
"Ada apa sayang..."
"Juna takut tidur sendirian"
"Lah, kan ini siang. Masa takut" Naraya menggandeng Juna
Juna geleng-geleng "Nggak mau. Juna ingin Mama dan Papa"
Dewa langsung meraih Juna kegendongan "Ganti baju ya? Kita mau jalan-jalan"
Juna langsung berbinar "Benarkah, Pa?"
Dewa mengangguk
"Yeeeeeaah Juna akan jalan-jalan" Ucapnya sambil mengepalkan tangan bersemangat
-
Akhirnya Rumah Ibu Fitri kembali sepi. Setelah Ghani pulang, Pak Raden dan Bu Winda juga ikut pulang. Dan selang beberapa hari, Dewapun harus pulang kekampung, untuk menjalankan bisnisnya yang kian melambung
Kedatangan Ghani datang ke pernikahan Dewa dan Naraya, karena diundang oleh Bu Fitri. Bagaimanapun, Ghani telah Bu Fitri anggap seperti anaknya sendiri. Dan Ghanipun demikian. Meskipun pernah sakit hati karena dicampakkan oleh Naraya, Ghani tetaplah Ghani. Pria yang tegar
Hanya saja, sampai sekarang belum menemukan jodohnya lagi
Ka si han
-
Beberapa bulan kemudian
Tiba-tiba Ghani datang meminta bilyet cerai pada Bu Fitri
Bu Fitri langsung berbinar senang "Apa Kau akan segera menikah, Nak?"
"Insha Allah, Ma"
"Mana calonmu" Bu Fitri melongok kebelakang Ghani
"Ghani nggak ajak Dia, Ma"
"Kenapa nggak diajak"
"Anaknya pemalu. Jadi belum siap untuk bertemu Mama katanya"
"Ish. Dia bukan malu. Tapi takut kali"
"Ah, enggak Ma. Anaknya memang pemalu"
-
Bulan berikutnya, Ghani kembali bertandang ke rumah Bu Fitri. Kali ini tidak sendirian, melainkan membawa calon istrinya
"Ini calon mu Ghani?" Bu Fitri menatapnya kemudian berbisik pada Ghani "Bocah banget Ghani. Bener nih, Kamu nggak maksa"
Ghani mengangguk kecil
"Kamu kenal dimana?" Masih berbisik
"Di pengadilan"
"What??!" Bu Fitri terlonjak mendengar jawaban Ghani "Maksudnya??"
__ADS_1
"Dia seorang janda Ma"
"Janda?? Janda lagi? Nggak bohong Kamu?"
Ghani kembali mengangguk
"Lagi hamil nggak?? Maksud Mama, jangan ulangi seperti dulu. Mama kasihan padamu. Kamu sudah terlalu tua kalau nunggu-nunggu seperti dulu"
Ghani tersenyum "Dia janda kembang, Ma. Jadi Ghani rasa, Dia nggak lagi hamil"
"Mudah-mudahan ya Ghan"
Ghani mengangguk pelan
"Ghani" Bisik Bu Fitri lagi. Padahal, antara Bu Fitri dan calon Ghani belum berkenalan
"Iya Ma" Telinga Ghani sudah dimiringkan kearah mulut Bu Fitri
"Kenapa Kamu carinya janda. Nggak perawan. Perawan kan banyak"
"Mungkin jodohnya Ghani, Ma"
"Ya sudahlah. Semoga Kalian bahagia. Itu doa Mama untukmu"
"Iya Ma. Makasih doanya. Oh iya Ma, ini sedari tadi Kami nggak disuruh duduk Ma"
Sontak Bu Fitri malu "Ah kau ini. Ya sudah masuk sini. Silahkan duduk"
Ghani tertawa "Nggak ingin kenalan juga Ma" Goda Ghani lagi
Bu Fitri kembali malu "Kamu ah"
"Namanya Alisha, Ma" Ghani menoleh kearah Alisha "Alisha, ini Mama angkatku. Mama Fitri namanya"
Seperti biasa, Pak Yudha jarang dirumah dan selalu masih dikantornya
"Papa Yudha sepi, masih dikantor ya Ma?" Tanya Ghani
"Iyalah. Apalagi belum ada penerusnya. Dewa belum mau menggantikannya. Dewa lebih suka urus perkebunan dari pada kantor papanya"
Setelah berbincang-bincang panjang dan lebar, Ghanipun memberi tau tentang kedatangannya kemari "Ma, Kami akan segera menikah. Ghani harap, Mama dan keluarga besar Mama bisa datang"
"Kamu undang Dewa dan Naraya?"
"Undang Ma. Tapi via telepon"
"Oh.. Insha Allah, Mama hadir diacaramu, ya. Oiya, Ibu Bapaknya Naraya, diundang juga nggak? Kamu pernah jadi menantunya looh" Goda Bu Fitri gantian
"Undang Ma. Katanya akan diusahakan hadir"
"Oh" Bu Fitri manggut-manggut "Ghan, Mama sudah tidak sabar Kamu naik ke pelaminan, beneran"
"Mama kok bilang gitu"
"Ya Kamu kebangetan. Umur 35 masih aja melajang"
"Ini mau menikah Ma, seminggu lagi"
"Pokoknya, Mama akan datang" Ucapnya bersemangat
"Siap Ma. Ini undangannya untuk Mama. Jangan lupa, bawa pasangan" Ghani kembali tertawa, pasalnya undangan yang diberikan Bu Fitri tidak dikasih nama. Kemudian Ghani menariknya lagi undangan tersebut
__ADS_1
"Kenapa ditarik. Mama nggak jadi diundang nih" Protes Bu Fitri
"Mama datang saja kerumah, nanti ketempat resepsinya bareng Ghani. Masak Mamanya yang datang ke pernikahan anaknya telat. Sama aja Ghani hidup sendiri kalau Mama datangnya terlambat"
Bu Fitri menabok lengan Ghani "Kamu ini. Dari tadi godain Mama mulu. Ya jelas, Mama ingin datang sebelum hari H. Mama ingin nginep dirumahmu"
-
Hari yang dinanti oleh keluarga Pak Yudha dan Bu Fitri kini sudah tiba waktunya.
Mereka terlihat kompak dengan memakai baju yang sudah disiapkan Ghani sebelumnya
Bu Fitri dan Pak Yudha menepati janjinya. Mereka telah menginap di rumah Ghani. Sedangkan Ibu Winda, Pak Raden, Naraya, Dewa dan juga Juna, Mereka memilih menginap dihotel
Meskipun hati Naraya merasa tidak enak dengan undangan pernikahan ini, tetapi kedua orangtuanya dan juga mertuanya meminta Naraya untuk ikut serta menghadiri pernikahan Ghani, mantan suami Naraya
Juna mendongak "Ma, kenapa baju Kita sama. Kita mau kemana?" Tanya Juna penasaran
Naraya sebisa mungkin untuk tidak memperlihatkannya ketidak enakan pada orang lain "Kita mau ketempatnya Papi"
"Papi? Papi Ghani?" Tanyanya lagi
"Iya. Papi Ghani mau nikah" Jelas Naraya lagi
"Pengantin? Seperti Mama dan Papa dulu?"
"Iya"
"Oh.. Mama, Mama. Juna sudah tidak sabar ingin lihat"
Naraya mengangguk. Kemudian kelima anggota keluarga ini masuk ke dalam hotel yang sama, yang disewa Ghani untuk acara pernikahannya
-
Akad nikah berjalan dengan lancar tanpa ada kendala sedikit pun
Ghani dan Alisha kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri
Mereka saling bertukar cincin dan tersenyum pada kamera yang siap mengabadikan momen kebahagiaan itu.
Ghani terlihat tampak gagah dengan baju pengantinnya. Begitupun dengan Alisha yang menggunakan gaun pengantin
Meskipun usia mereka terpaut jauh, Ghani tidak begitu kentara soal usia
Yah, usia mereka terpaut 16 tahun
Ghani berusia 35 tahun, sedangkan Alisha masih berusia 19 tahun
"Naraya sini! Kita buat foto bersama" Ajak Ibu Fitri yang sudah dipajang sebelumnya sebagai orang tua Ghani
"Nggak usah Mah ! Ini Ibu saja" tolak Naraya sambil mendorong pelan Ibunya
"Eh, disuruh foto kok.. Naik yuk ah" Bu Winda dan Pak Raden sudah naik ke pelaminan
"Ayo sebentar saja, Kita buat foto keluarga" Bu Fitri ingin turun dari panggung "Sama Kalian. Dewa! Juna! Sini naik sayang. Naraya! Naik. Ibumu juga sudah naik nih" Bu Fitri terus merayunya
"Mama, ayo naik" Rayu Juna
Mau tidak mau, Naraya akhirnya berjalan menuju ke pelaminan
__ADS_1
Nebeng iklan ya gaissss... Author ingin kisah Om Ghani diangkat ke permukaan hehe.. Tapi entah kapan. Soalnya belum terfikirkan kisahnya bagaimana. Hanya judul yang ada diangan-angan. Selanjutnya tangan ini yang bergerak
BERSAMBUNG....