
Malam hari
Naraya mengusap-usap perutnya sambil makan buah-buahan yang sudah diiris tipis-tipis didalam mangkuk
Ghani berdiri ditengah pintu lalu menghampiri
Dengan pelan Ia duduk disamping Naraya sambil mengubah chanel televisi "Dari tadi makan buah, tidak ingin makan sesuatu selain buah ?" Tanyanya fokus dengan acara televisi yang akan Ia tonton
"Aku hanya ingin ini" Jawabnya juga tidak menatap orang yang bertanya
Ghani menghentikan pencariannya dalam memilih acara televisi. Kemudian duduk berbelok, menghadap kearah Naraya "Aku juga ingin mencobanya. Boleh Aku minta?"
Naraya mengangkat mangkuknya dan menyodorkan
Ghani mengambil irisan buah mangga "Buah apa ini, bengkuang apa apel?" Ghani mengambilnya dan memperhatikan irisan buah tersebut
"Itu mangga"
"Sepertinya enak saat Kamu memakannya"
"Iya Aku suka"
Ghani menggigitnya. Tetapi begitu dirasa rasanya berubah asam yang levelnya sangat tinggi. Lidah Ghani menjulur "Hah rasa apa ini... Enak apanya.."
Ahaha
Naraya tertawa terpingkal-pingkal "Salah sendiri penasaran" Ejeknya saat melihat Ghani belum membuka matanya karena menahan asam
"Hih nggak mau" Tubuh Ghani terlihat bergetar dan merinding karena merasakan asam yang kelewat batas
Kembali Naraya tertawa
Tiba-tiba
"Addaaaa dadada" Perut Naraya mengalami kram
Ghani yang mendengar tawa Naraya berubah jadi aduhan, Ghanipun membuka matanya. Begitu melihat Naraya berubah kesakitan, Iapun mendekat "Boleh Aku pegang?" Ghani sudah berjongkok didepan Naraya dengan tangan yang berada diudara
"Sakit banget..."
Ghani tidak punya cara lain. Ia segera meraup perut Naraya dengan lembut
Gleser
Rasa khawatir, senang bercampur menjadi satu -Perasaan Ghani
Ghani mengusapnya "Anak Papaa, yang anteng yaa. Jangan sakiti Mama" Mata Ghani berkaca-kaca
Sakit yang dirasakan oleh Naraya berangsur memudar. Ia menatap jemari yang terselip cincin perkawinan mereka itu masih bertengger diperutnya
Nyaman. Sangat nyaman saat tangan lebar itu memenuhi perutnya
"Sudah mendingan Mas" Ucap Nara sambil menatap Tangan Ghani yang masih menempel diperutnya
Ghani tersadar kemudian melepasnya dari perut itu "Maaf. Maafkan Aku ya. Aku tidak tega melihatmu kesakitan" Ghani salah tingkah
-
Sementara ditempat Dewa
Dewa menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai petani yang menyewa berhektar-hektar tanah
Perkebunan yang sangat luas di dua kampung ini, semuanya sudah Ia kuasai
Pemilik pabrik teh akhirnya melirik perkebunan milik Dewa "Tiap sore Kami akan ambil bunganya kesini sendiri aja deh Mas Dewa"
"Bisa, bisa, bisa. Koh Kun bisa datang kesini. Jam 3 sore, bunga untuk koh Kun pasti sudah siap"
"Oke"
__ADS_1
Akhirnya Koh Kun thiong yang akan mengambil sendiri bunga-bunga tersebut, dari gudang bunga melati milik Dewa
-
Pagi yang cerah
Para pekerja mulai sibuk memetik bunga
Sebagian ibu-ibu juga sudah sibuk menyortir bunga yang sudah dipetik agar harga yang Dewa dapat tetap tinggi dipasaran
Selagi bapak-bapak sibuk membasah bunga, dua wanita cantik menepihkan motornya, kemudian turun dan berjalan menuju gudang
"Permisi, Bu, Pak"
Parmo turun dari bak yang berisi bunga melati yang telah mengambang di air
"Iya Mbak, ada apa ya?"
"Gini Pak, Saya ingin beli bunganya boleh nggak?"
"Bunga?? Memangnya Mbak mau beli berapa ? Buat nyekar atau yang lain" Tanya Parmo bingung. Karena biasanya, jika untuk nyekar, Dewa memberikannya dengan cuma-cuma.
"Buat dironce untuk pengantin"
"Oh. Berapa kilo?"
"Dua kilo kayaknya cukup deh Pak"
"Oh gitu, bentar ya" Parmo keluar dari gudang dan berjalan menuju ke tempat kerja yang biasanya Dewa dan Rosid ada disana
Kebetulan Rosid masih dikampung sebelah dan yang ada ditempat kerja hanya Dewa seorang
Dewapun berjalan mengikuti Parmo menuju ke gudang
Parmo segera menimbangkan bunga tersebut "Ini Mbak, 2 kilo"
Gadis itu menerima bunga yang sudah ditimbang
Parmo menolak untuk menerima uang "Silahkan Mbak, bayarnya sama Juragan" Ibu jari Parmo menunjuk kearah Dewa
Kedua gadis itu mencari orang yang disebut Juragan tadi
"Sama siapa Pak?" Akhirnya kata itu terucap juga dari wanita itu
"Sama Juragan Krishna. Ini orangnya" Tunjuk Parmo pada Dewa
"Oh" Kedua gadis itu senyam senyum menatap Dewa
"Tampan banget, ya" Bisiknya pada gadis satunya
-
Bu Fitri sudah tidak kuat berdiam diri. Ia harus mencari Dewa Putranya
Bu Fitri ingin menceritakan bahwa Naraya hamil anak Dewa
-
Malam dilain waktu
"Papa...." Seorang bocah laki-laki berlari menghampiri Dewa
Dewa yang tidak kenal, Iapun bengong dan celingak - celinguk mencari orang yang disebut Papa
"Papa.." Ucap sibocah tadi
Kedua tangan bocah itu membentang ingin segera diraih "Papa ini Aku, Juna"
"Juna??"
__ADS_1
Bocah itupun mengangguk "Iya Papa.. Aku Arjuna"
Dewa meraihnya dan bocah itu memeluk Dewa erat "Papa, Juna sayang sama Papa"
Tiba-tiba, bocah itupun turun dan menghilang dibalik jerami
"Juna. Juna. Junaaaaaaa...."
"Juragan, Juragan"
Tok tok tok
"Juragan !!!"
Dewa bangun dengan keringat jagung "Juna. Arjuna"
"Juragan !!"
Dewa langsung bangkit kemudian membuka pintu
Dewa terkejut dengan apa yang Ia lihat "Mama" Cicitnya saat melihat wanita yang pernah melahirkannya kedunia
Bu Fitri sudah berderai didepan Dewa "Dewa, Kau Dewa Anakku" Bu Fitri menghambur
Tak kuasa rasanya menunggu saat ini tiba
Tadinya Dewa ingin mengusir ibunya. Tetapi saat melihat ibunya sendiri menangis didepannya. Dewapun luluh dan tidak tahan
Dewa memeluk ibunya erat. Menciumnya bertubi-tubi diatas kepalanya, pipinya dan juga pelipisnya
Dewa mengusap airmata ibunya dan juga dirinya "Ayo Mah Kita masuk"
Bu Fitri sudah didudukkan oleh Dewa
Bu Fitri menatap Dewa lekat "Nak, Kau tidak ingin menemui Naraya?" Tiba-tiba kata itu keluar dengan bebas
Dewa langsung mengurai tangan ibunya, lalu beranjak dan berdiri didepan jendela "Jangan sebut nama Dia lagi Ma"
Bu Fitri berdiri mendekati Putranya "Dewa. Janganlah Kau menyalahkan Naraya terus. Salahkan saja Mama. Mama yang membuat Kalian berpisah. Karena setahu Mama, Kamu sudah meninggal, Nak" Bu Fitri kembali menangis
"Mama ingin menimang cucu" Sambungnya sambil mengusap air matanya
Dewa menoleh "Tapi Aku belum siap menikah ma"
"Yang suruh Kau menikah cepat siapa?"
"Terus, Mama maunya cucu dari siapa?"
"Dari Kamu. Dari perut Naraya"
"Mah. Dia milik orang lain. Tidak mungkin Dewa merebut Dia dari Ghani"
"Kau sangat mengenal Ghani. Tapi pribadimu sebenarnya tidak mengenal Dia"
"Maksud Mama apa?"
"Kau lihat saja sendiri. Mama hanya ingin menyampaikan ini padamu"
Dewa kembali duduk dalam kebingungan
-
Meskipun perut Naraya semakin membesar, Naraya belum mau mengajukan cuti
Tiba-tiba dari arah pintu masuk, seorang pria yang sangat Ia kenal berjalan menuju kubikelnya. Naraya langsung berlari untuk bersembunyi
Dengan dada yang naik turun Ia dikejutkan
"Naraya... "
__ADS_1
BERSAMBUNG....