Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Bohong


__ADS_3

Selagi pekerja sedang sibuk, Dewa membawa mobil untuk keluar dari perkebunan


"Rosid, Kamu tidak usah ikut. Aku titip pekerja, Ya"


"Siap, Juragan"


Meskipun hal tersebut tidaklah mudah. Rosid ternyata mampu mengatur sana, dan mengatur sini


-


Siang itu, Dewa pergi ke bank, untuk mengambil uang yang akan Ia bagikan untuk membayar para pekerja setiap minggunya dimalam jum'at


Para pekerja sebagian ada yang telah memiliki rekening bank, ada pula yang tidak


Dewa telah mengambil uang beberapa puluh juta saja untuk memberi kasbon pada pekerja.


Sisa gajiannya lewat transfer dan tunai, diakhir bulan


-


Dewa pulang dan kembali lewat di jalan kecamatan, yang dulu pertama kali bertemu Nara


Ada rasa ragu untuk menunggunya, siapa tahu gadis itu nanti akan lewat


Tapi lama menunggu, Dewa akhirnya bosan sendiri dan pulang


Dewa masih penasaran, saat sekilas melihat rumah bagus yang selalu sepi seakan tak berpenghuni


Dengan tekad bulat, Dewa akhirnya menepikan mobilnya


Dewa keluar dari mobil dan berdiri didepan gerbang yang terkunci "Kok gemboknya ada diluar" Dewa masih memegang gembok yang menggantung diluar gerbang "Ini bocah belum pulang, apa gimana ya"


"Cari siapa Mas?" Tanya seseorang yang melintas, sambil menuntun sepedanya. Dewa tebak, Dia tetangganya


Dewa menoleh "Eng, Saya mencari penghuni sini, Pak. Mahes namanya. Apa Bapak kenal ?"


"Mahes?? Mahes siapa ya? Kayaknya, disini nggak ada Pemuda yang bernama Mahes"


"Bukan Mahes cowok, Pak. Tapi Cewek"


"Lah, mosok gadis kok namanya Mahesa. Salah orang kali, Mas"


'Wah, tertipu Aku rupanya' Gumam Dewa


"Apa Mas?" Tanya Bapak tadi yang akan menaiki sepedanya


"Ah, enggak Pak. Bocahnya berambut panjang, cantik. Kira-kira tingginya segini" Dewa mempraktikkan bahwa sigadis yang bernama Mahes, tingginya sedada


"Bocah apa gadis ini?" Tanya Bapak paruh baya tadi yang ikutan bingung


"Gadis, Pak. Kira-kira berusia 20 tahunan. Sepertinya baru pulang kerja atau kuliah deh waktu itu"


"Ah, pusing Mas. Bapak nggak ngerti. Mas nya kurang jelas informasinya, sih. Nama bocah sekarang kan panjang. Nggak pendek kayak dulu-dulu" Kemudian si Bapak ingin pergi begitu saja


Dewa mengejarnya "Eh Pak, Pak..."


Bapak itu turun kembali


"Lalu ini rumahnya siapa?" Tunjuk Dewa pada rumah gerbangan yang bergembok

__ADS_1


"Itu rumahnya Pak Raden, tapi sudah lama ditinggalkan. Hanya dibersihkan saja sama rewangnya, Mas"


"Oh... Terus pindahnya kemana, Pak? Apa Pak Raden itu memiliki anak gadis?"


"Pak Raden sih pindahnya digang lapangan sono ujung kampung desa sini. Dan satu lagi, Pak Raden duda tak beranak, karena anak gadisnya telah meninggal belasan tahun yang lalu karena kecelakaan"


"What !!!??" Dewa melotot kaget "Eh maaf. Meninggal karena kecelakaan??" Dewa langsung begidik ngeri


Bapak itu juga ikut merinding "Iya Mas. Sudah ya, Mas. Bapak mau ngajar les dulu. Takut anak-anak pada bubar" Kemudian Bapak yang menggunakan baju batikpun mulai menggoes sepedanya


-


Malam ini, Dewa benar-benar dibuat pusing dan tak percaya "Semalam, kenapa Gue nggak kejar si cewek itu, ya. Bodoh, bodoh" Dewa memukul kepalanya sendiri "Apa jangan-jangan, kabar yang katanya laut ini dijaga Dewi Lanjar, itu benar. Apa Dia jelmaannya ? Hiiih..." Bulu kuduk Dewa kembali meremang


"Juragan??" Panggil seseorang yaitu Rosid


Dewa terjingkat "Ngapain Kamu masuk nggak ketok pintu dulu, Sid ? Nggak sopan"


Rosid menelan ludah begitu susah "Saya ketok pintu itu sejak dari tadi, Juragan. Pintu itupun memang sudah terbuka dari tadi"


'Bahkan Aku lihat, Juragan sedang mukulin kepala. Apa Juragan stress duitnya terkuras?'


Rosid terus menatap Juragannya yang sedang gelimpungan diatas kasur


Dewa menoleh, kemudian duduk menghadap Rosid


Uang gepokan sudah Dewa persiapkan "Ini uangnya Sid, bagi sana"


"Kok tumben bukan Juragan yang kasih sendiri"


"Kepalaku pening Sid. Udah sana keluar. Bagi sana duitnya"


-


Pagi hari dihari jum'at


"Sid, Hari ini Aku akan ke Jakarta"


"Kok mendadak Juragan"


"Mami menelponku, suruh pulang dulu katanya"


"Tapi cuaca tidak mendukung, Juragan. Sebaiknya undur saja pulang ke Jakartanya"


Dewa menatap langit yang sangat pekat. Halilintar menggemah memecah cakrawala


"Ya sudah. Kalau tidak pulang besok ya, minggu"


"Baiklah" Rosid akan keluar


"Aku ingin istirahat, Sid. Tolong jangan ganggu"


Rosid mengangguk


-


Pagi hari dihari sabtu


Awan terlihat mendung di pagi ini, dan akhirnya hujan dan badai anginpun saling bersautan

__ADS_1


Seorang pria kaya raya yang tinggal di rumah panggung namun mewah, seakan malas untuk beraktifitas


Tok...Tok...Tok...


"Juragan !! Ada tamu untuk Anda, Juragan"


Dewa masih terdiam bersedekap, lengannya bertopang pada kusen jendela yang tertutup, namun tembus menatap laut


Lama tidak ada sautan, membuat Rosid dilanda bingung


"Beliau telah menunggu lama di bale-bale, Juragan" Ucap Rosid lagi


"Heeemmm !" Sahut Dewa yang masih belum menoleh


'Akhirnya menyaut, kirain kesambet'


Dewa bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi yang berada didalam rumah panggungnya itu untuk membersihkan diri


Tak lama berselang, Dewa pun keluar dari kamarnya dengan tampilan rapih "Siapa Sid ?"


"Katanya surprise, Juragan" Jawabannya konyol membuat Dewa ingin menjitak asistennya itu


"Mari Juragan, lewat sini saja"


Dewa mengikuti Rosid lewat jembatan gantung buatan dari papan, yang sengaja terhubung dengan bale-bale luas untuk menerima tamu jika ada tamu yang datang kemari


Dewa menuju ke bale-bale untuk menemui tamunya yang telah lama menunggu


"Selamat pagi, bujangku!" Ucap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik ini


"Pagi!" Sahut Dewa. Sedetik itu, Dewa dibuat terkejut akan kedatangan tamu yang tidak memberi kabar sebelumnya


"Mama.."


Mereka berdua saling berhambur dan saling memeluk, kemudian disusul oleh sang Papa"


"Apa jadwalku hari ini?" Tanya Dewa pada Rosid "Semua batalkan"


Rosid bingung 'Orang dari tadi juga tidak mau pusing kerja, sok sibuk didepan orang tuanya. Ck.. Ternyata Juragan anak bandel' Rosid geleng-geleng


"Hari ini akan ada pertemuan dengan Pak Camat ,Juragan" Bohong Rosid biar dosa, dosa sekalian


"Setelah itu akan ada pesta perjamuan di gedung hotel Sri Kandi malam nanti" Sambung Rosid bohong lagi


"Aku tak akan datang ke pesta jamuan itu!" Tolak Dewa


"Tapi Juragan, Saya telah menyediakan pasangan Anda untuk datang ke acara pesta itu" Ucap Rosid lagi. Tapi bohong


"Siap ya, Juragan?" Tanya Rosid lagi


"Batalkan, Aku bilang !" Tegas Dewa


"Dewa.." Ucap sang Mama menengahi


"Aku tak ingin dekat dengan wanita manapun, Ma" Tegas Dewa lagi


Mamanya menatap Dewa lekat "Maksudnya, Kamu sudah menemukan Nara. Gadis kecil yang telah Kau nikahi dulu, hmm?"


Rosid tambah bingung 'Ini keluarga apaan sih. Mosok Juragan yang tubuhnya jangkung, gede, nikahi bocah'

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2