Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Istri Yang Belum Aku Sentuh


__ADS_3

Setelah kepergian Rosid, Dewa bergumam


"Apapun caranya Aku harus mendapati gadis itu! Dan akan Aku bawa kehadapan Mama. Itu janjiku"


-


Ketika Dewa sedang melamun menatap langit-langit kamarnya, Rosid menghampiri dirinya. Dewa bicara tanpa menoleh


"Apa Kau sudah menemukan gadis...."


"Sudah, Juragan!" Sahutnya cepat sebelum Dewa meneruskan ucapannya


Dewa menoleh "Dimana Dia?" Tanya Dewa antusias


Nara muncul dari balik punggung Rosid "Aku disini, Juragan Krishna" Ucap Nara tersenyum simpul


"Ck" Dewa pura-pura membuang wajah


Nara mendekat masih dengan seragam putihnya


Sedikit ada bayang-bayang yang mendekat, Dewa menoleh


Dewa menatap Nara. Kemudian "Rosid !!!" Teriaknya dengan nada mengusir


"Siap, Juragan !!" Jawab Rosid. Kemudian keluar dari kamar tersebut dengan cepat


Setelah Rosid benar-benar keluar, Dewa mulai bertanya pada Nara "Apa sudah lama, Kau bekerja disini, Mahes?"


"Nara. Panggil Aku Nara. Namaku Nara. Maafkan Aku waktu itu" Nara menatap Dewa takut-takut tetapi sangat lucu didepan Dewa


Dewa tersenyum "Naraya Maheswari. Tidak masalah. Itu juga namamu. Aku suka dengan panggilan itu"


Dengan malu-malu Narayapun menjawab "Terserah Kau, Juragan Krishna"


Mereka tergelak bersamaan


Dewa menatap Nara lekat "Duduklah. Jangan berdiri"


"Tidak. Nanti dikira Aku cari perhatian sama pasien"


Kembali Dewa tersenyum "Tak masalah. Kalau gara-gara ini sampai Kau dipecat, akan kubuka lowongan yang sangat lebar khusus untukmu"


Nara tambah mendekat "Benarkah? Jadi apa?"


"Istri. Istri sungguhan"


Nara menutup mulutnya tak percaya


"Sekarang, Kamu tinggal dimana?" Sambungnya saat Nara belum menuntaskan rasa tak percayanya "Aku pernah mencarimu. Tapi rumah Ibumu kosong"


Nara membuka telapak tangannya dari wajahnya "Maunya tinggal dimana?"


Ditanya malah balik nanya. Itulah ciri khasnya Naraya. Dewa faham itu


"Ck, kebiasaan. Ditanya malah balik nanya"


"Aku tinggal didesa Rejo. Bapak Ibuku sudah menikah beberapa hari lalu. Ibu sudah Bapak boyong kerumah Kami"


"Oiya.. Terus, yang rumah itu" Dewa mengungkit rumah yang terkunci gembok "Gembok"


"Itu juga rumah Bapak. Tapi Aku tidak pernah memasukinya. Karena rumah yang Aku tempati bersama Bapak, ada digang lapangan"


"Jadi, Kau sengaja menipuku??" Pertanyaannya bernada gurauan


"Iya. Situ kan cowok. Bapak paling anti sama Cowok. Karena Bapak tahu, kalau Aku sudah punya.... " Nara sengaja menggantung ucapannya. Nara tidak enak jika Dewa tidak menyambut Dirinya


"Punya apa? Ayo lanjut"

__ADS_1


"Punya orang. Katanya" Ucap Nara ragu


Dewa tersenyum kecil "Jadi, selama ini kau tidak pernah pacaran?" Pancing Dewa pada akhirnya


"Iya. Bapak bisa kalap dan bunuh Dia. Yang berani maju memacariku"


"Wusss" Dewa pura-pura terkejut mendengar cerita Nara. Ada rasa senang jauh dilubuk hatinya


"Kenapa?" Tanya Nara


"Tidak. Aku kagum. Pada Bapakmu"


Tiba-tiba tangan Dewa memegang tangan Nara. Nara menatap tangan tersebut yang dengan pelan merayap


Dewa tersenyum "Boleh ya, Aku kerumahmu"


"Nanti nyasar. Kan sudah Aku tipu"


"Tidak" Dewa menggeleng dengan senyum kecilnya "Kan tadi sudah disebutin. Gang lapangan. Aku akan cari. Pasti ketemu"


Nara tersenyum "Sekarang sudah malam" Putus Nara


Dewa melepas tangan Nara sambil melengos "Tahu" Saut Dewa kecewa. Dewa tahu, Dirinya pasti disuruh istirahat


"Ya sudah. Kalau sudah tahu, berarti..?"


"Harus istirahat kan? Faham"


"Ha ha" Naraya tertawa lebar


Dewa menatapnya dan meraih jemari Nara kembali sambil terus mengusapnya "Mahes.."


"Hmm" Nara langsung terkunci dari tertawanya


"Pergilah. Jangan ganggu fikiranku" Usirnya begitu kejam. Tetapi terdengar sangat merdu ditelinga Nara


Nara berbelok akan meninggalkan Dewa


"Akan Aku halalkan segera"


Nara tersenyum malu


Uhhh... Dunia serasa seperti milik Nara yang berbunga-bunga. Yang lain ngontrak


-


Brakk


Nara terduduk dikursi sambil senyum-senyum


"Ra. Kamu dari mana datang-datang senyum-senyum tak jelas. Kamu Nara kan?" Tanya Yun kawan satu shifnya


"Setan!!!" Jawab Nara asal


-


"Dia bukan dari keluarga kaya. Ayahnya telah meninggal ketika Ia masih kecil. Dan Ibunya telah menikah lagi. Tapi melihat keakraban dan kekacauan Mereka, sepertinya Aku memang telah jatuh hati pada istriku sendiri haha. Istri yang belum aku sentuh" Kekeh Dewa yang sudah berpindah kamar dirumah panggung miliknya


Dewa sudah boleh pulang disiang harinya sebelum Nara masuk kerja pada shif ke tiga


"Eh. Apa jadwal kerjanya masih malam lagi seperti semalam ya?" Tanya Dewa lagi "Sial. Kenapa tidak minta nomor Hp. Dasar tulalit. Doa Mama benar-benar makbul ini mah.."


-


Setelah beberapa hari berlalu. Dan Dewa benar-benar sehat, Dewa ikut lagi menyetor bunganya kekota


Saat Rosid ingin membelokkan mobilnya arah pulang, Dewa menginterupsi "Lewat depan rumah sakit"

__ADS_1


"Rumah sakit?"


"Iya rumah sakit. Kau masih ingat jalan kerumah sakit itu, kan?"


"Oh.. Ya, ya Juragan. Pasti masih ingatlah Juragan"


-


Petang itu menjelang malam, gadis yang telah mengganggu tidurnya, ternyata sedang asyik mengantri bersama kedua rekannya dipuja sera depan rumah sakit


"Berhenti Sid. Turunkan Aku disini"


Dewa berjalan mendekati gadis itu. Dan berdiri dibelakangnya, sambil mencolek kedua temannya untuk menyingkir "Biar Aku yang bayar" Bisik Dewa pada keduanya


Kedua gadispun mengangguk faham


Ketika sang penjual terlihat bingung karena kedua pelanggannya meninggalkan dan belum membayar, Dewa langsung menaikkan uangnya "Biar Aku yang bayar. Sekalian punya istriku ini, Bu" Tunjuk Dewa pada Nara


Wah.. Dewa sekarang mengakui. Gitu dong...


Nara langsung menoleh, karena hafal dengan suaranya "Mas Dewa??"


Dewa menaikkan kedua alisnya "Kangen, ya??"


Nara Menyenggol lengan Dewa "Is" Hanya itu yang bisa Nara jawab. Padahal kangennya bertubi-tubi


"Ikut Aku ke minimarket itu yuk!" Tunjuk Dewa setelah membayar tagihan mereka bertiga


"Mau apa?"


"Ada deh. Istirahatnya masih lama kan?"


"Nanti jam 19:00 masuk"


"Tidak masalah. Ini masih jam setengah tujuh"


Dewa meraih jemari Nara. Kemudian menggandengnya untuk menyeberangi jalan


Tiba di minimarket, Dewa segera melepas gandengannya "Taruh makanannya disitu sayang" Tunjuk Dewa pada makanan yang dibawa oleh Nara keatas meja yang tersedia didepan minimarket tersebut


Nara yang baru mendengar kata "Sayang" Yang disebutkan untuk dirinya, merasa tersanjung sekaligus merinding senang mendengar panggilan itu untuknya


"Ayo kenapa bengong. Taruh dulu disitu. Nanti makannya Aku temani"


Dewa langsung menggandeng lagi saat masuk ke dalam minimarket itu tanpa risih sedikitpun "Ayo, ambil yang Kamu mau" Ucapnya saat dewa melepas tangan Nara dan dirinya mengambil sesuatu untuk dirinya sendiri


Dewa mengambil makanan dan minuman


kemudian mendekati Nara kembali "Hanya itu yang kamu butuhkan"


"Iya"


"Baiklah ayo kekasir. sekalian isi data ya"


"Siapa? "


"Datamu. Sekalian, minta nomor HP mu. Oke"


Nara tak berkutik


Setelah pembayaran usai. Mereka berdua keluar dan duduk didepan minimarket


"Makanannya buka dong. Lapar Aku"


"Idih.."


BERSAMBUNG........

__ADS_1


__ADS_2