
"Oh, rupanya Naraya adalah menantu Ibu?Bukan anak kandung Ibu?" Tanya Ghani pada Bu Fitri
Bu Fitri mengangguk "Iya, Nak. Dia menantu Ibu" Mata Bu Fitri berkaca-kaca, tetapi kembali tersenyum "Menantu Ibu yang baik"
"Sungguh senang ya, Bu. Ibu memiliki menantu yang baik. Selain baik, menantu Ibu juga cantik. Cantik sekali" Sanjungnya lugas
"Hah??" Bu Fitri melongo bertatapan dengan Bi Narti
Ghani tersenyum malu. Akhirnya dengan tidak sengaja, siang ini Ghani berhasil mengungkapkan sukanya kepada Naraya, meskipun ungkapan tersebut, Ia ucapkan kepada mertua Naraya
"Tapi Naraya janda, Nak" Ucap Bu Fitri memberi tahu sebenarnya
"Saya sudah tahu, Bu"
"Tahu?? Apa, Naraya pernah cerita Padamu"
"Tidak" Ghani menggeleng "Naraya tidak pernah memberikan Saya kesempatan untuk bicara yang panjang seperti ini padaku"
"Oiya. Lalu, Nak Ghani tahu darimana?"
"Dari Ibu. Ibu pernah bilang, bahwa Naraya adalah menantu Ibu yang telah di tinggal Suaminya meninggal beberapa bulan lalu"
Bu Fitri mengangguk "Oh"
-
Pagi-pagi sekali Naraya sudah datang kerumah sakit kembali
Naraya berjalan begitu cepat menuju ruangan sang mertua
Begitu sampai tikungan kearah kamar Bu Fitri, Naraya melihat kertas yang tertempel pada kaca
Naraya berhenti jalannya. Kemudian langkah nya mundur "lowongan pekerjaan??" Naraya membacanya, lalu mencabutnya dari kaca
Begitu kertas itu ditangan, Naraya berlari menuju kamar ibunya "Mama!!" Teriaknya sambil membuka pintu
Begitu pintu dibuka, senyuman yang mengembang, kini pudar saat tahu ada seseorang yang ada disana "Oh, kirain Mama sendirian. Ternyata ada orang. Kalau begitu, Nara keluar lagi ya, Ma" Lalu Nara langsung berbelok
"Eh, eh eh Nara. Kok langsung balik gitu. Ada tamu, masa tidak disapa?" Tegur Bu Fitri
Nara berbalik lagi, tetapi hanya diam
Ghani berdiri, Dia tersenyum kemudian mengambil kertas yang dibawa oleh Nara. Ghani pura-pura membacanya "Oh, disini ada lowongan pekerjaan rupanya"
Nara menatap Ghani sesaat "Iya. Aku menemukannya tertempel dikaca. Aku bermaksud meminta izin pada Mama"
"Apa Nara?" Saut Bu Fitri sedikit dari kejauhan
Ghani sedikit menyingkir agar Naraya terlihat oleh ibunya
Nara berjalan mendekati "Ma, ini ada lowongan pekerjaan yang cocok untuk Nara. Disini, dirumah sakit ini"
Bu Fitri tersenyum "Benarkah, Sayang?"
Nara mengangguk "Iya, Ma. Ini" Nara memberikan kertas lowongan itu pada mertuanya
Bu Fitri tersenyum lagi "Kalau Kau sanggup untuk bekerja, bekerjalah. Tetapi kalau Kau belum sanggup, Mama juga masih sanggup menghidupimu, Sayang"
"Ma, Nara rindu dengan pekerjaan ini. Kesempatan ini tidak akan pernah datang kembali untuk kedua kalinya. Mama izinkan Nara untuk melamarnya ya, Ma?"
Bu Fitri mengangguk "Lakukan Nak"
__ADS_1
Dari jauh, Ghani menyaksikan interaksi itu. Iapun ikut berbunga saat ibu mertuanya calon kekasihnya itu mengizinkan
"Baiklah Ma, Nara pulang dulu untuk menyiapkan berkas lamaran pekerjaan"
Bu Fitri mengangguk "Iya, Sayang"
Nara langsung berlari menjauhi Bu Fitri
"Jangan lupa sarapan!!" Teriak Bu Fitri sambil menggeleng-geleng
Naraya menoleh, lalu tersenyum "Iya, Ma" Kemudian, Nara kembali berlari
Ghani segera berpamitan dan ikut berlari mengejar Nara "Tunggu!! "
Nara berhenti "Iya"
Mereka berdiri sejajar
"Aku akan antar Kau kerumahmu?" Tawarnya
"Maaf. Tidak perlu, Aku berani kok pulang sendiri" Tolak Nara
"Tapi waktunya kan terbatas. Apalagi lowongan tersebut peminatnya banyak"
Naraya menyipitkan netranya "Kau sangat faham dengan lowongan ini. Seperti, Anda saja yang menempelkan kertas lowongan ini" Tebaknya
Degg
"Ah, tidak. Tidak mungkin Saya"
Naraya menatap Ghani sekilas "Ya sudah, Aku pamit" Nara kembali berlari dan sebentar saja Nara sudah tidak terlihat
"Kemana gadis itu. Cepat sekali menghilangnya" Gumamnya sambil menggeleng
-
Ghani sudah tidak sabar menunggu gadis itu datang
Lowongan yang Ia buat, sengaja dibuka, dan satu orang saja yang Ia butuhkan. Itupun khusus untuk gadis pujaannya
Tiba-tiba senyum Ghani kembali terbit "Lakukan interviu. Jangan lupa, gadis itu yang Saya mau" Titah Ghani pada pegawai HRD
"Baiklah, Pak"
"Lakukan"
Tes demi tes interviu sudah dilakukan. Sekarang pegawai Ghani berpura-pura memilih calon perawat yang tepat untuk dijadikan partner kerjanya
"Baiklah. Sesuai hasil tes, dan pengalaman kerja, kalian. Kami memutuskan, bahwa hanya ada satu orang yang bisa masuk dalam kriteria ini. Jadi, jika kali ini Kalian tidak diterima kerja disini saat ini, jangan berkecil hati. Siapa tahu suatu saat nanti, akan ada kesempatan lain lagi. Kalian mengerti?"
"Mengerti !!"
"Baik, Saya akan panggil nama Kalian satu-persatu untuk maju kedepan"
Para pelamar mulai merapalkan doanya. Berharap mereka tidak dipanggil yang pertama. Karena orang yang dipanggil untuk yang pertama, artinya Ialah yang ditolak
"Kajal !"
Yang memiliki nama Kajal mendongak
"Maju !!"
__ADS_1
Kajal sudah berdiri didepan meja HRD. Sang HRD menyerahkan file milik Kajal "Maaf ya, Kami belum bisa menerima Anda. Dengan alasan, nilai dan pengalaman masih dibawa yang Kami inginkan" Bohongnya, padahal modus belaka
Kajal menerimanya dengan kecewa
"Madhu!!"
"Juhi !!"
"Nilam !!"
Semuanya dipanggil, termasuk Naraya yang terakhir
"Naraya Maheswari!!"
Naraya kedepan. Begitu kedepan, Sang HRD menatap Naraya dari atas sampai kebawah, hingga kembali kewajah "Cantik" Gumamnya membuat Naraya sedikit bingung
Tiba-tiba
"Selamat ya, Kamu diterima kerja disini"
"Benarkah Bu??"
"Iya"
-
Sementara ditempat lain
Kaki Dewa mengalami pembengkakan dan sedikit bengkok
Uang, ponsel, semuanya raib entah kemana
Sekarang, Dewa tinggal dirumah kecil dipinggir danau. Melihat pemandangan ini, Dewa teringat dengan istrinya "Nara. Kamu sedang apa sekarang? Apakah Kamu baik-baik saja, Sayang?"
Tiba-tiba gadis muda yang merawatnya datang membawa ramuan dari dedaunan yang ada dihutan
"Kamu dari mana?" Tanya Dewa pada gadis itu
"Aku mencari ramuan ini untukmu. Hari ini, Kau harus diurut kembali. Biar cepat berjalan seperti semula"
"Baiklah, lakukanlah"
Gadis itu menyibak sarung yang Ia pinjamkan pada Dewa
Kaki Dewa mulai terlihat mulus tidak seperti pertama kali gadis itu menemukan Dewa yang penuh dengan luka
Gadis itu mulai membalur kaki Dewa, sambil sedikit diurut.
Dewa menjerit-jerit karena kesakitan, tapi gadis itu seakan tega menyiksa kaki Dewa yang terasa sakit itu
"Sudah jangan menangis" Ucapnya sedikit mengejek
Dewa mengusap sudut matanya yang ada sedikit genangan air mata yang terhenti dipelupuk matanya
"Sekarang tidur, ya?" Gadis itu kembali menata bantal, dan juga menata Dewa agar lekas tidur
Setelah itu, Iapun memasang kelambu ditempat tidur Dewa, agar tidak ada nyamuk yang berani mendekatinya. Begitupun dengan tempat tidurnya
Setelah keduanya sudah merebah ditempat tidur masing-masing, Gadis itu menoleh ketempat tidur Dewa "Besok, sepertinya Kau sudah bisa berjalan lancar. Malam ini, Kau harus beristirahat"
Dewa menoleh, kemudian tersenyum
__ADS_1
BERSAMBUNG....