
Semuanya menoleh "Wa'alaikumusalam...." Jawab semua orang
Dewa langsung berjalan mendekati gadis itu yang masih berdiri dipintu "Oh.. Rupanya Dewi Lanjar ini yang telah menipuku" Dewa berdiri menjulang sambil berkacak pinggang didepan Nara. Nara menjauhkan badannya sambil menatap Dewa lekat
"Dewi Lanjar??" Ucap Bu Winda dan Bu Fitri bersamaan, sambil saling pandang bingung
Dewa menunjuk sedikit menyentak bahu Nara, Nara balas mengibas tangan Dewa
Merasa akan kalah, dihadapan Dewa, Nara juga mengeluarkan cengernya menantang dan mendongak sambil berkacak pinggang juga "Apa?? Dewi Lanjar, Dewi Lanjar apa? Siapa yang Dewi lanjar !! Kenal enggak, sok akrab Kamu" Sentak Nara tak mau kalah
Dewa memegang lengan Nara
"Ih.. Lepasin, sakit"
"Bodo... Kau rupanya bohongin Aku ya. Kau minta diturunkan dirumah bagus itu dikampung sebelah. Rupanya, Kau ingin mengecohku"
Semuanya bingung melihat pasangan suami istri itu berdebat
"Ih, lepasin" Nara terlepas dan berlari menuju kamar
"Mahes..!!! " Teriak Dewa lalu mengejar
"Mahes??????? " Semua orang tua bingung
"Dapat nama dari mana itu" Ucap Bu Fitri yang tetap bingung
"Pit, Pit. Nama Anakku kan, Naraya Maheswari. Mungkin, Mereka kenalannya begitu kali" Winda terkekeh
"Iya, ada-ada anak muda sekarang" Saut Fitri pada akhirnya
Dewa menggedor pintu "Mahes, buka pintunya. Aku mau ngomong sama Kamu"
"Ehm ehm" Bu Fitri berdehem "Sama istrinya kok kasar gitu, yang halus dong"
'Istri??? Itu Istrinya Juragan?' Rosid kembali bingung. Dan hanya menyaksikan peperangan antara suami istri yang Ia sendiri saja belum yakin jika Mereka berpasangan
Dewa menoleh "Istri??"
"Yaiyalah. Gadis tadi itu istrimu" Sentak Bu Fitri kemudian
"Istri?" Ulang Dewa dan mulai bingung "Tapi namanya Mahes, Ma. Kayaknya Mama salah orang deh"
"Dia namanya, Naraya Maheswari. Kau ingat, waktu mengucapkan ijab Kabul dulu?" Kini Bu Winda yang bicara
"Naraya Maheswari ?? Dia" Tunjuk Dewa pada pintu kamar yang tertutup "Namanya Mahes ?? Maheswari ??"
"Ya bener. Kan memang namanya"
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dan Nara berlari keluar
Dewa kecolongan "Rosid!! Kejar Dia!!"
Semua orang tua tepuk jidat
Dari depan pintu, berdirilah seorang pria paruh baya yang masih gagah itu memberi salam
Semua menjawab salamnya
Winda tidak menjawab. Ia melengos tidak ingin menatapnya
Fitri menyenggol lengan Winda "Win, siapa Dia. Bukan Ali kan?" Bisik Fitri
"Mas Ali sudah pergi, Pit" Jawabnya
__ADS_1
"Pergi kemana?"
"Pergi selamanya"
"Maksudnya"
"Meninggal"
"Innalillahi.. Kapan, Win?"
"Setelah kita berbesan. Dia tuh penyebabnya" Tunjuk Winda pada Raden asal
"Apa maksudmu, Win" Saut Raden yang sebelahnya ternyata ada Nara yang telah janjian ingin dijemput
Nara bergelayut dilengan Pak Raden "Bapak, pulang Yuk"
Semua orang tambah bingung termasuk Fitri yang tambah bingung
Pak Raden menatap Nara "Kamu tidak betah tinggal disini, Nduk?"
Nara ingin mengangguk, tapi segan dengan Ibunya
"Tunggu, tunggu. Aku mulai bingung deh, Win. Dia itu siapa?" Tunjuk Fitri pada Raden "Kenapa Nara begitu dekat dengan Dia. Apa Dia suami barumu?"
"Huekk sorry" Jawab Winda cepat
"Bu, jangan sakiti Bapak jika Ibu tidak suka" Kini suara Nara yang memprotes "Ayo Pak, Kita pulang saja"
"Nduk" Panggil Bu Winda
"Dia pilih Aku, Win. Berarti Genduk anakku" Saut Raden lagi
"Enak aja. Kapan Kamu bikinnya. Dia Putriku. Dia Putri kandungku. Kau yang merampas dari tanganku"
"Itu sekarang. Karena jampi-jampimu kuat"
"Jampi apa, Win"
"Kau kasih guna-guna anakku kan? Agar Genduk takluk padamu"
"Kau salah Win..."
"Pak, ayo Pak, pulang" Nara menarik-narik tangan Pak Raden
"Nduk, Kau tidak sayang sama Ibu?" Tanya Bu Winda pada akhirnya
"Sayang, Bu. Tapi Ibu selalu marah-marah jika bertemu sama Bapak. Nara nggak nyaman"
"Terus, Kau pilih tua bangka ini, daripada Ibu kandungmu??"
"Bu, Bapak punya nama"
"Bodo. Mau punya nama, mau enggak"
"Ya udah deh Pak. Kita pulang yuk" Nara menarik lengan Pak Raden lebih kuat lagi. Hingga Pak Raden sudah membelakangi Winda dan semuanya
"Tunggu !! Kau tidak berhak membawanya. Yang berhak membawanya adalah Dewa" Winda menunjuk Dewa
Lagi-lagi, Rosid cenut-cenut karena bingung sebut nama 'Juragan Krishna, kenapa ganti Dewa. Keluarga apa sih ini sebenarnya'
Pak Raden menoleh diikuti Nara
"Dia suamimu Nduk. Suami yang pernah menikahi Kamu" Sambung Winda
__ADS_1
Nara menutup mulutnya "Suami??" Ada rasa senang yang terlintas dibenak Nara, tapi gengsi lah
Nara mendekati Dewa. Menatapnya lekat "Juragan Krishna, suamiku?"
"Iya, Putraku bernama Krishna Dewa Yudhayana. Yang pernah menikahimu dulu. Bagaimana? Kalian berdua masih cocok kan?" Ucap Bu Fitri sambil mendekatkan pasangan ini
Nara dan Dewa lirik
Bu Fitri menyenggol lengan Putranya "Gimana, bisa diterusin nggak. Jika diterusin, Kalian harus menikah lagi. Biar legal. Gimana Nara??" Bu Fitri juga menyenggol lengan Nara
"Aku terserah Bapak, Bu" Ucap Nara mempertimbangkan
"Panggilnya Ma dong. Biar sama kayak si Dewa" Tegur Bu Fitri
"Iya, Ma. Terserah Bapak. Jika Bapak bilang boleh ya, Nara.." Nara menggantung ucapannya
"Mau??" Tanya Bu Fitri biar jelas
Nara mengangguk
"Nduk!! Kok jadi Dia sih yang jadi prioritas Kamu. Aku ini ibumu, Nduk. Seharusnya, Kau tanya ibu dulu" Winda mulai tersulut emosi. Kemudian berjalan cepat menuju kamarnya
Semua orang menatap Winda bingung lagi
Saat Mereka sedang menyelami pikirannya masing-masing, Winda keluar sambil membawa kardus bekas Magic com dengan semangat
Brakk
"Ini untukmu. Aku rasa cukup untuk menebus Putriku"
"Apalagi ini, Win. Kenapa main tebus-tebusan. Siapa yang ditebus? Dan apa yang akan ditebus?" Tanya Bu Fitri
"Dulu Aku berhutang padanya" Ucapnya sambil menunjuk Raden "Karena Aku dan suamiku, dulu tidak bisa membayarnya, Dia mengambil paksa anakku. Dia maling anakku, Pit. Mantumu"
"Oh.."
"Iya" Kemudian, Winda membongkar kardus yang berisikan uang tersebut "Ini. Cukup kan untuk menebus Anakku??!"
Raden masih diam melihat aksi wanita yang Ia sukai
"Ayo ambil, kenapa diam" Bentak Winda pada Raden
Raden memasukkan uang tersebut kedalam kardus "Simpanlah, Win. Ini untuk Kamu. Sekarang, Aku sah kan. Bahwa hutangmu dulu, sudah lunas" Kemudian, Pak Raden berbelok "Nduk, sudah saatnya Kau ikut Ibumu"
"Pak, Nara ingin ikut Bapak" Ucap Nara berkaca-kaca
"Nduk!!" -Winda
Nara mendekati Bu Winda "Bu. Bapak itu orang yang ikhlas merawat Nara sejak kecil setelah Bapak Ali dan Ibu. Bapak tidak pernah memarahi Nara. Apapun yang Nara mau, Bapak pasti kabulin"
"Jadi, karena Ibu tidak sekaya Dia. Terus Kau abaikan Ibu, begitu?"
"Tidak Bu. Nara sayang sama Ibu. Nara juga sayang sama Bapak. Nara sudah besar Bu. Nara tau, kemauan Bapak itu apa"
"Apa, kemauan Dia, apa??!"
"Bapak mencintai Ibu. Tapi Ibu gengsi. padahal Ibu mau"
"Apa maksudmu" Kesal Bu Winda pada akhirnya
Pak Raden tersenyum kecil 'Pinterrr. Genduk ternyata pinter'
BERSAMBUNG.....
__ADS_1