Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Perpisahan


__ADS_3

Sementara, ditempat lain yang akan dijadikan pesta Dewa dan Nara


Paman Dewa yaitu Puri, merasa iri hati karena Dewa telah berhasil menjadi Juragan besar dikampung


"Dimanapun Ia tinggal. Kenapa Dia selalu berhasil. Mereka bahkan berhasil menikah. dan keduanya justru hidup bahagia. Tapi apa yang Kamu bisa, Rendra !!! Kau bahkan kalah dari segi manapun"


"Ayah. Aku juga sudah berusaha"


"Ck. Berusaha apanya. Mabuk-mabukan setiap malam hah?? Wajah Kamu saja sudah remang-remang begitu. Tak ada daya tariknya sedikitpun. Berbeda sekali dengan Dewa. Ditempat manapun, wajahnya selalu bersinar, tidak berkarat seperti wajah Kamu yang setiap malam tersiram minuman keras"


"Dewa juga terlihat hitam, Ayah" Ucapnya sambil menyekrol foto Dewa yang berkeliaran dimedia sosial


"Hitaman kamu. Kamu Hidup dikota saja hitam. Apalagi bertukar tempat. Bisa gosong Kamu seperti arang"


Kemudian, mata Narendra tertuju pada foto Istri Dewa. Ia begitu tertarik. Dan itu terlihat sekali dimata Ayahnya, Puri.


"Rendra, apa yang kau lihat" Tegurnya saat melihat Narendra melamun, sedangkan foto yang putranya tatap bukanlah Dewa. Melainkan gadis cantik yang berdiri disisi Dewa. Siapa lagi kalau bukan Nara, Istri Dewa


"Aku tertarik pada istrinya dewa" Ucapnya lugas


Puri manggut-manggut ia tahu apa yang harus mereka lakukan


-


Malam ini, urusan Nara sudah selesai. Begitupun urusan perkebunan. Semuanya sudah dihandle oleh Rosid


Sebelum kepergiannya ke Jakarta, ditepi pantai ini, Para pekerja mengadakan acara perpisahan untuk sang Juragan


Yaitu pesta barbeque


Tadi pagi, para pekerja yang ahli menangkap ikan, Iapun menangkapnya. Hingga menjaring ikan sebanyak mungkin


Malam ini mereka ingin sang Juragan terkesan dengan mereka


Ayam dan ikan sudah dibersihkan. Dan dimasak berbagai menu oleh para ibu-ibu


Sedangkan para bapak-bapak sibuk membakar ayam, ikan dan lain sebagainya.


Dewa dan Nara sudah keluar dari rumah untuk bergabung Dengan Mereka semuanya


"Selamat malam semua?" Sapa Dewa


"Selamat malam, Juragan!!" Jawab seluruh pekerja yang sudah berkumpul didepan rumah Juragan yang biasa diadakan api unggun disetiap malamnya


"Bagaimana kabar Kalian malam ini??" Tanya Dewa. Tetapi semuanya terdiam. Tidak ada satupun yang menjawabnya


Bahkan tak ada satupun pekerja yang mampu menatap Juragannya meskipun sepersekian detik


"Aku tanya sekali lagi. Apa kabar Kalian malam ini? Apa Kalian baik-baik saja?" Tanya Dewa lagi sambil mengabsen semuanya


Salah satu pekerja mendongak "Juragan, kabar Kami berubah tak baik, saat Kami dengar Juragan akan meninggalkan Kami, meninggalkan perkebunan ini"


"Benar. Juragan" Saut pekerja lain


"Mungkin, dosa Kami yang terlalu banyak pada Juragan. Sehingga, setelah ekonomi disini pulih, Juragan justru akan meninggalkan Kami"


"Kami ingin Juragan tinggal lebih lama disini!!"


"Ya. Agar Kami bisa menatap Juragan setiap pagi siang dan juga malam"


"Kenapa kalian ingin menatapku" Akhirnya Dewa menjawabnya dengan kata itu sekaligus mempertanyakannya

__ADS_1


"Kami ingin menebus kesalahan Kami dulu, juragan "


Dewa terdiam


"Kami dulu pernah membenci Juragan. Bahkan sempat menghujat Juragan. Dan menghina kerja keras Juragan yang sebenarnya, Juraganlah manusia yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan desa ini"


"Juragan. Kami tidak bisa memberikan apapun untuk Juragan. Hanya ini, yang bisa Kami kasih untuk Juragan" Ucap Darno yang berani kedepan untuk memberikan dompet dari kulit ular, yang sengaja ia buat sendiri dan khusus untuk Juragan


Dewa menerima dengan penuh rasa haru "Terima kasih Darno"


Darno langsung berderai "Juragan Krishna, tahu nama Saya" Tunjuknya pada dirinya sendiri


Dewa tersenyum "Sangat tahu"


"Benarkah?"


Dewa mengangguk


Darno mengusap air matanya yang sempat terjatuh


"Bolehkah Saya memeluk Juragan?" Ucap Darno pada akhirnya


Dewa merentangkan kedua tangannya "Kemarilah"


Darno memeluk Dewa dengan begitu erat. Kemudian terguguh "Juragan, Saya pasti akan merindukan Juragan"


Dewa ikut berkaca-kaca "Aku juga, pasti akan merindukan Kalian" Dewa menepuk-nepuk bahu Darno


"Terima kasih Juragan"


Mereka terurai


Darnopun mundur


"Juragan. Saya hanya bisa memberikan tasbih ini. Juragan pasti tanya. Ini dapat darimana. Benar kan juragan?"


Dewa tersenyum


"Sekarang saya jawab langsung sebelum Anda bertanya, Juragan"


Dewa tersenyum lagi, semuanya ikut tersenyum tetapi semuanya mengusap airmatanya


"Iya, Parmo. Katakan, Kamu dapat dari mana? Apakah Kamu mengambil milik orang lain?"


"Tentu saja Juragan. Saya bahkan sengaja meminta bantuan pada semuanya untuk membuatkan sebuah tasbih ini, yang khusus untuk Juragan"


"Oiya, berarti Kamu hutang budi pada semua orang, yang Kau mintai bantuan"


Yang namanya Budi tidak terima "Maaf Juragan. Saya tidak terima. Karena Saya sama sekali, tidak mau dihutangi oleh siapapun. Saya capek nagihnya, Juragan"


HAHAHAHA


Semuanya tertawa sambil meneteskan airmata


Rosid kedepan "Sekarang, keluarkan makanannya"


"AYOOOOOOOO !!!"


Seluruh pekerja menggelar daun pisang dipinggiran api unggun untuk meletakkan makanananya


Seperti pasukan yang sudah terlatih, semuanya cepat dan langsung tersaji

__ADS_1


"Kalian memasaknya sendiri?"


"IYA JURAGAN!!"


"Jawaban kompak"


Kembali, Mereka tergelak bersamaan


"Makanlah kalian"


"Juragan juga makannya yang banyak. Kami ingin, Juragan sehat dan cepat besar"


HAHAHA


-


Mobil Dewa sudah membawa Dewa dan Nara


Seluruh pekerja, baik pria maupun wanita menangis. Sang pahlawan telah meninggalkannya


"Semoga Kalian bahagia, Juragan" Doa para pekerja tulus setelah mobil yang ditumpangi sang Juragan mengecil dan menjauh dari perkebunan


Seluruh pekerja benar-benar merasa kehilangan Juragan sepeninggal Dewa.


"Juragan orangnya humble terhadap siapapun, meskipun Juragan anak seorang konglomerat, sekaligus bos muda, Juragan tidak pernah membedakan status Kami. Selamat tinggal, Juragan. Doa Kami menyertaimu"


-


Pagi harinya, Dewa telah sampai di Jakarta


Pestapun segera digelar. Karena Ibu Fitri memang yang merencanakan semuanya


Pesta digelar dihotel berbintang


Para tamu undangan berdatangan memberi selamat kepada pengantin baru


"Selamat Dewa. Semoga selalu sukses. Dan cepat dapat momongan. Bagaimana? Senangkan menikah? Hahaha" Salah satu kolega Pak Yudha ada yang kebablasan memberi wejangan


Untung Dewa tangguh, jadi tidak pengaruh


"Wah, selamat ya Yud. Dewa sukses diberbagai bidang. Pekerjaan apapun mampu dipegang olehnya. Sekali lagi. Selamat"


"Terima kasih Puri"


-


Hingga akhirnya kebahagiaan Mereka terusik oleh


paman Dewa yaitu Puri, dan sepupunya yaitu Narendra yang berusaha untuk


mendapatkan warisan kekayaan milik Dewa


Malam ini, Narendra kembali mabuk lagi.


Biarpun saudaranya berpesta, Narendra lebih memilih pergi ke club malam untuk berpesta bersama teman-temannya, dan berkencan dengan wanita malam yang mampu memuaskan Narendra


Narendra hidup bebas, puas, dan buas diatas ranjang


Sepulang dari club, Narendra bukannya pulang kerumah, melainkan pulang kerumah Dewa


Narendra yang mempunyai sifat Casanova, Iapun ingin mencicipi tubuh gadis yang telah dinikahi sepupunya yaitu Nara

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2