
"Haha.. Kinerja Saya belum selesai, Pak. Justru belum terlihat dimata Saya. Kenapa sudah diadakan pesta"
"Jangan merendah seperti itu, Pak Krisna. Dikampung sebelah, mereka mengagungkan Anda. Anda seorang pahlawan. Anda sangat pantas untuk disebut sebagai Juragan. Anda telah berhasil menyelamatkan kampung ini. Daerah sini. Anda tahu Pak Krisna, para kepala desa tetangga, ingin bertemu dengan Anda"
"Untuk apa?"
"Untuk bertemu dengan pahlawan penyelamat banjir"
"Anda sangat berlebihan, Pak kades"
"Sungguh. Saya tidak bohong. Oiya, sumbangan bibit kayu jati telah datang. Kira-kira akan ditanam dimana?"
"Sumbangan?"
"Iya itu sumbangan dari desa"
Dewa terlihat diam sesaat "Lahan ini belum selesai pengerjaannya, Pak. Saya belum terfikir akan ditanam dimana bibit tersebut"
"Hmm"
Mereka berjalan menuju jalan utama perkebunan, yang sekarang terlihat rata dengan lahan berpermadani pasir
"Jalan kelaut jadi sama rata dengan kebun ya, Pak Krishna?" Akhirnya, kata tersebut terucap dari Pak kades
"Iya Pak, mau bagaimana lagi. Asal air laut tidak roob lagi, Saya rasa tidak masalah"
Pak kades manggut-manggut "Oiya, jalan ini sudah sangat rusak. Aspalnya sudah tak terlihat sama sekali"
Dewa manggut-manggut saja. Bukankah jalan ini termasuk urusan pemerintah
"Kami sudah menembus kepemerintah daerah soal jalan. Bulan depan, jalan ini akan diperbaiki"
"Hmm, iya Pak"
"Oiya. Coba, kira-kira pohon jati itu akan ditanam dimana, Pak Krishna? Sayang loh"
Dewa berfikir sejenak "Menurut Saya, sebaiknya ditanam dipinggiran jalan sini saja, Pak. Sepanjang kearah laut. Gimana menurut Pak kades?" Dewa meminta pertimbangan kepada kepala desanya
"Kok?? Nggak dilahan saja"
"Lahan ini milik warga, Pak. Mana mungkin waktu 5 tahun kayu ini bisa ditebang. Lebih baik ditanam dipinggir jalan saja. Dan itu akan menjadi pendapatan desa jika kelak tumbuhan itu ditebang"
Pak kades manggut-manggut
"Kami punya rencana ingin menanam pohon sengon saja, Pak" Sambung Dewa
"Oh, begitu"
"Ya, pohon itu cepat tinggi dan cepat panen. Bukankah Saya menyewah seluruh tanah ini dengan uang? Saya juga butuh uang kembali, Pak" Kelakarnya membuat semua orang tergelak bersamaan
"Disamping Anda kaya, Anda matre juga, Pak Krishna, hahaha"
Dewa ikut tertawa
"Ya sudah terserah Anda, Juragan Krishna" Ucap Pak kades sambil menepuk-nepuk pundak sang Juragan
Dewa tersenyum malu
"Jadi, fix nih, bibit jatinya mau ditanam disini saja?" Tanya Pak kades pada akhirnya
"Iya Pak. Suatu hari nanti, sepanjang jalan ini, akan terlihat cantik dan sejuk jika pohon jati itu tumbuh besar dipinggir jalan ini. Bukan begitu, Pak"
"Ya ya.." Jawabnya. Lalu "Pak..!! Pak... !!" Teriak Pak kades pada pekerja yang membawa bibit pohon jati diatas mobil bak yang belum diturunkan dari tadi
"Iya Pak kades"
"Turunkan semua bibitnya" Perintah Pak kades
__ADS_1
"Disini, Pak?"
"Iya disini"
Bibit mulai diturunkan dipinggir jalan
Sang kepala dusun mendekat "Sudah saya bilang apa Des, pasti Juragan tidak mau merepotkan" Bisik kadus desa pada kadesnya
"Saya kan hanya ikut berpartisipasi, Dus. Masa kadesnya tidak peduli sama orang yang menyelamatkan desa Kita"
Pak kades dan perangkatnya kembali fokus pada Dewa "Oiya, dulu disini tumbuhannya sangat rindang"
"Hmm"
"Semenjak terkena roob, semuanya mati"
"Memangnya, tumbuhan apa yang ditanam disini, Pak kades?" Tanya Dewa penasaran
"Pohon waruh. Tapi ya gitu, pada doyong kesana, doyong kemari" Pak kades mempraktikkan pohon itu menunduk kejalan, mendongak kekebun "Nggak rapih"
Ahaha
"Namanya juga waru doyong Des. Ya pasti doyong" Saut Kadus lagi
"Tapi Saya tidak faham pohon waruh itu semacam mana, Pak" Ucap Dewa kemudian
Semua perangkat desa mulai menoleh kesana kemari
"Nggak ada"
"Ho-oh. Mati semua, kayaknya"
"Ya sudah, nggak masalah. Jati lebih baik dari pada waru" Saut Pak kades kemudian
"Iya Pak. Yang penting jalan tidak gersang lagi, lebih indah jika ada penghijauan, kan?" Saut Dewa
Semuanya cair dan berkelakar dengan riang
-
Sementara ditempat lain
Nara bersama Pak Raden datang kekampung melati
Sepanjang perjalanan, Nara terdiam sambil mengingat-ingat daerah yang pernah menjadi kampung kelahirannya
Hati Pak Raden kembali mencelos, rasanya ingin menangis tapi tidak pantas
"Bapak.. " Panggil Nara
"Iya"
"Kenapa kampung ini sangat berbeda sekali, ya Pak?"
"Beda kenapa?"
"Sekarang rumah disini terlihat padat penduduk. Nara jadi asing dengan tempat ini"
-
Winda berbelok saat tahu yang datang adalah Raden "Mau apa Kau kemari?"
"Dengan tamu, Kau bicara membelakangiku? Tidak sopan"
"Untuk apa sopan padamu. Buang-buang waktu dan energi"
Tiba-tiba
__ADS_1
"Ibu...."
Winda langsung berbalik
Nara ingin berteriak melihat sosok ibunya yang sudah berubah tua
Winda masih terdiam. Ia masih berdiri ditempat, saat dirinya melihat seorang gadis yang sangat cantik berdiri disamping pria paruh baya yang Ia kenal sebagai rentenir
"Ibu... Ini Aku, Bu. Naraya. Naraya Maheswari"
"Naraya??? Naraku??" Tunjuk Winda pada dirinya sendiri sambil berkaca-kaca
Naraya mengangguk, matanya juga sudah memerah menahan tangis "Iya Bu, ini Nara. Mana Bapak, Bu?"
Winda menangis, kemudian menghambur memeluk Putri semata wayangnya "Bapak pergi meninggalkan kita, Nduk"
Saat Mereka berdua melepas rindu, Raden keluar dan pergi begitu saja tanpa pamit
Mereka berdua saling terurai "Bapakmu telah tiada Nduk" Ucapnya lagi
"Maksud Ibu?"
"Bapakmu meninggal"
"Innalilahi, kapan Bu ??" Tangis Nara pecah. Membuat Windapun kembali menangis
Mereka mengusap tangisnya yang telah lolos begitu saja
"Setelah seminggu kepergianmu" Jelasnya membuat Naraya berbelok mencari sosok Pak Raden
'Seminggu kepergianku?'
Nara berjalan mencari Pak Raden "Bapak mana Bu?"
"Sudah Ibu bilang, Bapak telah tiada. Seminggu setelah Kau dibawa oleh Pria bereng sek itu"
"Tidak Bu. Bapak tidak bereng sek. Bapak sayang sama Nara"
Winda terlihat bingung "Maksudnya??"
"Pak Raden tidak bereng sek, Bu. Bapak sayang pada Nara"
"Bohong" Winda tidak percaya "Rentenir itu pasti bikin kamu kena guna-guna"
"Astagfirullah... Istigfar Bu. Nggak boleh Ibu suudzon"
"Kenapa Kamu membelanya" Winda masuk kedapur tak terima. Kemudian membuatkan minuman untuk Nara "Minumlah, Kau pasti haus"
"Nara tidak haus, Bu. Kenapa Ibu terlihat membenci Bapak"
Winda memicingkan matanya
"Pak Raden, Bu" Jelas Nara
"Jangan sebut nama Dia didepan Ibu"
"Kenapa? Apa salah..."
"Cukup"
Belum juga Nara menjelaskan, Winda sudah meletup-letup emosinya
Nara terduduk. Ia menatap Ibunya yang berkalung meteran pita. Kemudian sang Ibu meletakkan kalung tersebut pada patung menaken yang berada disamping etalase
"Ibu sekarang jadi penjahit?" Tanya Nara kemudian
"Iya. Semenjak ibu ditinggal Kamu dan bapakmu" Winda melipat kain yang sedang Ia kerjakan milik Pelanggan "Ibu berusaha mati-matian untuk mencari duit agar bisa menebusmu"
__ADS_1
BERSAMBUNG......