
Malampun tiba
Seperti malam-malam sebelumnya
Para anak-anak sehabis sholat maghrib, dengan rutinitasnya selalu belajar mengaji dirumah panggung yang sengaja dibuat paling luas
Mina dan Aminlah yang menjadi guru ngaji Mereka
Selain tempat ini untuk belajar, tempat ini juga untuk beristirahat anak-anak para pekerja
Setelah selesai mengaji, anak-anak mulai berlarian menuju halaman rumah Dewa
Seluruh sarung, mukena, kopya, semuanya dilemparkan pada ibunya
"Mak, Aku mau main bareng teman" Teriak sang anak pada ibunya
Ibu-ibu yang sedang santai digazebo semuanya menghela nafas
"Le le, la mbok yo dilipet dulu sarungnya. Taruh diatas lemari kalian"
"Lupa Mak"
"Halah, bisamu ngeles tok"
Kali ini Mereka sedang bermain pentak umpet
Meskipun anak-anak berlarian, semua orang tua tidak ada yang khawatir. Karena didepan rumah Dewa terdapat panggung seperti pos ronda, yang ada televisi besarnya khusus untuk nonton bareng setiap malam tiba seperti ini
Sedangkan penontonnya, berada diseberang jalan, yang terdapat gazebo dan kursi panjang dari bambu, yang diikatkan pada pohon cemara yang berderet disepanjang jalan menuju gudang bunga melati
Setelah bapak-bapak dan ibu-ibu capek seharian berkebun, mereka berkumpul duduk dibawah pohon cemara, sambil berkelakar
"Sentiling sentiling..." Mina membawa sentiling yang masih tersisa di penyimpanan makanan tadi siang
"Sentiling apaan Min. Sini-sini Min"
Para pria maupun wanita mulai mengambil kue tersebut dan mengunyahnya sambil nonton dangdutan ditelevisi
"Sumi mana Min, kok bukan Dia"
"Lagi duduk diterasnya. Katanya perutnya nggak enak"
"Lah, mau melahirkan kali"
"Nggak tau. Mana Om Rosid belum pulang"
"Waduh. Sana Mak, temenin Sumi. Kasihan, si Bos belum pulang" Pak Parmo menyuruh istrinya untuk menjenguk Sumi
Rumah disini sengaja dibuat saling berdekatan
Ada yang berpunggung-punggungan, adapula yang saling berhadap-hadapan. Semacam rumah kontrakan
Hanya saja, setiap KK, dibuatkan perkamar, dan seluruh anak-anak mereka, tidurnya terpisah dengan kedua orangtuanya, dan ditempatkan ditempat yang lebih luas
Hanya rumah Dewa saja yang dibuat paling besar sendiri. Dan kamar tidurnya ada dua
Meskipun terlihat sederhana, uang yang mereka punya tidaklah sedikit
Para ibu-ibu akhirnya pergi menuju ke kediaman Rosid
Dewa dengan Rosid sudah sampai. Begitupun mobil mobil lainnya yang mulai tertata rapih di garasi
Dewa berjalan sambil mengusap kepala bocah-bocah yang masih bermain dijalanan sekaligus halaman rumah Dewa"Junanya mana?"
"Lagi ngumpet, Juragan"
"Oh, jangan jauh-jauh ya? Jangan sampai ke laut"
__ADS_1
"Siap, Juragan"
Dewa kembali berjalan melewati para bapak-bapak yang sibuk menonton televisi
"Pada nonton apaan nih?" Dewa berdiri menoleh kearah televisi
"Biasa Juragan, nonton dangdutan"
"Tumben ibu-ibu sepi, pada kemana?" Kali ini Rosid yang bertanya
"Pada dirumahnya si Bos"
Mendengar pada kumpul dirumahnya, Rosid langsung berjalan cepat menuju kerumahnya
Dan benar. Ibu-ibu lagi pada ngerumpi di teras rumah Rosid
Ibu-ibu mulai menyingkir karena pemilik singgasananya sudah pulang
"Kalau begitu, Kami permisi dulu ya Bos, Sum" Pamitnya
"Makasih ya Bu"
Para ibu-ibu meninggalkan tempat Rosid, dan beralih kedapur untuk menyiapkan makan malam mereka
Teng teng teng
Suara panci bocor yang di tabuh mulai bersautan
"Makan malam tiba !!! Anak-anak !! Berhenti mainnya"
Para Bapak mulai sibuk menggelar tikar ditengah jalan
Dan makananpun sudah terhidang dengan kilat
"Apa Mak lauknya" Tanya anaknya pada ibunya
"Asik... Belutnya ada nggak Mak?"
"Ada, tapi masih mentah. Mbak Sumi sakit perut, jadi belutnya tidak kemasak"
"Tumis kangkung !! Tumis kangkung !!" Si Mina berteriak lagi sambil membawa tumis kangkung se baskom besar
"Sini Min, bawa sini Min"
Semuanya duduk membundar dengan rapih seperti para dewan yang akan rapat digedung nusantara
"Papa, papa. Juna mau udang"
Dewa langsung mengambilnya seperti para pekerjanya yang mulai menyantap makanannya
"Mama, mama. Malam ini kok nggak ada cumi"
"Belum nangkep. Nelayannya tidak bawa hasil tadi"
"Kasihan ya, Ma. Terus, Pak nelayan nggak dapat duit dong dari Mama"
"Itu ikan laut banyak. Pak nelayan yang bawa"
"Oh, berarti Pak nelayan jadi bawa uang kerumahnya ya, Ma?"
Naraya mengangguk "Iya. Sudah jangan banyak ngobrol. Kita makan"
-
Semua ibu-ibu sudah menggiring anak-anaknya menuju ke singgasana khusus untuk anak-anak
Yang memiliki anak perempuan, mulai masuk kekamar yang tertutup khusus anak perempuan. Sedangkan kamar anak laki-laki, kamarnya terbuka yang biasa untuk belajar
__ADS_1
"Papa, Juna ingin tidur bersama Rohid" Juna meminta izin
"Juna mau tidur sekasur dengan Rohid, maksudnya?"
Juna terlihat bingung
"Bawa kasur sendiri sama selimut"
"Asiiiiikkkk" Juna langsung jingkrak-jingkrak dan boyongan membawa kasur lantai dan juga selimut tebalnya
"Juna mau kemana?!!" Teriak Naraya yang terlihat bingung diteras
"Mau nginap katanya" Jawab Dewa sambil meniti tangga rumah mereka
Dewa sudah merangkul bahu Naraya "Biarin, besok masih libur ini. Tidur yuk" Ajaknya sambil menggiring Naraya masuk kerumah
-
Dipagi berikutnya
Anak-anak sudah duduk rapih sambil sarapan digazebo depan rumah Dewa
Pagi ini menunya mie goreng sama telur dadar
Setelah sarapan usai, anak-anak mengambil tasnya dan berpamitan kepada orang tuanya
"Papa, Mama. Juna mau berangkat sekolah" Pamitnya sambil mencium tangan kedua orangtuanya
"Iya sayang, hati-hati ya.. Pinter disana. Jangan berantem"
Juna mengangguk
Anak-anak sudah bertaburan menuju mobil bak untuk berangkat ke sekolah
Muji yang biasa mengantar jemput anak sekolah, sudah siap menggelar tikar yang ditata diatas mobil bak
"Anak-anak !!! Sekarang sudah jam setengah tujuh !! Buruan !!" Teriaknya sambil mengangkat anak-anak yang sudah antri dibelakang mobil
Rohid, Karan, Juna, sudah berlarian seperti anak-anak lainnya
"Tunggu!!" Tali sepatu Juna terlepas
"Pakai dulu" Ujar Muji sambil menata bocah-bocah sekaligus mengabsennya "Ini berangkat semua ya ??" Tanyanya pada anak-anak
"Iya om. Semuanya berangkat !!!"
"Oke, berarti, anak-anak sehat semua ??"
"Sehat Om!!! "
Semua anak-anak sudah rapih
"Baiklah, Kita berangkat....."
"Siap Om!!"
Mereka mulai bernyanyi sambil tertawa riang
Muji mengantarkan anak-anak yang sekolah di SMP dulu, takut kesiangan. Sedangkan berikutnya, Muji mengantarkan anak yang bersekolah di SD. Setelah itu, baru mengantarkan rombongannya Juna yaitu taman kanak-kanak
Sekolah mereka lumayan jauh karena harus ke perkampungan. Sedangkan dipesisir, tidak ada sekolah. Karena tanah disana, mutlak milik para warga, bukan pemerintah
Setelah menurunkan anak-anak SD, SMP, dan TK, Muji langsung pulang kepesisir lagi
Sedang khusus anak yang sekolah di SMA, Muji sudah tidak bertanggung jawab. Karena para orang tua sudah membelikan sepeda motor untuk anaknya. Jadi, Dewa tidak memikirkan akomodasi untuk anak yang sudah beranjak remaja
BERSAMBUNG....
__ADS_1