
"Maksudnya menyesal??" Naraya mulai terpancing dengan kata-kata Dewa
"Aku menduda sudah tidak ukuran waktu. Menduda yang tidak disengaja. Sebagai pria normal, Aku butuh kawan. Kawan berkeluh kesah, kawan tidur dan sebagainya"
"Mas"
"Sudahlah, Aku capek menunggumu"
-
Beberapa hari kemudian, Junapun berulang tahun yang ke empat tahun
Hari itu juga, Dewa mendapatkan kontrak dari perusahaan minuman teh yang sedang hit dipasaran
Setelah Dewa mendapatkan surat kontrak itu, Naraya menelponnya
"Maaf Nara, Aku sibuk" Dewa langsung mematikan ponselnya. Kesal?? Iya, Dewa sangat kesal
Nara langsung bersedih "Begitu banget perjuangan Kamu Mas"
Naraya kembali melamun "Padahal Aku ingin mengadakan pesta untuk Juna dirumah. Eh, jawabannya menyakitkan"
Malamnya, Naraya tidak bisa tidur. Memikirkan ancaman Dewa "Apa Mas Dewa benar-benar ingin meninggalkanku?" Rasanya tidak terima dalam hati Naraya
Kalah menang, Naraya mengambil ponselnya kemudian melakukan video call. Bodoh amat jika Dewa sedang tidur. Yang penting, keraguannya terjawab sekarang
Dewa barusaja mandi dimalam hari. Karena malam ini sehabis dari kota, Ia harus membayar gajinya pada seluruh pekerjanya. Karena sudah terbiasa. Jika dimalam jumat, Dewa pasti memberikan pocokan atau gajihan pada seluruh pekerjanya
Dewa masih telanjang dada. Tetapi tak disangka, wanita yang ia tunggu jawabannya selama ini, sekarang muncul menelepon dirinya
Dewa mengambil ponselnya yang berada diatas tempat tidur
Dewa membaca siapa gerangan yang meneleponnya "Nara?? Ada apa Nara meneleponku"
Dewa begitu cemas. Takut terjadi sesuatu pada Nara
Dewa mengangkatnya "Iya Nara"
Naraya langsung menutup matanya dengan salah satu telapak tangannya "Mas Dewa.. Kenapa Mas Dewa tidak memakai baju"
Dewa mengabsen dirinya. Dewa tersenyum "Kenapa? Kau tidak kangen dengan tubuhku. Kenapa Kau malah menutupi penglihatanmu"
"Mas, Kita kan belum muhrim"
Dewa mencernah ucapan Naraya "Maksudnya belum muhrim?"
"Ah nggak Mas. bajunya dipakai dong Mas. Kasihan mataku"
Dewa langsung tertawa. Kemudian merebahkan tubuhnya yang masih bertelanjang dada
Naraya membuka matanya "Mas Dewa... Ih Mas Dewa kok masih telanjang sih"
"Kenapa emang, Kamu kan sudah tak mau menerimaku. Ya sudah biarin telanjang. Siapa tau gadis diluaran sana mau menyelimuti"
"Mas!! Bicaranya jangan ngarang"
__ADS_1
"Kenapa? Nggak pa-apa dong, jika Aku mulai tebar pesona sama gadis-gadis muda yang mau menyelimutiku. Daripada menunggu orang yang tidak jelas"
"Mas! Mas ngomong Aku?"
"Sama nyamuk"
"Ih Mas" Raut wajah Naraya berubah sendu
Dewa pura-pura serius "Kau meneleponku mau apa?"
"Aku hanya ingin bicara serius Mas"
"Tentang apa?"
"Besok Aku ingin mengadakan ulang tahun Juna dirumahku. Mas datang ya sama Juna"
Dewa duduk sambil menyugar rambutnya
"Mas Dewa.. Ih, malah pamer gitu"
"Yang pamer siapa?"
"Mas Dewa. Pakai bajunya. Kalau nggak, pakai sarung kek"
Dewa kembali tertawa
"Aku butuhnya wanita. Bukan sarung"
"Ih, Mas" Wajah Naraya kembali cemberut
"Maaaaaaaaasssss"
Klik
Sekarang Naraya yang mematikan sepihak. Dan sepanjang malam, Dia tidak bisa tidur
Sementara Dewa masih cekikikan "Orang pakai ****** ***** kok dikira telanjang. Heran sama janda" Dewa kembali terkekeh
-
Keesokan harinya dihari minggu
Dewa sudah siap-siap dan akan datang dengan membawa Juna ke kediaman Naraya untuk merayakan ulang tahun Juna
Di saat itu, tiba-tiba ada tamu-tamu penting yang datang ke kediaman Dewa
"Wah, Mas Dewa sama siapa ini?" Ucap tamu tersebut sambil memegang dagu Juna
"Juna" Jawab Juna cepat
"Mau pada kemana?"
"Kami mau keluar Ko" Jawab Dewa "Kok Koko sendiri yang datang. Biasanya sopirnya"
"Iya, Aku datang kesini sengaja ngajak Adik kemari. Penasaran katanya" Jelas Kun Tyong, pemilik pabrik teh
__ADS_1
Juna sudah terlihat tidak sabar, dan Kun Tyong melihat itu
"Wah" Koh Kun langsung kecewa "Gimana nih Han, Bos nya ingin keluar" Ucapnya pada adiknya
"Ya udah deh, ngomong bentar aja" Jawab tamu lainnya yang Dewa tidak kenal
"Begini Mas Dewa. Kedatangan Kami kemari membawa adikku, untuk bekerja sama dengan Mas Dewa. Sih Handoko" Koh Kun menepuk bahunya Handoko "Dia ini adikku, yang memiliki pabrik minyak wangi di kota Jakarta. Kebetulan, Dia pulang kampung ke Pekalongan. Dan curhat deh masalah bahan baku. Kudatangi saja Mas Dewa. Karena sepertinya, dia cocok banget jika kerja sama sama Mas Dewa"
Dan saat itu Kun Tyong juga menjelaskan bahwa kedatangan mereka kemari, disebabkan campur tangan istrinya yaitu Nara.
"Nara, kok bisa. Kapan kalian bertemu dengan Nara?" Ucap Dewa emosi.
"Sabar Mas Dewa. Kami bertemu Mbak Nara tak sengaja. Istri Kami mengajak Kami jalan-jalan. Tiba di klinik kecantikan di tengah perkotaan, para istri Kami merengek ingin masuk. Ya sudah, Kami turuti kemauan istri Kami. Eh, nggak tahunya. Pemilik klinik itu Mbak Naraya. Istri Mas Dewa. Ya sudah kami ngobrol-ngobrol dan pada akhirnya, obrolan kami sampai ke bisnis mas Dewa"
Dewa mengernyitkan dahi "Naraya bilang seperti itu?"
"Yaiyalah Mas. Nggak masalah sih menurutku. Suami istri itu saling membantu"
'Membantu jidatmu. Suami istri darimana. Penasaran banget Aku ingin nyamperin Nara. Ucapan siapa yang benar antara si China ini dan Nara'
"Mas, seumpama Aku ingin order bunga gimana nih. Nggak banyak kok. Paling se kwintal aja setiap hari. Nggak seperti Acong Kun" Handoko menepuk bahu Kun tyong Abangnya "Kalau Acong Kun pabrik teh, yang butuh banyak. Beda sama Aku. Butuhnya dikit aja"
Dewa menatap keduanya Kemudian mengangguk "Ambil sendiri ya, kayak Koh Kun"
"Waduh, paketin aja Mas. Kan ke Jakarta bukan ke Pekalongan"
"Lah terus, ini kok disini" Tanya Dewa penasaran
"Orang tua Kami sakit, makanya Aku pulang. Dan kebetulan, Acong Kun cerita dapat dari mana suplier bunga melati yang bagus. Ya udah Aku diajak kemari" Ucap Handoko lugas
Dewa manggut-manggut "Oh, terus mulai kapan dikirim?" Tanya Dewa
"Besok deh"
Setelah teken kontrak, kedua tamunya pulang dan Dewa segera pergi menemui Naraya
-
Dewa beserta Juna datang ke kediaman Naraya
Naraya langsung menyambutnya. Ia berjongkok agar tingginya sama dengan Putranya "Kok sore banget. Tamunya sudah menunggu Juna lama"
"Ada tamu" Jawab Dewa datar
Naraya mendongak menatap mantan suaminya yang tinggi menjulang dihadapannya "Minggu kok ada tamu" Naraya berdiri
"Memangnya ada larangan?"
"Ya enggak Mas. Ayo masuk" Naraya meraih tangan Juna. Kemudian menggandengnya masuk kerumah "Wah, tamu Juna banyak kan... Ayo tiup lilinnya"
Setelah acara meniup lilin, Naraya dan Dewa kompak mencium kedua pipi Putranya
Begitu dekat wajah mereka berdua. Ada rasa kangen yang ingin mereka ungkapkan. Tapi malu karena banyak tamu yang datang
Kikuk, akhirnya mereka kikuk dibuatnya
__ADS_1
BERSAMBUNG..