Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Naraya Resmi Bercerai


__ADS_3

Kabar perceraian Naraya sudah terdengar ditelinga Dewa


Dewa begitu bersemangat karena saingan beratnya sudah terhempas tanpa Ia capek-capek menendangnya


Setiap malam, Dewa menyempatkan untuk datang kerumah Naraya sehabis mengirimkan bunga melati kedepot pengiriman barang ke luar negeri


Suara deru mobil memasuki halaman rumah Naraya


Sang maid segera membukakan pintu "Eh, Mas Dewa. Masuk Mas" Mbak Saroh membukakan pintu selebar mungkin untuk Dewa "Sendirian, Mas. Mas Rosidnya kemana?"


"Kebetulan Rosid masih ke Tegal" Ucap Dewa sambil menyodorkan kresek pada maid Saroh yang bekerja disini


"Mbak, lauk kesukaan ibunya Juna. Mas Dewa pasti mau ngomong gitu kaannn" Ujar Mbak Saroh menirukan Dewa seperti hari-hari biasanya


Dewa tersenyum "Mana jagoanku. Apa sudah tidur ?"


"Belum Dewa. Juna kayaknya hafal deh, tau aja kalau bapak nya mau jenguk, ya" Saut Bu Winda yang keluar sambil bicara sama cucunya


Dewa berjalan mensejajarkan dengan Bu Winda "Masa sih, coba Papa lihat" Dewa memegang jemari Juna, Junapun menyambutnya "Ih, rupanya Putra Papa benar-benar ingin ikut yaaa"


Juna sudah dalam gendongan Dewa. Dewa mengusap pipi bulat Juna dan menciumnya dengan gemas


Juna tersenyum seakan tau yang datang itu Ayahnya


"Minumnya, Wa" Bu Winda menaruh minuman untuk Dewa


Dewa menoleh "Iya, Bu"


"Oiya, Ibunya Juna kemana, Bu? Kok sepi" Tanyanya kemudian


"Masih sibuk. Nggak tau deh. Memangnya Nara nggak ngomong sama Kamu, Wa?"


"Ngomong apa, Bu?"


"Ingin ngelanjutin kuliah katanya"


"Enggak tu, Bu. Memangnya Nara ingin ngelanjutin, gitu?"


"Katanya sih iya. Nggak tau deh. Ibu juga kurang faham. Bapaknya yang faham. Soalnya, Nara lebih sering ngobrolnya sama Bapaknya"


"Oh" Dewa manggut-manggut


"Eh, itu Dia turun" Ucap Bu Winda sambil menunjuk Nara yang sedang menuruni tangga


Nara duduk disofa single depan kursi yang ditempati oleh Dewa "Sini ikut, sayang" Tangan Nara mengulur ingin mengambil Juna dari Dewa


"Makan dulu Naraaa... Dewa diajak makan sana" Ujar Bu Winda sambil berdiri ingin mengambil Juna dari Dewa "Ayo ikut Uti (Nenek). Papa dan Mama biar makan dulu"


"Bu" Protes Naraya


"Halah, sudah sana makan. Dewa sudah membelikan lauk"


"Pasti ayam bakar pecak santan"


"La yaiya. Memangnya kenapa? Kamu nggak suka? Bosen? Mosok bosen" Ucap Bu Winda sambil mengejek. Kemudian membawa Juna keteras


"Ya siapa tau ganti, Bu" Protes Nara lagi


"Sudah, nggak usah banyak protes. Sana makan. Ibu dan cucu Uti mau nunggu Akung (Kakek) pulang, ya Juna ya"


-


Setelah makan bersama Nara, Dewa keluar dari ruang makan "Oiya Nara, Aku ingin ngobrol nih sama Kamu"


"Ngomong apa. Ngomong aja langsung"


"Aku ingin melamarmu" Ucap Dewa tiba-tiba


Naraya menoleh "Tidak mau. Aku belum ingin menikah lagi"


"Terus. Apa artinya Kamu bercerai dengan Ghani kalau akhirnya ingin menyendiri"

__ADS_1


"Terus, Aku harus jawab apa, kalau Aku memang ingin sendiri"


"Aku ingin Kita menikah lagi, Nara. Juna butuh seorang Ayah"


"Tanpa menikah lagi, Mas Ghani juga mau menjadi ayahnya"


"Maksudnya Ghani" Dewa kebingungan


"Iya. Dia bersedia menjadi ayahnya. Kalau Mas Dewa ingin mengakuinya juga boleh"


"Nara!! Kamu masih bisa menjelaskan dengan jelas kan, apa maksudnya semua ini?"


"Aku ingin melanjutkan kuliah. Aku ingin menjadi dokter spesialis"


"Lalu, memangnya tak boleh menikah sambil kuliah?"


"Aku tidak ingin pusing memikirkan keluarga. Aku ingin fokus pada pendidikan"


"Lalu Juna. Kau juga ingin melempar Juna?"


"Siapa bilang melempar"


"Kalau begitu, Juna ikut denganku"


Naraya mengernyitkan dahi "Mau taruh dimana. Dipesisir?"


"Memangnya kenapa kalau dipesisir. Aku bisa menjaganya"


-


Hari berganti hari, hingga bulan berganti bulan


Usaha Dewa membujuk Naraya tidak berhasil. Sampai anak mereka berusia setahun, Naraya tetap belum bersedia untuk rujuk


"Keras kepala"


Naraya menatap Dewa tegas "Mas, jika Mas Dewa keberatan mengasuh Juna, biarkan Juna disini sama Ibu. Mas nggak usah repot-repot membawa Juna jika hati Mas tidak ikhlas"


"Kalaupun Kau tidak menjadi dokter, Aku masih mampu memberikanmu uang tanpa Kau harus bekerja. Yang sudah mudah ngapain dibikin ribet"


"Ngomong apa Mas, barusan"


"Kamu keras kepala. Terlalu keras"


"Hei, Aku ingin memiliki masa depan"


"Tadi kan sudah Ku bilang, masa depanmu, hidup bersamaku"


"Aku belum ingin menikah lagi. Titik"


"Koma. Pokoknya koma. Aku tidak mau Juna memiliki Ayah ataupun Ibu sambung. Kita saja yang harus disambungin"


"Enak aja main sambung-sambung" Naraya sudah menjinjing kopernya


"Dasar. Dasar keras kepala"


-


Kepergian Nara ke kota Semarang untuk melanjutkan studinya membuat Dewa harus mengurus anaknya seorang diri


Setiap pagi tiba, Juna selalu bermain ditumpukan bunga melati yang sedang disortir


"Pap-pa ulat, ulat" Dewa mendekat "Eh, tuh kan ada ulatnya. Ulatnya berwarna hi... Hi.." Dewa sengaja menggantung ucapannya


"Hit-tam"


"Hijau. Ini bukan hitam, tapi hi..Hi.."


"Jau"


"Pinter anak Papa"

__ADS_1


"Pin-tel"


"Iya seratus buat Juna" Dewa menggandengi Juna "Jangan mainan bunga yuk. Ntar Juna gatel"


"Ndak mahu" Juna mulai mewek


"Ketemennya yuk" Ajak Dewa sambil membujuk agar Juna mau beranjak dari bunga yang menggunung


"Indak mahu" Meweknya tambah lebar


"Kita ke Om Rosid yuk"


"Man-na, man-na. Juna itut"


"Kalau bilang Rosid, langsung deh, lengketnya kayak perangko"


"Dipelet kali Juragan. Makanya Mas Juna tutut sama si Bos" Saut salah satu pekerja yang sibuk menyortir


Dewa jongkok sambil mengambil bunga ditangan "Ulatnya banyak. Bunganya agak rusak"


"Mungkin karena sering hujan pagi Juragan. Jadi bungapun ikut sakit"


"Iya. Nggak mungkin disemprot. Karena hujan sering saja tiba-tiba datang"


"Berarti dipupuk saja Juragan. Kan cepat nyerep"


Dewa manggut-manggut


"Pupuk kandang juga bagus Juragan" Ide Parmo yang sibuk membeber bunga agar tidak basah kuyup


Dewa langsung teringat Palawi, dengan kotoran biri-birinya yang menumpuk disamping kandang


"Kapan-kapan, Kita beli biri-biri. Biar kotorannya bisa untuk pupuk"


"Wah, bagus juga Juragan. Pupuk kandang juga bagus untuk tumbuhan"


Selain pupuk urea, pupuk dari mekarnya bunga melati yang tak terpakai, Dewa selalu menbuangnya di tangkepan pohon bunga melati sebagai rabuk


-


Suatu hari Mereka mendapatkan telepon yang diperuntukkan untuk Juna dari Naraya


"Tumben telepon"


"Aku kangen dengan Juna Mas"


"Junanya sedang tidur siang"


"Coba Mas, perlihatkan Juna padaku. Aku kangen, Aku juga menyayanginya"


"Ck, Kau pasti dalam kesusahan. Makanya Kau ingat Juna"


"Mas, Aku kan ibunya. Wajar dong jika Aku kangen"


Dewa tidak menggubrisnya


"Mas bikinin Video Juna"


"Hah?? Aku nggak punya waktu untuk membuat ini dan itu. Memangnya Aku nganggur"


"Aku ingin mendengar suaranya"


"Pulang dong. Kamu kan bisa pulang"


"Nggak bisa Mas"


Dewa jengah "Besok kalau Rosid sempat"


Klik


Dewa mematikan teleponnya sepihak

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2