
"Stop, stop" Bu Fitri berdiri ditengah-tengah Mereka berdua yang tidak pernah akur "Win, Aku datang kemari, untuk memperjuangkan perjodohan anak Kita. Bukan mendengar Kalian berantem. Maaf nih sebelumnya, jika tindakanku berdiri ditengah-tengah kalian mengganggu Kalian yang ingin bunuh-bunuhan" Bu Fitri terkekeh dengan ucapan terakhirnya "Aku nggak mau jadi saksi, Win"
Winda menatap Fitri "Pit, ngomongnya jangan gitu dong, Pit"
"Kamu kayak anak kecil. Ada tamu juga"
Wajah Winda tertekuk "Dia sih" Tunjuknya pada Raden
"Kenapa lagi Aku, Win" Kini Pak Raden yang menyaut
"Nggak usah nyaut-nyaut deh. Ini urusan keluarga. Situ bukan siapa-siapa. Nggak usah ikut campur" Ujar Winda masih menampakkan kekesalannya pada Raden
"Yaudah deh, Kita batalin aja kalau gini mah" Ucap Bu Fitri mulai mencincing-cincing gamisnya dan ingin segera keluar
"Ish, jangan dong Pit. Baru ketemu kok main batal" Giliran Winda yang memohon
"Yaudah. Mau gimana lagi. Lagian, anak Kita juga musuhan gitu. Yuk lah Pa, sebaiknya Kita pulang" Fitri sudah menggandeng Anak dan Suaminya, pura-pura kesal
"Kita sambung kapan-kapan, oke. Kami mau pulang" Sambung Fitri
"Tapi Pit"
"Urusin dulu urusanmu" Kemudian Mereka masuk kedalam mobil
"Pitttt" Winda mengejar Fitri
"Udah deh. beresin masalahmu dulu. Ntar sambung lagi diwaktu berikutnya"
"Ah, kayak sinetron aja Pit, bersambung segala" Winda menoleh kearah Raden "Situ sih. Bikin semuanya jadi kacau"
"Sebenarnya, Ibu yang membikin semuanya jadi kacau. Bukan Bapak" Celetuk Nara
Bu Winda mendelik mengabsen keduanya "Kalian berdua... Sama-sama bikin Ibu naik darah....!!!"
-
Bulan demi bulan telah berlalu
Hubungan Dewa dan Nara terhalang karena kesibukan
Proyek besar yang Dewa emban sudah sukses menuntaskan banjir
Semua tanaman yang ditanam pekerja mulai menampakkan hasilnya
Hektaran kebun melati sudah mulai tumbuh. Orang desa bilang MELIK
Para Pekerja perempuan setiap pagi berbondong-bondong memetik hasil bunganya. Sedangkan pekerja Pria, mengurusi rumput-rumput agar tidak mengganggu tanaman yang Mereka tanam
Seluruh para pekerja menjalani aktifitasanya, begitupun dengan Dewa
Hari ini, Dewa berhasil melobi perusahaan minyak wangi dari luar negeri
Dengan pengalaman yang bukan kaleng-kaleng, Bunga yang dipetik dari perkebunan berhasil dibox setelah dipilah-pilah sebelumnya sebelum dikirim ke luar negeri
"Berapa box yang Mereka minta, Juragan?"
"Untuk awal 5 box saja. Sisanya Kita setor ke pabrik teh dan obat nyamuk"
__ADS_1
"Hari ini sepadat itu, Juragan?" Tanya Rosid tak percaya
"Kamu tak percaya padaku, Sid?"
"Sangat percaya dong Juragan. Juragan Dewa, gitu...." Gurau Rosid
Keduanya tergelak bersamaan
"Ck, Kau tidak pantas menyebutku begitu Sid"
"Saya hanya teringat sama keluarga Juragan, semuanya memanggil Juragan dengan sebutan nama, Dewa. Pertama kali saya dengar nama itu disebut bingung. Eh ternyata, nama Juragan borongan panjang. Kaya kereta Kamandaka, ahaha"
"Hus"
"Eh, maaf Juragan. Nggak sopan ya, Juragan"
"Sangat"
Setiap hari kesibukan Dewa tambah melambung
Rosid sebagai asistennya selalu mengikuti kemanapun Dewa pergi untuk menjalani semua pekerjaannya di dunia bisnis.
Seperti sore ini
Terlihat sudah bertengger mobil bok tujuan pabrik teh yang berada dikota Pekalongan, sudah siap membawa berkarung-karung bunga melati yang siap untuk disetorkan kepabrik tersebut disetiap sorenya
Begitupun mobil bok keduanya. Dengan tujuan lain yaitu pabrik obat nyamuk, yang berada dikota lainpun, sudah siap menyetorkan bunga melati ini kekota Tegal
Setelah ketiga mobil bok miliknya telah terisi bunga melati semuanya, yaitu diberbagai tujuan, kini mobil yang membawa Dewapun turut ikut mengantarkan bunga melati kwalitas super tersebut, ke tempat pengiriman barang khusus ke luar negri.
Kemasan bunga yang dibawa Dewa berbeda. Tidak karung-karungan seperti yang dikirim kepabrik lokal. Melainkan box styrofoam kotak besar, sesuai volum standar untuk pengiriman ke luar negri
Banyak para pemuda dari kota lain yang bertujuan sama. Yaitu kirim ke luar negri
"Juragan, setelah ini kita akan kemana?"
"Makan dulu, kemudian pulang"
"Tapi hari ini akan ada pertemuan dengan pamong desa Sari, Juragan"
"Desa Sari ?? Memangnya hari ini?"
"Iya. Malah bertemunya diresto serba benar, Juragan" Kata Rosid pada Dewa
"Kau sudah siapkan semua berkasnya?" Tanya Dewa
"Sudah, Juragan" Sahutnya pada Dewa
"Bagus! " Ucap Dewa memuji kecekatan kerja asistennya
Tiba di depan area parkir resto itu, Dewa turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam bersama Rosid. Namun saat akan sampai di pintu depan resto itu, tiba-tiba kepala Dewa terasa sakit dan perut terasa mual
Brrruuuukkkk.....
Dewa terjatuh
"Juragan !!!!"
__ADS_1
-
Malam ini dewa akhirnya menginap dirumah sakit akibat kelelahan
Malam telah larut
Seorang gadis berpakaian seragam perawat masuk keruangan Dewa, untuk mengganti infusnya
Dewa belum tahu jika gadis yang mengganti infus untuknya adalah Nara. Istri kecilnya
Nara berdiri sejenak dihadapan Dewa yang terlelap. Dia tahu, bahwa yang terbaring lemah adalah suami kecilnya dulu
Nara menggeser-geser selang infus, untuk mengatur deras lemahnya air itu mengalir. Setelah sesuai aturan, Nara mengambil selimut yang tertumpuk disamping tubuh Dewa
Dengan lembut Nara menyelimuti pria tersebut "Maaf ya, Mas" Ucap Gadis itu dengan lirih
Samar-samar mata Dewa terbuka. Dan manatap wajah gadis itu sambil merasakan apa yang sedang bergejolak di dalam tubuhnya.
Ada rasa kasihan melihat wanita yang katanya telah menjadi istrinya harus bekerja dimalam hari
"Ma... Nara" Gumam Dewa dalam hatinya.
Dewa masih menatap gadis itu yang sudah pergi menjauh darinya.
Dengan cekatan, Dewa mengambil bantal dan melemparnya kearah Rosid "Rosid...! Kejar gadis itu!" Perintah Dewa pada akhirnya
Rosid terjingkat saat bantal tersebut sudah diatas tubuhnya "Apa, Juragan?" Ucap Rosid kaget
"Cepat, kejar gadis itu dan dapatkan Dia ! Aku menginginkan dirinya!" Perintah Dewa lagi
"Gadis itu? Gadis yang mana Juragan" Tanya Rosid pada akhirnya
-
Rosid berlari keluar mencari gadis yang bernama Nara. Tetapi, karena Dia sendiri tidak faham Nara itu berpakaian warna apa, mencaripun tak bisa ketemu
Beberapa saat kemudian, Rosid sudah kembali menghampiri Dewa yang tak sabar menunggu Dirinya. Namun saat itu Dewa tak melihat Rosid membawa gadis itu, Dewa mendadak emosi
"Dimana gadis itu?!!" Tanyanya pada Rosid
"Maaf, Juragan! Saya kehilangan jejaknya." Sahutnya membuat darah Dewa mendidih
"Sial!" Teriak Dewa kesal "Kamu mencarinya dimana??!"
Rosid mendekati "Seluruh lorong sampai depan rumah sakit, Juragan"
"Ck. Gadis itu sekarang menjadi perawat. Aku menginginkan gadis itu. Kau harus mencarinya. Dan ajaklah kemari"
"Jadi??"
"Bagaimanapun caranya! Ajak kemari. Apa Kau mengerti?" Kata Dewa mantap
"Baik, Juragan! Akan Saya temui" Sahut Rosid akhirnya
"Batalkan pertemuanku dengan pamong desa sebelah. Aku ingin tentram dulu"
"Baik, Juragan!"
__ADS_1
Akhirnya, Rosid kembali keluar, untuk mencari Nara kembali
BERSAMBUNG.....