
Pagi dihari minggu
Seluruh warga berbondong-bondong dan berderet-deret dipematang sawah, menyaksikan bahwa sawah-sawah mereka yang dulunya tak ada aktifitas karena tergenang banjir, kini setelah digenggam oleh sang Juragan mulai terlihat kering dari air asin.
Terlihat dari kejauhan, air sedotan dari laut mulai kelaut lagi lewat bentengan buatan dari selah-selah tumpukan kantung berisikan pasir yang sengaja ditumpuk disepanjang bibiran sungai sembilang menuju kepusara laut, tentunya air tersebut mulai kembali mengalir kelaut, sedangkan pasirnya tentulah akan tersisa didaratan
Seminggu telah berlalu. sawah-sawah yang kemarin sempat menjadi penampungan air laut, kini sudah terlihat kering dari air, menyisahkan gunungan pasir-pasir halus dari dasar lautan
Para warga yang tadinya geram dengan aksi Juragan, kini lebih dari separuh warga mulai merasa kagum dengan kerja Juragan
"Oh... Seperti ini to maksudnya???" Komentar warga yang sedang berdiri dibentengan sawah sambil manggut-manggut melipat tangannya kebelakang
"Seperti apa maksudmu, War?"
"Ini loh Kang, maksud rapat kepala desa dulu itu seperti ini" Ucap Warnad sambil menunjuk gunungan pasir "Dulu si Juragan ingin nguras laut disini itu Aku ingin ngakak, Kang. Suwer. Ternyata begini" Sambung Pria jangkung yang belum tau seluk beluk pertanian, namun hobbynya mancing dan mancing kepiting tiap malamnya
"Laiya War, Juragan itu menguras lautan, bukan hanya airnya yang mereka kuras. Melainkan menggalih pasirnya juga. Jika dengan cangkul atau alat berat, hasilnya tidak sesempurnya ini"
"Oh.. Kirain itu, kemarin rumah Kita mau ditenggelemin sama mereka, Pak. Ternyata maksudnya seperti ini to" Saut pemuda lain kawan Warnad
"La yoiyo to. Kalian itu gimana sih. Harusnya, pemuda macam kalianlah sebagai warga, yang harus memikirkan musibah roob ini. Eh, malah wajahmu masih terlihat wajah bantal gitu jam segini"
"Ya kan, mau ngapain lagi Kang. Mancing semalem udah. Bayaran juga udah. Istirahat dong"
Kang Urip hanya geleng-geleng
"Sebenere Aku masih ngantuk, Lek. Berhubung suara warga seperti dengungan tawon, Aku jadi terbangun dan keluar dari rumah, penasaran Aku Lek"
Kang Urip tersenyum "Dari awal tanah warga ini mau disewah semuanya oleh Juragan, Aku sempat mikir, opo nggak rugi. Tetapi karena dibalai desa dulu pernah memberi wacana begini prosesnya, Aku mulai yakin Bur, War. Aku yakin sekali, Juragan akan berhasil"
Subur dan Warnad manggut-manggut
"Kira-kira gunungan pasir itu mau dibikin apa ya, Lek. Apa dijual lagi, gitu?"
"Mau buat apa? Rumahmu? Sana biar cepat ambruk"
"Lah.. Terus mereka rugi dong kalau ditumpuk-tumpuk begitu saja"
"Rugi gundulmu. Gini ya, Bur. Pasir laut itu sangat cocok dengan tanaman bunga melati. Hasilnya bagus. Cocok juga dengan tanaman palawija lainnya. Kalau luasan tanah ini ditanam tanaman tersebut, hasilnya luar biasa"
"Ho-oh to. La terus, ini kan sawah Lek, bukan kembangan. Apa sawahnya mau ditanami kembang semua. Padinya piye, Lek"
"Ini kan tanggung jawab Juragan. Mau ditanam apa, urusan juragan. Yang terpenting biar tidak banjir itu caranya seperti ini dulu. Sudahlah. Urusan pekerjaan, itu serahkan pada Juragan. Antara Kami dengan Juragan, sudah ada kesepakatan kok hitam diatas putih. Cara Juragan untuk memberantas kebanjiran saja sudah bikin adem atiku, Bur"
Warnad dan Subur manggut-manggut lagi
"Lagian, desa lainkan juga mulai banyak tu, sawah mereka yang telah mengering akibat dampak ini. Berarti sawah mereka masih berwujud sawah kan? Dan suatu saat nanti, bisa lagi tu ditanami padi kembali"
"Oh, betul betul betul"
"Kalau sawah yang ini jadi daratan semuanya, bagiku tak ada masalah, Bur, War. Toh Kita ini masih bisa makan beras kan walaupun tak punya sawah"
"Nasi, Lek"
"Nasi, Kang"
__ADS_1
Diucap bersamaan oleh Subur dan Warnad
"Iya, maksudku gitu. Dasar, persis orang Kaso Kalian. Selalu nyo'al"
Kampung ini memang dikatakan daerah pesisir. Tetapi sebenarnya, lautan itu jaraknya masih berkilo-kilo meter dari pemukiman rumah warga. Jauh bukan??
Dari jarak tersebut, terdapat hamparan sawah yang sangat luas. Kemudian, disusul dengan deretan perkebunan yang diduga bekas puing-puing tanaman bunga melati yang telah mengering, namun ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya
Jumlahnyapun tak terkira luasnya dari sawah-sawah yang mereka punya
-
Didekat lautan
"Datangkan alat berat !! Dan ratakan pasirnya !!"
"Siap Juragan"
-
Alat berat yang Juragan perintahkan, hanya beberapa jam sudah didatangkan beberapa unit
Alat tersebut datang dan ditempatkan dibeberapa titik gunungan pasir
Pasir yang menggunung dimana-mana mulai diratakan.
Disisi lain mengerjakan ini dan itu, beberapa orang mulai mengebor tanah untuk pembuatan sumur, bermaksud untuk pengairan kelak
"Tanya sama warga. Siapa diantara mereka, yang mau bekerja sama Kita"
"Maksudku ya itu. Gimana sih"
"Ya, nggak ditanya satu-satu kali, Juragan"
"Eh, Sini itu kampung. Kampung Sid"
"Ngerti Juragan. Saya faham"
"Faham kok protes"
"Maksud Saya kan Kita tinggal nempelin saja lowongan pekerjaan. Gitu maksudnya, Juragan"
"Yaudah sana kekota. Photocopy yang banyak"
"Lah"
"Bingung 'kan"
Rosid terdiam sambil berfikir "Iya juga ya Juragan. Repot"
"Nah. Itu tahu. Besok Kamu sarapan aja kewarung. Ngobrol tu sama warga. Mau nggak mereka kerja sama ma Kita"
"Siap, Juragan laksanakan"
-
__ADS_1
Pagi harinya, Juragan berdiri sambil menyaksikan beberapa orang sedang menurunkan bibit-bibit melati unggul yang sedang diturunkan dari truk
Rosid berlari menuju sang Juragan setelah sarapan tadi
"Juragan"
"Gimana Sid ?"
"Belum ada jawaban dari mereka, Juragan"
Krisna menoleh "Kenapa. Mereka terlihat enggan menanggapi?"
"Entahlah Juragan. Wajah mereka bener-bener bikin mood Saya rusak"
Krisna tersenyum
"Reaksi warga malah banyak yang mencibir aksi Juragan" Sambungnya kemudian
Krisna langsung bersikap dingin "Biarin. Yang mau kerja, Kita tarik jadi karyawan tetap. Yang tidak mau, Kita biarkan saja"
"Siap, Juragan"
-
Disisi lain
"Pak....!! Bapak...!!"
"Opo to Nduk. Teriak-teriak"
"Motorku bocor Pak. Anterin"
Pak Raden langsung melipat koran yang barusan Ia baca. Kemudian berdiri sambil membenahi sarungnya, lalu berjalan menuju belakang "Suaib..!! Suaib..!!" Teriaknya kemudian berbelok. Lagi-lagi sarung yang Pak Raden pakai ingin melorot dari perutnya
"Kok manggilin Lek Suaib, Pak. Bukannya Bapak saja yang ganti baju terus antar Nara"
"Bapak lagi malas"
"Tuh 'kan"
"Sudah. Yang penting ada yang anter"
Nara mulai ditekuk wajahnya
"Nggak usah ditekuk gitu wajahnya to Nduk. Bikin Bapak sumpek aja lihatnya"
"Bapak sih. Terus pulangnya? Masih Lek Suaib juga yang jemput?"
"Ntar Bapak yang jemput. Kebetulan Bapak ingin ke Pekalongan"
Nara manggut-manggut "Okelah, Pak. Nara tunggu ya Pak"
"Sipp" Pak Raden memberikan jempolnya pada Nara
BERSAMBUNG.....
__ADS_1