
Suara riak ombak bergemuruh dipesisir pantai
Angin mulai kencang, dan air laut mulai pasang seiring ombak yang menerjang bebatuan dan menampar bibiran pantai
Prak prak
Suara air laut menampar bebatuan besar yang ada dipinggir laut
Bibiran pantai yang dulu pernah sejuk dan menjadi destinasi hiburan wisata, kini tinggal kenangan
Jangankan untuk sekedar berlibur, mencari nafkahpun sudah ditinggalkan oleh sang pemilik perkebunan yang beberapa tahun lalu sudah mulai terendam
Dan sekarang, hanya tinggal puing-puing tanaman cemara yang pernah menghiasi sepanjang pantai yang pernah membuatnya cantik dan sejuk
"Banjir!! Banjir lagi Juragan!!" Teriak seorang pemuda yang berlarian menuju sang Juragan yang sedang berdiri dibawah pohon sukun
Pemuda itu melapor setelah tadi sibuk memberi komando pada beberapa anak buahnya yang sedang sibuk menata papan tempat diesel disepanjang bibir lautan
"Kita pulang! Lanjutkan besok!" Titah sang Juragan
"Siap Juragan!!" Balasnya kemudian berlari menjauh untuk memberi komando lagi agar seluruh anak buahnya pergi dari lautan
"Bapak Bapak !!! Sudah jam 10 !! Air mulai pasang !! Kita tak bisa melanjutkan pekerjaan ini !!! Sebaiknya kita bubar !! Bubar!!" Teriaknya sambil tangannya terangkat keatas untuk membubarkan para buruh yang masih sibuk dengan alat-alat yang mereka pasang
"Tapi Bos. Itu selangnya dibiarkan terpasang begitu, Bos?" Tanya salah satu buruh
"Kalian masangnya kenceng kan?" Tanya Rosid, ajudan sang Juragan
"Sudah pasti kenceng Bos, Saya jamin kuat" Jawabnya memastikan pekerjaan mereka benar-benar kuat dan perkasa
"Bagus. Kalau begitu, tinggalkan saja. Kita lanjutkan besok pada waktu pagi-pagi sekali"
"Siap Bos"
-
Beberapa waktu lalu sebelum sang Juragan datang kekampung ini
"Bubar !! Bubar!!" Teriak Pemuda yang tak lain adalah makelar kembang yang biasa membeli bunga melati dari para petani yang memiliki lahan perkebunan bunga melati setiap paginya
Beberapa petani yang masih memetik bunga melati yang berada ditangkupan tanaman bunga melati mulai berhamburan
"Ada apalagi ini. Kembang kalau mumpluk kayak gini dibubarin" Kesal sang Petani
"Iya. Udah gitu harganya hancur lagi"
"Ibu!! Bapak!! Air laut pasang lagi. Jika Kalian terlambat, Aku nggak mau beli kembang Kalian. Aku mau kabur!" Teriak sang Makelar tadi
"Mak. Mak .. Buruan ayo. Bunganya sudah ditungguin si Rais tu. Ntar Dia mencak-mencak lagi kalau kita terlambat" Ucap si suami sambil menumpahkan petikan bunga melati kekantung ukuran 500 kilogram jika kantung tersebut diisi gula pasir
__ADS_1
"Dibubarin lagi, dibubarin lagi" Gerutu sang Istri sambil memegang caping yang ia pakai
"Iya ayo buruan. Tumpahin sini" Ucapnya sambil menjembreng kantungnya agar bunga yang akan ditumpah oleh Istrinya tidak keluar dari kantung
Sepasang Suami Istri dan petani lainnya sudah berlarian menuju pos makelar untuk menjual hasil yang mereka petik hari ini
"Eh.. Yu Suki. Ditimbang sana, gantian" Ucap petani lain yang memberi jalan sambil menghitung uang bayaran yang Ia dapat barusan
"Matur suwun, Kang Darsan" Jawab Yu Suki
Kang Darsan mengangguk "Kepetik semua nggak, Yu?"
"Nggak Kang, padahal kembange lagi naruh-naruhe (Banyak)" Ucap Yu Suki sambil membopong kantung berisikan bunga dibantu Pak Parmin suaminya
"Iya. Petani mau jadi apa kalau tiap hari begini. Dan lihat kebunku Yu. Tiap siang seperti ini, mulai terendem air asin" Keluh Darsan lagi
"Sama Kang. Ini kebon sak dawan-dawan (Panjang) dapate segini" Jawab Yu Suki
"Untung masih dapat segitu banyak Yu, Sampean. Lihat punyaku. Dapet 1 kilo saja Alhamdulillah. Entah untuk besok Yu. Padahal, jaman perawanku dulu, kembangan segitu luas dapete kwintalan. Ini sekilo saja, Aku terbang-terbang beberapa petak kebun. Kembanganku separuhnya sudah hancur, busuk terendam air asin semua"
"Iyo to Yu Dasmi"
Dasmi mengangguk "Coba kalau ada Pemuda jenius yang bisa menanggulangi air roob yo" Keluhnya kemudian
"Sopo sing biso Mak" Saut Rais
"Yo Kowe to Is. Duitmu kan akeh (Banyak)" Jawab Kang Darsan yang masih sibuk melipat kantung bekas bunga melati tadi
Rais mendongak "Cariin Pak, Mak"
"Emoh.. Takut Kowe nggak cocok"
"Hiyo.. Ntar kalau ada apa-apa, Kita yang disalahin yo, Yu"
Yu Suki mengangguk "Buruan to Is. Takut keburu kiamat. Lihat, lautan saja sudah mengusirmu pelan-pelan"
Itulah keadaan kampung saat itu
Jika bulan mulai akhiran mber-mber yaitu antara oktober, november, desember, jalanan perkampungan mulai banjir karena musim penghujan
Kini, lautan sudah tidak mampu menampung debit air lagi. Padahal, lautan adalah kantung air Dunia
Dulu tidak pernah mengalami iklim semenakutkan seperti ini. Dan kali ini, ramalan BMKG sudah memberi informasi, bahwa pulau Jawa akan terendam, khususnya daerah pesisir pantai utara
-
Lanjut saat ini
Pagi harinya setelah subuh
__ADS_1
"KURAAAAASAS !!!!!!"
Otok otok otok otok
Suara mesin diesel penguras air sudah bersautan
BISING
Bercampur dengan suara riak ombak yang masih halus dan bersahabat, mesin penguras air laut sudah mulai bekerja
-
Ditempat warung makan Mbak Ikus
Para Warga yang sedang sarapan mulai bergunjing
Kaki kanan ditekuk sambil nengkreng diatas kursi panjang
Ada yang masih sarapan, adapula yang sudah selesai dan ditutup dengan merokok
"Udud Kus, sak *** (Satu batang)" Ucap salah satu Pelanggan warung yang meminta rokok satu batang pada Yu Sikus
"Ini. Seneng yo Lek, dapat duit sewa banyak" Ucap Yu Sikus sambil menyodorkan satu batang rokok bermerk "Dom"
"Ya iyalah. Daripada nganggur lama. Dijual nggak laku. Ditanamin apapun nggak bisa. Yaudah hanya disewa ini bukan di jual"
"Iya masih balik milik sendiri" Saut Pelanggan lain
"Disewa berapa hektar Lek ?" Tanya Pelanggan lain
"Semuanya. Tapi mencar-mencar milikku"
"Oh, yang dijalan widoro, sama jalan ande-ande yo?"
"Iya"
"Wah, berapa hektar tu"
"Paling 2 hektar seprapat"
"Wih, dapat durian runtuh dong"
"Alhamdulillah.. Tapi kan bukan Aku tok yang kena sewa. Semuanya dapat. Itu Pak Daniyan. 4 hektaran ada tu. Menyebar dimana-mana"
Semuanya manggut-manggut faham. Disini semua orang tahu, orang-orang kaya jaman dulu, itu memiliki tanah berluas-luas. Sedangkan untuk jaman sekarang, dikatakan kaya kalau sudah memiliki rumah indah dan mobil mewah
Padahal, jika Kita perhatikan, Tanah itu tidak ada pabriknya. Sedangkan mobil, motor, dan kemewahan lainnya, masih ada pabriknya. Jadi, kaya sesungguhnya adalah seorang petani yang memiliki tanah luas.
Dan ditanah Jawa, perkampungan, pesisir pantai, orang-orang yang terlihat miskin, merekalah orang-orang kaya sesungguhnya. Casingnya lusuh, tapi harta yang mereka miliki tidaklah sedikit
__ADS_1
Hampir semua para petani disini semuanya memiliki ladang bunga melati itu. Tapi sayangnya, mata pencaharian utama ini hampir punah
Haii Reader, baru sanggup ngarang lagi nih... semoga suka... Happy reading..... Emmuuuaahhhh