
Semangat pekerja begitu membara. Tak peduli dinginnya hawa yang menembus kulit mereka yang kini telah bermandikan peluh
"Berapa truk bibit yang datang, Sid?" Tanya Dewa tiba-tiba
Rosid menoleh "Juragan"
"Berapa?" Tanyanya lagi
"Dua truk, Juragan"
Dewa manggut-manggut
Terlihat sang pekerja sedang sibuk menjajar seluruh bibit melati yang telah turun semuanya dari truk, yang isinya berikat-ikat bibit
"Satu ikat besar itu berisi 100 biji bibit. Dan semuanya harus disiram terlebih dulu, Juragan" Rosid langsung menjelaskan kepada Juragan, meskipun Juragan itu tidak memintanya untuk menjelaskan
Juragan mengangguk lagi
"Untung beberapa sumur air tawar telah jadi, ya Juragan. Jadi tinggal menarik ulur saja selangnya untuk penyiraman bibit-bibit ini agar tetap segar dan cepat berdaun" Jelasnya lagi
-
Satu bulan telah berlalu penggalian pasir dari tengah laut
Penanaman bibit melati secara manual juga sudah selesai dengan luas tanah yang mencapai lebih dari puluhan hektar tanah yang sudah bertikar pasir
Bibit singkong, bibit pisang, cabai, tomat berangsur ditanam setelah bibit melati usai penanaman
Puluhan pekerja bekerja sesuai job description nya masing-masing.
Jika pagi hari, mereka sibuk mencabut rumput yang ada ditangkupan tanaman bunga tersebut. Ada juga yang mencangkul tanah, dan menata irigasi agar jalan air tidak tersendat
Pekerjaan mereka dari matahari belum naik, hingga matahari terbenam. Sekilas kerja mereka seperti rodi, tetapi karena dikerjakan dengan senang hati demi kemanusiaan, mereka melakukannya dengan senang hati
Jam 11:30 telah datang
Teng-teng-teng
Rosid sudah menabuh piring yang terbuat dari seng "Makan siang datang !!"
Ada beberapa pekerja wanita atau istri dari pekerjanya, mereka bertugas untuk memasak didapur umum yang terbuat dari papan, yang beratapkan daun pohon sagu. Atau orang jaman dulu sebut, welit
disamping dapur, gubuk-gubuk atau gazebo itu sudah berderet, untuk mereka tinggal bersama istri-istri mereka yang sengaja diboyong kemari
Perkebunan ini mulai ramai penghuni. Hidup sesama buruh disatu perusahaan, ternyata lebih menyenangkan jika hidup berdampingan seperti ini
Mereka makan dengan lahap
"Sumi, Juragan sudah diambilkan makan siang belum?" Tanya Rosid pada istrinya
"Sudah Kang. Makan siang Akang juga sudah Aku taruh disana"
Siang ini para pekerja banyak mendapatkan belut ditanah lembab dipinggiran pohon mangrove
"Oh, baiklah. Kalau begitu Aku akan kesana"
Sumi mengangguk "Iya Kang"
Rosid datang ke rumah panggung milik Juragan "Juragan"
__ADS_1
"Eh, Rosid. Masuk Sid, ayo makan"
Rosid menatap makanan yang masih utuh milik Juragannya bingung "Juragan Krisna kok belum makan. Apa, masakan hari ini tidak membuat selera makan Anda, Juragan ??" Tanya Rosid hati-hati
"Tidak Sid. Pekerjaanku masih tanggung. Biar kuselesaikan sebentar. Jika kau sudah lapar, makanlah dulu"
Rosid terdiam, meskipun perut lapar, Ia tidak berani menyentuh makanannya yang sangat menggugah selera
Masa kacung harus makan duluan
Dewa menutup laptopnya "Ayo makan Sid, kenapa bengong"
"Maaf Juragan, bukankah makan bersama itu lebih enak?"
"Iya iya. Kau benar" Dewa bergeser duduk menghadap makanannya
Rosid langsung mencimit lauk dalam cobek lauknya menggunakan tangannya, bukan menggunakan sendok
Dewa tercengung saat melihat aksi ajudannya itu "Kenapa tidak pakai sendok"
"Makan belut pecak ini, jika pakai tangan, lebih enak, Juragan"
Dewa menatapnya kembali, kemudian tangan mulusnya yang tak pernah makan dengan tangan terbuka, ia mulai memegang pecak belut yang telah berlumurkan sambal dan bermandikan santan
"Enak, Juragan" Lagi-lagi Rosid mengompori sambil berderai keringat
Dewa kembali mencelupkan jemarinya kedalam masakan itu "Terlihat lezat"
"Memang lezat, Juragan"
Dalam waktu kilat, Rosid berhasil memindahkan nasi dan pecakan belut keperutnya
Dewa harus membiasakan untuk makan seperti ini
Secuil Ia membuktikan
Waow rasanya pedas manis gurih "Hmmm"
"Gimana, Juragan?"
Dewa manggut-manggut sambil terus memakan nasinya menggunakan tangan terbuka
Suapan pertama
Nasi yang Ia ambil dari piring, banyak yang menempel pada telapak tangannya
"Gimana Juragan ? Sedep kan?"
Dewa menyodorkan tangannya yang penuh nasi yang menempel
Rosid langsung tertawa kencang "Kenapa Juragan makannya pakai comotan gitu. Cimit, Juragan. Ini-ini, lima jarinya seperti ini. Cimit, bukan comot" Rosid mempraktikkan cara mencimit nasi dengan benar
Setelah dilakukan beberapa kali, Dewa langsung mahir makan menggunakan tangan "Siapa yang masak?"
"Kenapa, Juragan? Tidak enak, Juragan?"
"Aku tanya siapa yang masak, Rosid???"
"Jika masakannya tidak enak, akan Aku tegur, Juragan"
__ADS_1
"Ck, Kau ini ditanya" Dewa mengambil selembar uang berwarna merah, lalu menyodorkan pada Rosid "Untuk yang masak. Itu bonus hari ini. Karena masakannya enak"
Rosid tersenyum lega "Akan Saya berikan bonus ini, Juragan"
Dewa mengangguk
-
Sementara pengurasan pasir laut terus bergulir kedaratan
Dari ujung timur, bibit melati sudah ditanam sesuai penataannya. Hingga separuh luas perkebunan kampung ini, sudah tertanam bunga melati
Tumbuhan Mangrove juga sudah tertanam dipinggiran sungai, disepanjang sungai sebagai pembatas desa, hingga keujung pemukiman warga
Siang ini, pemerintah desa datang berkunjung untuk meninjau hasil lapangan yang dijalankan oleh Dewa
Kepala desa geleng-geleng tidak percaya dengan hasil yang menakjubkan "Wah, ternyata Anda sangat jenius sekali, Pak Krisna"
Mereka menatap air laut yang terlihat sudah bersahabat
Air laut sudah kembali ketengah, ketempat semula
Bibir pantai yang tadinya tertelan air laut, kini telah menampakkan pesonanya
Dewa tersenyum simpul
"Anda masih muda, tapi sangat berbakat"
"Terima kasih"
"Anda tahu, Pak Krisna?"
"Iya "
"Kampung sebelah, juga ada orang yang ingin seperti Anda. Tapi Saya yakin, Dia tidak akan sesukses Anda"
Dewa kembali tersenyum "Kenapa Anda yakin, Pak kades?"
"Petani sana tidak pro. Mereka banyak yang membangkang"
"Membangkang?"
"Iya. Beberapa warga ada yang menolak tanahnya untuk disewa, mereka menolak dengan keras"
"Menolak? Kenapa bisa. Apa warga itu termasuk orang yang mampu dan kaya raya?" Tebak Dewa
"Iya. Mereka orang-orang yang memiliki tanah yang paling luas. Pemilik tambak vanami lebih dari 10 petak, dan kandang ayamnya juga hampir 30 kandang yang Ia punya"
"Oiya. Berarti orang paling kaya dong"
"Keluarganya terkenal tuan tanah. Kaya raya. Hampir seperempat luas tanah itu milik keluarganya"
"Hmmm"
"Iya. Panen ayam saja setiap hari. Hari ini panen ayam nih, besok panen lagi dikandang yang lain. Hebat ya ? Tambaknya banyak, kandang ayamnya juga banyak. Jadi Dia orang yang paling vocal menolak lahannya untuk disewa"
"Oh" Dewa lagi-lagi mengangguk "Terus, pemerintah juga kalah dengan orang itu"
"Entahlah, Pak Krisna. Saya rasa, iya. Oiya Pak Krisna. Kapan-kapan, dibalai desa ada acara pesta. Karena desa ini telah dinobatkan sebagai pelopor penanggulangan penyelamat lingkungan. Anda harus datang, ya? Perintah loh ini"
__ADS_1
"Haha.. Kinerja Saya belum selesai, Pak. Justru belum terlihat dimata Saya. Kenapa sudah diadakan pesta"
BERSAMBUNG......