
Malam ini, Naraya sudah diboyong dan tinggal dirumah panggung
Sebelum kedua orang tua Dewa bertolak ke Jakarta, Mereka berencara untuk mengadakan resepsi yang akan diadakan di Jakarta setelah Naraya mengurus surat pengunduran diri, dan Dewa mengurus perkebunan yang ada dikampung sebelah
Naraya berdiri menatap lautan dari balik jendela
Dewa mendekati lalu memeluk Naraya dari belakang "Kenapa bengong" Tanya Dewa sembari memutar tubuh Naraya agar berbelok padanya
"Mas, langitnya gelap banget. Aku takut tinggal disini, Mas"
Secara perlahan Dewa mendekati Nara memeluknya memberi kenyamanan "Kenapa takut ? Hmm?" Ucapnya sembari mengusap bibir mungil Nara kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Naraya "Maheswari. Nama yang cantik. Sama seperti orangnya"
Cup
Serrrr
Jantung Nara seakan mau copot saat Dewa mengecupnya
Dewa juga ingin merasakan hal yang sempat ia rasakan ketika pertama kali bersentuhan dengan Nara. Dan hari ini, Dia ingin lebih
Dewa melepas kalung couple nya dari lehernya, dan juga melepas kalung milik Nara "Dulu Kau memang Istriku, tapi terlalu kecil untuk melayani suamimu. Dan Kau pasti menolakku jika Aku minta lebih. Bener kan, Mahes?" Kemudian kedua kalung tersebut Dewa letakkan diatas nakas
Mereka kembali bertatap
Nara mengabsen kedua netra suaminya, hingga ia menyelami dan masuk kedalam "Sepertinya Aku akan kabur, Mas. Kalau dulu Kita berdekatan seperti ini"
Dewa tersenyum "Oiya" Dewa kembali mengusap bibir istrinya kemudian menyesapnya "Mahes, buka mulutnya, balas sayang" Suaranya berganti menjadi serak
Dengan patuh Nara membukanya, kemudian meraih leher Dewa. Dan mengalungkan tangannya disana
Sekali lagi, Dewa merasakan gejolak hebat di dalam dirinya ketika bersentuhan dengan Nara
Mereka mengurai
"Mahes, kenapa tidak dari dulu Kita bersatu ya" Ucapnya sambil menatap wajah Nara dalam-dalam.
Nara pun membalas tatapan Dewa dengan lekat "Kita sudah bersatu Mas, tapi langsung berpisah" Nara tersenyum
Melihat senyuman manis Nara, lagi-lagi gejolak yang ada di dalam tubuhnya dirasakan kembali oleh Dewa. Ia seakan terpedaya dengan senyuman dari gadis itu
Dewa langsung membaringkan tubuh Nara di atas ranjang yang ada dirumah panggung itu
"Mas, Jendelanya belum ditutup. Nanti diintip sama orang" Tunjuk Nara pada jendela yang belum tertutup orden
Dewa bangkit dari atas tempat tidur dan melangkah mendekati jendela
Menutup kelambunya, dan juga mengecek pintu
Nara yang sudah tergeletak di atas kasur yang empuk itu, hanya bisa menyaksikan suaminya yang sibuk mengecek pintu dan jendela "Aman" Kata Dewa saat selesai menutup semuanya
Dewa kembali mendekati Nara dan naik ke atas kasur itu dan berbaring menindih Nara.
"Mahes...." Ucap Dewa sembari mengelus wajah Nara dengan lembut "Jika Aku tidak datang, apa Kau akan menungguku"
"Entahlah"
Ada jedah saat mereka sama-sama saling menyelami satu sama lain
"Bagaimana bisa Aku akan menunggumu, Aku bisa tua dan keriput jika kau tidak datang-datang"
Dewa tergelak mendengar ucapan istrinya yang jika benar jika dirinya tidak datang kekampung ini
Dewa manggut-manggut "Berarti Kita masih jodoh"
Kembali Dewa memberi sentuhan dibagaian wajah Nara kemudian bibir Dewa menyesap bibir Nara
Kali ini semakin buas
__ADS_1
Tangan Dewa sudah berani merayap diperut Nara. Dan masuk mencari buah mengkal yang masih terbungkus BH
Nara yang disentuh merasakan sengatan dimana-mana
ingin menolak, tapi dirinya juga penasaran dan butuh pada akhirnya
"Aku ingin menyentuh tubuhmu semuanya, Aku ingin merasakan semuanya yang lebih lagi denganmu. Mahes" Ucap Dewa sembari terus mengelus tubuh Nara
Nara mengangguk "He-em"
Saat Dewa sedang menikmati wajah cantik istrinya,
tiba-tiba
Tok tok tok
Suara pintu terdengar diketok
"Mas, suara apa, Mas"
Dewa yang sudah tersulut gairah tidak mendengar suara ketukan dari luar
Kembali Dewa sudah menurunkan resleting dan melepas celananya
Saat Dewa ingin mencari jalan masuk, ketukan kembali terdengar
"Mas, itu siapa yang ketuk-ketuk pintu"
"Bukan siapa-siapa" Ucapnya masih terus berusaha mencari jalan menuju syurga dunianya
"Akh !! Sakit Mas"
"Sabar sayang"
Pintu terdengar ada ketukan lagi. Dan kini ada suaranya
"Mas, lepas Mas, Aku takut"
"Jangan takut, Sayang ! Aku tidak akan berlaku kasar Padamu" Sahutnya sembari mencumbu kembali
"Tapi ..."
"Aku ingin memilikimu sepenuhnya, sayang" Sahutnya
Dewa yang sudah tak tahan lagi menahan gejolak gairah yang ada pada dirinya itu langsung menghentakkan rudalnya pelan-pelan
Meskipun pelan, Nara tetap menjerit sakit
Pintu kembali diketuk. Pada akhirnya Dewa mengalah "Sayang, istirahatlah. Didepan ada tamu yang kurang ajar"
"Apa mereka rentenir?"
Dewa melotot sambil berjalan kekamar mandi untuk membersihkan sedikit lendir yang memenuhi adik kecilnya yang samar-samar berwarna merah
Dewa kembali berdiri didepan Nara yang masih tergeletak diatas kasur yang sudah berselimut
"Mas"
"Masa rentenir. Kamu ngarangnya kejauhan"
"Gedor pintunya hampir copot. Aku aja takut"
Dewa membungkuk "Ya sudah. Istirahat ya. Mas akan keluar sebentar"
-
Satu jam lebih lima belas menit
__ADS_1
Dewa masuk kekamar kembali dan mendekati Nara yang sudah terlelap
Ada rasa senang jauh dilubuk hatinya. Sekarang Dewa tidak sendiri. Sudah ada teman hidup secantik Nara yang mampu menaklukkan hatinya
Dewa mulai menyesap bibir Nara kembali yang belum pernah terjamah oleh pria manapun
Nara membelalakkan kedua matanya lebar-lebar karena terkejut
"Ini Aku, suamimu" Ucapnya seakan tahu bahwa istrinya ketakutan takut salah orang
"Mas, ini masih jam berapa?"
"Kenapa?"
"Diluar terdengar masih banyak orang, itu"
Diluar memang ramai. Dan malam ini, angin sepertinya menerpa kekamar Dewa
Makanya, angin yang membawa suara itu terdengar sangat dekat dan ramai
"Jangan hiraukan keadaan luar. Para pekerja memang sengaja menjagaku disini"
"Oh, nanti kalau mereka butuh apa-apa bagaimana, Mas"
"Rosid. Kan ada Rosid"
Tok tok tok
"Mas. Lepasin Mas !" Pekik Nara saat mendengar pintu kamarnya diketok lagi. Namun rupanya sia-sia karena Dewa terus saja menindih dan ingin melakukan lagi apa yang sejak lama ingin Ia lakukan terhadap wanita.
Tok tok tok
"Mas, itu orang apa setan Mas" pekiknya dan terus mendorong Dewa agar menjauh darinya.
"Aku mengingankanmu!" Bisik Dewa
Lalu tiba-tiba ponsel Dewa berbunyi. Ternyata Rosid lagi
"Apa sih maunya" Kesal Dewa dan kembali beranjak
"Halo?" Sapa Dewa
"Maaf Juragan, Tamu dari desa Sari datang" Ucap Rosid dari balik telepon
"Kau pikir aku perduli, hah?" Ucapnya bersungut-sungut
"Mass" Suara Nara dengan lembutnya "Sabar"
"Maaf Juragan"
"Urus Kamu. Kayak nggak ngerti aja pengantin baru"
Klik
Sambungan terputus
Dewa kembali menindih Nara kembali
"Mass" Pekiknya saat tiba-tiba badannya merasa berat karena ditindih Dewa lagi
"Aku masih kangen"
"Nggak. Mas harus.. " Nara belum sempat menyelesaikan ucapannya, namun Dewa langsung mendaratkan ciumannya lagi pada bibir gadis itu
Kemudian "Ya sudah, tidurlah. Aku akan keluar"
BERSAMBUNG....
__ADS_1