
Dewa pergi meninggalkan kampung ini. Dia tidak ingin hidup diantara Palawi, Naraya dan juga Ibunya
Hancur sudah hati Dewa
-
Jam 03:00 dini hari
"Juragan... Betulkah ini Anda, Juragan" Suara Rosid sudah menggemah
Dewa menatap Rosid dalam diam
"Bapak-bapak !! Lihatlah !! Siapa yang datang. Juragan Kita datang !!" Rosid berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar para pekerja
Dewa tersenyum tipis kemudian berjalan menuju singgasananya
Dewa berhenti melangkah "Rosid, jika ada orang yang mencariku. Baik keluargaku, keluarga mantan istriku, jangan Kau bolehkan masuk"
"Mantan?? Mbak Nara, mantan?" Ucapnya kebingungan
"Iya. Jangan sebut nama Dia lagi. Dia sudah meninggalkanku" Kemudian Dewa masuk
"Juragan...???" Rosid melongo. Lalu memutar badannya
"Ada apa Bos. Juragan Kita datang??" Tanya salah satu pekerja yang memulai memadati rumah Dewa
Rosid mengangguk "Ayo, jangan ganggu Juragan. Sekarang istirahatlah. Sambung mimpi Kalian" Rosid menggiring seluruh anak buahnya agar masuk kekamar masing-masing
-
Sementara ditempat Nara
Nara akhirnya terbaring lemah dirumah sakit
Ghani yang baru mengetahui bahwa Nara tengah mengandung, hatinya menjadi sakit
Ghani terdiam kecewa
Ghani masuk keruangan rawat Naraya. Naraya meringkuk, Ghanipun tak banyak bicara
Ghani terduduk dari kejauhan sambil memegang pelipisnya "Jika tahu Kamu sedang hamil, Aku tidak akan melangkah sejauh ini untuk menikahimu"
Nara masih diam
"Jika Aku tahu bahwa Dewa adalah suamimu. Akupun tak akan menikah... "
Naraya terduduk "Kalau Pak Ghani merasa kecewa, ceraikan Aku sekarang juga"
Ghani terdiam. Menatap Naraya dengan perasaan campur aduk. Meluluhkan hati Naraya saja butuh perjuangan ekstra
"Aku tidak akan menceraikanmu sekarang. Makanlah kau butuh nutrisi. Karena ada nyawa yang harus kamu jaga"
"Aku.."
Tangan Ghani keatas menandakan Naraya untuk diam "Sejak pagi Kau belum makan. Aku tidak mau Kau jatuh sakit dan parah"
"Aku sudah sakit. Tak perlu Bapak repot untuk menyembuhkanku. Karena orang yang akan menyembuhkanku sudah pergi. Dan meninggalkan kesakitan lagi yang tambah menumpuk"
Ghani menatap Naraya "Kenapa Kamu memanggilku Bapak?"
"Karena Bapak adalah atasanku"
"Sejak kapan Kamu tau?"
"Sejak pesta. Pesta yang menyakitkan"
Ghani menghela nafas kemudian berjalan mendekati Nara. Mengambil selimut, kemudian mengangkatnya ingin menyelimuti Naraya
"Aku bisa sendiri. Jangan repot-repot" Tolak Naraya dan merebut selimut itu dari tangan Ghani
Ghani tetap membantu menyelimuti tubuh Naraya "Tidurlah. Jangan terbawa emosi. Ingat, ada nyawa yang bersemayam di perutmu"
__ADS_1
Ghani kembali melangkah. Menjauhi Naraya dan duduk disofa
Naraya menatap Ghani, Ghanipun sama
"Tidurlah. Aku lelah dan juga ngantuk" Kemudian Ghani merebahkan tubuhnya sambil bersedekap, lalu memejamkan matanya
-
Ditempat Palawi. Palawi menangis sejadi-jadinya
Keputusan Dewa yang meninggalkannya membuat Palawi putus asa
"Mas Dewaaa..."
Pagi harinya Palawi terduduk dibebatuan pinggir sungai dangkal yang biasa Palawi dan Dewa beristirahat disana
Palawi melamun dengan mata yang sembab
Biri-biri yang Ia ternak, berkeliaran kesana kemari
Kayu yang ada ditangan, tidak Ia gunakan untuk menggiring ternaknya. Melainkan mencoret-coret tanah yang berumput itu dengan acak
Kembali, Palawi menunduk dan terus berderai
-
Ditempat Naraya
Ghani melamun didalam kantornya
Sakit hati, Ia juga sangat sakit hati "Dewa ternyata suaminya Naraya?? Terus, yang katanya sudah meninggal dan dikuburkan itu siapa??" Fikiran Ghani berkeliaran dan melayang kemana-mana
Sedetik itu, Iapun langsung keluar dari ruangan dan pergi meninggalkan rumah sakit
Ghani segera menghubungi Bu Fitri "Ibu ada dirumah?" Tanyanya saat mobil yang akan Ia kendarai belum melaju
"Iya Nak Ghani, Ibu ada dirumah"
Beberapa menit, Ghani sudah sampai dikediaman Bu Fitri
Bu Fitri sudah rapih dan siap-siap ingin pergi
"Ibu mau kemana?" Ucap Ghani setelah mereka bersalaman
"Mau kerumah sakit menjenguk Nara" Jawabnya masih dengan wajah sembab "Nak Ghani.. " Panggil Bu Fitri yang sudah berkaca-kaca
Ghani menatap Bu Fitri
"Maafkan Ibu ya Nak? Ibu yang membuat kekacauan ini. Seharusnya Ibu bersabar dulu. Jangan buru-buru menikahkan kalian. Tanya Nara dulu baik-baik. Apa benar Dia sedang hamil atau bagaimana...."
"Naraya hamil Bu, Naraya hamil"
"Hamil?? Hamil anak??"
"Anaknya Dewa, cucu Ibu"
Bu Fitri kembali menangis
Ghani mendekati Bu Fitri kemudian memeluknya "Jangan menangis Bu. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Ghani janji Bu, tidak akan menggauli Naraya. Karena ladang itu masih milik orang lain. Orang yang dikira meninggal, ternyata masih hidup"
Mereka mengurai
Bu Fitri menatap Ghani. Mengusap lengannya "Kau pria yang baik, Ghani. Ibu merasa bersalah padamu"
Ghani menimpali tangan Bu Fitri. Kemudian memeluknya kembali
Didalam pelukan Ghani, Bu Fitri kembali menangis "Dewa... Kamu dimana Nak.. Lalu, yang Kami kuburkan itu siapa Nak Ghani" Bu Fitri menatap Ghani sambil terus menangis, tapi fikirannya langsung berkelana ke masa saat Dewa meninggal dan dikuburkan
"Saya akan mengaturnya Bu. Agar tau. Siapa sebenarnya orang yang telah dikubur"
-
__ADS_1
Sementara ditempat Dewa
Dewa duduk melamun menatap kaca jendela yang sengaja dibuka tirainya
Tiba-tiba
"Juragan, boleh Saya masuk??"
"Masuklah Rosid"
Rosid duduk didepan Dewa "Juragan, apa Juragan ingin sarapan sekarang??"
"Taruhlah dimeja, Rosid. Nanti kalau lapar, akan Aku makan"
"Baik, Juragan"
-
Sementara ditempat Naraya
Bu Fitri datang menjenguk Naraya
Bu Fitri tersenyum tipis tetapi banyak kesedihan didalam senyumnya
Bu Fitri mendekati Naraya kemudian memeluknya dan menangis "Maafkan Mama, Nak"
"Tidak perlu yang harus dimaafkan Ma. Semuanya sudah terlanjur, semuanya sudah berakhir"
Bu Fitri kembali memeluk Naraya. Menyesal Ia sungguh menyesal
Setelah keadaan Naraya dan Bu Fitri sedikit lega, Bu Fitri tersenyum "Sarapan ya, Kamu belum sarapan kan?"
Naraya mengangguk
Bu Fitri menyuapi "Dikunyah ya sayang" Bu Fitri mengingatkan
Dalam kunyahan, kembali Naraya meneteskan air mata. Susah, sangat susah sekali membuang jauh ingatan nya pada Dewa
-
Empat bulan telah berlalu
Perut Naraya semakin membesar
Diusia kandungannya yang menginjak ke usia tujuh bulan, Naraya masih tetap bekerja
Ghani sudah menerima kembali takdir yang sudah digariskan untuknya
Sah menjadi suami, tetapi sekalipun belum pernah merasakan artinya sebuah hubungan rumah tangga
Pagi hari seperti biasa, Ghani menunggu Naraya keluar dari rumah untuk berangkat bekerja dirumah sakit
Naraya berjalan kemudian duduk dijok depan sebelah kemudi
Ghani menutup pintu mobil setelah Naraya Masuk, kemudian memutari mobilnya dan masuk dijok miliknya "Sudah siap? Kita berangkat, ya?"
Naraya tersenyum tipis
Sekarang seluruh keluarga sudah tahu bahwa yang telah meninggal dan dikuburkan, adalah Puri. Paman Dewa, ayah dari Narendra
Lanjut ke Naraya
Ghani belajar menerima apapun resikonya
Setelah dirumah sakit, Ghani seperti biasa mengantarkan Naraya sampai ke kubikel tempat Naraya bekerja "Kalau perlu apa-apa, telpon ya?"
Naraya mengangguk
Kemudian Ghani mengusap pucuk kepala Naraya, dan berlalu
BERSAMBUNG....
__ADS_1