Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Lampu Hijau Untuk Dewa


__ADS_3

Malam ini sudah menunjukkan pukul 22:15 Wib


Dengan setia, Dewa menunggu didepan rumah sakit umum, dimana Naraya bekerja disana, dikota Pekalongan


Tiba-tiba


"Dorr !!" Suara cempreng milik Naraya yang sama sekali tidak membuat Dewa kaget


Dewa menoleh. Dia tidak kaget, karena tahu Naraya sudah berjalan kearahnya. Dia hanya pura-pura tidak melihat saat Naraya berjalan mendekat


"Lebih lima belas menit" Tegur Dewa


"Kenapa??"


"Sepuluhnya. Kau bilang kan jam sepuluh. ini lebih" Tunjuknya pada jam tangan miliknya yang melekat dipergelangan tangannya


"Halah... Kan Aku harus absensi dulu. Pakai jari" Nara mengangkat salah jarinya yang digunakan untuk absen


"Tahu" Dewa berdiri menjulang didepannya


Nara mendongak "Kan nggak boleh pinjem, Mas Dewa"


"Apanya?"


"Jarinya, kan? Memangnya Mas Dewa nyambungnya kemana"


"Ya, Ya. Aku ma'afin, deh. Ayo masuk" Ujar Dewa sembari menggiring Nara untuk masuk kemobil


"Aku belum minta ma'af Mas Dewa.. Kenapa main dima'afin" Naraya menolak untuk masuk "Eh, tunggu dulu. Motorku, gimana ?"


"Mana kontaknya" Dewa menengadah meminta kontak motor Naraya. Karena itu jawaban yang tepat untuk jawaban dari pertanyaan Naraya "Biar Rosid yang akan membawa motormu"


"Mau pakai motorku? Nggak malu ?"


"Malu kenapa memangnya?"


"Eng.. Nggak pa-pa deh. Pakai aja. Ingat, jangan ketawa" Ancam Nara sembari menunjuk dengan telunjuknya


"Iya enggak. Kenapa sih?"


"Nggak.. Lihat aja deh. Tapi jangan ngakak, ya. Denda"


"Oke. Berapa yang harus Aku bayar. Jika Aku kalah, hmm?"


"Pokoknya banyak. Nggak bisa disebutin nominalnya. Nih" Naraya memberikan kontak motornya pada Dewa


Dengan kilat, kontak motorpun sudah berpindah ditangan Rosid


Tiba-tiba, motor yang terlihat kecil itu menyalip didepan mobil yang akan ditumpangi Dewa dengan Nara


"Mas Dewa, lihat depan deh" Sambungnya setelah terlihat Rosid sudah menaiki motor matic milik Naraya yang terlihat kecil, dan berwarna pink.


Helemnya juga tak kalah menarik. berwarna pink pula yang bergambar Hello Kitty


"Hello Kitto sedang menaiki motornya, hahah" Ucap Naraya ngakak sambil menunjuk arah depan


"Maksudnya apa?" Dewa mengikuti arah telunjuk Naraya "Kamu ngetawain ap.." Tanya Dewa, kemudian "Hahaha"


"Mas Dewa lihat apa? Kenapa ikut ketawa" Tegur Nara setelah sanggup berhenti menertawai Rosid


"Gagah, sangar, kekar, gede. Tapi helmnya chubby. Aku malu"


Ahahaha


Mereka tertawa ngakak melihat Rosid yang dengan PD nya menggunakan motor dan helmnya berwana pink


"Kekanakan !! Hahah" Lagi-lagi Dewa mengejeknya tanpa ampun pada anak buahnya


"Stop !!"


"Hap. Iya stop" Dewa terpaksa berhenti mengejek dan juga berhenti menertawai ajudannya "Ini sudah stop"


Dewa mengusap airmata nya yang sempat menggenang dipelupuk mata

__ADS_1


"Sudah?? Juragan sudah sembuh?" Tangan Naraya menengadah "Denda"


Dewa tidak memberikan denda. Melainkan tangan kirinya yang menjabat tangan kanan Nara "Kapan jadwalnya bekerja untuk esok?" Tanya Dewa pada akhirnya


"Besok masuk sore lagi, seperti sekarang"


Dewa menoleh sekejab, sekaligus mengemudikan mobilnya "Lah, terus liburnya kapan?"


"Kemarin habis libur"


"Sistemnya gimana sih. Kok hari senin bisa libur. Liburnya nggak tentu dihari minggu, gitu? Susah dong apelnya"


"Siapa yang mau diapelin"


"Yaudah, nikahan aja sekalian"


"Ish"


"Kenapa ish, hah? KUA dah tutup. Penghulunya tidur. Dah malem"


"Siapa juga yang bilang KUA"


"Aku" Jawab Dewa, Naraya cemberut "Oiya, liburnya kapan?"


"Senin sama selasa, minggu depan"


"Oh... Dua hari ya liburnya?" Dewa manggut-manggut "Cuti bisa?"


"Aku masih baru. Belum boleh"


"Oh, kalau gitu resign aja deh"


Nara terkejut "Ngapain resign. Aku cari kerja susah loh"


"Masalahnya, Kamu akan Aku boyong ke Jakarta"


"Idih.. Nikah lagi juga belum. Nggak ah"


"Hei.. Kau maunya kapan Kita nikah. Asal jangan malam ini deh. Penghulunya ngantuk. Percuma, nanti tidak tercatat"


"Apa tadi kamu bilang" Dewa mencubit pipi Nara gemas


"Aduh, Mas Dewa. Jangan KDRT. Nanti Aku laporin ke komnasham anak-anak. Terus Aku ajuin cerai. Weeeek, Mas Dewa gagal"


"Woi. Nikah aja belum. Main cerai. Ralat. Jangan"


"Ya ya, nanti enggak"


-


Sementara ditempat lain


Raden sudah goleran diatas kasur dengan model miring. Sedangkan Winda, seperti biasa seperti ayam yang mau bertelor


Mondar-mandir tak ada hentinya


"Sudah Win, tidur"


"Tidur aja sendiri" Saut Winda tak terima


"La, emangnya Kamu nungguin apa?"


"Ya nungguin Anakku lah"


"Genduk sudah bawa kunci sendiri, Win. Ngapain ditunggu"


"Terserah"


"Lah terus. Suamimu mau diapakan ini, Win. Mosok nikah sudah tiga hari kok belum belah duren"


"Mau, belah duren sekarang ?" Semplak Winda sekalian


"Yaiya la, Win. Puluhan tahun menduda, nggak enak, Win. Pusing atas bawah"

__ADS_1


Ternyata, selagi pak raden ngoceh kesana kemari, Winda kebelakang untuk mengambil duren


Winda masuk kekamar, bersama durennya


"Loh Win, ngapain kamu bawa-bawa duren kekamar"


"Katanya mau belah duren, ini !!"


"Oalah Win, Win. Modol-modol ntar salak ku Win, Win"


-


Hingga menjelang malam, seseorang yang ditunggu akhirnya pulang


Winda membuka orden, ternyata Nara sudah pulang


-


Setelah sampai di rumah Nara, Dewa langsung mengekor masuk ke dalam gerbang itu tanpa membawa Rosid ikut serta bersamanya.


Dewa menghampiri Nara dan membantu mendorong pintu gerbang tersebut


Setelah motor sudah diamankan


"Maaf, Mas. Mas Dewa nggak boleh masuk. Sekarang sudah malam. Waktu bertamu habis" Tolak Nara dengan nada bercanda


"Kapan berlaku untukku"


"Tergantung Bapak


"Kok gitu"


"Ya iya lah. Kesininya, Kalau Bapak bersedia. Ya udah sana, mas dewa pulang deh"


"Kok ngusir sih"


"Aku nggak ngusir, tapi memang sudah malam, Juragan"


"Ck.. Kau selalu begitu"


Dewa belum beranjak sebelum Nara masuk kerumah


"Yaudah masuk sana " Sambung Dewa sekaligus mengusir Nara dari halaman


"Iya, iya" Nara pun meraih handle pintu dan ternyata, Bu Winda juga meraih pintu untuk membukakan pintu untuk Nara


Pintu terbuka


"Oh, ternyata bareng Nak Dewa to. Tapi ma'af nih Nak. Bukannya Ibu mengusir. Tetapi waktunya yang kurang tepat. Kapan-kapan main kesini, ya ?"


Yeeess "Siap Bu"


Dewa keluar dan masuk ke dalam mobilnya, yang sudah ada Rosid disana


Dewa membuka kaca jendela "Met malam, Bu.. Mahes...." Pamitnya sopan


"Iya Nak, malam. Hati-hati dijalan. Jangan lupa.. Pintu terbuka buat Nak Dewa.."


"Bu !!" Nara menyenggol lengan Ibunya


"Ish, biarin. Dia kan Suamimu" Bisiknya, kemudian menatap Dewa "Kesininya, kalau dah siang saja, ya Nak"


"Siapp Bu.. Makasih ya Bu.. Mari" Hati Dewa langsung berbunga-bunga


Lampu hijau sudah menyalah "Mama... Secepatnya Aku akan bawa mantumu Ma"


Di dalam mobil, Ia duduk dengan tenang sambil menatap Nara yang masih berdiri menatapnya bersama ibunya


"Juragan, apa rencana selanjutnya, Juragan?" Tanya Rosid pada Dewa Setelah mobil bertolak dari rumah Nara


"Pulang, Sid. Kamu nggak mau Kita digrebek, kan?"


"Kirain nginep, Juragan. Saya siap jadi saksi"

__ADS_1


"ROSIIIIIIIDDDDD!!!"


BERSAMBUNG.....


__ADS_2