
Diruangan Naraya sudah berkumpul banyak orang, termasuk Pak Raden dan Bu Winda
Bu Fitri mulai membuka suara "Naraya, sebelumnya Mama minta maaf. Karena Mama, keadaan Kalian jadi seperti ini. Mama yang membuat semuanya kacau. Mama bersalah. Mama akui itu"
Pak Yudha mengusap punggung bu Fitri
Naraya menatap Bu Fitri "Ma, tak ada yang perlu dimaafkan. Mama tidak bersalah" Putus Nara
Pak Yudha merasa bangga, istrinya selalu berbesar hati mengakui kesalahannya dan berani bertanggung jawab
"Tapi Mama tetap merasa bersalah, Nara.."
"Sudah Ma, jangan ungkit itu lagi" Naraya bersikuku
"Baiklah. Karena Kamu keukeuh Mama tidak bersalah, dan masalah ini menyangkut Kalian semua, Mama anggap Mama sudah tidak bersalah hehe" Bu Fitri terkekeh tapi langsung menempatkan diri lagi untuk bicara serius "Naraya, Mama ingin bicara serius"
Dewa melototi ibunya tidak percaya "Mama... Dari tadi itu Mama bicara terus. Dan Dewa rasa, Mama juga serius ngomongnya. Makanya Dewa dengarkan"
"Hus, Mama tidak bicara sama Kamu. Mama bicaranya sama Naraya, istrinya Ghani"
"Ma" Mata Dewa melebar lagi bermaksud untuk protes
"Baiklah, jangan melotot begitu. Seorang anak itu tidak pantas melototi Mama nya"
Dewa memutar matanya jengah kemudian menepuk jidat berkali-kali
Bu Fitri hanya melirik Putra nya yang terlihat sudah kesal sampai keubun-ubun
Bu Fitri mendekati Naraya "Naraya, sekarang keputusan besar itu ada pada Kamu. Mama sebagai orang tua, sudah tak bisa lagi ikut campur dalam urusan rumah tangga mu"
Semuanya manggut-manggut, dan hanya Dewa yang tidak
Naraya menatap Dewa, kemudian menatap Ghani bergantian "Aku ingin cerai"
Semuanya terbelalak tak percaya termasuk Ghani "Naraya, Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja. Kau tidak memikirkan perasaanku? Aku menunggumu sampai detik ini, karena Aku sayang sama Kamu. Kujaga lisanku, kujaga keinginanku, karena Aku menjaga perasaanmu yang belum menerima ku. Sekali lagi, pikirkan perasaanku Naraya"
"Aku tidak memilihmu, Akupun tidak memilih Mas Dewa. Aku ingin pulang. Aku ingin ikut Bapak dan Ibuku"
"Kau juga tidak ingin ikut sama Mama?" Sekarang Bu Fitri ikut komentar
"Mama adalah ibunya Mas Dewa. Jika Nara ikut Mama, sama saja Nara memilih Mas Dewa" Jawab Nara lugas
"Jika memilih Dewa, memangnya kenapa? Dia Ayahnya Juna" Masih Bu Fitri yang belum terima
"Kalau Naraya memilih Dia" Tunjuk Ghani pada Dewa "Aku yang sakit hati, Bu"
Dewa melototi Ghani "Tapi anak yang lahir dari Nara, adalah Bayiku. Kau harus ingat itu" Dewa menunjuk-nunjuk Ghani
Ghani menyingkirkan tangan Dewa "Tapi Dia istriku !!" Ucap Ghani tak mau kalah
"Cukup!!" Teriak Naraya
Dewa dan Ghani serentak menatap Naraya
"Aku tidak memilih Kalian!"
Dewa akhirnya berjalan mendekati jendela "Kalau begitu, Aku lebih baik loncat dari sini" Tunjuk Dewa pada balcon yang ada diruangan ini
"DEWA!!!" Semua orang tua berteriak
__ADS_1
"Jangan kayak anak kecil" Bu Fitri menjewer telinga Dewa kesal
"Mama, malu" Protes Dewa sambil menarik tangan ibunya yang membuat kuping Dewa memerah
Bu Winda mendekati Dewa, lalu tersenyum "Nak Dewa... Jika Kalian masih berjodoh, Nara pasti kembali"
Dewa menoleh "Jika tidak ??"
"Berarti Naraya milikku" Saut Ghani cepat
Dewa langsung bersungut-sungut "Kenapa Kau ingin sekali memiliki Nara" Ucap Dewa tak terima
"karena Aku mencintainya. Dan dia istriku. Wajarlah"
"Sudaaaah! Diam!! Lebih baik, Kalian berdua PERGI !!!!" Tunjuk Naraya pada pintu yang masih tertutup
-
Dewa dan Ghani sudah diluar
Mereka duduk berjauhan seperti musuh bebuyutan yang memperebutkan piala
Dewa melirik Ghani "Tinggalkan Nara"
"Kalau Aku tidak mau?!"
"Aku paksa"
"Kalau Aku tetap menolak. Kau mau apa"
Dewa berdiri menjulang didepan Ghani "Memangnya Kamu nggak dengar, Nara ingin bercerai !! Cinderella ingin bercerai boss"
Ghani berdiri. Menunjukkan dadanya bahwa Dia juga mampu beradu dada "Sekali lagi ya Den Bagus Dewa, kalau Aku tidak mau, Kau mau apa??" Ghani mendorong dada Dewa menggunakan jarinya. Kemudian berlalu dari hadapan Dewa
"Kurang ajar ya" Dewa sudah kebakaran jenggot "Ghani!!" Panggil Dewa berteriak
Ghani mengangkat tangannya kemudian menunjuk-nunjuk gambar yang tertempel didinding
Dewa mengikuti dan membaca "Hahh??!!!"
"DILARANG BERISIK"
Ckkkkkkkkkk
Pertengkaran mereka akhirnya memisahkan ketiga kubu
Kubu Naraya, Dewa, dan juga Ghani
-
Pagi harinya
Naraya sudah bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit dan akan langsung pulang kekampung
Wajah Dewa begitu gembira. Senyum rupawannya terus tersirat
Ya, Dewa sangat senang sekali karena akhirnya Naraya akan tinggal dikampung yang dekat dengannya
Senyum Dewa mengembang. Kemenangan sudah didepan mata
__ADS_1
-
Malam ini, Ghani benar-benar sedih.
"Menikah, tapi tidak tau rasanya menikah" Ghani tersenyum miris
Ghani mengambil cermin tangan milik Naraya, lalu menatap bayangan wajah nya yang terpantul dari kaca "Apa wajahku tidak menarik? Apa wajahku kacau? Kenapa seorang Naraya tidak pernah mau menatapku dengan baik. Dia selalu mengacuhkanku"
Ghani mengusap wajahnya "Apa Aku sudah terlihat tua??" Ghani kembali memegang wajahnya dan berhenti didagu "Wajahku tidak berkerut. Tidak keriput juga. Tapi kenapa Naraya menolakku"
Ghani berdiri berjalan mendekati almari yang berisi baju milik Naraya. Ia membukanya, menyentuh baju-baju itu kemudian menciumnya
Kembali, Ghani tersenyum miris
"Akh" Ghani mengusap wajahnya frustrasi "Ditinggalkan seluruh keluargaku sungguh menyakitkan. Kini, Aku harus ditinggalkan oleh orang yang Aku cintai. Istri. Istri yang Aku cintai namun Istriku tidak mengharapkanku"
Ghani menghela nafas. Rasanya sesak seperti ditusuk ribuan belati
"Semua orang pasti menertawakanku. Lelaki bodoh, lelaki yang tak bisa mencari jodoh sendiri. Lelaki yang bisanya mencintai wanita milik orang lain. Hah!!! Dasar!! Ghani seorang perebut"
-
Setelah beberapa bulan, Naraya datang lagi kekota untuk mengurus perceraian
Naraya datang bersama bayinya yang berada digendongannya
"Mas Ghani" Panggil Naraya saat mereka jumpa untuk pertama kalinya
Ghani menoleh
"Maafkan Aku ya, Mas"
Ghani masih terdiam
"Selama ini Aku telah membebani Mas Ghani. Baik segi materi, ataupun segalanya yang dimiliki Mas Ghani"
Naraya menyodorkan surat yang masih didalam amplopnya "Ini surat perceraian Kita Mas. Maafkan Aku. Maafkan Aku yang telah menyakitimu" Nara menunduk dan mengusap air matanya
eeeekk
Suara bayi itu akan menangis, dengan tangan yang diangkat-angkat
Ghani memperhatikan keduanya. Ghani mendekati mereka. Tangan Ghani terulur memegang lengan Juna. Tetapi Naraya langsung siaga takut
"Aku tidak akan mengambil anakmu. Aku hanya ingin menggendongnya. Boleh Aku menggendongnya?"
Naraya terlihat terkejut
"Jangan takut. Aku hanya ingin menggendongnya, sekali saja"
Semuanya terdiam
"Sebelum Kita benar-benar berpisah, Aku ingin menyentuhnya. Agar Aku merasakan menjadi seorang Ayah"
Naraya menatap Ghani, saat Ghani mengambil Juna dari gendongannya
"Anak Papi..." Ghani mencium kedua pipi Juna "Tidak bisa mencium ibunya, mencium Juna nggak pa-pa ya..."
BERSAMBUNG.....
__ADS_1