Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Hancur Semuanya


__ADS_3

Dewa pergi meninggalkan kampung ini. Dia tidak ingin hidup diantara Palawi, Naraya dan juga Ibunya


Hancur sudah hati Dewa


-


Jam 03:00 dini hari


"Juragan... Betulkah ini Anda, Juragan" Suara Rosid sudah menggemah


Dewa menatap Rosid dalam diam


"Bapak-bapak !! Lihatlah !! Siapa yang datang. Juragan Kita datang !!" Rosid berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar para pekerja


Dewa tersenyum tipis kemudian berjalan menuju singgasananya


Dewa berhenti melangkah "Rosid, jika ada orang yang mencariku. Baik keluargaku, keluarga mantan istriku, jangan Kau bolehkan masuk"


"Mantan?? Mbak Nara, mantan?" Ucapnya kebingungan


"Iya. Jangan sebut nama Dia lagi. Dia sudah meninggalkanku" Kemudian Dewa masuk


"Juragan...???" Rosid melongo. Lalu memutar badannya


"Ada apa Bos. Juragan Kita datang??" Tanya salah satu pekerja yang memulai memadati rumah Dewa


Rosid mengangguk "Ayo, jangan ganggu Juragan. Sekarang istirahatlah. Sambung mimpi Kalian" Rosid menggiring seluruh anak buahnya agar masuk kekamar masing-masing


-


Sementara ditempat Nara


Nara akhirnya terbaring lemah dirumah sakit


Ghani yang baru mengetahui bahwa Nara tengah mengandung, hatinya menjadi sakit


Ghani terdiam kecewa


Ghani masuk keruangan rawat Naraya. Naraya meringkuk, Ghanipun tak banyak bicara


Ghani terduduk dari kejauhan sambil memegang pelipisnya "Jika tahu Kamu sedang hamil, Aku tidak akan melangkah sejauh ini untuk menikahimu"


Nara masih diam


"Jika Aku tahu bahwa Dewa adalah suamimu. Akupun tak akan menikah... "


Naraya terduduk "Kalau Pak Ghani merasa kecewa, ceraikan Aku sekarang juga"


Ghani terdiam. Menatap Naraya dengan perasaan campur aduk. Meluluhkan hati Naraya saja butuh perjuangan ekstra


"Aku tidak akan menceraikanmu sekarang. Makanlah kau butuh nutrisi. Karena ada nyawa yang harus kamu jaga"


"Aku.."


Tangan Ghani keatas menandakan Naraya untuk diam "Sejak pagi Kau belum makan. Aku tidak mau Kau jatuh sakit dan parah"


"Aku sudah sakit. Tak perlu Bapak repot untuk menyembuhkanku. Karena orang yang akan menyembuhkanku sudah pergi. Dan meninggalkan kesakitan lagi yang tambah menumpuk"


Ghani menatap Naraya "Kenapa Kamu memanggilku Bapak?"


"Karena Bapak adalah atasanku"


"Sejak kapan Kamu tau?"


"Sejak pesta. Pesta yang menyakitkan"


Ghani menghela nafas kemudian berjalan mendekati Nara. Mengambil selimut, kemudian mengangkatnya ingin menyelimuti Naraya


"Aku bisa sendiri. Jangan repot-repot" Tolak Naraya dan merebut selimut itu dari tangan Ghani


Ghani tetap membantu menyelimuti tubuh Naraya "Tidurlah. Jangan terbawa emosi. Ingat, ada nyawa yang bersemayam di perutmu"

__ADS_1


Ghani kembali melangkah. Menjauhi Naraya dan duduk disofa


Naraya menatap Ghani, Ghanipun sama


"Tidurlah. Aku lelah dan juga ngantuk" Kemudian Ghani merebahkan tubuhnya sambil bersedekap, lalu memejamkan matanya


-


Ditempat Palawi. Palawi menangis sejadi-jadinya


Keputusan Dewa yang meninggalkannya membuat Palawi putus asa


"Mas Dewaaa..."


Pagi harinya Palawi terduduk dibebatuan pinggir sungai dangkal yang biasa Palawi dan Dewa beristirahat disana


Palawi melamun dengan mata yang sembab


Biri-biri yang Ia ternak, berkeliaran kesana kemari


Kayu yang ada ditangan, tidak Ia gunakan untuk menggiring ternaknya. Melainkan mencoret-coret tanah yang berumput itu dengan acak


Kembali, Palawi menunduk dan terus berderai


-


Ditempat Naraya


Ghani melamun didalam kantornya


Sakit hati, Ia juga sangat sakit hati "Dewa ternyata suaminya Naraya?? Terus, yang katanya sudah meninggal dan dikuburkan itu siapa??" Fikiran Ghani berkeliaran dan melayang kemana-mana


Sedetik itu, Iapun langsung keluar dari ruangan dan pergi meninggalkan rumah sakit


Ghani segera menghubungi Bu Fitri "Ibu ada dirumah?" Tanyanya saat mobil yang akan Ia kendarai belum melaju


"Iya Nak Ghani, Ibu ada dirumah"


Beberapa menit, Ghani sudah sampai dikediaman Bu Fitri


Bu Fitri sudah rapih dan siap-siap ingin pergi


"Ibu mau kemana?" Ucap Ghani setelah mereka bersalaman


"Mau kerumah sakit menjenguk Nara" Jawabnya masih dengan wajah sembab "Nak Ghani.. " Panggil Bu Fitri yang sudah berkaca-kaca


Ghani menatap Bu Fitri


"Maafkan Ibu ya Nak? Ibu yang membuat kekacauan ini. Seharusnya Ibu bersabar dulu. Jangan buru-buru menikahkan kalian. Tanya Nara dulu baik-baik. Apa benar Dia sedang hamil atau bagaimana...."


"Naraya hamil Bu, Naraya hamil"


"Hamil?? Hamil anak??"


"Anaknya Dewa, cucu Ibu"


Bu Fitri kembali menangis


Ghani mendekati Bu Fitri kemudian memeluknya "Jangan menangis Bu. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Ghani janji Bu, tidak akan menggauli Naraya. Karena ladang itu masih milik orang lain. Orang yang dikira meninggal, ternyata masih hidup"


Mereka mengurai


Bu Fitri menatap Ghani. Mengusap lengannya "Kau pria yang baik, Ghani. Ibu merasa bersalah padamu"


Ghani menimpali tangan Bu Fitri. Kemudian memeluknya kembali


Didalam pelukan Ghani, Bu Fitri kembali menangis "Dewa... Kamu dimana Nak.. Lalu, yang Kami kuburkan itu siapa Nak Ghani" Bu Fitri menatap Ghani sambil terus menangis, tapi fikirannya langsung berkelana ke masa saat Dewa meninggal dan dikuburkan


"Saya akan mengaturnya Bu. Agar tau. Siapa sebenarnya orang yang telah dikubur"


-

__ADS_1


Sementara ditempat Dewa


Dewa duduk melamun menatap kaca jendela yang sengaja dibuka tirainya


Tiba-tiba


"Juragan, boleh Saya masuk??"


"Masuklah Rosid"


Rosid duduk didepan Dewa "Juragan, apa Juragan ingin sarapan sekarang??"


"Taruhlah dimeja, Rosid. Nanti kalau lapar, akan Aku makan"


"Baik, Juragan"


-


Sementara ditempat Naraya


Bu Fitri datang menjenguk Naraya


Bu Fitri tersenyum tipis tetapi banyak kesedihan didalam senyumnya


Bu Fitri mendekati Naraya kemudian memeluknya dan menangis "Maafkan Mama, Nak"


"Tidak perlu yang harus dimaafkan Ma. Semuanya sudah terlanjur, semuanya sudah berakhir"


Bu Fitri kembali memeluk Naraya. Menyesal Ia sungguh menyesal


Setelah keadaan Naraya dan Bu Fitri sedikit lega, Bu Fitri tersenyum "Sarapan ya, Kamu belum sarapan kan?"


Naraya mengangguk


Bu Fitri menyuapi "Dikunyah ya sayang" Bu Fitri mengingatkan


Dalam kunyahan, kembali Naraya meneteskan air mata. Susah, sangat susah sekali membuang jauh ingatan nya pada Dewa


-


Empat bulan telah berlalu


Perut Naraya semakin membesar


Diusia kandungannya yang menginjak ke usia tujuh bulan, Naraya masih tetap bekerja


Ghani sudah menerima kembali takdir yang sudah digariskan untuknya


Sah menjadi suami, tetapi sekalipun belum pernah merasakan artinya sebuah hubungan rumah tangga


Pagi hari seperti biasa, Ghani menunggu Naraya keluar dari rumah untuk berangkat bekerja dirumah sakit


Naraya berjalan kemudian duduk dijok depan sebelah kemudi


Ghani menutup pintu mobil setelah Naraya Masuk, kemudian memutari mobilnya dan masuk dijok miliknya "Sudah siap? Kita berangkat, ya?"


Naraya tersenyum tipis


Sekarang seluruh keluarga sudah tahu bahwa yang telah meninggal dan dikuburkan, adalah Puri. Paman Dewa, ayah dari Narendra


Lanjut ke Naraya


Ghani belajar menerima apapun resikonya


Setelah dirumah sakit, Ghani seperti biasa mengantarkan Naraya sampai ke kubikel tempat Naraya bekerja "Kalau perlu apa-apa, telpon ya?"


Naraya mengangguk


Kemudian Ghani mengusap pucuk kepala Naraya, dan berlalu


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2