Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Bertemu


__ADS_3

"Naraya"


Naraya menoleh


Ghani jongkok didepan Naraya yang sudah banjir airmata "Kamu kenapa? Ayo bangun"


Ghani membantu Naraya untuk berdiri. Membantu mengusap bajunya yang sedikit kotor karena Naraya asal duduk dilantai


"Kamu kenapa? Apa Kamu sakit ?" Tanyanya dengan lembut


Naraya menggeleng dengan tangan yang masih mengusap wajahnya dengan cepat


Ghani tahu, Gadis ini pasti menangis


-


Naraya duduk didepan Ghani "Aku siap. Aku siap menikah denganmu"


"Kamu yakin?" Ghani tidak cepat menanggapinya dengan senang. Karena Ghani tahu, Naraya masih berubah-ubah


Wajah Naraya berubah merah ingin menangis "Yah. Aku yakin"


Ghani menghela nafas "Baiklah. Karena kabar ini terlalu bagus, sebaiknya Kita segera pulang dan segera meminta restu pada kedua orangtua Kita"


Nara melongo "Kau masih punya orang tua?"


"Iya. Bu Fitri dan Pak Yudha"


"Oh, kirain kedua orangtuamu"


"Orang tuaku meninggal sejak Aku baru pertama kali masuk kerja disini. Ya, dua hari saat Aku bekerja disini"


"Meninggal karena apa?" Akhirnya Nara bertanya juga


"Kecelakaan pesawat saat umrah"


Nara menutup mulutnya tidak percaya


"Iya. Aku ditinggal sendirian. Kedua orangtuaku meninggalkan Aku.. " Ghani tersenyum kembali menatap Naraya sekilas "Dan juga adikku"


"Adikmu? Maksudnya? Kamu punya Adik ?"


Ghani mengangguk "Adikku turut serta bersama kedua orangtuaku. Dan kepergian Mereka, ternyata pergi untuk selamanya"


Nara memegang lengan Ghani. Mengusapnya "Mas Ghani yang sabar, ya?"


'Apa tadi?? Dia panggil Aku Mas ghani? Yuhuuuu' Ghani bersorak dalam hati. Kesedihannya terlupakan dan tergantikan dengan tangan yang sangat lembut, yang sangat Ia dambakan saat Ghani melamunkan Naraya


"Adikku sangat cantik sepertimu. Cantik. sangat cantik. Wajahnya mirip denganmu" Ghani menatap Naraya intens


"Hah??" Naraya langsung tersadar. Tangan yang memegang lengan Ghani, akhirnya terlepas juga "Maafkan Aku. Maafkan. Aku tidak sengaja"


"Tidak masalah. Aku menyukai" Senyum Ghani melebar


"Menyukai??"


"Mu" Tunjuknya pada Nara


Naraya tersenyum "Tapi Aku seorang janda"


"Tak masalah. Kalau sudah cinta. Mau gimana lagi"


"Kau masih muda. Masih bisa memilih. Sedangkan Aku. Aku hanya bekas dari seseorang"


"Jangankan Kamu hanya bekas dari satu orang. Bekas dari dua orang, tiga orang. Kalau Aku suka, mau gimana lagi. Aku sudah mencintaimu, Naraya. Gadis yang katanya cantik, belum tentu bisa menarik perhatianku. Kau orangnya. Yang terlanjur mencuri hatiku"


"Gombal" Naraya tersenyum


"Ih, nggak percaya. Pumpung masih dirumah sakit yuk. Kita keruang operasi. Belah dadaku, Aku yakin isinya cuma Kamu"

__ADS_1


"Ah gombal. Yang ada, Kau malah sakit ntar"


Haha


Ghani tertawa begitu manis. Sangat manis


-


Tidak sengaja. Saudara Dewa yaitu Narendra, melihat bahwa Dewa masih hidup "Itu Dewa kan?"


"Mana Dewa, Bos" Tanya salah satu kawan Narendra


Narendra langsung mentonyor kepala kawannya


"Hih Bos. Jangan asal tonyor. Ntar gua tambah bodoh, Bos"


"Yaudah Aku balikin" Narendra kembali mentonyor kawannya agar imbang otaknya


Mereka terdiam saat melihat Dewa bersama wanita lain sedang menaiki taxi


Taxipun berjalan


"Gimana nih Bos, jadi Kita ikuti?" Tanya kawan Narendra


"Ragu nih Gue.. Itu beneran Dewa atau bukan sih"


"Lah. Mata si Bos gimana sih. Masih waras kan?"


"Hus, sembarangan. Yang buras itu mata lu"


"Gua mana ngerti si Dewa itu wajahnya gimana. Ah payah. Yang katarak matanya sih Bos, eh nyalahin Gua"


"Diem!! Bingung Gue. Dia itu benaran Dewa atau bukan"


"Hadewww... Masa musuhnya sendiri kagak tau"


"Masalahnya Dewa sudah meninggal, dan sudah dikuburkan. Tinggal Bokap Gue saja yang sekarang menghilang. Taulah. Apa Dia ada dibini yang ke sekian. Entahlah. Air Bokap udah disiram-siramin sama kebon tetangga mulu"


"Entahlah, Gue mana tahu"


Akhirnya, Narendra tidak jadi mengikuti Dewa karena bingung. Mungkin otaknya terlalu banyak alkohol jadi dedel tidak bisa untuk berfikir


-


Hari berganti hari


Ghani akan berkunjung kembali kerumah sakit yang ada dipusat kota


Kegiatannya memakan waktu yang begitu panjang. Hingga akhirnya, Iapun pulang dengan waktu yang sudah larut


Tiba-tiba ditikungan dekat hutan, mobil yang Ghani kendarai berasap


"Apalagi ini" Ghani segera turun dari mobilnya dan membuka kap mobil tersebut


Ghani kurang faham. Kemudian menutupnya kembali, dan segera menghubungi asistennya untuk menjemputnya


Menit demi menit telah berlalu. Tetapi, yang ditunggu belum datang juga. Entah memang rasa menunggu itu lama, atau memang benar-benar lama. Yang jelas Ghani bosan


Tiba-tiba ada suara hewan dari balik tumbuhan yang tinggi samping mobil Ghani yang masih berkebul


Embeeekkk


"Suara kambing ya?" Ghani masih mempertajamkan pendengarnya


Embeeeekkk


"Wah, disini pasti ada penghuni"


Tidak ingin menunggu lama, Ghani langsung mencari sumber suara

__ADS_1


Ghani berjalan dan ternyata ada pintu gerbang yang terbuka


Ghani berjalan masuk "Wah rupanya disini banyak kambing" Bau-baunya telah menyengat menusuk kerongga penciuman Ghani


Ghani sedikit ragu untuk mendekat. Karena ada sedikit sinar yang saling sorot ke wajah yang bertopeng


"Tunggu, masa pemiliknya memakai topeng?" Ghani sedikit curiga


Ghani terus mengamati seluk beluk kedua orang yang bertopeng itu sedang berbisik-bisik namun suaranya tidak bisa Ia cerna dengan jelas


Ghani mengambil kerikil lalu Ia lemparkan kekandang domba


Embeeeeeekkk embeeeekkkk


Suara domba itu saling bersaut-sautan hingga dari kejauhan, ada sepasang pria dan wanita berlari menuju kandang dengan lampu saling sorot dan juga kayu


"Siapa ??!!!" Suara laki-laki


Ghani langsung waspada di ujung pintu masuk


"Siapa disana??!!" Suara pria itu kembali menggemah


"Cip, Cip, Kita lari Cip" Ucap si Maling


Kedua maling itu berlari. Tetapi na'as Ghani telah menutup pintu gerbangnya "Disini malingnya, Pak !!" Teriak Ghani sambil memukul maling itu dengan kayu


Dewa berlari kemudian ikut meringkus maling tersebut


Ghani membuka topeng si Maling


"Apa ??? Cipot ?? Gembol ??"


"Kau kenal ?" Tanya Dewa pada Palawi


"Kenal. Mereka anak buahnya tuan Kamso. Pemilik peternakan domba juga"


"Oh"


"Maaf-maaf" Ucap si Maling minta ampun


"Bawa ke Pak RW aja"


Setelah kedua maling diserahkan pada ketua warga disini, Akhirnya Dewa, Palawi dan juga Ghani, jalan menuju rumah milik Palawi


"Ngomong-ngomong, Anda itu siapa?" Tanya Dewa membuka kata


Ghani langsung menjabat tangan Dewa "Saya Ghani. Ghani Fida Mumtaz. Saya bekerja dirumah sakit Al Mumtaz"


"Al Muntaz ?? Kemarin, Saya juga dirawat disana"


"Oiya. Sakit apa?"


"Hanya kecapaian"


"Oh.. Oiya, Mobil Saya mogok ditikungan jalan. Kebetulan, Saya baru dari ibukota menuju pulang. Tetapi nggak tau mengapa, mobilku mogok"


"Oh, boleh Saya cek?"


"Silakan-silakan"


Dewa mengecek mobil tersebut. Ternyata kehabisan air


"Mobil mogok. Eh, malah nangkep maling"


"Itu tak sengaja. Karena Aku menunggu kawanku belum datang-datang jadi Aku bosan. eh akhirnya, ketemu maling"


Ahahaha


Sebelum perpisahan, Ghani memberikan kartu nama pada Dewa "Ini kartu namaku. Jika butuh apa-apa, telpon ya"

__ADS_1


"Siap"


BERSAMBUNG.....


__ADS_2