
Dengan terpaksa, Dewa membuatkan video keseharian Juna, keinginan Naraya
Juna berjalan dipantai sambil jatuh bangun
"Pap-pa san-na" Tunjuk Juna pada lautan
"Oh, Juna ingin berenang?"
Juna mengangguk "Eh"
"Airnya dalam sayang, Juna nggak boleh berenang. Dilarang. Kita bikin istana aja ya?" Bujuk Dewa seraya menggandeng putranya
Juna mengangguk lagi "Ehh"
Juna sudah duduk ditengah-tengah pasir yang sengaja dibuatkan seperti kolam oleh Dewa
"Sekarang bilang sama Mama, yuk. Bilang apa?" Dewa mengarahkan kamera pada Juna
"Mam-ma.... "
Plak plak plak
Juna sudah bermain pasir bercampur air sampai tidak terlihat bocah
"Sudah, sudah"
Dewa langsung mematikan shotnya dan segera mengirimkan video yang barusan Ia buat untuk Naraya
Naraya disana langsung membuka video yang barusan Ia terima
Naraya memutarnya "Juna.. Sabar ya Nak, kalau Mama ada waktu luang, pasti Mama datang menemuimu
-
Beberapa bulan kemudian
Naraya pulang dan segera menuju dimana Juna berada
"Junaaaaaaa..."
Juna celingak celinguk
Tangan Naraya membentang "Sayang, ini Mama"
Juna malu-malu dan segera bersembunyi dibelakang kaki Dewa
"Sayang, ini Mama" Ucapnya sambil jongkok dan mendekati Putranya "Sayang.."
"Pap-pa" Masih ngumpet
Dewa menunduk meraih Juna agar kedepan "Sayang, itu Mama. Ayo sambut"
Juna menggeleng-geleng
Dewa akhirnya menggendong Junanya "Kamu langsung dari Semarang?" Tanyanya Pada Naraya
"Iya, Mas"
"Masuk yuk"
"Iya Mas"
Juna sudah diturunkan dan duduk ditengah-tengah mainannya yang menggunung
"Mau minum apa?" Tawar Juna
"Nggak usah Mas. Aku bawa minum kok"
"Oh, Kamu sudah makan?"
"Nanti saja Mas, kalau laper"
Dewa mengangguk kemudian keluar dari rumahnya
Setelah Dewa keluar, Naraya terus mendekati Juna "Sayang mainan apa? Sayang ingin roti donat nggak? Ini Mama bawain untuk Juna. Ada namanya Juna loh. Lihat"
Juna mulai terpancing, hingga akhirnya merekapun mulai akrab
Dewa masuk "Taruh sini Sum" Dewa membukakan pintu untuk Sumi, yang membawa makan malam untuk dirinya dan juga Naraya
Sumi masuk dan meletakkan makanannya diatas meja
Setelah selesai, Sumipun pamit "Silakan Juragan"
"Iya, Sum. Makasih ya"
__ADS_1
Sumi mengangguk kemudian keluar
Dewa duduk lesehan "Ayo sayang, Kita makan" Ucapnya sambil melambaikan tangannya pada Juna
Naraya berdiri "Mas Aku pamit ya, Mas"
"Mam-ma" Juna sudah menarik-narik baju Naraya
"Nara, duduklah. Kita makan malam bersama"
"Tapi Mas"
"Ya sudah terserah Kamu"
Naraya tidak enak karena Dewa terlihat kesal
Akhirnya Naraya duduk didepan Dewa "Baiklah Mas, Aku akan makan"
Juna masih ingin bermanja kepada ibunya "Mam ma"
"Iya Mama suapin ya.."
Juna terlihat riang dan makannya begitu lahap
"Juna tidak ingin disuapi Papa?" Saut Dewa yang terabaikan oleh anaknya
"Endak. Mam-ma aja"
-
Malampun tiba. Tapi Juna belum mau untuk tidur
"Nara, kalau Kamu ingin mandi, mandilah. Bajumu disini kan banyak" Ucap Dewa memberi solusi
"Sebenarnya Aku ingin pulang Mas"
"Mam-ma jangan pelgi"
"Apa Kau keberatan tinggal bersama Juna ? Itu Juna sendiri yang memintanya. Bukan Aku. Aku tak pernah mengajari itu"
"Iya Mas. Aku akan mandi"
-
Sampai malam sudah larut, Juna tetap terjaga "Sayang, tidur ya..."
"Ya sudah. Mama temenin" Terpaksa Naraya menemani putranya tidur
Meskipun Naraya sudah berbaring, raut wajah Naraya terlihat bingung
"Sudah ku hubungi Ibu dan bapak. Kau akan menginap disini"
"Aku nginep Mas?"
"Iya, memangnya kenapa?"
Dan dengan terpaksa, Naraya menginap dirumah Dewa
-
Tiga tahun kemudian
Naraya sudah praktik dan memiliki klinik kecantikan sendiri dikota Pekalongan
Suatu hari Juna menanyakan pada Dewa saat Dewa menjemput Juna pulang sekolah PAUD "Papa, Kok yang jemput Juna Papa terus. Teman-teman Juna, ibunya yang jemput"
Dewa terdiam, rasanya sesak saat anaknya menanyakan hal seperti itu
"Papa.. Kenapa Papa diam"
"Sudah, ambil sepedanya sana"
Tanpa mendapat jawaban apapun Juna jingkrak-jingkrak mengambil sepeda kecil yang terparkir dipojok sekolahan
Dewa menunggu Juna saat Juna mengambil sepedanya. Sepeda beroda 4
Tiba-tiba
"Ye.. Juna... Sepeda Juna beroda banyak. Nggak kayak Aku. Pemberani !!" Ejek teman Juna yang sedikit petakilan
"Papa.." Wajah Juna sudah ditekuk
"Sayang.. Nanti Juna juga bisa seperti Mereka"
"Roda ini lepasin aja, Pa. Juna malu" Ucap Juna sambil menendang roda kecil pada sepeda sebagai penyangga agar tidak roboh jika Juna menggoesnya
__ADS_1
"Nanti, Kalau usia Juna sudah 4 tahun"
"Kapan itu, Pa?"
"Dua hari lagi"
"Dua hari lagi?"
"Iya"
"Juna ulang tahun, Pa?"
"Iya"
"Asyik... Juna akan ulang tahun. Bu guru!!" Teriak Juna sambil melempar sepeda dihalaman sekolah, kemudian berlari masuk kedalam sekolah
"Ada apa Juna?" Guru cantik yang masih muda itu berdiri menyambut Juna
"Bu guru, Juna dua hari lagi mau ulang tahun" Ucapnya seperti anak yang sedang pamer memamerkan mainan barunya
Dewa yang sudah siap diatas sepedanya dibuat terkejut melihat tingkah anaknya yang terlalu absurd menurutnya
Dewa tepuk jidat
Sejurus itu, guru yang masih belia itu tersenyum menatap Dewa dan juga Juna "Oh, dua hari lagi? Memangnya, Juna ingin hadiah apa dari Bu guru?" Tanya Bu Indira pada akhirnya
"Juna ingin berjumpa dengan Mama"
"Juna... " Panggil Dewa
Juna menoleh pada Ayahnya "Sebentar Pa" Kemudian berpamitan pada gurunya "Bu guru, Juna pulang ya?"
"Eh, iya Juna. Hati-hati ya... Semoga diulang tahun Juna, Juna bisa bertemu dengan Mama"
"Terima kasih Bu guru"
-
Juna pulang menggunakan sepeda berbalapan dengan ayahnya "Ayo Juna.. Kejar Papa" Teriak Dewa sambil menggayuh sepedanya menyalip sepeda Juna
"Papa.. Tungguin Juna.." Teriak Juna sambil mengejar ayahnya
Mereka berdua menaiki sepeda dipematang sawah yang sekarang menjadi perkebunan bunga melati yang membentang
"Juna...!!" Teriak anak-anak seusia Juna yang sedang bermain sepeda dijalanan menunggu orang tuanya yang sedang sibuk memetik bunga
"Hai, Karan.. Rohid.. Kejar Akuuu..." Teriak Juna sambil terus menggayu sepedanya
Karan dan Rohid mengejar Juna. Sedangkan Juna mengejar bapaknya
"Ayo.. Gayuhnya yang kuat" Teriak Dewa pada ketiga jagoan milik dirinya dan juga pekerjanya
"Siap Juragan !!" Teriak Rohid dan Karan bersamaan
-
Malam harinya Juna tidak bisa tidur karena kakinya pegal semua
"Papa.. Kaki Juna sakit"
Dewa yang baru pulang dari setor bunga melihat anaknya yang belum tidur langsung menengoknya
"Juna kenapa?"
"Kaki Juna sakit. Gendong"
Meskipun lelah, Dewa dengan penuh kasih sayang, mengangkat Juna ke gendongan
"Apa Juna sudah ngantuk?"
"Ngantuk. Tapi kaki Juna sakit. Pijat"
Dewapun memijatnya
Malam ini Dewa benar-benar lelah
Sore tadi, Dewa sempat mampir ke klinik Naraya. Berharap Naraya datang menjumpai Putranya
"Nggak bisa Mas, Aku sibuk"
"Sampai kapan Kamu akan begitu. Ujungnya itu, Kamu akan menunggu siapa?"
"Aku belum tau Mas. Yang jelas, Aku ingin sendiri"
"Baiklah. Jika suatu saat Aku mencari pendamping, Kau jangan sampai menyesal"
__ADS_1
BERSAMBUNG....