
Bagaikan seorang penggemar dari seorang artis, Nara benar-benar terpesona dengan Pria itu yang masih memberi pidato diatas panggung
Sedetik itu, Nara mendelik saat tak sengaja, Dewa menatapnya. Entah Dewa ingat dirinya atau tidak, atau bahkan melihatnya atau tidak
Namun, bertemu dengan sang idola, bahkan mereka belum resmi menjalin hubungan romantis dengannya, tentu akan menjadi sebuah momen spesial.
Pertemuan mereka bermula ketika berboncengan. Tapi siapa sangka, malam ini Nara melihatnya lagi
"Nduk, kenapa Kamu senyum-senyum. Ingat!! Kau sudah punya seseorang. Siapa namanya tadi, Ibu lupa"
"Nara juga masih kecil pada waktu itu Bu, mana Nara ingat" Jawab Nara asal
"Halah, tadi sore Kamu menyebutnya kok"
Nara duduk berbelok pada Ibunya "Apa, Ibu ingin Nara jadi perawan tua, Bu?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlintas dan keluar begitu saja dari mulutnya
"Hus, ngomong apa, Kamu. Pamali"
"Sampai kapan?"
"Yo sabar to Nduk"
"Sabar?? Nara harus bersabar menunggu pria yang pernah menikahi Nara sampai bila-bila gitu. Iya, Bu?"
Tiba-tiba, dibelakangnya begitu riuh seperti ada gerombolan orang-orang. Nara menoleh kebelakang. Ternyata, Pria yang pernah Ia bohongi alamatnya pada waktu itu sedang dikerumuni untuk bersalaman dan berfoto
"Mas Dewa ??" Gumam Nara
Sekilas Dewa menatapnya, kemudian pura-pura tidak melihat gadis itu
Nara kecewa. Kemudian berbelok menatap Ibunya "Bu, pulang yuk"
"Masih rapet Nduk" Bu Winda sedikit menolak
Nara berdiri
Mau tak mau Bu Winda berdiri "Ayo Nduk, lewat sini" Tangan kanan menggandeng Nara, tangan satunya menggandeng Ria "Ayo Nok, Kita pulang"
Ria menolak "Ria ingin foto, Bulik"
"Ya udah foto, foto saja"
"Ish bukan foto disini, tapi dengan Juragan"
Wajah Nara tambah dilipat-lipat seperti baju yang sudah disetrika setahun lalu "Ibu, pulang, Yuk"
"Iya ayo"
Ria tak peduli, asal bisa mendekati sang Juragan, Iapun berlari masuk ke kerumunan
Pada akhirnya, Nara lolos hilang dari pandangan Dewa "Sial.. Kemana gadis itu"
"Juragan.." Panggil Rosid tiba-tiba
Dewa seperti mendapatkan pertolongan "Rosid"
"Juragan ingin pulang, sekarang?"
"Iya"
"Juragan. Jangan pergi dulu" Masih saja ada orang yang menghadangnya
"Selfi ya, Juragan?" Ternyata gadis tadi. Siapa lagi kalau bukan Ria
Dewa sedikit risih, karena kebanyakan, para wanita yang ingin berfoto dengannya
"Maaf ya. Juragan harus pergi sekarang" Tolak Rosid pada akhirnya
"Ya... Juragan" Ria kecewa
"Tadi kan sudah Mbak" Tolak Rosid dan segera keluar dari kerumunan
-
__ADS_1
Sepulang dari balai desa, Mereka sampai diperkebunan, disambut oleh beberapa pekerja yang sedang membakar jagung Dan juga
"Ngopi ngopi.." Salah satu pekerja membagikan gelas berisikan kopi pada pekerja lain
Baru kopi ditangan, suara deru mobil sang Juragan berhenti
Mereka tersenyum "Eh, Juragan..."
Dewa tersenyum "Lanjutkan"
"Juragan tidak ingin makan jagung?" Akhirnya kata itu lolos dari Soimin
Dewa berhenti "Dapat darimana?" Menerima jagung tersebut, tetapi seperti biasa, Dewa selalu bertanya dapat darimana
"Dari kebunlah, Juragan. Ini gratis. Kami tidak beli. Tu" Tunjuk Soimin pada bakul yang berisikan jagung, singkong, ubi jalar, dan lain sebagainya
"Kebun sini, kebun yang disewa Kita?"
"Iya, Juragan"
Dewa manggut-manggut "Baiklah. Saya masuk dulu"
"Silahkan, Juragan"
Dewa berjalan menuju singgasananya sambil membawa bakaran jagung, sedangkan pekerja yang masih berjaga kembali berkerumun melanjutkan diskusinya
Salah satu pekerja berjalan mendekati mobil, dimana Rosid itu masih sibuk disana
"Gimana pestanya ,Bos ?"
"Eh Ton. Lancar. Tolong bawa ini"
"Apa ini, Bos?"
"Oleh-oleh dari Pak kades"
-
Ditempat Dewa
"Apa itu, Sid"
"Oleh-oleh lah, Juragan. Juragan seperti Artis"
Dewa membuka. Ternyata banyak makanan. Dari yang mentah, hingga yang sudah matang "Ini bahan makanan. Sebaiknya bawa kedapur sana"
"Siap, Juragan" Rosid memilah lagi dan membawa makanan mentah tersebut dibawa kedapur
Dengan kilat, Rosid sudah menjulang dihadapan Dewa
"Sid, istirahatlah. Makanan ini juga sana bagi"
"Tapi makanan itu untuk Juragan"
"Sid, bawa semua. Dan Kamu, istirahatlah"
"Iya, Juragan Saya akan istirahat" Rosid berbelok akan keluar
"Jangan begadang. Urusin Istrimu"
Rosid menoleh dan menatap Juragannya
"Jangan menatapku seperti itu. Aku lihat, sepertinya Kau mengabaikan Istrimu. Istrimu bukan tukang masak saja kan. Dia butuh Kamu"
Rosid tersenyum kaku "Kenapa Juragan bertanya seperti itu"
"Ck. Kamu bukan seorang Bujangan Sid. Aku bahkan merasa, Kau itu tidak pernah tidur dengan Istrimu"
Rosid ingin protes
"Tiap malam dan siang hari, Bukankah Kau selalu bareng bersamaku. Waktumu tidak ada bukan, bersama Istrimu? Sana, pergilah tidur"
Rosid melangkah ragu
__ADS_1
"Sana. Aku mau istirahat" Usirnya
-
Rosid sudah masuk kedalam kamarnya, setelah membagi makanan pada para pekerja yang sedang asyik berjaga sambil bermain poker dan bercanda
Rosid tidak mungkin bekerja tanpa henti, bukan? Pekerja lain juga disift, dan tidak bekerja siang dan malam
Semuanya digilir
Mereka yang berjaga adalah orang-orang yang menjaga diesel, yang sengaja digilir penjagaannya
Rosid melangkah dan duduk diipinggir kasur, yang ada dilantai papan
Sumi membuka matanya "Akang kok sudah masuk, tumben"
"Aku diusir oleh Juragan"
Sumi langsung bangun "Kok bisa"
"Kau menolakku, Sumi?" Rosid mengacuhkan ucapan Sumi, tetapi main tebak saja karena dulu, Dia sering ditolak oleh Sumi saat dirinya terang-terangan ingin bekerja pada Dewa
Sumi memainkan selimutnya sambil duduk "Itu kan dulu, Kang"
"Jadi??"
"Aku terserah Akang"
Rosid menatap Sumi lekat "Apa, Kau masih ingin hidup bersamaku, Sum?"
"Aku ini orang kuli. Orang rendahan yang tidak... " Sambungnya
"Kang, jangan ungkit itu terus. Aku ikut Akang, karena akang suamiku. Selama Aku disini, Akang selalu abai. Sumi harus gimana, Kang"
"Apa malam ini, Kamu ada mood, Sum"
Sumi mengangguk
Melihat kesempatan itu, Ia pun berusaha untuk menggaet Sumi "Akang kangen, Sum"
Sumi malu-malu tapi mau
-
Pagi harinya, Rosid kepalanya basah
"Tumben Kamu mandi. Rambutmu basah Sid" Ucap Dewa tiba-tiba
"Ah, Juragan. Sekali-kali mandilah, Juragan"
"Kamu jorok, mandinya kalau habis tidur bareng Istri doang"
"Juragan.. " Rosid benar-benar malu "Belum juga Juragan menikah. Tapi ucapan Juragan kayak berpengalaman"
"Dulu Aku sudah menikah, Sid. Walaupun belum merasakan manisnya pernikahan, Aku itu sudah nikah" Jelasnya keceplosan
"Oh.. " Rosid melongo tak percaya "Juragan sudah pernah kawin??"
"Nikah, Sid !! Bukan kawin"
"Iya nikah. Terus"
"Kamu kok cerewet sih. Sudah, jangan bahas masalahku. Itu, rambutmu dilap dulu, Kamu masih punya handuk kan?"
Lagi-lagi Rosid dibuat malu oleh Juragan
"Oiya, Nanti siang Aku akan kekota. Ntar sore, kalian gajian kan?" Sambung Dewa
"Siap, Juragan. Perlu Saya kawal, Juragan?"
"Tidak perlu. Aku tidak mau ingin apel kerumah gadis diikutin Kamu"
"Loh, katanya Juragan sudah punya Istri. Kirain kekota mau bawa Istrinya kesini, eh kok malah ingin cari serep (Ganti)"
__ADS_1
"Cerewet ah Kamu"
BERSAMBUNG......