
Malampun tiba
Seluruh para penghuni berhamburan masuk kekamar anak laki-laki, yang sudah disulap menjadi surau jika waktu sholat tiba
Mereka semua menunaikan ibadah sholatnya selalu bersama-sama
Pak Pardi suami Mak Asih, selalu menjadi imam jika waktu sholat tiba
Selain seharian mengurus domba, Pak Pardi juga rajin menanam sayur-sayuran ditepi jalan
Dan setiap hari, pasti ada saja jenis sayuran yang dibawa olehnya dari sana
-
Ketiga wanita tangguh yang biasa bertugas didapur, tadi sore sudah memasak besar untuk seluruh penghuni disini
Seperti biasanya, Mereka selalu makan bersama dengan duduk memanjang disepanjang jalan depan rumah Dewa
"Wah... lauknya ayam goreng sama lalapan" Ucap Pak Parmo yang barusan duduk dengan kaki bersila
"Enak, enak, enaaaaakkk" Saut Yogi anaknya pak Parmo
"Mama, Juna mau paha" Ucap Juna pada Naraya
"Aku juga sama. Mau paha, sama kaya Juna" Saut Rohid
"Aku Jugaaaaa!!" Kini sautan teman-teman Juna lainnya minta paha semua
"Pahanya hanya 8. Nggak ada paha ayam lain" Saut Pak Pardi
"Yaaaaaa" Terdengar suara anak-anak kecewa
"Mau, pahanya Pak Pardi??" Tawar Pak Pardi. Siapa tau anak-anak bersedia
Kini bukan hanya anak-anak yang menjerit menolak. Para orang tua ikutan saling menolak
"Ah, pahanya Pak Pardi uda bergelambir. Tua pula, nggak enak. Pahit" Cibir Bu Parida adiknya Pak Pardi sekaligus Ibunya Karan
Ahahahaha
"Udah gitu, alot pisan ahaha" Cibir Mak Asih, istrinya sekaligus ibunya Mina
Mina senyum-senyum lihat bapaknya tertindas
Tadi siang Pak Pardi sengaja menangkap ayam hanya 4 ekor saja. Karena dirasa cukup untuk lauk makan malam mereka semua
Dulu, Dewa membeli sepasang ayam untuk dipelihara. Namun, Dewa sengaja melepas ayam tersebut dan membiarkan ayam-ayamnya berkeliaran disekitar sini. Ternyata, ayam yang dulunya hanya sepasang, kini tumbuhlah banyak, sampai beranak pinak hingga bercicit
Dan jika ayam tersebut sudah dewasa, Pak Pardi langsung menangkapnya dan menyembelih untuk lauk bersama
Menu masakan ayam memang jarang, karena sengaja menunggu ayam tersebut menetas sendiri dan dewasa
"Mantap mantap mantap"
Mereka makan malam bersama begitu kompak dalam kehangatan bersaudara
"Aku habis!!!" Tangan Puja naik keatas karena menang
"Hore!! Aku juga habis!!" Kini Karan juara makan kedua
__ADS_1
"Aku juga yeeee"
"Aku juga habis!! Cihuiiiii"
Anak-anak mulai berlarian setelah makan malamnya habis
Juna ingin bangkit, tetapi tangannya sudah ditarik oleh Naraya "Juna, ayo habiskan" Ujar Naraya
"Juna nggak mau ayam. Juna maunya cumi"
"Cuminya nggak datang. Ini kan malam sabtu. Pak nelayannya libur kalau hari jumat. Ingat tidak, tadi pagi hari jumat. Juna jumatan kan tadi siang"
Juna mengingat-ingat
"Juna sudah ingat?"
Juna mengangguk "Ingat, Ma"
"Nah, ayo makan lagi. Habiskan pelan-pelan"
"Tapi Juna kenyang Ma" Rengeknya
"Eng.. Mama suapin" Rengeknya lagi
"Juna sudah besar. Juna nggak malu sama adiknya?" Saut Dewa sambil mengusap kecil perut Naraya
Juna cemberut "Kapan cumi ada" Mata Juna sudah berkaca-kaca
"Mungkin besok, sayang... Sekarang habiskan ya??" Rayu Naraya
"Juna udah telat. Juna malas" Juna sudah mewek dan tangisnya hampir pecah
"Eh, sudah besar kok mewek gitu" Saut Mina "Suapun Mbak, ya?"
Naraya tersentak kaget "Eh, eh, Junaaa... Jangan kenceng-kenceng. Mama nya sesak sayang" Ucapnya sambil melerai tangan Juna yang melilit diperutnya
"Iya, adiknya kegencet dong" Dewa ikut melerai
-
Malam semakin larut
Suara ombak dan angin kencang kian kentara seiring rasa sakit pada perut Naraya yang kian malam semakin jelas
"Mas" Pekik Naraya
Dewa menoleh menatap istrinya yang tiba-tiba terlihat kesakitan
Dewa mendekati Naraya "Kenapa? Perutmu sakit ??" Dewa mengusap perut Naraya. Tetapi rasa sakit yang dideritanya tidak kunjung surut
Naraya mengangguk
Dulu Dewa pernah mendampingi Naraya saat melahirkan Juna. Dan Dewa sempat bingung, apalagi Naraya sudah bukan istrinya. Tetapi saat ini, rasa bingung melihat istrinya kesakitan seperti ini timbulnya tak tega, tambah sayang "Kita kerumah sakit ya?" Ujar Dewa sambil menyaut koper yang telah terisi baju dan keperluan Naraya, serta alat-alat untuk bayi yang akan terlahir lagi dari rahim Naraya
Walaupun sebenarnya bersalin tidak membuat seseorang menderita. Sangat membantu apabila suami selalu mendampingi. Seperti Dewa. Sepertinya Dewa masih ingat waktu dulu pertama kali bertemu dengan Naraya kembali setelah perpisahan yang tak pernah di duga
Malam ini, Dewa segera turun dari rumah, dan berlari kecil menuju garasi untuk mengambil mobilnya
Dewa segera memarkirkan mobil tersebut dekat dengan rumahnya
__ADS_1
"Ada apa, Juragan? Apa Nyonya akan melahirkan?" Tanya Pak Pardi yang kebetulan masih terjaga bersama bapak-bapak lainnya sambil menonton televisi dihalaman rumah Dewa
"Sepertinya iya, Pak Pardi" Jawab Dewa sambil memasukkan koper kedalam bagasi
Dewa menaiki tangga dengan cepat. Setelah beberapa menit, Dewa kembali bersama Naraya dalam gendongannya
-
Dewa sudah duduk dikursi sebelah kanan brangkar milik Naraya
Tangan kanan Dewa memegang erat tangan kanan Naraya, untuk memberikan kekuatan. Sedangkan tangan kiri Dewa, mengelus sambil memberikan pijatan pada wajah istrinya untuk membantu melepaskan stres dan membantu wajah menjadi lebih rileks
"Sayang, apa kamu akan pipis, hm?" Ujar Dewa mengingatkan Naraya untuk pergi ke kamar mandi
"Mas, kenapa Kamu cerewet sekali. Selalu menawari kekamar mandi. Belum juga seperempat jam. Kamu sudah menanyakan itu terus" Protes Naraya
Kata siapa seperempat jam, Dewa mengingatkan setiap jam, bukan setengah jam, apalagi seperempat jam. Nggak mungkin
Entahlah. Dewa dapat ilmu dari mana menanyakan hal tersebut. Sepertinya Dewa yang selalu bertanya pada dokter kandungan sendiri, makanya Dia faham
Dewa terus mengompres air dingin di leher dan wajah istrinya "Agar terasa lebih segar, kompres lagi, ya??" Ucapnya sembali mengelap wajah Naraya
Naraya mengangguk. Ternyata yang dilakukan Dewa, mampu membuat Naraya rileks
Setelah Naraya terlihat rileks, Dewa mengambil piring yang berisi makanan
"Mau makan?" Dewa mendorong makanan untuk menyuapi Naraya
Naraya menggeleng, kemudian mengubah posisi untuk miring
"Punggungku terasa sakit, Mas. Pijit"
Dewapun memberikan pijatan pada punggung Naraya
"Sudah Mas, cukup" Ucapnya sambil meringis
Dewa menghentikan segera dan memperhatikan wajah Naraya yang susah diartikan
"Sus, sus. Tolong istriku, Sus. Sepertinya istriku sudah mau melahirkan"
"Iya, Pak"
Bidan senior, dokter kandungan, serta dokter anak sudah berkumpul diruangan bersalin
Eekkkkk
Oeeeekkk
"Alhamdulillah, Pak. Bayinya laki-laki" Seru dokter kandungan yang biasanya menangani Naraya, jika Naraya periksa kandungan dirumah sakit ibu dan anak ini
Dewa langsung menghambur peluk "Terima kasih sayang.. Sekarang Juna sudah ada temannya"
Dewa mengurai, kemudian membelai wajah letih Naraya
"Mas akan kasih nama siapa, Mas?" Tanya Naraya sesaat setelah Dewa mengurai peluk
"Yudhistira Ayus Dewana"
Cakep banget.. Aku suka Mas"
__ADS_1
Dewa mengangguk kemudian memeluknya kembali
END