
Ghani sudah berlalu
Sedetik itu, asisten yang akan menjemput Ghani baru sampai dilokasi
Dewa yang mengetahui ada mobil berhenti dan sepertinya kebingungan, Dewapun mengurungkan niatnya untuk masuk kepekarangan rumah Palawi
Pria yang mengendarai mobil itu turun dan terlihat mencari seseorang sambil memegang HP nya
Dewa mendekati "Anda mencari siapa, Mas"
"Saya mencari bos Saya. Katanya mobil yang Bos tumpangi mengalami kendala" Jelasnya persis seperti Ghani tadi
Setelah saling mengobrol, ternyata benar. Pemuda ini anak buahnya Ghani yang mencari bosnya
Merekapun berkenalan
"Wah, sudah pulang barusan" Jawab Dewa pada akhirnya
"Waduh. Ya udah deh Mas Dewa. Kalau begitu Saya permisi"
"Silakan"
-
Pagi harinya adalah hari rabu. Hari pasaran hewan
Dewa dan Palawi kembali membawa hewan-hewannya kepasar untuk dijual
Domba milik Palawi sehat-sehat dan gemuk. hingga akhirnya, domba miliknya banyak yang terjual
"Tinggal dua ekor Mas. Kita ke counter dulu yuk"
"Ngapain?"
"Beli HP. Pelanggan suka minta nomor HP Mas. Aku mana punya. Padahal itu penting"
Merekapun akhirnya beli HP baru
-
Setelah dirumah, Dewa mengutak-atik HP yang barusan dibeli oleh Palawi
Rumah yang ditempati Palawi, dari luar seperti biasa saja. Tetapi didalamnya, semuanya tersedia seperti rumah-rumah pada umumnya
Sekarang tidur mereka berpisah
Dewa tidur dikamar Ayah Palawi, dan Palawi tidur dikamarnya sendiri
Dulu waktu pertama kali Dewa tidur disini, mereka tidur diruang tamu. Tetapi setelah Dewa bisa berjalan, tidur mereka akhirnya berpisah
-
Sementara ditempat lain
Ghani berhasil menikahi Naraya dihari ulang tahun Naraya yang ke 23 tahun
Pagi ini, Naraya menggunakan kebaya berwarna putih keabu-abuan
Bu Fitri menatap Naraya yang terlihat berisi. Padahal makannya jarang "Nak, Mama lihat, Kamu agak gemukan"
"Masa sih Ma. Mungkin karena Nara tidak haid kali Ma"
"Maksudnya?? Kamu tidak haid itu??" Bu Fitri terlihat bingung
__ADS_1
"Ya pokoknya lama Ma. Nara juga lupa. Kan Nara kepikiran terus. Tidur nggak nyenyak makan tak enak. Semuanya berat bagi Nara, Ma"
"Maksud Mama. Ya sudahlah, Mama jadi bingung" Bu Fitri bingung. Tapi demi pesta menantunya Iapun lupa tidak menanyakan secara detail kondisi Naraya
Narayapun sama. Sejak masih remaja, siklus haid Naraya genjlang-genjlong. Kadang 3 bulan baru haid. Dan sekarang, ciri-ciri hamilpun tidak dirasa oleh Naraya, karena Naraya tidak merasakan apapun yang memicu kearah ibu hamil
Bathin Bu Fitri ingin sekali menanyakan hal yang serius pada menantunya. Tapi Ia urungkan karena Dialah yang setuju untuk menikahkan Naraya dengan Ghani
Malam nanti, Ghani telah mengundang seluruh para karyawannya yang bekerja dirumah sakit miliknya untuk hadir dipesta pernikahannya dengan Naraya
Tiba-tiba teleponnya berbunyi dari sebuah nomor baru yang memanggilnya
"Iya hallo"
"Hallo Ghani, ini Dewa"
"Hai Dewa. Apa kabar?"
"Baik Ghani. Kamu sendiri?" Jawab Dewa sekaligus bertanya
"Aku baik Dewa. Wah kebetulan sekali Dewa, hari ini Aku ada acara"
"Acara apa?"
"Tadi pagi Kami baru saja menikah. Dan malam ini, Kami akan mengadakan pesta resepsi di gedung serba guna yang ada di kota ini. Kebetulan juga, istriku berulang tahun. Apakah Kamu bisa datang, Dewa?"
"Sekarang??"
"Iya nanti jam 7 malam. Aku tunggu bisa?"
Dewapun menyetujui
-
Dewa yang memang sudah diluar bersama Palawi, Akhirnya bersedia untuk datang
"Oiya, kapan?"
"Tadi pagi. Dia bilang, istrinya juga ulang tahun dihari ini"
Palawi manggut-manggut
"Kita beli kado aja sekalian, Mas. Mumpung Kita disini"
"Untuk istrinya juga, atau bagaimana menurutmu ?" Tanya Dewa bingung
"Istrinya sukanya apa, Mas. Kan kita nggak tau"
"Iya juga ya" Sedetik itu, Dewa teringat pada kesukaan Naraya. Tiba-tiba "Naraya hari kan ulang tahun juga"
"Apa Mas"
"Ah tidak. Kita harus segera mencari kado yuk"
Selama jadi suaminya, Dewa belum pernah memberikan hadiah ulang tahun kepada Naraya. Karena kebetulan menikah dengan Naraya saja baru sekitar 3 sampai 4 bulanan ditambah berpisah selama 3 bulanan
"Tas. Kita belikan tas saja. Biasanya perempuan itu suka tas, kan? Sepertinya cocok untuk wanita yang berbintang taurus"
Iya, kebetulan orang yang ulang tahun dihari ini pas dengan orang yang berzodiak taurus
"Ah, Mas Dewa sok tau"
"Eh beneran. Biasanya wanita yang berbintang taurus, menyukai potongan chic klasik yang tidak pernah ketinggalan zaman, seperti Tas lingkaran nih" Dewa memegang tas yang begitu cantik. Apalagi untuk kado pengantin. Cocoklah
__ADS_1
Dewa memilihkan tas tangan yang sederhana namun sangat bergaya.
"Terlihat ideal dan terlihat fashionable kan?" Dewa mengangkat tas tersebut dengan senyuman
"Kalau Aku Mas. Pilihin" Sekarang Palawi sering berbelanja untuk menunjang penampilan setelah mengenal dengan Dewa
"Kalau Kamu, cocoknya pakai tas rajut ini. Bisa tempat uang, dan juga HP" Dewa mengambil tas tersebut, kemudian menaruhnya dibahu Palawi
"Aku suka. Ambil ya, Mas?"
"Itu uang milikmu semuanya, Palawi"
-
Malam resepsipun tiba
Dewa dan Palawi masuk ke gedung dengan senyum yang merekah
Tetapi, begitu kaki melangkah mata menatap siapa yang menjadi pengantin perempuannya
Senyum Dewa langsung memudar
Ternyata, sosok wanita yang selama ini Ia rindukan adalah wanita yang sama yang dinikahi oleh kawannya
Dewa langsung mematung dan Narayapun sama
'Hatiku sedang dihuni dengan rasa sakitmu. Telah lupa sesuatu, dan sedang teringat sesuatu. Apa yang telah takdirku lakukan. Dimana dia telah membuat kami bertemu
Bunga-bunga kesetiaan kita tak bisa mekar. Setelah bertemu, Aku bahkan tak menjumpaimu. Bagaimana aku bisa tanggung rasa sakit hatiku. Bagaimana aku bisa tinggal jauh darimu. Dukamu masih bersamaku meski kau telah pergi.
Kesetiaanku, apa harus aku berikan. Hatiku bilang tuk memberimu doa. Keinginan dan impianku semua telah padam. Aku hampir tidak bisa hidup di sini"
"Mas Dewa, Mas Dewaaaaaa...." Naraya menangis dan luruh dengan tangan yang ingin meraih
"Aku telah tersesat dalam racunmu. Aku sudah ikhlaskan dirimu untuk orang lain. Sekali lagi. Dunia cintaku tetap hancur. Hancur"
Dewa langsung berbalik dan menarik lengan Palawi "Kita pulang"
"Dewaaaaa!!"
Dewa berhenti saat tahu bahwa ibunya yang memanggilnya "Ini Mamamu, Nak. Mama yang bersalah. Mama yang menyatukan mereka. Jika kau ingin membencinya. Bencilah Mama"
"Aku telah mati. Tak usah Kalian menyesali"
"Dewaaaa.. Mama merindukanmu. Mama ingin memelukmu" Kemudian Bu Fitri berlari dan berhambur memeluk punggung Dewa
Bu Fitri menangis
Menyesal apa yang menjadi keputusannya
"Maafkan Mama, Dewa"
Semua orang menyaksikan dengan bingung
Ghani juga masih mencerna tentang kejadian ini. Menatap Nara menangis, Dewa juga menangis, Bu Fitri apalagi
Semua keluarga ini termasuk kedua orangtua Naraya juga ikut menangis
Tiba-tiba
Nara jatuh pingsan
"Naraaaaaa" Bu Winda dan Pak Raden berlari berhamburan
__ADS_1
"Naraaaaaa...."
BERSAMBUNG......