Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Arjuna Gardapati


__ADS_3

"Naraya.."


Naraya mendongak kemudian menunduk dan buru-buru menyembunyikan perutnya "Pergi Kau" Usirnya


Dewa ikut jongkok dihadapan Nara "Nara.. Sudah berapa bulan Kamu mengandung ?" Dewa menatap sambil ingin memegang perut Nara yang sudah membesar


"Minggir !! Jangan pegang-pegang" Tangan Naraya terus mengibas-ngibaskan tangan Dewa


"Perutmu sangat besar. Tidak mungkin kehamilanmu hanya tiga bulanan. Itu pasti lebih dari lima bulan. Dan itu pasti anakku. Anak Kita" Akuhnya dan terus berusaha ingin memegang perut Naraya


"Sudah Ku bilang, jangan sentuh !!"


"Aku yakin Nara, itu anakku. Aku Bapaknya" Dewa kembali berusaha memegang perut Naraya


"Sudah Ku bilang, pergi Kau !!" Usirnya lagi sambil jongkok meskipun perutnya mengganjal kesulitan


"Katakan. Itu pasti Anakku. Anak Kita kan?" Dewa ingin memegangnya terus tetapi Naraya menolak


"Tidak usah tanya-tanya. Pergi!! Pergiiii...!! Akkkhhh...!!!!" Tiba-tiba Nara kesakitan


Dewa langsung maju dan merengkuh tubuh Naraya


Nara menolaknya meskipun sakit itu menderanya


"Nara, Kau kesakitan. Kau tidak bisa berlari !"


Nara menegang


"Nara !! bertahanlah" Dewa menengok kanan dan kirinya "Kursi roda, tolong kursi roda" Tangan Dewa keatas untuk meminta tolong


Dengan tergopoh-gopoh, seseorang mendorong kursi roda untuk didekatkan kepada mereka "Ini, Pak kursi rodanya" Ucap sigadis itu yang rupanya ternyata Diah "Pak Ghaninya kemana ya.." Diah celingukan


Ghani segera bersembunyi. Ia menghela nafas yang serasa sesak


Ia tahu, hanya Dewalah orang yang dibutuhkan Naraya


Ghanipun segera berlalu


Didalam kamarnya, Ghani terduduk sambil melepas cincin kawinnya "Aku tidak pantas mendapatkan wanita seperti Naraya. Naraya bahkan tak pernah memandangku"


-


Naraya didorong Dewa menuju ruang observasi melahirkan "Tolong. Tolong selamatkan Naraya"


Naraya masih kesakitan dan terus mengadu


Perawat yang berjaga sedikit kaget


'Bukankah ini Ibu Naraya. Kemana Pak Ghani. Dia kan istrinya pak Ghani. dimana pak Ghani?' Fikiran sang perawat sedikit ragu untuk menangani Naraya


"Tolong ! Selamatkan anak dan istri... " Dewa terdiam. Kemudian dilanjutkan "Selamatkan Naraya... Dan juga anak Saya"


Untuk sesaat, para perawat terdiam kemudian dengan sigap mendorong brangkar "Mari Bu, Kita pindah disini"


Dewa langsung mengangkat tubuh Naraya


Naraya yang kesakitan, Iapun tak peduli lagi tentang kebencian


Naraya sudah direbahkan dibrangkar dengan cungiran yang menyayat hati Dewa


Dewa meneteskan air mata


Setelah beberapa menit pemeriksaan, ternyata ketuban dan darah sudah keluar dari jalan lahir bayi


Seorang dokter kandungan muncul dan sedikit kebingungan

__ADS_1


Dewa langsung beranjak "Bagaimana keadaan Naraya dok?"


Dokter itu menatap Dewa


"Katakan dok !! Bagaimana keadaan Naraya!!"


"Begini Pak. Ibu Naraya mengalami pendarahan. Dan ketubannya sudah pecah"


"Lalu??"


"Ibu Naraya harus segera di tindak lanjuti. Yaitu operasi caesar"


"Lakukan dok, lakukan. Jangan menunggu lama. Dia pasti kesakitan" Ucap Dewa sambil berkaca-kaca


Dengan sidikit ragu "Baiklah. Bapak harus menandatangani surat pernyataan ini. Bahwa Anda setuju dan bertanggung jawab" Ucap sang dokter sambil menarik kertas yang dipegang oleh asistennya


"Sini. Yang mana yang harus Saya tanda tangani"


"Sini, Pak"


Dewa langsung menandatangani surat pernyataan tersebut


"Kalau boleh tahu, Bapak siapa ya?" Tanya sang dokter pada akhirnya


Dewa terdiam, bingung juga untuk menjawabnya


"Maksud Saya, dibawah tanda tangan ini harus diisi oleh seseorang yang bertanggung jawab atas hubungan apa dengan pasien. Anda kakaknya?"


"Ya, Saya Masnya" Dewa akhirnya mendapat ide. Tidak mungkin menjawab suami. Karena Dia bukan suaminya lagi


"Baiklah. Pasien akan segera Kami tangani"


Dewa mengangguk kemudian merapalkan doanya untuk keselamatan Naraya dan juga Anaknya


-


Dewa menatap lekat sambil menerima bayi tampan itu ketangannya "Juna, Arjuna" Dewa berkaca-kaca kemudian menciumnya dengan sayang "Putraku, Arjuna"


Selesai diadzani, bayi itupun kembali diminta oleh dokter lagi


Dewa berdiri sambil menunggu Naraya yang belum keluar dari ruang operasi


Tak berapa lama, Brangkar yang membawa Naraya terlihat keluar dari ruang itu


Dewa segera menyambutnya


Ia tersenyum menatap Naraya. Dewa mengambil tangan Naraya "Selamat ya, Putra Kita laki-laki. Juna. Namanya Juna" Dewa mencium punggung tangan Naraya


Naraya langsung menarik tangan Dewa, bahkan menyambut senyuman Dewa saja tidak


Kalau sudah begini, siapa yang mau di salahkan


"Arjuna Gardapati Dewana. Pengawal tampan yang tidak takut mati"


"Wah, bagus sekali namanya" Bu Fitri menggendongnya "Oh, cucu Oma ya. Tampannya... Persis seperti Kamu, waktu Kamu masih bayi, Dewa"


Dewa tersenyum sambil menoel pipi Putranya yang begitu tampan "Juna, mau ikut Papa"


Bu Fitripun memberikan Juna pada Dewa "Hati-hati Dewa"


"Ini juga hati-hati, Ma"


"Kamu kaku gitu. Awas kecengklak"


"Ya kan baru pegang, Ma.. Nerveus-nerveus" Dewa menggendongnya kemudian beranjak mendekati Naraya "Lihatlah. Bayi Kita tampan, bukan? Mau ditaruh sini?" Tanya Dewa menunjuk samping kasur Naraya yang kosong

__ADS_1


"Iya, Aku ingin melihatnya"


Setelah Dewa meletakkan bayi itu disamping Ibunya


"Sebaiknya, Kau keluar" Usir Naraya


"Kenapa?"


Bu Fitri maju. Dan segera meraih lengan Dewa "Dewa, Dewa. Kita keluar dulu. Biarkan Naraya bersama putranya. Kita sebaiknya keluar"


Bu Fitri menggandengnya dan menariknya keluar "Kita cari Ghani. Dari tadi, Kita nggak melihat Ghani kan? Nggak mungkin Ghani nggak tau istrinya melahirkan"


"Tapi Naraya melahirkan anakku, Ma"


"Faham. yang sekarang jadi suaminya Nara siapa?"


"Ghani"


"Itu tau. Ya sudah, Kita cari Ghani"


Dewa menolak "Ma, Naraya melahirkan anakku. Aku ingin Naraya kembali kepadaku"


"Kamu yakin?"


Dewa meragu


"Mama melihat Kamu ragu, Dewa"


Tangan Dewa terlepas dari ibunya. Dan Dia terduduk lemah dikursi tunggu yang berjajar disepanjang lorong rumah sakit


"Tapi ada Juna, Ma. Juna anakku"


"Iya. Kita harus bicara sama Ghani. Ghani mau melepaskan Naraya atau tidak"


"Naraya bukan piala bergilir Ma. Dewa rasa, Ghani tidak mau melepasnya"


"Kita belum usaha, Dewa. Ayo, Kita usaha untuk meraih keduanya"


Lagi-lagi Dewa meragu


"Dewa !! Mama mohon"


Akhirnya Dewa dan Bu Fitri mendatangi ruangan sang direktur


Setelah tiba disana, Dewa, Ibu Fitri dan juga Ghani saling bertatapan


Mata mereka menandakan ada persaingan


"Apa yang Kamu mau dari Naraya?" Ucap Ghani lugas "Putranya? Atau Narayanya?"


"Nak Ghani. Disini yang harus Kalian salahkan itu Mama" Bu Fitri segera menengahi


"Ma, Mama adalah Mamaku, bukan Mama nya"


"Tapi Mama sudah menganggap Kalian adalah anak Mama. Nak Ghani, apa Nak Ghani keberatan jika Mama menganggap mu sebagai anak?"


Ghani mengangguk tapi matanya memberi sorotan tajam pada Dewa


"Nah, Ghani saja mau anggap Mama sebagai Mama nya. Kamu yang asli anak Mama, malah ingin melempar Mama"


"Ma!! Kata siapa Dewa ingin melempar Mama. Kapan Dewa ngomong begitu, Ma?"


"Barusan"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2