
"Saya mencintai Naraya tulus, Bu. Saya ingin menikahinya"
Bu Fitri terdiam, lalu menatap Nara
"Sekali lagi, Saya ingin menikahinya. Jika Naraya belum bisa menerima Saya, Saya
berjanji tidak akan menyentuhnya hingga Naraya mau
menerima Saya"
Bu Fitri tambah bingung. Disisi lain, menyayangi menantunya. Disisi lainpun menyayangi Ghani yang pernah menolongnya
Bu Fitri menghela nafas. Dalam hati yang paling dalam, bingung. Jujur Bu Fitri bingung memutuskan ini semua "Ibu terserah Nara saja, Nak" Akhirnya, kata jitu itulah yang keluar dari mulutnya
"Ma, Nara tidak mau" Tolak Nara cepat
"Tapi Nak, mau sampai kapan Kamu sendiri"
Nara ingin protes
"Masa iddamu sudah habis. Mama tidak mau mengekangmu, Kau masih muda. Dan masih panjang jalan hidupmu"
"Mah"
"Mama ridho Nak, jika Kau ingin menikah lagi"
"Mah. Apa artinya, Mama sudah tidak menyayangiku lagi" Protes Nara pada akhirnya
"justru Mama sangat sayang sama Kamu Nara. Makanya, Mama mengizinkan Kamu untuk menikah lagi"
Nara menggeleng tak percaya. Kemudian Nara berlari dan masuk kekamar
"Mas Dewaaaaaaaaaaaaa" Nara menangis meraung-raung "Kenapa Kau tinggalkan Aku, kenapa Kau tinggalkan Aku. Kenapaaaaaa"
Dari luar, Bu Fitri ikut menitikkan air mata "Itulah Nara, Nak Ghani. Apa Nak Ghani sanggup jika Nara seperti itu"
"Saya akan berusaha untuk mengambil hatinya, Bu. Sampai kapanpun" Tekad Ghani
-
Sementara ditempat Dewa
Dewa juga sudah nyaman berada ditengah hutan
Hidup bersama gadis lugu yang pintar beternak biri-biri
Seperti malam ini
Palawi memasak lauk jamur dan menggoreng udang
Dewa kembali teringat Nara, saat pesta barbequ. Mereka saling suap-suapan
Tapi sekarang berbeda. Orang yang bersamanya bukan istrinya. Melainkan orang lain yang menolong dirinya
Palawi memakan makanannya dengan lahap
Dewa menatapnya sambil tersenyum, kemudian memakannya hingga tandas
-
Hari berganti hari
Kebaikan Ghani yang ditunjukkan tidak kaleng-kaleng
Dikantorpun, sesibuk apapun Ghani, jika makan siang tiba, Ia akan menyempatkan untuk makan bersama Nara
Siang ini, Nara masih diam. Disuapi Ghani, Diapun menolak. Diajak bicara, Diapun selalu diam
Naraya ingin sekali menjauh, ingin sekali berontak, tapi Dia bingung ingin pergi kemana. Jikapun pulang ke kampung, Nara tidak akan berani karena anaknya memang dimanja sejak dulu
__ADS_1
Pendiriannya lembek, dan selalu bergantung pada sekitar
-
Hari ini, Ghani pergi keluar kota untuk melakukan kunjungan ke rumah sakit barunya dikota lain
Ghani pergi menggunakan mobil jip yang sudah lama tidak Ia kendarai
Begitu mobil melaju, kecelakaan tidak bisa dihindari. Mobil Ghani mengalami kecelakaan setelah remnya blong
Mendengar kabar kecelakaan, Naraya kembali histeris "Aku ini kenapa, Aku ini kenapa.... "
Naraya berfikir, Dirinya orang yang membawa sial "Mama, Nara ingin mati saja. Nara tidak pantas hidup.....!!!!"
"Anakku, bersabarlah. Mama tidak pernah menganggap mu seperti itu. Semuanya telah menjadi takdir Nak. Mama tidak pernah menyalahkan mu"
"Apa yang harus Nara lakukan, Maaa"
Nara akhirnya tertidur dengan mata yang sudah sembab
-
Di tempat lain
Dewa sedang membuat kandang untuk biri-birinya yang baru lahir. Sedangkan Palawi, Ia sedang sibuk memindahkan bayi biri-biri yang masih berwarna merah
Tiba-tiba perut Dewa kembali diaduk-aduk
"Hueekk"
"Mas Dewa !! Mas Dewa kenapa, apa Mas Dewa masuk angin?"
"Entahlah. Perutku terasa mual melihat anak biri-biri itu"
"Ya sudah. Mas Dewa istirahat saja"
Setelah beres dengan bayi biri-biri itu, Palawi kembali sibuk menggiring domba yang berbulu tebal
"Dombanya mau diapain lagi, Palawi ?" Tanyanya sambil berdiri ditengah pintu
Meskipun sering muntah parah, dan berhasil menjauhi bebauan yang menyengat, Dewa tetap mendekati biri-biri yang berbau prengus itu
"Kita harus mencukurnya, Mas"
"Mencukur?"
"Iya" Palawi kembali mengambil alat cukur untuk menggundul biri-birinya yang berbulu lebat
Dewa yang penasaran, Iapun ikut serta dalam menjagal biri-biri agar tidak tergores saat Palawi mencukurnya
Kembali lagi, Dewa muntah-muntah
"Hueekk"
Dewa tidak tahan melihat payu dara sibiri-biri itu yang melambai-lambai seperti anak tikus
"Hueekkk"
"Mas Dewa kenapa lagi?"
"Entahlah. Apa Aku sakit parah?"
Ingin sekali dirinya periksa kedokter. Tapi Dia sendiri tidak memiliki uang
Malu. Ya, malu rasanya jika ingin meminta diperiksakan ke dokter
-
Sementara, lamaran Ghani, akhirnya diterima oleh Nara
__ADS_1
Setelah Ghani kembali dari rumah sakit, Ghani datang lagi untuk memperjuangkan cintanya yaitu melamar Nara
Jika diterima, Dia akan maju. Jika tidak, cukup sampai disini
Tapi ternyata, ketakutannya tidak sesuai dengan kenyataan
Naraya akhirnya mulai menerima cinta Ghani
-
Pagi ini tidak sengaja ada pasien yang samar-samar Nara kenal yang masuk keruang UGD
Calon pasien itu didorong menggunakan kursi roda
"Mas Dewa??" Mata Naraya melotot saat melihat seorang pasien yang didorong itu persis dengan wajah suaminya yaitu Dewa "Apa itu Mas Dewa? Mas Dewa masih hidup? Itu Mas Dewa kan? Benar kan?" Nara beralih ke orang yang mendorongnya "Lalu, siapa wanita itu" Hati Nara langsung tersayat
Antara percaya dan tidak percaya. Antara rindu dan cemburu beradu menjadi satu
"Akkkkhhhh.... Kenapa ini. Kenapa jadinya begini"
Nara langsung berdiri dan berlari mengumpet dibalik tembok
Kedua kawannya yaitu Ruth dan Riska, tidak mencurigai sedikitpun gerak-gerak Nara yang tiba-tiba berlari kebelakang dan menghilang
Ghani melihat Nara berdiri dibalik pilar besar rumah sakit. Sekali-kali Nara mengintip pasien yang telah duduk didepan meja Riska. Ghani memperhatikan gerak-gerik Nara
Terlihat, Nara mengusap buliran air mata
"Itu Mas Dewa" Isaknya terus diselingi dengan usapan tangannya
-
Setelah pasien masuk menempati ruang rawatnya, Nara kembali muncul kedepan
Wajah sembab itu terus menghiasi wajah cantiknya
"Naraya... Hari ini Ibu menanyakan Kamu. Apa Kamu tidak ingin pulang?" Suara itu milik Ghani
Nara menoleh "Mama kenapa? Apa Mama sakit?"
"Tidak. Ibu hanya menanyakan kabar Kamu"
"Oh, tumben Mama tanya orang lain. Biasanya telpon sendiri"
"Kau tidak ingin pulang?" Sekali lagi, Ghani berharap Naraya ingin pulang
Ghani tidak tega melihat wanita yang paling disayang, bersedih sepanjang hari
"Aku masih ada jam kerja. Aku nggak enak izin"
"Tidak apa-apa, Aku juga sudah izin kok. Sekalian, Aku ingin menjenguk Ibu"
"Oiya... Memangnya tidak mengapa jika Kamu ikut izin juga?" Tanya Nara
"Tidak apa-apa. Lagian Aku jarang izin. Jadi, Aku izin saja"
"Langsung dikasih izin?"
"Langsunglah"
Nara terdiam
"Bagaimana. Apa Kamu mau pulang? Seharusnya Kamu pulang saja. Aku takut Ibu kenapa-napa" Rayunya terus-terusan
Dasar Ghani. Padahal itu ide Ghani, agar Nara bisa menenangkan diri.
"Baiklah, Aku ingin pulang"
"Kalau begitu, Sebaiknya Aku segera ikut" Ghani sudah sangat siap
__ADS_1
BERSAMBUNG....