
Beberapa bulan kemudian
"Mas Dewa sayang... Happy anniversary my Hubby" Ucap Naraya dan dengan lembut Ia mengecup bibir suaminya
Dewa terbangun sambil mengerjap-ngerjap matanya karena silau "Pagi sayang"
Naraya tersenyum manis didepan suaminya. Sesekali tangan mengusap perutnya yang sedikit membuncit
Dewa menumpuki tangan Naraya yang ada diperut istrinya
Dewa mengecup perut buncit Naraya "Sayang, apa kabar anak Papa" Kemudian tangan Dewa mengambil handuk kecil yang melilit dikepala Naraya
Rambut semi basah Naraya menjuntai kebawah, membuat Dewa terpesona dengan penampilan yang menggoda. Dewa mencium leher Naraya "Pagi-pagi sudah wangi. Bikin Aku tergoda lagi. Sengaja ya?" Bisiknya dekat dicuping Naraya
"Ih, Mas Dewa. Perut ku sudah jendol susah ah. Sesak" Tolaknya saat Dewa memeluk Naraya erat
Dewa terus mencumbu Naraya "Tadi bilang apa? Jendol?" Dewa melerai pelukannya
"Sudahlah! Apakah ini penting?" tukas Naraya kemudian berdiri
"Hei, itu penting. Yang bikin jendol perutmu itu ini" Tunjuknya pada selang kangan miliknya
Wanita itu mendengus kesal "Ish, sudah bangun!! Ntar Juna nangis dan nyambangin kesini"
"Ya biarin kesini"
"Tapi Mas masih telan jang. Bangun ah"
Dewa malah santai merebahkan tubuhnya dan memegang kepunyaannya yang langsung berdiri dibalik selimut
"Ih, Kenapa sih. Jika dibangunin orangnya, itunya juga ikut bangun"
"Inikan karena Kamu sayang"
"Mas! Udah!" Naraya menghempaskan tangan Dewa yang masih mengelus-elus senjatanya tadi
"Kenapa sih. Lihat" Dewa membuka selimutnya. Dan benar, tonjolan itu terlihat kokoh dan terlihat menyembul keluar
Naraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Mas tidak pernah mau belajar untuk mencintaiku?"
Dewa langsung bangkit "Loh, apa-apaan nggak mencintai. Ngapain kalau nggak cinta Aku sampai nguber-nguber Kamu. Enak aja"
Naraya membuka wajahnya "Habis, Mas Dewa selalu minta jatah lebih. Padahal perutku udah buncit. Susah" Lalu, Naraya tersenyum kemudian mendekat "Ih Mas Dewa bau. Bau iler sama lendir" Godanya sambil berlari kabur
Dewa langsung menangkap "Jangan sering-sering lari"
Naraya sudah kelabakan karena tertangkap oleh Dewa
Wajah Naraya sekarang agak tembem mungkin efek ibu hamil
Dewa mencubit pipi Naraya gemas "Kalau tidak ingat waktu, sudah kulucuti lagi bajumu"
"Ih takut, nggak mau. Ngganjel, susah"
"Ngganjel juga enak"
"Mas" Pekiknya
Saat mereka berdua sedang saling berpelukan seperti ingin berkelahi, Juna datang sambil membuka pintu
"Papa... Papa apakan Mama" Juna langsung memukul Dewa yang hanya mengenakan boxer ketat
"Waduh waduh waduh" Dewa langsung kabur kekamar mandi sambil menutupi cucak rowonya yang menegang sempurna dibalik boxernya
Naraya mematung saat menatap Juna yang kebingungan melihat aksi papanya yang tidak memakai baju
Juna berbelok mendekati Naraya "Mama nggak diapa-apain Papa kan, Ma?"
Naraya menggeleng cepat
__ADS_1
Juna memutari Naraya yang sudah seperti patung "Papa tidak sopan ya Ma? Mama benar tidak diapa-apain Papa?" Juna terus membrondongi pertanyaan itu pada ibunya "Papa kok bisa telanjang gitu, Ma. Nggak sopan" Gerutunya membuat hati Naraya geli campur berdesir
"Mama, Mama..."
"Hmm"
"Tadi yang diumpetin Papa ditangan apaan?"
Waduh!! Tuh kan, Junaaaaa
Tiba-tiba
"Sayaaaaang!!! Handukku ketinggalaaaaan!!" Teriak Dewa dari dalam kamar mandi
Naraya membungkuk "Juna, Juna. Sekarang, Juna keluar ya, sepertinya Papa butuh pertolongan"
"Juna juga ingin ikut menolong Papa, Ma"
"Anak kecil kurang kuat. Jadi, Juna keluar dulu. Main sama Karan dan Rohid. Sepertinya Rohid sudah menunggumu diluar"
"Sayaaaaaang!! Handuuuuukkk!!" Teriakan Dewa kembali menggemah lagi
"Iya bentar"
Juna masih terdiam
"Eh, kenapa diam. Sudah sana" Usir Naraya
Naraya sudah mengunci pintu kamarnya setelah berhasil mengusir Putranya
Setelah dirasa aman, Naraya berjalan dan mengetok pintu kamar mandi. Dan benar, Dewa menarik tangannya
"Mas Dewa!! Untung felling ku benar, jika Mas Dewa pasti masih buka-bukaan seperti itu"
Dewa tidak menggubris ucapan Naraya. Ia justru memeluk Naraya "Main yuk"
"Mas!! Ini busa saja masih nempel dirambut. Rambutku juga belum kering. Kenapa seneng banget bikin istrinya basah melulu"
Akhirnya, basahpun tak bisa dielakkan
-
Dewa dan Naraya sedang bersarapan diteras depan rumahnya
Dirumah panggung ini, sangat asri dan nyaman. Apalagi pohon cemara yang cantik menghiasi seluruh halaman rumah ini
Adeeeemmm
Seperti biasa, Juna dan beberapa anak-anak lainnya sedang bermain lompat tali didepan rumah Dewa
Hari libur sekolah ini, anak-anak para pekerja semuanya berkumpul. Ada yang main ayunan, masak-masakan. Membuat betah meskipun tinggal dikampung pesisir pantai ini
"Junaaaa.. Makan dulu nak" Teriak Naraya
Juna sudah dadah-dadah menolak
"Nanti lapar loh, sakit perutnya"
"Juna sudah makan bareng Kami, Mama Jun" Saut Karan yang sedang memegang jagung rebus
"Makan jagung rebus? Dapat darimana?" Dewa turun dari rumahnya
"Itu, Mbak Mina yang masak" Tunjuk Rohid pada Mina yang sibuk menguliti daun pembungkus jagung agar lebih tipis
Dewa mendekat "Kamu beli, Min?"
"Eh, enggak Juragan. Ini Bapak yang manen"
"Dimana?"
__ADS_1
"Dibelakang kandang domba, Juragan"
Dewa manggut-manggut
Rupanya, Dewa baru tau kalau pekerjanya itu benar-benar rajin
Apapun hasil bumi yang mereka tanam, semuanya dimakan bersama.
Dewa hanya fokus pada bunga melatinya. Singkong, pisang, pepaya, semuanya untuk konsumsi bersama
Anak-anak tak pernah jajan diluar, kecuali jika mereka diajak oleh Dewa, untuk menemani Putranya jalan-jalan
Dari kejauhan seorang pria membawa sayur-sayuran, menuju ke dapur umum
"Bapak...." Rohid berlari "Bapak bawa apa?"
"Daun singkong, sama singkongnya"
"Ya...." Rohid terlihat kecewa "Pepayanya belum masak juga, Pak?"
"Belum"
"Hmm" Rohid lesuh
"Sudah. Nanti Mbak Sum akan buatkan kue. Kamu sabar ya. Sana, bermain lagi"
Rohidpun kembali bermain
-
Siangpun tiba
Sum istrinya Rosid, paling ahli membuat berbagai macam kue dan aneka masakan
Dibantu Mina, Sumipun beraksi dan berhasil membuat kue sentiling
"Kue-kue !!" Dengan perut besar, Sumi mengangkat kue dan meletakkannya dimeja Dewa. Selebihnya, Ia taruh dirumah panggung yang biasa Ia meletakkan makanan yang sudah dimasak
"Mbak Sumiiiiii... Aku mau coba"
Sumi menoleh. Jangan banyak-banyak ya, Kalian belum makan siang"
Semuanya mengangguk
Rosid datang "Bikin apa?"
"Sentiling, Mas. Mas mau?"
"Iya" Rosid mengambil kue tersebut diatas daun pisang
Seperti biasa, Rosid masuk kekamarnya
Rosid sudah merebahkan tubuhnya dan menonton televisi
Sumi masuk membawa makanan diatas baki
Rosid langsung bangkit "Juragan sudah diurusi?"
"Sudah Mas. Makanya lama"
Rosid mengusap perut buncit istrinya "Gimana? Nendang-nendang nggak?"
Sumi langsung menunjukkan perutnya "Ini Mas, keras banget"
Rosid kembali mengusap perut yang terlihat menonjol sana menonjol sini
"Semoga dikasih kelancaran ya?"
Sumi mengangguk "Iya Mas. Nunggunya lama banget, semoga semuanya dipermudah"
__ADS_1
"Aamiin..."
BERSAMBUNG.....