
Tidak ada jawaban lagi melainkan seorang pemuda yang datang menghampiri Nara "Anda yang bernama Naraya?"
"Iya. Anda siapa?" Jawabnya ragu dan masih terus mencari-cari seseorang.
"Anda mencari seseorang? Apa Anda mencari orang yang menelepon, Anda?" Kemudian, si Pemuda itu menyodorkan ponsel milik Bu Fitri "Ini maksudnya?"
"Itu ponsel milik Mama. Dimana Mama" Nara kembali panik
"Mama Anda baik-baik saja. Oiya Perkenalkan, Nama Saya, Ghani" Ucapnya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman
Nara mengangguk hanya mengangguk
Ghani menurunkan tangannya "Baiklah. Kalau begitu, ayo ikut Saya"
Nara terus mengekori kemana kaki Ghani berjalan
Sesekali, Ghani berhenti dan menengok kebelakang agar gadis yang tidak mau menjabat tangannya tidak begitu ketinggalan
Setelah dirasa Nara sejajar dengan Ghani, Ghanipun kembali berjalan
"Kita masuk ke lift dulu" Tunjuk Ghani saat melihat ada beberapa lift yang berjajar lebih dari 3 itu
Nara tetap terdiam tidak ingin menjawab iya, ataupun mengangguk sebagai jawaban
Didalam lift, Nara juga tidak bertanya secuilpun pada Ghani. Ghani tampak mulai bingung
'Bukankah tadi di telepon gadis ini begitu cerewet?'
'Baiklah Aku yang sebaiknya bertanya'
Ghani berdehem, Nara menoleh. Kemudian kembali terdiam dan pandangan lurus kedepan
"Anda tidak ingin bertanya diruang berapakah Ibu Anda dirawat, Nona?"
Nara menoleh "Jika Anda sudah membawa Saya sampai disini, berarti Anda akan menunjukkan dimana tempat Mama Saya dirawat, bukan? Untuk apa lagi Saya bertanya"
Ghani tersenyum. Ghani mulai tertarik dengan jawaban Nara "Baiklah"
Pintu lift telah terbuka
Ghani kembali berjalan. Kali ini berjalannya sangat santai. Sedangkan gadis yang berjalan disampingnya mulai terlihat cemas. Tetapi tetap diam tidak bertanya dimana ruangannya atau bertanya seputar apapun yang menyangkut tentang Ibunya
Ghani masuk
Ketika Nara ikut masuk, barulah tampak orang-orang yang Nara kenal "Papa"
"Nara? Kau datang?" Tanya Pak Yudha
Yudha merentangkan kedua tangannya. Nara langsung menghambur "Papa, apa yang terjadi?"
Mereka saling mengurai "Hanya kecelakaan kecil" Jawabnya membuat Nara mendongak. Kemudian menoleh kearah Bu Fitri
"Ma"
Bu Fitri tersenyum "Kemari, Nak"
__ADS_1
Nara langsung menghambur "Mama kenapa? Apanya yang sakit, Ma"
Bu Fitri tersenyum "Hanya terjatuh, kaki Mama yang sakit"
"Benarkah?"
-
Sementara ditempat lain
Dewa terduduk lemah dipinggir jurang dan terduduk bersandar dibawah pohon "Haus"
Seorang gadis yang sedang melintas menoleh. Namun hanya menoleh saja
"Haus" Dewa hanya butuh "Air"
"Haus? Kamu haus?" Tanya gadis itu pada akhirnya
Dewa mengangguk "Aku haus" Tangan kanannya ingin terangkat, tetapi tidak mampu saking lemahnya
Gadis itupun ibah menatap Dewa, kemudian air yang Ia bawa, Ia sodorkan pada Dewa "Minumlah"
-
"Oiya Bu, kalau begitu, Saya pamit dulu" Ucap Ghani berpamitan
"Silahkan Nak Ghani"
Ghani menatap Nara. Nara tak bergeming. Bahkan, kata terima kasihpun tidak
Setelah kepergian Ghani, Bu Fitri berdehem
"Mama terserempet motor"
"Motor orang tadi?" Tuduh Nara pada Ghani
"Bukan Nara. Nak Ghani justru yang menolong Mama"
"Kok bisa. Memangnya Mama kenal?"
Bu Fitri menggeleng "Niat menolong itu tidak harus kenal. Ghani orangnya respek. Sedangkan orang yang nyerempet Mama, mereka malah kabur tak bertanggung jawab"
Nara terdiam, kemudian "Terus, apanya yang sakit, Ma?"
"Kaki sama tangan Mama yang sakit. Tapi masih bisa digerakkan kok" Bu Fitri mencoba menggerak-gerakkan tangannya keatas dan kebawah "Sudah mendingan"
"Oiya, Kamu sudah makan, Nara?" Tanya Bu Fitri
Nara menggeleng
"Makan sana. Jika Kamu mengabaikan makanmu, terus Kamu sakit, Mama yang ngurusin siapa?"
Nara terlihat tersenyum meskipun senyum itu dipaksakan
"Sana Bi, pergi makan sama Nara" Ujar Bu Fitri pada Bibi
__ADS_1
"Tapi Nyonya. Tuan kan barusan keluar ada kepentingan. Apa sebaiknya Saya disini saja, biar Non yang keluar cari makan dulu, baru gantian"
"Ya sudah kalau begitu. Nara, Kau berani?"
Nara mengangguk "Berani, Ma"
"Kalau begitu, terserah. Si Bibi dibelikan sekalian atau mau makan disana saja?"
"Sekalian kubelikan saja ya, Bi?" Saut Nara
"Siap Non. Saya sih oke-oke aja hehe"
-
Nara habis membeli makanan. Ia ingin jalan melewati lorong rumah sakit yang berbeda dari jalan yang tadi
"Andai Aku bisa bekerja disini, Aku pasti tidak kesepihan" Gumamnya sambil menatap para karyawan rumah sakit ini yang terlihat berlalu lalang membawa ini dan membawa itu
"Cari apa, hmm?"
Nara menoleh kaget 'Ghani ??' "Enggak. enggak ada apa-apa?"
"Oh.. Darimana?"
Mereka jalan bersama
Terlihat dari depan ada para suster yang berjalan berpapasan dengan Mereka berdua. Kedua suster membungkuk ramah
Narapun membalasnya membungkuk
"Habis membeli ini" Naraya mengangkat kresek yang berisikan makanan tersebut
Ghani manggut-manggut, kemudian ikut Nara masuk kedalam ruangan Ibu Fitri
Nara sudah memberikan makanan itu pada Bibi, kemudian duduk didepan Bu Fitri menggantikan Bibi
"Nara, kalau Kamu capek, pulanglah. Sekarang kan ada Bibi. Sekarang, pulanglah"
Nara mengangguk "Baiklah, Ma. Nara pulang dulu"
Setelah berpamitan, Nara keluar dari ruangannya. Tetapi Ghani tetap berdiri disini "Dia menantuku" Ucap Bu Fitri tiba-tiba
Ghani menoleh kearah Bu Fitri. Karena sejak kepergian Nara, Ghani masih menatap keluar mengikuti kemana Nara berjalan "Maksud, Ibu?"
"Dia menantuku. Istri dari anakku yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu"
"Oh" Wajah Ghani terlihat sedikit kecewa
"Sebelum keduanya menikah lagi, Dia bekerja dirumah sakit sebagai seorang perawat. Dia perawat" Jelasnya pada Ghani
"Maksudnya??"
Bu Fitri akhirnya bercerita tentang pernikahan dini anaknya
Ghani manggut-manggut. Dalam hati kecilnya, ada sedikit lega dan ada harapan untuk mendekati Naraya. Bukankah mendapatkan istri, tidak harus berstatus perawan bukan?
__ADS_1
Janda pun tidak masalah jika Ghani benar-benar mencintainya
BERSAMBUNG....