Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Debat


__ADS_3

"Iya. Semenjak ibu ditinggal Kamu, dan juga Bapakmu. Ibu berusaha mati-matian untuk mencari duit agar bisa menebusmu"


"Menebusku??" Nara menunjuk dirinya sendiri


"Iya. Menebusmu. Kenapa Kamu kaget" Bu Winda berdiri


Nara ikut berdiri "Bu"


"Biar Ibu jelaskan. Kamu duduklah"


Nara duduk kembali


"Dulu, Ibu pernah berhutang pada rentenir bereng sek itu untuk membeli pupuk dan juga obat semprot tanaman. Naasnya, setelah Ibu belanjakan obat dan juga pupuk, kembangan Ibu tenggelam dimalam hari, setelah sore harinya Ibu menyuruh orang untuk menyemprot dan memupuk kembangan Ibu. Malam itu badai besar, sangat besar, yaitu roob besar-besaran. Saat itu juga, Bapakmu mendengar berita itu diwarung, Bapakmu pulang dan langsung drop. Akhirnya, Bapakmu masuk kerumah sakit karena serangan jantung" Jelasnya menggebu-gebu


"Nara masih ingat, Bu. Bapak dibawa kerumah sakit, oleh tetangga kan?"


Bu Winda menatap Nara lekat "Tapi Kamu belum faham betul, Kamu masih kecil"


"Masih kecil tapi sudah menikah" Gumamnya


Bu Winda menatapnya senduh "Entahlah" Bu Winda menerawang kemasa lalu, kemudian menatap Putrinya kembali "Bagaimana kabarnya si Pit, ya?"


"Si Pit siapa, Bu?"


"Mertuamu. Fitri namanya. Tapi Ibu lupa, suamimu namanya siapa?"


"Terus, nasibku bagaimana, Bu?"


"Bagaimana yang mana ?"


"Bapak selalu melarangku untuk pacaran.."


Belum juga Nara meneruskan ucapannya, Bu Winda langsung mencondongkan tubuhnya pada Putrinya "Kenapa si bereng sek itu ikut cam..."


"Bapak punya nama ,Bu" Putus Nara


"Kau masih membelanya? Kau tahu, otak Pria tua bangka itu"


"Ibu juga sudah tua Bu..., Kenapa Ibu malah bilang Bapak tua bangka"


Bu Winda mulai gedek. Bisa-bisanya Putrinya membela situa bangka itu


"Heh... Lihat" Bu Winda berjalan dan masuk kekamar. Kemudian dengan cepat, Bu Winda kembali sambil menenteng kardus bekas magic com


"Apa itu, Bu"


Bu Winda tidak menjawabnya, tetapi menyobek lakban berwarna hitam, yang diduga untuk menutup kardus itu agar kardus tersebut tertutup sempurna


Tiba-tiba


Uang campuran warna-warni keluar dari kardus yang telah tersobek


Nara mengambil salah satu uang, yang diduga sudah tidak laku beberapa tahun lalu "Bu, bukankah uang ini sudah tidak laku?"


Bu Winda meraupnya lagi dan memasukkan uang berbagai nominal itu masuk kembali kedalam kardus "Ibu sengaja mengumpulkan uang ini. Mau laku ataupun tidak laku, Ibu nggak peduli. Yang penting Ibu bisa membayar hutang Ibu. Dan bisa menebusmu"


"Kenapa dari tadi Ibu terlihat marah dan ingin menebusku. sebenarnya Aku ini kenapa Bu?"


"Memangnya si tua bang... "


"Pak raden Bu, namanya"


"Iya. Raden patah" Bu Winda mempraktikkan mematahkan sebuah kayu dengan tangan kosong


"Raden Wijaya, Bu. Itu nama Bapak"


"Bodo !! Pokoknya, sampai kapanpun, Ibu tidak terima"


"Ibu tidak terimanya kenapa? Bapak salah apa Bu?"

__ADS_1


"Oh, rupanya si Raden menghasutmu. Bagus. Ibu akan jelaskan lagi segamblang-gamblangnya. Dari dulu sampai sekarang, Ibu ingin ngelunasin hutang Ibu dulu, yang sempat jatuh tempo sebelum Bapakmu tiada. Tetapi, si Raden itu mempersulit Ibu, untuk melunasi hutangnya Ibu, agar Ibu bisa secepatnya menebusmu"


"Oh, jadi Ibu hutang sama Bapak?"


"Raden !!'


"Iya Pak Raden. Terus"


"Ibu dipersulit. Katanya sampai kapanpun Ibu tak akan mampu menebusmu"


Sekarang Nara Faham "Memangnya Ibu hutang berapa?"


"Tiga juta"


"TIGA??!!!"


"Iya tiga. Kenapa Kamu melotot"


"Masa Bapak tega, Bu"


"Kamu ini gimana sih. Sudah sekarang mandi. Ntar malam Ibu ajak Kamu ke balai desa"


"Ngapain kesana, Bu"


"Para warga diundang, untuk pesta rakyat. Pak kades bilang, jika banjir reda, dan Juragan itu berhasil, rakyat akan diundang untuk makan-makan"


"Juragan?? Juragan siapa, Bu?"


"Juragan yang menyewah tanah Ibu. Ah sudahlah. Sana mandi, buruan"


"Nara nggak bawa baju, Bu. Makanya, Nara cari bapak, tadi"


"Nggak bawa baju kok cari Raden. Aneh Kamu"


"Maksud Nara, kalau Bapak masih disini, Nara minta dianterin pulang, Bu"


"Bu.."


"Raden sudah kasih ini" Bu Winda menyerahkan paper bag pada Nara


Nara menerima sambil membuka bag tersebut "Apa ini, Bu?"


"Mana Ibu, tahu. Kemarin Raden datang. Dan bilang, kasihkan. Nggak ngerti deh, kasihkan sama siapa"


"Mungkin buat Ibu" Nara memberikan bag itu lagi pada Ibunya


"Tidak mungkin. Ibu tahu, itu baju anak muda sepertimu"


"Baiklah, lebih baik Nara telpon Bapak dulu, ya Bu"


"Ndak perlu !!"


"ish, Ibu kenapa galak"


"Gara-gara laki-laki itu Ibu menjadi galak"


"Bapak, maksudnya?"


"Ya. Siapa lagi. Sudah mandi sana. Sudah hampir maghrib"


-


Nara sudah selesai mandi. Dan memakai baju yang barusan Ibunya kasih ke Nara


"Wah, Putriku sangat cantik" Sanjung Bu Winda saat melihat Putri kecilnya dulu, sekarang sudah menjadi gadis perawan


"Ah Ibu. Bu.." Panggilnya


Bu Winda menoleh

__ADS_1


"Nara masih penasaran, Bu. Kenapa Nara tinggal bersama Bapak. Apa yang terjadi sebenarnya"


Bu Winda kembali menjelaskan. Dan Nara sudah jelas


"Jadi, Nara diambil Bapak pada waktu itu seperti itu ?"


"Iya"


"Bu, ini rumah siapa. Sepertinya, Nara asing dengan rumah ini"


"Rumah orang. Ibu menempatinya gratis"


"Ibu tidak tahu siapa orangnya?"


"Tidak"


"Tidak?? Kok bisa. Ibu tidak takut ujung-ujungnya Ibu diusir"


"Diusir ya biarin Nduk"


-


Malam harinya


Keuletan Dewa patut diacungi jempol


Malam ini, akhirnya Dewa datang kebalai desa, menghadiri undangan pesta rakyat dari Pak kades


"Hallo Pak Krishna, silahkan, silahkan"


Dewa disambut bak seorang hero


-


Malam ini dibangku tamu, duduklah seorang gadis cantik yang tak lain adalah Nara


Nara datang bersama Ibunya dan seorang gadis lain yaitu Ria. Gadis manis yang selalu setia membantu pekerjaan Bu Winda, untuk mengantarkan pesanan orang ataupun membantu Ibu Winda menjahit dirumah


Saat mereka bertiga mengobrol sambil bersenda gurau, seorang Pemuda yang pernah ia temui dijalan, telah naik ke atas podium


"Selamat malam semua" Sapa suara empuk yang terdengar menggema ditelinga


'Suara itu?'


Nara mendongak menatap pada sumber suara


Nara melotot tak percaya "Bukannya itu, Pria yang pernah.. " Nara menutup mulutnya tak percaya


"Heh. Nduk" Tegur Ibunya


Nara mengabaikan teguran dari Ibunya. Pandangannya lurus kedepan, fokus pada Pria diatas podium "Ibu. Pria itu, Bu"


"Apa?"


"Lihat, Pria itu Bu. Dia Pria yang pernah memberikan tumpangan boncengan padaku, Bu"


"Hus. Kau sudah punya Suami. Ingat itu"


"Tapi Bu, Dewa tidak pernah datang kan?" Menjawab, namun matanya tetap fokus pada seseorang yang sempat membuat wajahnya merona


"Dewa..??? Namanya Dewa?"


"Yang Nara ingat ho-oh Bu. Menantu Ibu namanya Dewa. Nara masih ingat namanya Dewa siapa gitu, iya Dewa. Tapi Dia tidak datang kan Bu?"


'Gimana mau datang, alamat Ibu saja mereka tidak tahu'


Nara senyam-senyum menatap Pemuda yang pernah memboncengnya "Oh, jadi Dia seorang Juragan. Juragan Krishna, Kirain Juragan itu Bapak Bapak" Nara terkekeh sendirian "Bukannya, waktu kenalan, namanya Dewa, ya"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2