
Sementara, ditempat lain yang akan dijadikan pesta Dewa dan Nara
Paman Dewa yaitu Puri, merasa iri hati karena Dewa telah berhasil menjadi Juragan besar dikampung
"Dimanapun Ia tinggal. Kenapa Dia selalu berhasil. Mereka bahkan berhasil menikah. dan keduanya justru hidup bahagia. Tapi apa yang Kamu bisa, Rendra !!! Kau bahkan kalah dari segi manapun"
"Ayah. Aku juga sudah berusaha"
"Ck. Berusaha apanya. Mabuk-mabukan setiap malam hah?? Wajah Kamu saja sudah remang-remang begitu. Tak ada daya tariknya sedikitpun. Berbeda sekali dengan Dewa. Ditempat manapun, wajahnya selalu bersinar, tidak berkarat seperti wajah Kamu yang setiap malam tersiram minuman keras"
"Dewa juga terlihat hitam, Ayah" Ucapnya sambil menyekrol foto Dewa yang berkeliaran dimedia sosial
"Hitaman kamu. Kamu Hidup dikota saja hitam. Apalagi bertukar tempat. Bisa gosong Kamu seperti arang"
Kemudian, mata Narendra tertuju pada foto Istri Dewa. Ia begitu tertarik. Dan itu terlihat sekali dimata Ayahnya, Puri.
"Rendra, apa yang kau lihat" Tegurnya saat melihat Narendra melamun, sedangkan foto yang putranya tatap bukanlah Dewa. Melainkan gadis cantik yang berdiri disisi Dewa. Siapa lagi kalau bukan Nara, Istri Dewa
"Aku tertarik pada istrinya dewa" Ucapnya lugas
Puri manggut-manggut ia tahu apa yang harus mereka lakukan
-
Malam ini, urusan Nara sudah selesai. Begitupun urusan perkebunan. Semuanya sudah dihandle oleh Rosid
Sebelum kepergiannya ke Jakarta, ditepi pantai ini, Para pekerja mengadakan acara perpisahan untuk sang Juragan
Yaitu pesta barbeque
Tadi pagi, para pekerja yang ahli menangkap ikan, Iapun menangkapnya. Hingga menjaring ikan sebanyak mungkin
Malam ini mereka ingin sang Juragan terkesan dengan mereka
Ayam dan ikan sudah dibersihkan. Dan dimasak berbagai menu oleh para ibu-ibu
Sedangkan para bapak-bapak sibuk membakar ayam, ikan dan lain sebagainya.
Dewa dan Nara sudah keluar dari rumah untuk bergabung Dengan Mereka semuanya
"Selamat malam semua?" Sapa Dewa
"Selamat malam, Juragan!!" Jawab seluruh pekerja yang sudah berkumpul didepan rumah Juragan yang biasa diadakan api unggun disetiap malamnya
"Bagaimana kabar Kalian malam ini??" Tanya Dewa. Tetapi semuanya terdiam. Tidak ada satupun yang menjawabnya
Bahkan tak ada satupun pekerja yang mampu menatap Juragannya meskipun sepersekian detik
"Aku tanya sekali lagi. Apa kabar Kalian malam ini? Apa Kalian baik-baik saja?" Tanya Dewa lagi sambil mengabsen semuanya
Salah satu pekerja mendongak "Juragan, kabar Kami berubah tak baik, saat Kami dengar Juragan akan meninggalkan Kami, meninggalkan perkebunan ini"
"Benar. Juragan" Saut pekerja lain
"Mungkin, dosa Kami yang terlalu banyak pada Juragan. Sehingga, setelah ekonomi disini pulih, Juragan justru akan meninggalkan Kami"
"Kami ingin Juragan tinggal lebih lama disini!!"
"Ya. Agar Kami bisa menatap Juragan setiap pagi siang dan juga malam"
"Kenapa kalian ingin menatapku" Akhirnya Dewa menjawabnya dengan kata itu sekaligus mempertanyakannya
__ADS_1
"Kami ingin menebus kesalahan Kami dulu, juragan "
Dewa terdiam
"Kami dulu pernah membenci Juragan. Bahkan sempat menghujat Juragan. Dan menghina kerja keras Juragan yang sebenarnya, Juraganlah manusia yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan desa ini"
"Juragan. Kami tidak bisa memberikan apapun untuk Juragan. Hanya ini, yang bisa Kami kasih untuk Juragan" Ucap Darno yang berani kedepan untuk memberikan dompet dari kulit ular, yang sengaja ia buat sendiri dan khusus untuk Juragan
Dewa menerima dengan penuh rasa haru "Terima kasih Darno"
Darno langsung berderai "Juragan Krishna, tahu nama Saya" Tunjuknya pada dirinya sendiri
Dewa tersenyum "Sangat tahu"
"Benarkah?"
Dewa mengangguk
Darno mengusap air matanya yang sempat terjatuh
"Bolehkah Saya memeluk Juragan?" Ucap Darno pada akhirnya
Dewa merentangkan kedua tangannya "Kemarilah"
Darno memeluk Dewa dengan begitu erat. Kemudian terguguh "Juragan, Saya pasti akan merindukan Juragan"
Dewa ikut berkaca-kaca "Aku juga, pasti akan merindukan Kalian" Dewa menepuk-nepuk bahu Darno
"Terima kasih Juragan"
Mereka terurai
Darnopun mundur
"Juragan. Saya hanya bisa memberikan tasbih ini. Juragan pasti tanya. Ini dapat darimana. Benar kan juragan?"
Dewa tersenyum
"Sekarang saya jawab langsung sebelum Anda bertanya, Juragan"
Dewa tersenyum lagi, semuanya ikut tersenyum tetapi semuanya mengusap airmatanya
"Iya, Parmo. Katakan, Kamu dapat dari mana? Apakah Kamu mengambil milik orang lain?"
"Tentu saja Juragan. Saya bahkan sengaja meminta bantuan pada semuanya untuk membuatkan sebuah tasbih ini, yang khusus untuk Juragan"
"Oiya, berarti Kamu hutang budi pada semua orang, yang Kau mintai bantuan"
Yang namanya Budi tidak terima "Maaf Juragan. Saya tidak terima. Karena Saya sama sekali, tidak mau dihutangi oleh siapapun. Saya capek nagihnya, Juragan"
HAHAHAHA
Semuanya tertawa sambil meneteskan airmata
Rosid kedepan "Sekarang, keluarkan makanannya"
"AYOOOOOOOO !!!"
Seluruh pekerja menggelar daun pisang dipinggiran api unggun untuk meletakkan makanananya
Seperti pasukan yang sudah terlatih, semuanya cepat dan langsung tersaji
__ADS_1
"Kalian memasaknya sendiri?"
"IYA JURAGAN!!"
"Jawaban kompak"
Kembali, Mereka tergelak bersamaan
"Makanlah kalian"
"Juragan juga makannya yang banyak. Kami ingin, Juragan sehat dan cepat besar"
HAHAHA
-
Mobil Dewa sudah membawa Dewa dan Nara
Seluruh pekerja, baik pria maupun wanita menangis. Sang pahlawan telah meninggalkannya
"Semoga Kalian bahagia, Juragan" Doa para pekerja tulus setelah mobil yang ditumpangi sang Juragan mengecil dan menjauh dari perkebunan
Seluruh pekerja benar-benar merasa kehilangan Juragan sepeninggal Dewa.
"Juragan orangnya humble terhadap siapapun, meskipun Juragan anak seorang konglomerat, sekaligus bos muda, Juragan tidak pernah membedakan status Kami. Selamat tinggal, Juragan. Doa Kami menyertaimu"
-
Pagi harinya, Dewa telah sampai di Jakarta
Pestapun segera digelar. Karena Ibu Fitri memang yang merencanakan semuanya
Pesta digelar dihotel berbintang
Para tamu undangan berdatangan memberi selamat kepada pengantin baru
"Selamat Dewa. Semoga selalu sukses. Dan cepat dapat momongan. Bagaimana? Senangkan menikah? Hahaha" Salah satu kolega Pak Yudha ada yang kebablasan memberi wejangan
Untung Dewa tangguh, jadi tidak pengaruh
"Wah, selamat ya Yud. Dewa sukses diberbagai bidang. Pekerjaan apapun mampu dipegang olehnya. Sekali lagi. Selamat"
"Terima kasih Puri"
-
Hingga akhirnya kebahagiaan Mereka terusik oleh
paman Dewa yaitu Puri, dan sepupunya yaitu Narendra yang berusaha untuk
mendapatkan warisan kekayaan milik Dewa
Malam ini, Narendra kembali mabuk lagi.
Biarpun saudaranya berpesta, Narendra lebih memilih pergi ke club malam untuk berpesta bersama teman-temannya, dan berkencan dengan wanita malam yang mampu memuaskan Narendra
Narendra hidup bebas, puas, dan buas diatas ranjang
Sepulang dari club, Narendra bukannya pulang kerumah, melainkan pulang kerumah Dewa
Narendra yang mempunyai sifat Casanova, Iapun ingin mencicipi tubuh gadis yang telah dinikahi sepupunya yaitu Nara
__ADS_1
BERSAMBUNG.....