
Malam ini, selagi Dewa dan Papanya masih berdiskusi diruang kerja. Narendra berhasil masuk kekamar Dewa
Narendra tersenyum licik "Akhirnya, akan Aku dapati juga milikmu, Dewa"
Narendra menatap Nara begitu menggoda. Apalagi gadis tersebut benar-benar cantik alami "Hidupmu benar-benar sempurna, Dewa. Uang berlimpah. Istri cantik. Karier melejit"
Narendra sudah melepas baju atasnya. Kemudian masuk kedalam selimut yang sudah ada Nara disana
Saat Narendra sedang berupaya melakukan tindakan pelecehan
sek sual terhadap Nara, tiba-tiba Dewa datang
"Siapa itu!!"
Narendra menoleh
"Rendra??" Dewa terkejut tak percaya
Dengan langkah cepat, Dewa langsung menyeret Narendra sebelum Narendra masuk kedalam selimut seutuhnya
"Rendra..!!! Apa yang Kau lakukan disini !!"
Teriakan Dewa membuat Ayah dan Ibunya hadir "Ada apa, De.. " Belum juga Bu Fitri dan Pak Yudha meneruskan ucapannya, bogeman mentah sudah mendarat diwajah Narendra
"Narendra?? Kenapa Kamu ada disini?!!!" Yudha sudah bersungut-sungut terhadap keponakannya yang kurang ajar masuk kekamar putranya
"Aa-Aku bisa jelasin.. "
Bugh bugh
Dewa marah dan terus memukuli Narender hingga penuh luka
"Mas Dewa.." Nara yang tidak tahu apa-apa hanya kebingungan. Nara turun lalu menubruk Bu Fitri "Ma, ada apa ini, kenapa ramai-ramai. Dia siapa?" Tunjuknya pada Narendra
"Bukannya menjawab pertanyaan menantunya. Bu Fitri justru bertanya "Kau tidak apa-apa?" Bu Fitri mengabsen Nara dari ujung kaki sampai kepala
Nara menggeleng dengan wajah bingung
-
Narendra pulang dengan wajah lebam, dan semuanya babak belur.
"Kau berantem lagi, Rendra??? Kamu belum kapok tiap malam berantem? Kerjaanmu selain teler, gonta-ganti wanita, tawuran, terus kerjaanmu yang bisa membanggakan orang tua itu apa, Rendra!! Gimana otakmu mau berfikir cerdas, jika kerjamu hanya bisanya mabok dan mabok lagi. Hmm?!! Menghamburkan uang, dan membonyokkan badan seperti ini. Itu yang Kamu banggakan? Iya!! Dasar otak udang !!"
Narendra bukannya marah-marah Dia malah tersenyum "Kali ini Ayah harus bangga padaku, yah" Ucapnya masih berwajah ke teler-teleran
"Bangga apanya? Yang dibanggakan apanya!!!?? Ngerentengin gadis-gadis malam?? Ingat penyakit menular mengancammu, Rendra!"
"Kenapa Ayah menasehatiku. Ayah sendiri, bukannya sama sepertiku" Ucapnya menantang
"Bia dap!!" Puri sudah menarik krah baju milik Rendra "Apa kamu bilang?! Kau menyamakan Ayah. Tahu darimana kamu"
"Ayah tidak usah tanya. Sekertaris Om Yudha juga Ayah embat kan? lalu, perempuan muda yang sedang hamil dan disimpan dikontrakan Pak Zakaria itu siapa?"
Bagaikan ditusuk tombak dari arah depan dan belakang. Rahasia yang Ia tutup rapat, akhirnya terbongkar juga oleh Anaknya
__ADS_1
Puri mati kutu. Kedua wanita yang dikencani Puri, sudah terendus oleh Putranya
"Kita sama, Ayah. Sama-sama penjajah kela min, ahahaha" Narendra tertawa terbahak-bahak kemudian ambruk diatas tempat tidur
Diam-diam, Puri punya rencana
-
Sementara di rumah Dewa
"Pagi ini, Aku harus ke lembang. Kau dirumah bareng Mama, ya ?"
"Apa, Mas Dewa perginya akan lama?"
Dewa merapihkan dasinya "Lusa sudah pulang. Kenapa? kangen?"
Nara bergelayut manja dilengan Dewa "Memangnya, Aku tidak boleh punya perasaan itu, terhadap suami sendiri?"
Dewa hanya tersenyum, kemudian merapihkan ujung kemeja
Nara berjalan mendekati jendela "Kalau boleh jujur, Aku tidak ingin Mas Dewa pergi. Mas Dewa tidak takut, jika orang yang masuk semalem akan datang lagi"
Dewa mendekati Nara "Mas yakin tidak. Karena didepan ada penjagaan. Dan Rendra, tidak akan berani masuk kesini"
Wajah Nara terlihat cemberut dan berubah rusak moodnya
Dewa memegang dagu Nara "Senyum dong. Jangan ditekuk seperti itu"
Nara tersenyum, meskipun terlihat dipasrahkan
Nara berbelok, kemudian tangannya mengalung keleher milik Dewa "Sebenarnya, Aku lebih nyaman tinggal dipesisir. Meskipun jauh dari kota, tapi orang-orang yang bekerja disana semuanya baik menyambutku, dan ramah terhadapku" Nara menunduk "Disini baru semalam tinggal, sudah ada orang yang kurang ajar masuk kekamar Kita" Nara mendongak "Mas Dewa, Mas Dewa tidak ingin mengajakku?"
Dewa mengusap wajah ayu Naraya "Sekali lagi, ini masalah pekerjaan. Papa dan Mama akan menjagamu. Mengajakmu, dan mengantarmu bila Kau ingin pergi keluar"
Nara menghela nafas, kemudian mengusap-usap dasi yang sudah terlilit sempurna dileher Dewa "Aku pasti akan merindukanmu, Mas"
Dewa mengangguk kemudian tersenyum "Baiklah, ayo Kita kebawah"
-
Mereka berempat bersarapan dengan hening
Nara terlihat tidak ada nafsu untuk bersarapan
Bu Fitri dan Pak Yudha saling tendang "Pa, sepertinya mantu Kita nggak doyan makan. Apa jangan-jangan lagi isi ya, Pa?" Berbisik sambil ngerumpi
"Bisa jadi iya, bisa juga belum, Ma"
-
Ditempat lain
Puri baru saja berkunjung dari rumah yang Ia kontrak untuk menemui wanita simpanannya yang telah berbadan dua
Anaknya susah diatur. Simpanannya hamil, warisan bukan haknya belum ditangan. Pusing. Fikirannya buntu
__ADS_1
Akhirnya, hasil dari fikirannya yang buntu, Puri menemukan ide.
Tidak ingin berlama-lama, Puri langsung menghubungi seorang preman, untuk menyewa jasanya agar membunuh Dewa
Setelah kesepakatan yang diambil deal, Puri menutup sambungannya
"Kau sudah kurang ajar pada Rendra, Dewa. Bukannya merangkul sepupumu, Kau justru menendangnya. Sekarang, akibat ulahmu. Kau akan menanggung akibatnya"
Puri tersenyum miring "Jika Kau sudah tidak menghormati Pamanmu, premanlah yang akan menghabisimu. Hahaha"
-
Ditengah perjalanan, didepan mobil Dewa ada sekelompok penjahat yang bertopeng seperti ninja menghadang dan menyuruh Dewa untuk turun
"Turun !!"
Dewa tadinya tidak ingin meladeni, tetapi saat tahu salah satu dari mereka ada yang Dewa kenal, akhirnya Dewa turun
Plok plok plok
"Punya nyali juga rupanya Kamu Dewa"
"Paman, ada apa ini"
Puri memberi perintah, agar seluruh preman membuka topengnya
Semua penjahat telah terbuka jelas wajahnya
Dewa menghafal wajah-wajah tersebut
Tiba-tiba ketika pada saat berada di tepi
jurang, Puri menonjok Dewa dengan serta merta "Itu. Itu bogeman dari anakku yang Kau tonjok kemarin"
"Angkat, pegang !!" Puri memberi perintah pada salah satu preman untuk memegang Dewa
Bug
Kembali, Puri melayangkan bogeman mentah lagi diwajah Dewa
Tonjokan kedua mengenai pelipis Dewa
"Itu. Itu karena rasa sakit hatiku yang lama terpendam terhadapmu. Dan juga Ayahmu. Kau ingin tahu apa penyebabnya?? Karena Kalian menguasai seluruh perusahaan. Dan Aku, Kalian buang seperti sampah"
Kemudian, Puri tanpa ampun menghajar Dewa tanpa belas kasihan
Mendengar semua itu, Dewa tersulut dan akhirnya, Dewa bisa melawan Puri, meskipun semua preman membantu
"Bunuh Dia!!" Seru Puri
Dewa kembali menerima lawan yang tidak seimbang, begitu Dewa didorong dan jatuh ke jurang, Puripun menggelundung kedalam jurang juga
"Akkkkkkkkkhhh!!!!"
BERSAMBUNG....
__ADS_1