Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Kabar Duka


__ADS_3

Prang


Sebuah pigura besar yang bergambarkan Dewa dan Nara saat Mereka menikah dulu, terjatuh dilantai


Nara yang kaget langsung berlari menuju ke sumber suara


Nara berjongkok dan ingin memunguti kaca yang telah pecah berserakan


"Jangan Non. Biar Saya saja yang membersihkannya" Ucap seorang Maid yang bekerja dirumah itu


Nara mengurungkan diri untuk memungut pecahan tersebut, dan kembali kekamar


Perasaan tidak tenang terus memenuhi relung hatinya


Rasa kangen dan ingin berjumpa dengan suaminya semakin kuat, padahal baru beberapa jam berpisah


Nara mengambil kalung yang Mereka simpan dilaci, yaitu foto yang sama dengan yang terjatuh barusan


Setelah beberapa menit menyelami masuk kemasa lalu, tiba-tiba suara jeritan menggemah dan menyebut-nyebut namanya


"Mama?? Mama kenapa menjerit?" Nara turun dari tempat tidur. Kemudian berlari dan turun kebawah


"Dewaaaaaa!!! Naraaaaa!!!" Ucap Bu Fitri histeris


"Mama??!" Nara langsung menghambur memeluk mertuanya "Ada apa Ma? Apa yang terjadi??"


"Dewa, Nara. Dewaaaaa.." Bu Fitri menjerit, kemudian terguguh


"Mas Dewa? Mas Dewa, kenapa Ma?"


"Dewa kecelakaaaaaan.."


"Mas Dewa...Mas Dewa.. " Belum juga bicara benar, Nara sudah terjatuh


"Nara...!!!"


Seluruh penghuni rumah ini tambah panik saat tahu istri Dewa pingsan


-


Beberapa menit berlalu, berita kecelakaan viral dimana-mana


Berita terkini


Sebuah mobil bernopol B 12 AH mengalami kecelakaan tunggal di Jalan berliku-liku, Bandung. Mobil tersebut menabrak pohon hingga ringsek. Diduga, pengendara tersebut kurang fokus. Akibat kecelakan tersebut, satu orang dinyatakan meninggal dunia. Korban berinisial KDY, 29 tahun ini terjatuh karena jalan tersebut licin dan berliku tajam.


"Itu mobil Dewa !! Itu mobil Dewaaaaa.." Bu Fitri kembali histeris setelah tak sengaja melihat berita yang tiba-tiba muncul ditelevisi


"Seluruh pakaian yang dipakai persis. Itu baju Dewa" Sambungnya lagi saat Bu Fitri melihat korban itu sangat-sangat mirip dengan Dewa Putranya


"Wajahnya saja yang tak bisa dikenali. Tapi Badan, baju, semuanya mirip seperti Dewaaa" Lagi-lagi Bu Fitri yakin. Jika yang kecelakaan adalah Putra satu-satunya


"Menurut keterangan warga, korban melaju kencang dari arah barat ke timur tepat di Jalan berliku itu, mobil oleng ke kanan lalu menabrak pohon dan rambu lalu lintas"


"Dewaaaaaaaaaa!!!!!"


-


Sementara itu, kendaraan yang mengalami kecelakaan kemudian dibawa ke Unit Laka Lantas Polrestabes Bandung. Sedangkan penumpang yang meninggal dievakuasi menggunakan ambulan PMI Kota Bandung menuju kamar jenazah RSU terdekat


Korban Laka Maut ini langsung dievakuasi dan keluarga meminta korban untuk segera dimakamkan

__ADS_1


"Mas Dewaaaaaa"


-


Pak Raden dan Bu Winda ikut bersedih. Apalagi Dewa menantu sejak masih remaja


Tak dipungkiri, Winda ikut terpukul


Beberapa hari telah berlalu


Pak Raden dan Bu Winda akan kembali kekampung. Karena melihat Putrinya terus bersedih, akhirnya mereka berdua mengajak Nara untuk pulang kekampung. Tetapi Nara tetap menolak


"Mas Dewa masih hidup, Bu. Nara yakin"


"Nduk"


"Bu, biarkan Aku tunggu. Disini" Tolak Nara lugas


"Nara, Kau menyaksikan sendiri bahwa itu Dewa yang telah dimakamkan. Baju, sepatu, identitas, dan juga mobil, itu juga milik Dewa. Dewa telah tiada. Ikhlaskan Nara, ikhlaskan" Bu Fitri kembali terguguh


-


Seminggu telah berlalu dari hari pemakaman Dewa


Kedua orang tua Nara akhirnya pulang, sedangkan Nara ingin tetap tinggal disini


Malam ini, tanpa ada angin ataupun hujan, tiba-tiba Narendra datang mencari ayahnya yang sudah seminggu menghilang


"Mencari Ayahmu disini? Nggak salah tempat Kamu, Rendra. Bahkan, sampai Dewa dimakamkan, Dia tidak kelihatan batang hidungnya. Kau pikir, Kami menyimpan Ayahmu"


"Tante, Aku kesini itu tanya baik-baik. Ayahku memang seminggu ini tidak pulang. Terakhir, Ayah ingin pergi, dan ngomongin tentang Dewa. Aku tidak tahu persis, Ayah itu perginya kemana? Dan juga, dengan siapa Akupun tidak tahu"


"Aku tidak tahu Tante. Aku sendiri tidak mendengar jelas ucapan Ayah sebelum pergi"


Narendra kemudian mendekati Nara "Sekarang, Kau seorang janda. Siapa yang mau dengan janda bekasnya Dewa, hmm?"


Plak


Dengan kuat Nara menampar pipi Narendra "Kata siapa Aku janda. Aku Istri Mas Dewa. Istri Mas Dewa. Ingat itu"


"Hah??? Ahaha" Narendra tertawa mencibir "Dasar stress, Kamu. Tungguin sampai tuapun, Dewa tak akan bisa pulang. Bagaimana, jika Kita bersenang-senang saja"


"Cukup !!!!" Kini Bu Fitri yang berteriak "Jaga ucapan Kamu!!. Kalau Nara telah jadi janda, memangnya kenapa? Dia anakku. Sampai kapanpun. Dan jika Nara menikah lagi, biarlah menikah. Dan satu lagi, tidak Ku izinkan menikah denganmu"


-


Sepeninggal Narendra, Nara kembali melamun. Seakan menunggu kepulangan Dewa dari bekerja


Hari berganti hari, tak ada lagi senyum yang Nara punyai


Hingga akhirnya, Ibu Fitri membawa Nara pergi ke kota lain untuk memulai kehidupan baru menjauh dari ancaman Rendra


-


Di tempat tinggalnya yang baru, Nara yang sudah berstatus janda dan tertekan, berusaha untuk menghilangkan rasa sakitnya setelah kehilangan Dewa


"Nara, hari ini Mama dan si Bibi akan kepasar sebentar. Mama penasaran sekali dengan pasar yang ada didekat sini. Apa Kau mau ikut?"


Nara menggeleng "Nara ingin dirumah saja, Ma"


"Kalau Mama ingin mengajakmu, bagaimana?"

__ADS_1


"Nara masih malas. Nara ingin istirahat saja Ma"


"Baiklah. Mama tinggal sebentar ya. Kalau gitu, kunci pintunya"


-


Baru beberapa menit duduk, gawai Nara berbunyi


"Mas Dewa... " Fikiran Nara hanya dipenuhi dengan nama Dewa


Tetapi setelah dicermati tulisan yang memanggilnya


"Mama?? Tumben Mama telpon" Kemudian Nara menyapanya "Hallo Ma, baru juga pamitan kenapa sudah telpon"


"Iya hallo Mbak. Maaf ini bukan Mama Mbak. Tetapi Saya Ra..."


"Anda siapa? Mana Mama, Aku ingin bicara sama Mama"


"Maaf Mbak. Mama ada dirumah sakit sekarang"


"Rumah sakit? Mama kenapa? Katakan padaku, Mama kenapa?" Bentaknya, sampai seseorang yang diseberang sana tidak bisa menjawabnya karena kalah argumen "Dirumah sakit mana, cepat??!!"


Dirumah sakit Biar cepat sembuh. Nanti ketemu disini


"Tunggu!! Anda siapa?"


"Nanti Anda akan tahu jika telah sampai disini. Saya tunggu"


Klik


Nara menatap ponselnya "Dimatikan"


-


Nara langsung berlari keluar rumah, untuk segera mencari taxi


Untung baru sampai halte, taxi kosong menghampiri "Taxi Mbak" Tawarnya pada calon penumpang


Nara maju, kemudian membungkuk "Rumah sakit Biar cepat sembuh, Pak"


"Oh iya, silahkan masuk"


Nara masuk taxi harap-harap cemas. Rasa takut, malas, semuanya hilang. Berganti dengan rasa cemas


Setelah sampai dirumah sakit yang ditujuh, Narapun membayar tagihannya "Terima kasih, Pak "


"Sama-sama Neng"


Nara kembali berlari menuju information "Eh tunggu dulu" Nara mengambil ponselnya, dan menelpon nomor Ibu mertuanya


"Hallo" Suara Pria yang tadi menelpon Nara


"Dimana?"


"Anda yang memakai baju Putih? Yang berdiri didepan information?"


Nara mengabsen bajunya, kemudian "Iya benar. Anda dimana"


Tidak ada jawaban lagi melainkan seorang pemuda yang datang menghampiri Nara "Anda yang bernama Naraya?"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2