karena ulang tahun Gio, Ratna jadi tahu bahwa dirinya juga pandai membuat kue ulang tahun bukan hanya kue jualan sehari-hari saja. Terima kasih sayang. Kamu memang anugrah bagi Mama,' batin Hayu.
"Pian. Bantuin bawa tekwan dibelakang ya."
"Siapa, Bu Bos," jawab Pian pada Ratna.
__ADS_1
Ratna juga memiliki keahlian memasak Tekwan, makanan yang sangat enak. Hingga membuat Ibu-ibu dan anak-anak yang datang ketagihan membuat Hayu terpikir ide untuk menambah menu makanan jalanan mereka yaitu Tekwan.
Ratna belajar memasak tekwan pertama kali saat berada di kota Palembang, bersama dengan sahabatnya.