Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Melihat


__ADS_3

Nara pulang kerumah diantar oleh Ghani


Disepanjang perjalanan, Mereka hanya terdiam


Kepingan puzzle kebahagiaan Nara dan Dewa mulai menyatu. Tetapi ketika teringat kejadian yang tadi, hati Naraya kembali mendidih saat teringat pada si wanita yang mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh Dewa masuk kerumah sakit


"Ehem, Naraya.." Ghani berdehem


Lamunan Naraya bubar. Naraya menghela nafas. Kemudian menoleh pada Ghani sekejab "Iya" Naraya buru-buru menghapus air matanya yang sempat meleleh


Ghani pura-pura tersenyum "Lihat para pedagang. Apa ada yang mau kamu inginkan ?" Tawar Ghani lembut


Disepanjang jalan yang mereka lewati, para pedagang mulai berjajaran menata barang dagangannya


Seperti biasa Ghani selalu menawarkan keinginan Naraya sebelum pulang


"Naraya, Naraya ingin beli apa?" Tawarnya lagi


Naraya masih fokus mengabsen ke para penjual kaki lima yang menjajakan berbagai kuliner yang menarik perhatiannya "Sate. Aku ingin sate kambing muda yang pedaaasss"


"Mana. Dimana satenya" Ghani ikut mencarinya


"Itu barusan yang sudah kelewat" Kata Naraya yang sedikit kecewa


"Kalau cari didepan, mau?"


Nara menggeleng "Aku maunya yang tadi. Yang sampingnya kedai kue kamir"


"Baiklah, Kita turun disini saja ya? Kesananya Kita jalan kaki sebentar"


Nara hanya menolehnya. Tetapi kedua tangannya sibuk dengan sabuk pengamannya lalu membukanya


Ghani menepikan mobilnya untuk diparkirkan


Begitu Ghani turun, Iapun segera keluar memutari mobil dan menunggu Naraya turun. Setelah Naraya turun, mereka pun bergegas menuju ke kedai yang berjualan sate kambing muda keinginan Naraya


-


Malam ini, Naraya makan sate beserta lontongnya terlihat menikmati


Tetapi yang menjadi Ghani teriris, model makannya langsung telan


"Naraya, Kenapa makannya nggak dikunyah. Nggak takut nanti sakit perut?" Tanya Ghani dengan hati-hati


Nara menatap Ghani kemudian mengusap air matanya cepat


Lagi-lagi Naraya menangis


Ghani mengusap air mata yang telah menetes dipipi Naraya


Ghani tersenyum tipis "Apa ada kataku, yang menyakitimu ?"


Naraya menggeleng "Maafkan Aku, Aku merepotkanmu"


Ghani tersenyum Kemudian mengusap kepala Nara "Tidak perlu yang mau di maafkan. Kamu tidak bersalah"


Setelah drama makan sate usai, keduanya kembali lagi menaiki mobil


-


Sementara ditempat Dewa


Malam ini, ternyata Dewa harus dirawat dirumah sakit karena kekurangan cairan

__ADS_1


Palawi yang begitu khawatir, akhirnya tidak tega dan membawa Dewa kerumah sakit


Palawi tersenyum manis saat Dewa berbaring ingin beristirahat


"Palawi, Aku merepotkan mu" Ujar Dewa tak enak hati


Tak sengaja Palawi mengusap lengan Dewa "Tidak. Yang penting Mas Dewa sehat"


"Uangmu pasti terkuras habis, Palawi"


"Kita kan habis bayaran bulu-bulu domba. Tidak apa-apa Mas Dewa. asal Mas Dewa sehat lagi, Aku akan bahagia sekali"


Tangan Dewa terangkat mengusap rambut Palawi yang legam, tebal dan panjang


'Kulit Palawi hitam manis. Tapi ternyata, dilihat dari dekat, menarik juga' Senyum Dewa berangsur memudar kala teringat dengan Nara istrinya 'Nara, kenapa Kita jadi berpisah begini'


Beberapa menit berlalu


"Mas Dewa. Mas Dewa kenapa tidak tidur"


"Aku belum bisa tidur. Aku teringat kedua orangtuaku dan juga..." Ucapan Dewa menggantung


"Dan juga siapa, Mas ?"


"Kapan-kapan Aku ingin pulang, Aku ingin sehat" Jawaban yang kurang sinkron membuat Palawi terdiam


"Mas Dewa ingin meninggalkan, Aku?" Ucapnya sendu


Dewa menatap Palawi berubah murung "Palawi, Aku tidak ingin terlalu lama merepotkanmu. Jika nanti Aku pulang kekota, Aku akan mengembalikan seluruh uang yang Aku pakai selama Aku bersama dirimu"


"Tetapi Aku tidak meminjamkan. Kau tidak perlu membayarnya" Palawi bersedekap kecewa


Dewa meraih tangan Palawi yang menyusup didalam dekapan "Palawi.."


-


Pagi harinya


Keadaan Dewa sudah membaik. Tak ada penyakit yang serius setelah pemeriksaan terakhir


Diagnosa dokter mengatakan bahwa Dewa kecapaian


-


Naraya sudah bertugas kembali didepan komputer bersama Ruth dan juga Riska


Tiba-tiba


"Selamat siang Mbak"


Naraya mendongak "Selamat siang Mbak. Apakah ada yang bisa Saya bantu?" Jawab Naraya ramah "Silakan duduk"


Gadis itupun mulai duduk "Begini Mbak, Saya ingin menanyakan tentang biaya. Kira-kira biaya rumah sakit atas nama Dewa Palawi berapa ya?"


Naraya mengangguk "Baik, Mbak. Sebentar ya?"


Naraya mengetik nama Dewa. Begitu nama tersebut muncul, hati Naraya kembali teringat dengan Dewa. Tapi rasa itu langsung Ia buang karena nama yang tertera bukan nama suaminya. Melainkan Dewa Palawi


Waktu dipendaftaran kemarin, Dewa tidak mencantumkan identitas diri karena hilang. Jadi demi kebaikan, rumah sakit akhirnya memberikan solusi, agar mencatat nama pasien dan nama pasangannya agar pasien segera ditindak lanjuti


"Iya"


Setelah beberapa menit, munculah tagihan atas nama pasien yang disebutkan tadi

__ADS_1


"Dua juta seratus sebelas ribu rupiah"


"Baik, mbak" Gadis itu segera mengambil uangnya yang berada dikantungnya


Naraya sedikit mengernyitkan dahi


Kenapa tempatnya aneh. Bukan ditempatkan didompet atau tas, melainkan kantung berwarna putih yang tidak memakai resleting, melainkan sebuah tali yang ditarik


"Ini Mbak" Gadis itu menyerahkan dua gulungan uang yang terikat karet, dan menarik beberapa lembar uang bernominal kecil


Naraya menerimanya "Saya hitung ulang ya, Mbak?"


Gadis itu mengangguk dan tersenyum "Iya, Mbak"


Uang kriting yang bergulung itu akhirnya berhasil diluruskan oleh Nara "Iya Mbak. Uangnya pas. Tapi sebentar ya Mbak, obat-obatan untuk pasien belum siap. Mbak bisa tunggu diruangan lagi. Jika sudah siap, Kami akan antarkan kesana, keruangan pasien"


Gadis itu mengangguk faham "Kalau begitu, makasih Mbak "


"Sama-sama"


-


Naraya sudah siap dengan obat-obatan yang akan Ia berikan pada pasien yang akan pulang ke bagian perawat yang punya bagian menjemput dan mengantarkan pasien saat pasien masuk kekamar rawat inap, atau mengantarkan pasien pulang, sampai dilobby depan


Tetapi begitu Naraya sampai dikubikel khusus perawat jaga, disana tidak ada orang satupun "Kemana ini Mbak Diah dan Mbak Dian"


"Cari siapa Mbak Nara?" Tiba-tiba ada suara yang sudah tidak asing dibagian ini


"Eh Mbak Dian. Aku mencari Mbak Diah sama Mbak Dian"


"Oh, Aku mau mengantar pasien pulang yang ada di ruang Akasia"


"Kalau Mbak Diah ?"


"Mbak Diah juga sama. Sedang mengantarkan pasien yang pulang barusan"


"Oh.. Barusan"


"Iya"


"Terus gimana ini, Mbak Dian"


Dian juga masih memegang kursi roda "Tunggu aja bentar. Sudah ya, Aku juga akan mengantarkan pasien"


Seperti biasa. Rumah sakit ini ramai. Ada yang masuk, ada pula yang keluar


Saat Naraya bingung, Diahpun datang masih dengan kursi rodanya


"Mbak Diah, pasien dikamar bugenvil nomor 3, hari ini pulang. Ini obatnya" Naraya menyerahkan tas spoonbond yang berisi kertas tanda lunas dan juga obat-obatan pasien


"Oh, oke"


Merekapun berpisah. Diah pergi kekamar pasien, Naraya pergi ke toilet


Saat Naraya sudah keluar dari toilet, samar-samar mendengar percakapan antara pria dan wanita


"Suara itu" Naraya menoleh ke sumber suara


"Mas Dewa.. Itu Mas Dewa kan??"


Naraya menutup mulutnya. Kemudian luruh dibelakang kubikel milik para perawat jaga yang memanjang itu


"Naraya"

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2