Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Bertemu


__ADS_3

Nara sudah diantar oleh Suaib, salah satu kacung Pak Raden sampai didepan kampus yang ada dikota Pekalongan


"Makasih, Lek" Ucap Nara sambil turun dari mobilnya


Suaib mengangguk ramah "Sama-sama Nduk"


12 tahun yang lalu


Rumah Pak Ali dan Bu Winda kedatangan tamu yaitu keluarga Pak Yudha dan Bu Fitri


Sebelumnya, mereka sudah bersepakat jika kedatangannya ingin menikahkan Putra mereka, setelah dulu pernah melamar beberapa tahun silam untuk Putranya


"Sah"


"Sah"


"Sah"


Krisna Dewa Yudhayana telah sah menjadi suami dari gadis kecil bernama Naraya Maheswari


Samar-samar Nara mendengar, bahwa dirinya sudah sah dinikahi oleh seorang pemuda kota yang Nara ingat bernama Dewa


Pada saat itu, Dewa telah menikahinya saat dirinya duduk dibangku kelas 4 SD


Masih sangat dini untuk urusan berumah tangga. Nara juga belum faham pada saat itu.


Yang Nara ingat, setelah dirinya dinikahi, sang Suami memakaikan kalung pada dirinya yang berliontinkan emas berbentuk love


Sampai saat ini, Nara selalu memakainya. Tetapi dia tidak pernah membuka liontin berbentuk love tersebut karena dirinya tidak fahan benda itu bisa dibuka ataupun tidak


Setelah acara pernikahan usai, Dewa dan kedua orang tua Dewa kembali untuk pulang ke kota. Kesepakatan ini akan berlanjut, jika kedua pengantin ini telah dewasa


Beberapa bulan setelah pernikahan. Orang tua Nara didatangi oleh ajudan Pak Raden untuk menagih hutang "Mana uang yang pernah Kalian janjikan. Ayo bayar"


Orang tua Nara berhutang pada Pak Raden untuk membeli pupuk dan obat semprot untuk bunga melatinya


"Maaf Tuan, Kami belum memiliki uang"


"Kenapa hanya janji-janji saja. Sudah berapa kali Kami kesini. Tapi sekalipun, Kamu belum mau membayarnya. Bulan lalu, Kamu bilang akan bayar bulan ini. Kemarin Kami datang, Kamu bilang minggu ini karena Suami Kamu bayaran. Mana buktinya!!"


"Maaf Tuan, bayaran Suami Saya habis untuk membayar biaya perawatan Suami"


"Nggak peduli !! Pokoknya, Tuan Kami mau uangnya kembali bersama bunganya!!"


"Maaf Tuan, Saya belum memiliki uang kembali"


"Hei, Kalian kan memiliki ladang. Pasti ada hasilnya. Mana hasilnya!!" Masih Suaib yang melotot-lotot menagihnya


"Maaf Tuan, ladang Kami tidak menghasilkan. Pupuk yang Kami tabur, lenyap terkena roob. Tanah Kami terendam banjir"


"Alesan!!"


"Soaibbbbbb!!!" Teriak Pak Raden dari balik kaca mobil


Suaib menoleh dan berjalan mendekat "Iya Bos"


"Ambil bocah itu. Seret Dia masuk" Tunjuk Pak Raden pada bocah kecil berambut kecoklatan berkepang dua


Suaib langsung berlari mengacuhkan Bu Winda, kemudian mengambil paksa Nara yang sedang bermain tanah dihalaman


Winda langsung berlari mengejar Suaib "Mau Kalian apakan Naraku"


Dengan sekejab, Nara sudah masuk dan duduk disamping Pak Raden sambil menangis takut

__ADS_1


Tangan Pak Raden langsung terangkat "Anakmu menjadi jaminan. Jika Kamu telah memiliki uang, maka anakmu akan Aku kembalikan. Ingat!! Uang!!"


"Ibuuuuu... " Nara berontak ingin Ibunya


"Nara" Winda dan Nara sudah berderai "Tuan, lepaskan Anakku !!!" Sambungnya saat tangan mereka saling berbelit


"Lepaskan tangan Kalian!!" Pak Raden langsung menutup kaca mobil agar mereka segera terurai "Soaibb!! Jalan!!"


-


Hari demi hari, Nara telah tinggal di kampung lain di kediaman sang rentenir


Yah, Pak Raden adalah seorang rentenir pada saat itu


Perlakuan Pak Raden pada Naraya, sangat baik. Meskipun wajah Pak Raden sangar, sedikitpun tidak pernah menampilkan wajah garang itu didepan Naraya


Justru yang Nara rasakan, Pak Raden menampakkan sosok seperti Pak Ali yang lembut, yang sekarang sedang dirawat dirumah sakit karena penyakit jantung


"Nara..., Makan"


"Nggak mau !!"


"Besok Bapak akan daftarkan Nara untuk sekolah. Nara mau nggak, sekolah lagi"


Nara tidak menjawab. Melainkan mulai memakan roti yang sudah dibukakan oleh Suaib. Nara mulai mengangkat wajah mungilnya lalu tersenyum "Bapak.." Panggilnya


Pak Raden menoleh ke jok belakang sambil mengangguk kecil


Hari ini, Pak Raden sengaja membawa Nara untuk membelikan sesuatu untuk Nara


Pak Raden sudah berjanji. Jika seminggu Nara tidak dijemput, dengan senang hati Pak Raden akan mengasuhnya


Dan benar, seminggu waktu kesepakan habis, tetapi kedua orang tua Nara belum menampakkan batang hidungnya untuk menjemput Putrinya. Kemarin Pak Raden telah menerima kabar, bahwa Pak Ali Dawan telah meninggal dunia


Nara tersenyum, Pak Radenpun menyambutnya "Iya. Panggil Aku Bapak"


Nara mengangguk


Tangan Pak Raden menjulur kebelakang. Kemudian mengusap kepala Nara, untuk pertama kalinya "Hari ini, Bapak ingin membelikan baju untuk Nara. Nara mau?"


"Mau" Jawabnya dengan sumringah "Tapi Nara ingin buku, Pak. Katanya Nara mau sekolah besok" Ucap Nara jujur


"Oh iya.. Bapak hampir lupa"


Selama dikediaman Pak Raden, Nara selalu memakai baju milik almarhumah Putri Pak Raden yang telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena kecelakan bersama Istri Pak Raden yang telah menjemputnya sepulang sekolah. Kebetulan baju Putrinya itu cocok ditubuh Nara. Dari situlah, Pak Raden membulatkan tekad, untuk mengangkat Nara menjadi anaknya. Ditambah, Ayahnya Nara, kemarin telah meninggalkan dunia. Fix, Pak Raden akan menjaga Nara sampai titik penghabisan


-


Siang hari waktu sekarang


"Pak !! Nara sudah selesai. Bapak dimana?"


"Wah, Bapak ditoko. Bapak sibuk Nduk. Kamu bisa pulang langsung ketoko ?? Bapak ada ditoko kok, sekarang"


"Em terdengar riuh. Ramai ya Pak, tokonya?"


"Iya Nduk"


"Kalau gitu, Nara pulang kerumah aja deh Pak. Ntar turun dikecamatan saja. Ke utaranya biar naik ojek"


"Oh gitu. Bolehlah terserah Genduk"


"Sudah ya Pak, Nara pulang"

__ADS_1


"Iya Nduk, hati-hati"


Setelah terputus sambungan telepon, Nara berjalan menuju gerbang


"Nara !!!" Panggil Natasha dari balik mobilnya "Kok tumben Kamu jalan kaki. Mana motormu?"


"Bocor Nas"


"Lah, terus dijemput?"


"Nggak Nas. Bapak nggak bisa"


"Oh.. Kebetulan Aku mau ke Pemalang. Ikut Yuk, kan melewati daerahmu"


"Oh.." Nara melongok jok samping Natasha yang memang kosong


"Ayok" Ajak Natasha lagi


"Nggak ngrepotin?"


"Nggaklah. Yuk ah, naik"


-


"Jalan depan turun ya"


"Nggak suruh mampir Aku?" Protes Natasha


"Wah, memangnya mau ? Katanya buru-buru"


"Eh iya ding. Lain waktu aja deh"


Naraya mengangguk "Makasih ya" Ucapnya sambil turun dari mobil


"Sama-sama. Eh, bisa nyebrang nggak?" Gurau Natasha


"Bisalah"


"Oke, semoga arah pulang ada yang ngasih tumpangan, ya?"


"Ish.. Iyalah tukang ojek"


"Haha.. Dadda Ra.." Tangan Natasha melambai


Naraya menyambutnya "Dadda..."


-


Nara sudah menyebrang dan mulai mengayunkan kakinya bermaksud mendekati pos ojek


Tiba-tiba


"Mbak. Mau bonceng?" Tawar si Pemuda itu dengan membuka helmnya


"Duh, gantengnya" Gumam Nara dalam hatinya


"Hallo Mbak" Sapanya lagi sambil menggoyang telapak tangan kekanan dan kekiri


"Eh, iya Mas maaf"


"Kok bengong. Bonceng nggak?" Tawar si pemuda lagi


"Eng.. Memangnya Mas jalan kemana?"

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2