
Jam 2 dini hari
Sumi terbangun karena perutnya agak melilit "Mas, perutku mules" Ungkapnya saat tidurnya tiba-tiba terjaga
Rosid langsung bangun kemudian bangkit "Mau kekamar mandi?"
"He-em"
Rosid langsung bergegas membantunya kekamar mandi "Hati-hati"
Untung semua kamar mandi para pekerja berada didalam rumahnya masing-masing. Dan tak perlu berdesakan untuk antri
Sumi keluar "Mas, Aku belum pipis celananya kok sudah basah, ya?"
"Basah? Terus tadi katanya mules"
"Ini nggak lagi. Tapi..." Sumi menjeda obrolannya
"Tapi kenapa?"
"Nggak nyaman, Mas"
"Kemarin Bu bidan bilang, HPL nya kapan, ya?" Tanyanya sambil mencari buku hamil yang biasa dicatat jadwalnya jika Sumi periksa kandungan
"Di tas Mas" Sumi menunjuk pada kapstok yang menempel dibelakang pintu
"Sini??" Tunjuk Rosid pada tas hitam
Sumi mengangguk "Kalau nggak salah. Sepertinya 3 hari lagi, Mas"
"HPL nya?"
"Iya"
Dan benar, Rosid membaca tulisan dari bidan desa, bahwa hari perkiraan lahir 3 hari lagi
"Mas, pahaku kok basah"
"Oh, jangan-jangan, Kau akan melahirkan" Rosid mulai panik
"Mas, Panggil Mak Parmi sama Mak Asih"
"Apa tidak mengganggu?"
"Nggak pa-pa minta tolong Mas"
Rosid akhirnya keluar dan menggedor pintu rumah milik Mak Parmi dan Mak Asih
Rosid kembali berlari kerumahnya dengan buntut ibu-ibu yang lumayan banyak
"Mungkin Sumi mau melahirkan Bos"
"Panggil bidan sama dukun bayi Bos. Minta teman sama bapak-bapak digardu" Usul ibu-ibu yang membuntutinya tadi
Seruan ibu-ibupun, segera Rosid turuti
-
Rosid pulang kerumah membawa serta Ibu bidan dan dukun bayi yang berasal dari kampung sebelah
Ketika Rosid masuk, Sumi sudah meringkuk sambil diolesi ramuan di punggung dan kaki Sumi oleh Ibu-ibu
"Sumi kenapa Mak, pingsan?" Tanya Rosid yang segera mendekati Sumi
"Enggak. Emak hanya olesi ramuan ini, dan memberikan jamu ini untuk diminum. Agar Sumi cepat melahirkan" Tunjuknya pada gelas kosong dan mangkuk kosong bekas jejamuan tadi
"Oh, aman Mak?"
__ADS_1
"Aman, Bos. Ini namanya jamu sambetan. Biar merangsang bayi, agar cepat keluar"
"Oh.. Bu bidan, Mbah dukun, silakan masuk" Menjawab Mak Parmi sekaligus mempersilakan masuk pada kedua wonder women yang akan membantu Sumi untuk melahirkan
Karena bidan dan dukun bayinya sudah datang, para ibu-ibu mulai keluar dan menunggu di luar rumah
Setelah para ibu-ibu sudah benar-benar keluar, Rosid segera mengunci pintu rumahnya, agar tidak ada gangguan
Sementara, karena diluar rumah terdengar agak berisik, para bapak dan ibu-ibu yang masih istirahat semuanya terbangun dan satu persatu akhirnya keluar memenuhi halaman rumah
"Kok pada diluar. Ada apa nih?" Tanya Pak Parmo sambil membenahi sarungnya
"Sumi. Sepertinya Sumi mau melahirkan"
Mereka sudah berkumpul dan saling melipat tangan didada
Wajah-wajah merekapun terlihat ikut panik
-
Bu bidan mulai memeriksa
"Mbak Sum, kakinya dibuka, ya? Saya cek dulu sudah pembukaan berapa?"
Sumi malu-malu risih karena selama ini hanya suaminya yang biasa membuka pahanya
"Nggak pa-pa jangan malu. Yang lihat cuma Saya, Simbah dukun, dan hanya Mas Rosid" Jelas Bu bidan sambil tersenyum
Perlahan Sumi membuka pahanya, ada hawa dingin yang masuk kedalam sana karena angin berhembus menyapu pahanya yang sengaja tidak ditutup selimut ataupun kain lainnya
Biasanya ditutup tubuh Rosid, sekarang malah dibuka lebar-lebar, tapi tidak ditutupi sama sekali
Bidan mulai memasukkan jarinya "Tarik nafas ya Mbak Sum.."
Sumi terlihat meringis saat jari Bu bidan masuk ke dalam kema luannya "Jari Saya terbungkus sarung tangan, Mbak. Dan tidak sebesar punyanya Mas Rosid, hehe" Bu bidan terkekeh
"Pembukaan 4 Mbah"
"Bu, apa yang terjadi dengan istriku? Apa Dia mau melahirkan?" Tanya Rosid yang ikut meringis saat jari bu bidan masuk ke barang yang Rosid sukai
"Iya. Ini sudah pembukaan 4. Tunggu beberapa jam. Semoga semuanya lancar"
"Aamiin"
-
Pagi hari jam 6 pagi
Oeeek oeekk
Suara tangisan bayi menggemah
"Alhamdulillah. Bayinya cewek Mas. Cantik" Ucap Bu bidan yang sedang memotong tali pusar si bayi
Mbah dukun segera membersihkan si bayi. Sedangkan Bu bidan sibuk menjahit jalan bayi yang telah sobek beberapa centi
Setelah putrinya diadzani, Bu bidan dan Mbah dukun berpamitan untuk pulang
Ternyata, saat Rosid mengantar keduanya keluar, para ibu yang diluar sudah siap menimang putri dari bosnya ini
"Sini-sini bawah keluar, Bos. Kami ingin menimangnya sebentar"
Setelah putrinya sudah ditangan ibu-ibu, Rosid celingukan mencari Muji
"Cari siapa, Bos?" Tanya ibu-ibu yang sedang sibuk memasak didapur menggantikan Sumi
"Muji, Muji dimana ya, Mak"
__ADS_1
"Biasanya lagi sibuk mau nganterin anak-anak sekolah"
Muji yang mendengar namanya disebut-sebut berjalan kearah rumah Rosid "Kenapa, Bos?"
"Antar Bu bidan sama Mbah dukun. Tolong, ya"
Muji sudah menggaruk tengkuknya bingung "Anak-anak..."
"Oh, Mali Mali. Sudah bangun belum ya"
"Tadi sudah bangun, Bos. Ya sudah. Biar Saya saja yang antar Bu bidan sama Mbah nya, Bos. Anak sekolah biar si Mali aja yang anter"
"Ya udah, makasih ya"
-
Rosid sudah kembali kekamar menjumpai istrinya "Jangan tidur dulu, ya? Kata mak-mak didepan, sehabis melahirkan dilarang tidur"
"Iya Mas. Bayinya dimana, Mas?"
"Masih sama ibu-ibu didepan. Katanya mau dijemur" Rosid masuk sambil membawakan makanan pemberian ibu-ibu yang memasak didapur tadi "Makan, ya? Tenagamu terkuras habis tadi"
"Iya Mas"
Rosid perlahan menyuapi istrinya
"Mas, bayinya mau dikasih nama siapa?" Tanya Sumi saat Rosid mengaduk makanannya agar cepat dingin
"Eng.. Kebetulan Aku sudah siapin nama perempuan. Mudah-mudahan Kamu suka"
"Oiya, siapa dong?"
"Dyah Sari Maya Rosida"
Sumi manggut-manggut "Cocok Mas, Aku suka"
-
Sementara diluar
Anak-anak yang mau berangkat kesekolah mulai berisik
"Wah bayi siapa ini?"
"Om Rosid Mbak Sum" Jawab Naraya yang sedang menggendong bayi merah itu
"Wah, bayinya baru membuka mata, Ma" Girang Juna yang sepertinya menyukai bayinya Om Rosid "Tidurnya berapa lama Ma, kok susah bangunnya"
"Masih bayi ya gitu, susah bangunnya" Jelas Naraya sambil sesekali mengambil nasi yang menempel dipipi karena Juna belum lihai makan sendiri dengan benar
"Wah, Mak'e.. Bayinya sudah bangun" Ucap Rohid yang baru melihat bayi itu membuka matanya
"Tadi denganku udah melek, Rohid.. Kau kalah karena Aku duluan lihat" Saut Juna tak mau kalah saing
"Mak.. Kenapa Juna yang menang" Kesal Rohid
"Karena Dia adikku"
"Apa?? Nggak bisa, Junaaa.. Dia anaknya Om Bos. Jadi bukan adikmu tapi adiknya Mbak Sum"
"Mamaaaa"
"Sudah, sudah. Ini adiknya Kalian semua. Sekarang, Om Mali dah siap no.. Buruan sana, hari-hati ya, jangan berantem. Salim sini" Naraya menengahi
Juna meraih tangan Naraya "Ya udah deh, Juna pamit ya, Ma.." Juna sudah mencium punggung tangan ibunya kemudian beralih ke bayi merah "Adek bayi...Kakak berangkat sekolah ya... "
"Ya Kak. Hati-hati ya.."
__ADS_1
BERSAMBUNG....