
Beberapa bulan kemudian
Bayi cantik itu sekarang sudah menjadi primadona bagi anak-anak yang tinggal dipesisirl laut ini
Seperti siang ini
Anak-anak semuanya bermain di tepi laut
Ada yang bermain gundu. Ada pula yang bermain ayunan yang sengaja dibuatkan banyak dibawah pohon cemara belakang gazebo yang berderet disepanjang jalan rumah-rumah ini
Maya yang lucu, membuat semuanya ingin bergantian untuk mengajaknya
"Maya.. Gantian ikut Aku naik ayunan yuk" Ajak Puja Putrinya Muji yang masih duduk dibangku kelas 2 SD
"Maya juga sudah naik ayunan Mbak Puja. Kalau Maya ikut Mbak Puja, Maya takut jatuh" Suara Mina dibuat seperti suara anak bayi
Anak laki-laki yang selesai menyentil kelereng, iapun menyambangi Mina "Mbak Min, menghadap kesana" Tunjuk Rohid pada langit
Emmuaahh
Rohid mencium pipi gembul milik Maya
"Rohid !!! Bibirmu kotor. Kau nggak boleh cium-cium Maya!! Maya punyaku !!" Teriak Juna sambil mendorong Rohid tak terima
"Mamamu kan perutnya gede. Berarti Kamu ntar punya adik. Ngapain Maya diakuin juga. Sana, minta sama mamamu untuk ngeluarin adikmu dari perut. Jangan diumpetin mulu"
Gara-gara wanita, Rohid berani mendorong Juna
Juna langsung berlari menuju rumahnya "Mama!!!"
"Mama!!!"
Panggilannya belum terdengar oleh Naraya ataupun Dewa
"Mama!!"
Naraya terbangun dari tidur siangnya
Brakk
Pintu terbuka dari luar dengan keras
"Mama!!" Juna menghambur sambil menangis
"Loh, Juna kenapa menangis?"
"Juna ingin adik. adiknya perempuan, sama seperti Maya"
Naraya mengernyitkan dahi "Kalau adiknya laki-laki bagaimana?"
"Juna nggak mau. Juna benci Rohid"
"Loh loh, kok sampai di Rohid"
Tiba-tiba
"Ada apa ini"
Semuanya menoleh
Juna langsung berlari menuju orang yang baru masuk "Papa, Juna ingin adik. Kenapa adiknya ngumpet melulu" Tunjuk Juna pada perut Naraya
__ADS_1
Dewa mengusap pucuk kepala Putranya "Belum saatnya sayang"
"Kalau begitu, Maya dibawa kesini"
"Maya bukannya sama Kalian tadi?" Tanya Dewa heran
"Orang Juna ajak, Mbak Mina nggak bolehin" Juna menunduk sedih
"Ya kan Juna masih kecil, jadi masih di larang untuk memangku bayi"
"Sana, main lagi. Ada tamu nih"
Ternyata Dewa masuk keruma karena ada tamu
"Ayo, sayang. Ada tamu" Ucap Dewa lagi sambil menggiring Putranya agar keluar dan bergabung dengan teman-teman lainnya kembali
"Siapa Mas?" Naraya melongok
"Orang yang akan menjual tanah pada Kita"
"Siapa ?"
"Pak Kisut"
"Pak Kisut ?? Mau apa, tadi?"
"Mau jual tanah, katanya"
"Oh, tapi kan dua tahun lalu sudah teken kontrak. Kok di jual"
"Butuh dana katanya"
Pak Kisut ini salah satu pemilik tanah yang disewa oleh Dewa. 2 tahun kemarin baru teken kontrak, untuk memperpanjang sewanya 5 tahun kedepan. Berhubung Pak Kisut butuh dana, iapun lebih memilih menjualnya pada Dewa daripada menjualnya pada orang lain
-
Sementara dipesisir pantai
Anak-anak semuanya betah bermain pasir sampai sore
Sumi mendekati kerumunan anak-anak setelah sibuk didapur untuk menggoreng pisang kepok
Seperti biasa, jika Sumi selesai menggoreng aneka jajan, Sumi selalu menyisihkan dan membawakan makanan tersebut kepada Dewa. Dan sisanya, Sumi selalu menaruhnya di lemari besar penyimpan makanan samping gardu yang ada televisi besarnya
Sumi membawa gorengan pisang satu baki penuh "Pisang, pisang"
Anak-anak berlarian menuju kearah Sumi "Mau Mbak"
"Ini" Sumi menurunkan gorengan tersebut diatas meja yang terbuat dari kayu bakau yang dipaku pada kayu bakau lainnya agar tersusun rapih. Kemudian Sumi mengambil Maya dari Mina "Makasih ya, Min"
"Sama-sama, Mbak"
"Pisangnya ambil, ya Mbak?"
"Ambil, Min"
Maya sudah dalam gendongan ibunya "Mam.." Maya langsung memukul dada ibunya
"Mau enen, ya?"
Sepertinya ucapan Sumi benar. Karena Maya sudah mengunyel-unyel dada ibunya
__ADS_1
"Ya udah, Maya pulang dulu ya...?" Pamit Sumi pada anak-anak
"Ih, biarkan Maya disini, Mbak" Ucap Karan sambil mengunyah pisang goreng tepung yang disajikan Sumi barusan
"Mayanya haus. Lihat, Mayanya mau nangis kan?"
Anak-anak kecewa. Tapi mau bagaimana lagi
"Yaudah. Pisangnya habiskan yuk !!" Teriak bocah-bocah
Semua anak, meskipun kedua orang tuanya sibuk bekerja sampai sore, tetapi semuanya tidak ada yang mengusik
Pekerjaan orang tua sudah dibagi. Ada yang memasak. Para ibu yang tugasnya memasak, mereka tidak dibebankan untuk menyortir bunga ataupun memetik bunga. Karena Dewa juga membayar mereka yang kerjanya hanya memasak
Sumi ditemani Mak Parmi dan Mak Asih, mereka bertiga yang selalu sibuk memasak ini dan itu
Dibawah rumah dekat dapur, terdapat banyak bahan makanan yang dipetik para pekerja sebagai lumbung makanan. Ada singkong mentah, jagung yang masih didalam karung, ketela, segala macam pisang. Semuanya memenuhi lumbung. Terkecuali beras, gula, aneka tepung, minyak dan lain-lain. Semuanya disimpan diatas lumbung tadi. Dan sembako tersebut didatangkan dari kota.
Jika Naraya ikut kekota, dipastikan pulangnya membawa sembako yang melimpah. Beras apalagi. Belinya selalu kwintalan setiap minggunya. Belum lagi lauknya. Naraya selalu membeli ikan apapun dari nelayan yang sengaja membawa hasil tangkapannya untuk dijual pada Naraya setiap harinya. Bosan? Tak ada bosannya
Ketiga juru masak disini, semuanya ahli mengolah lauk agar semuanya tidak bosan
Apalagi disini banyak orang. Tak ada kata bosan. Sayur kangkung yang ada diparit belakang rumah mereka, jika disulap menjadi tumis yang lezat, semuanya habis tak tersisa
Aneka sayuran semuanya tersedia
Jika bukan yang memetik juru masak tadi, biasanya bapak-bapak yang akan memetiknya setelah selesai memetik bunga melati
Jika kebetulan bapak-bapak tadi sehari tidak bawa sayuran pulang, anak-anak yang disuruh untuk memetiknya
"Kacang Mak" Karan membawa kacang panjang satu ikat
"Dapat darimana?"
"Disuruh metikin sama Pak Pardi"
"Oh"
Kemudian Karan berlari lanjut bermain
"Daun ketela Mak" Rohid memberikan daun ketela seikat bersama kawannya membawa seikat juga
Mak Asih yang tidak menyuruh langsung bertanya pada anak-anak "Kamu metik sendiri apa disuruh?"
"Metik sendiri, Mak. Tapi kacangnya doang. Kacangnya udah panjang-panjang"
"La terus, daun ketelanya. Siapa yang petik?"
"Pak Pardi, Mak"
"Oh. Mau dibikin apa? Punya ide nggak Kalian?" Tanya Mak Asih
"Disayur Mak" Jawab bocah lain
"Di buatin sambel colek, Mak" Usul bocah lain lagi
"Oke. Pokoknya, jadi apa aja yang penting enak ya"
"Siap Mak Asih"
Mak Asih tersenyum
__ADS_1
Hidup dipesisir meskipun makan apa adanya, rasanya nikmat sekali. Apalagi semuanya saling melengkapi. Kebersamaan mereka tertanam baik, karena Dewa mengaturnya dengan bijaksana
BERSAMBUNG...