Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Tak Bisa Tidur


__ADS_3

Nara membuka pintu dengan rambut acak-acakan


"Ada apa, hmmm ??"


Nara berbelok dan kembali duduk diatas kasur


Pak Raden mengikutinya dari belakang, kemudian duduk dibibir ranjang


Nara masih terdiam


Pak Raden melihat sekilas kalung yang terbuka diatas kasur. Lalu Ia mengambilnya "Kalungmu kenapa dilepas" Pak Raden menatap sekilas kemudian menutup kembali liontinnya


Selama ini, Pak Raden sudah tahu. Jika kalung yang Nara pakai, itu pemberian dari pria yang telah menikahinya. Sumber cerita dari Ibu Nara


Ya, selama ini Pak Raden masih sering mendatangi rumah janda itu yaitu Ibu dari Nara


Ternyata, lama sekali Pak Raden menaruh hati pada Winda. Janda dari Ali, Ibu dari Nara


Pak Raden menutup semua akses untuk Nara dan Ibunya. Yaitu, Dirinya berpindah rumah dan pekerjaan sebagai rentenir telah Ia tinggalkan setelah Nara dalam asuhannya


Pak Raden tidak mau mereka berdua bertemu sebelum dirinya berhasil menikahi Winda


-


Percakapan mereka pada waktu itu


"Aku tidak mau!!" Tolaknya persis seperti Nara pada saat pertama kali disuruh makan oleh Raden


Raden tersenyum "Berarti, Kamu tidak akan bisa bertemu dengan Anakmu?"


"Kenapa Kamu selalu mengancamku seperti itu"


"Karena Kamu alot"


"Apanya yang alot??!"


"Sikapmu. Kamu nggak ngerasa ??"


"Pokoknya, Aku tidak ingin menikah denganmu!! Kembalikan Putriku"


"Nikah dulu denganku. Nanti Kamu bisa bertemu dengan Putrimu"


"Kau mengancam Aku lagi?? Akan Aku adukan sama pemerintah desa. Agar mereka menyeretmu kepenjara"


"Silahkan. Dengan tuduhan apa Kamu akan memenjarakan Aku"


"Maling anakku"


"Maling??"


"Iya. Kau sengaja mempersulit Aku untuk membayar hutang yang Aku punya. Bunga berlipat. Dari anakan hingga bercucu dan bercicit. Kamu sengaja kan, agar Aku tidak mampu untuk membayarnya ? Ngaku??!"


Raden tersenyum "Iya"


"Mengapa Kau lakukan ?!!"


"Karena Aku ingin menikahimu. Menginginkanmu. Apa salah ?? Putrimu juga butuh kehidupan yang layak. Aku cukupi. Kamu juga akan kucukupi. Seluruh Hutangmu juga sudah jelas bisa lunas dengan jawaban MAU, itu saja. Kenapa Kamu tidak terima. Kurang apa Aku"


"Kurang waras!! Pergi Kau !!"


Dari situlah, Pak Raden belum mau mempertemukan mereka berdua karena ada tanda kutip


Pak Raden tidak pernah sakit hati pada penolakan. Biar saja. Suatu saat, Ia pasti akan menggenggamnya. Janji Pak Raden.


-


Perlakuan Pak Raden pada Nara tetap sama. Menyayangi seperti anak kandungnya sendiri

__ADS_1


Mempertahankan Nara, karena Nara telah memiliki jodoh


Bahkan, Ia rela menjadi garda terdepan jika siapapun yang ingin mengencani Putri angkatnya dengan jawaban TOLAK. Dengan alasan sepinter-pinternya Raden


Dalam hati Pak Raden sebenarnya lucu. Demi Winda, apapun Ia tanggung


-


Kembali kemasa kini


Meskipun antara Nara dan Dewa telah sah menjadi suami istri, mereka berdua tetap tidak sah untuk berhubungan selayaknya seorang suami pada istrinya


Bukankah masa 12 tahun itu waktu yang sangat lama. Pernikahan gantung dong namanya


Maka dari itu, Pak Raden menganggap ini semua sebagai lamaran saja. Toh mereka dulu hanya menikah siri, bukan legal yang diakui oleh negara


"Sekarang, simpan kalung ini. Jika Kamu sudah malas memakainya"


Nara menatap Pak Raden dengan sendu


"Suatu saat nanti, Kau akan membutuhkannya" Kemudian Pak Raden menaruh kalung tersebut diatas nakas "Tidurlah. Jangan menjerit-jerit lagi" Lalu, Pak Raden berjalan menjauhi Nara


"Pak.." Panggilnya saat Pak Raden telah diambang pintu


Pak Raden berhenti dari langkahnya. Tangan yang sempat memegang handle pintu kembali turun "Iya" Masih tidak menoleh


"Nara ingin ke tempat Ibu" Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari rongga mulutnya


Pak Raden terdiam. Misinya belum tercapai kenapa umpannya ingin meloncat


"Pak... Antarkan Nara ketempat Ibu" Sambungnya karena belum ada jawaban dari Bapaknya


Pak Raden pura-pura tak merespon, kemudian membuka pintu dan keluar


"Bapak !!! Kenapa Bapak diam !! Kenapa Bapak tak menjawab !! Ibu masih adakan??"


Nara berlari mendekat "Bapak...." Panggilnya seperti akan menangis


Sudah... Teriris sudah hati Pak Raden "Tidurlah, Nduk. Kapan-kapan, Bapak akan ajak Kamu mendatangi Ibumu"


Nara langsung berbinar dan berlari memeluk tubuh Pak Raden dari belakang "Benarkah, Pak?"


Pak Raden mengangguk "Iya. Sekarang tidurlah"


-


Malam ini, Pak Raden yang dapat giliran, tidak bisa tidur


"Ikan belum didapat. Umpan akan terlepas"


-


Ditempat lain


Rumah panggung yang berada diatas hamparan pasir yang sangat luas, Dewa seperti hidup dizaman dahulu dicerita para nabi digurun pasir


Betapa tidak demikian


Sebelum Dewa terjun kesini, hidup dikota tak ada matinya


Roda perekonomian di Jakarta serasa tak pernah tidur dari hiruk pikuknya kehidupan Ibukota


Suara debur ombak sayup-sayup terdengar jelas meskipun rumah yang mereka dirikan jauh dari pantai


Suara hewan yang asing bagi telinga Dewa, membuat bulu kuduknya terasa merinding


Tidak betah? Mungkin iya. Tapi Dia sudah terlanjur basah tenggelam didalamnya

__ADS_1


Materi yang Ia keluarkan tidaklah sedikit. Kampung ini benar-benar akan tenggelam jika tidak ada satu orangpun yang peduli mengubah kampung ini yang hampir hancur perekonomiannya


Dewa berdiri dari tempat tidurnya. Malam ini, Dia benar-benar merasa kedinginan didalam kamarnya


Untung diluar selalu ada orang banyak yang berjaga


Suara kelakar para pekerjanya, membuat Dewa ingin keluar untuk bergabung


Ada yang sibuk membuat kopi, membakar singkong


Ada pula yang bermain gitar sambil bersenda gurau


Mereka semua berkerudung sarung sambil mengelilingi api unggun yang berkobar-kobar


"Eh, Juragan? Dingin Juragan" Sapa dan tebaknya saat sang Juragan turun dari rumah panggung


"Iya nih, dingin banget. Tumben juga nggak bisa tidur"


Mereka mengangguk bersamaan


"Kopi Juragan ?" Tawarnya pada Juragan


Dewa menerimanya lalu menggenggamnya, dan duduk bergabung dengan mereka


"Singkong Juragan?" Tawarnya lagi


Dewa kembali menerimanya


Lumayan dingin-dingin ada makanan hangat


Malam ini angin begitu kencang, debu beterbangan dimana-mana


Dewa menatap bakaran singkong yang berada ditangannya "Dapat dari mana?"


"Kebunlah Juragan. Tunasnya juga banyak. Bisa buat bibit"


Dewa manggut-manggut "Iya, nanti ditanam. Bukankah tanah ini sangat luas?"


"Luas luar biasa Juragan. Kalau usul Kami sih, jangan ditanam bunga melati semuanya"


"Maunya??"


"Ya pisang barangkali, Juragan. Singkong seperti ini, tomat, cabai.... "


"Lakukan"


"Lakukan??"


"Iya lakukan saja. Kita tata saja setelah bibit melati itu datang. dan sisa tanahnya, Kita tanam apa saja biar komplit seperti pasar"


"Juragan.... " Semuanya tergelak dengan ucapan Juragan yang sedikit ada humornya


"Rosid mana?"


"Sedang didepan sana, Juragan. Bibit melati barusan datang katanya"


"Dengan siapa Rosid disana?"


"Dengan Kang Parjo, Kang Bejo, Kang Jito..."


"Kang Warmo, Kang Warmin juga, Juragan" Saut pekerja lainnya


"Oh, iya iya. Dilanjut dulu. Aku mau kedepan"


"Siap Juragan. Eng... Perlu Kami temani Juragan?"


"Tidak perlu. Kalian lanjut saja"

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2