Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Tengok Menengok


__ADS_3

Esok harinya


Hawa dingin khas esok hari ditepi pantai telah menembus dari selah-selah tembok yang terbuat dari papan kayu ini


Dewa menggeliat. Menarik badannya hingga bergemalatuk


Mata terbuka sempurna. Tetapi gadis yang semalam didekapnya menghilang entah kemana


Dewa meraba-raba kasur. Ternyata memang tidak ada siapapun


"Astaga, Mahes" Dewa bangkit dari kasurnya. Mencari istrinya dikamar mandi "Kosong" Dikolong meja "Kosong" Dalam lemari "Kosong juga. Kemana Dia"


Dewa segera memakai celana dan juga kaus lengan pendek. Karena terbiasa jendela kamarnya Ia buka ordennya, Dewapun membuka orden tersebut


Dari kejauhan, tampaklah seorang gadis yang sedang bermain sendirian ditepi pantai "Itu Mahes, kan?"


Dewa langsung bertolak dan berlari turun dari rumah secepat kilat menuju gadis yang akan menceburkan kakinya kelaut


"Mahes !!!" Teriaknya kencang karena takut istrinya bisa tenggelam jika tidak dicegah


Panggilan pertama tidak didengarkan gadis itu


Dewa terus berlari mendekati gadis itu. Tetapi siapa sangka. Ketakutannya berubah menjadi geli saat melihat istrinya malah tiduran disisi pantai


"Astaga, ngaget-ngagetin orang" Dewa akhirnya bersembunyi dibalik batu yang cukup besar, yang mampu menutupi tubuh besarnya


Dewa mengintip dan menggeleng "Sejak pagi menghilang rupanya cari kerang. Hadeeww" Dewa tepuk jidat


Saat Dewa ingin kembali fokus mengintip Istrinya, tiba-tiba Istrinya menghilang lagi dari bidikannya "Kemana lagi.. "


Belum ucapannya selesai, Ternyata gadis yang Ia tunggu sudah berlarian menuju rumah


Dewa kembali gusar


Bagaimana tidak. Baju yang Nara pakai adalah kemeja miliknya yang kedodoran ditubuh Nara


"Mahes!!!" Panggilnya sambil berteriak


Nara berhenti. Dan menoleh kebelakang "Mas Dewa" Pekiknya


Dewa berlari menghampiri "Bawa apa itu" Tunjuknya pada kresek berwarna hitam


Nara membukanya "Kerang"


"Kerang darimana" Dewa memintanya, kemudian meletakkannya diasal tempat


"Loh. Kok ditaruh disitu"


Dewa mengambilnya lagi dan memberikan lagi pada Nara "Ck. Pagi-pagi dah ngilang. Bikin jantung mau copot. Eh, ternyata cari sampah"


"Sampah gimana. Ini kalau dibuat sesuatu, mahal loh Mas harganya"


"Kalau kerangnya ada isinya, Aku baru bilang ini mahal. Ini kosongan. Penghuninya udah pergi. Yang mau beli siapa??"


"Dibuat kerajinan dong Mas. Baru deh, bisa dijual dengan harga tinggi"


"Ck. Siapa yang mau beli"


"Mas Dewa. Akan Aku paksa Mas Dewa untuk membelinya"


"Hadeww. Sudah masuk. Dilihatin Sumi sama Rosid itu"


"Mana?" Nara celingak-celinguk mencari Mereka berdua


"Itu didepan pintu" Tunjuk Dewa dengan dagunya


Terlihat memang benar. Bahwa Rosid dan istrinya sedang berdiri dipintu dapur. Sedangkan pekerja yang lain sudah sibuk ditengah perkebunan


Nara sudah siap akan berlari


"Eittt. Jangan masuk dulu. Kau kotor banget" Dewa sudah menarik krah baju Nara

__ADS_1


Dewa segera menggrujuk tubuh Nara yang terlihat kotor terkena pasir


Tangan Nara keatas "Mas, boleh Aku peluk??" Guraunya


Selang air itu sudah membasahi dan sedikit membersihkan tubuh Nara "Nggak ada. Nggak ada acara peluk-puluk. Sebentar"


Dewa masuk kerumah, dan dengan cepat, Iapun sudah keluar membawa handuk


Dewa menggulung istrinya dengan handuk "Bilas sana" Usirnya untuk masuk ke kamar


"Ish, jangan galak-galak"


"Masuk ah. Tuh, tubuhmu keliatan tu"


"Beneran?" Nara belum percaya


"Ya beneran. Buruan masuk"


Bersamaan Dewa berkata demikian, Narapun mengabsen keadaannya


"Haaaaaa" Nara langsung berlari cepat menuju kamar mandi


Dewa menggeleng-geleng


Begitu Nara keluar dari kamar mandi, Dewa dengan cepat membantu membungkus rambut Nara yang sudah basah "Tuh bajunya. Terus sarapan"


Nara tersenyum, dan mengambil baju yang dipilihkan untuknya "Mas, ini semua Kau yang membelinya?"


Dengan Cepat Nara sudah selesai memakainya.


Dewa berdiri didepan pintu mempersilahkan Sumi untuk menyiapkan sarapannya


"Iyalah. Memangnya Rosid. Mau, Kamu dibelikan baju sama, si Rosid?"


Baru saja Dewa menutup pintu, Nara sudah melompat dan menemplok dipunggung Dewa "Terima kasih suamiku, emmuuaah" Nara mencium pipi Dewa, kemudian tersenyum lebar


"Eh, sudah berani ya rupanya" Ucap Dewa sambil tersenyum


"Tapi Aku ingin memakanmu dulu"


"Ish, jangan begitu. Aku sudah lapar"


"Aku juga lapar"


"Tapi Aku nggak mau yang itu"


Dewa berhenti "kenapa?"


"Karena perutku yang lapar" Nara memeluk tubuh Dewa erat


Dewa berbalik dan mencium sekenanya


"Jadi, Kita mau makan diluar saja ini"


Nara mengangguk "He-em"


Dewa hanya menurutinya


Memutar tubuh Nara yang masih dalam gendongan "Oh... Baiklah. Buka pintunya"


Nara membuka pintunya "Uh.. Sejuknyaaaa. Turunin Aku Mas"


Dewa tidak menghiraukan. Ia justru berjalan keluar, kemudian menurunkan istrinya dikursi depan "Duduklah dengan diam. Nanti Aku ambilkan sarapannya"


Dengan cepat Dewa sudah memindahkan sarapan tadi ke meja depan


"Makasih Mas"


"Sama-sama. Ayo Kita sarapan"


Dibawah pohon mahoni yang rindang, angin pagi sayup-sayup menerpa wajah ayu Nara

__ADS_1


Dewa menyelipkan rambut Nara yang menjuntai keluar dari handuknya "Masih sakit?"


"Sakit??" Nara mengulang kata-kata itu karena belum faham


"Perih"


"Masih dikit" Setelah teringat kejadian semalam yang begitu gusar "Ih Mas, jangan ungkit-ungkit semalam. Malu ah"


"Kenapa musti malu. Aku dah lihat loh semuanya"


Nara cemberut "Mas. Jangan ngomong terus. Nanti ada orang yang denger. Malu"


"Nggak ada orang. Orang pada sibuk kok. Mereka juga tahu kali. Kalau Kita itu suami istri. Pasti tengok menengoklah judulnya"


-


Seminggu telah berlalu


Kebahagiaan Mereka juga sangat terlihat


Dewa sangat menyayangi Nara. Begitupun sebaliknya


Saat Dewa sedang bekerja didepan laptop, Nara tidak mengganggunya


Ia justru turun dari rumah dan berjalan-jalan mencari sesuatu


Setelah puas diluaran, Nara masuk kembali kerumah.


Terlihat Dewa masih sibuk didepan meja kerjanya


Karena merasa dicueki, Nara langsung memeluk tubuh Dewa dari belakang "Mas Dewa sibuk terus. Aku bosan tidak ada temannya"


Dewa menutup laptopnya. Kemudian meraih Nara agar terjatuh dipangkuannya


"Kau ingin seperti ini?" Sejurus itu Dewa mencumbunya gemas


"Hi hi" Nara terkikik geli


Tiba-tiba tangan Dewa begitu nakal. Kaus yang Nara pakai sudah tersingkap, dan sebelah buah itu keluar karena kenakalan Dewa


"Mass!" Pekik Nara


Tidak peduli Nara geli ataupun bagaimana. Dewa telah terusik


Akhirnya Dewa mengangkat Nara dengan mulut yang masih nyangkut didada Nara


"Akh, Mas" Desahnya sambil menjambak kepala Dewa


Brukkk


Dewa membawanya keatas tempat tidur


Pergulatanpun tak bisa dihindarkan. Akhirnya basah basah basah seluruh tubuh


"Aku mencintaimu, Mahes"


"He-em"


-


Sore harinya


Mereka berdua sudah kembali rapih dan keluar menuju ke rombongan yang biasa menyortir bunga melati


Bunga-bunga itu sudah siap di ketiga mobilnya. Dewa segera meminta kontak mobil pada Rosid


"Rosid, kontak"


Dengan bingung, Rosidpun memberikan kontak tersebut pada bosnya


"Hari ini, biar Aku yang mengantarkan barang ini. Kau boleh beristirahat"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2