Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Mantan Suamiku


__ADS_3

Setelah saling kikuk, mereka segera menetralkan suasana


Tidak mungkin keduanya malu-malu tak jelas dihadapan para tamu


Nyanyian ulang tahunpun senyap karena lilinnya sudah padam


"Sekarang, potong kuenya ya" Ucap Naraya sambil mengambilkan pisau pemotong kue


Tangan Juna memegang pisau pemotong kue, ditumpangi dengan tangan Naraya agar bisa memotong dengan rapih


"Tangan papanya sekalian dong. Pegang Pak tangan ibunya" Ucap fotografernya


"Harus??" Naraya dan Dewa langsung saling tatap


"Iya Pak, Bu"


Pada akhirnya, tangan mereka saling bersentuhan


Hangat, nyaman. Naraya merasakan kehangatan lagi setelah sekian lama tidak ada jawaban apapun


-


Malamnya


Juna sudah tertidur dipangkuan Naraya yang tengah duduk disofa, yang ada diruang tengah


"Mas"


Dewa menoleh


"Habis ini, Mas mau kemana?" Tanya Naraya memecah keheningan


"Cari angin. Siapa tau angin itu membawa jodoh untukku" Ucapnya sedikit memancing


"Mas" Pekik Naraya tak terima


Naraya menatap Dewa. Meliriknya "Beneran, Mas ingin mencari Ibu sambung untuk Juna?"


"Mau gimana lagi. 5 tahun sudah Aku jadi duda yang tak jelas"


"Belum ada 5 tahun Mas.."


"Hampir. Kurang dikit"


Naraya mengerucutkan bibirnya


Dewa meliriknya. Ingin sekali menariknya, dan menciumnya seperti dulu


"Apa, Ghani pernah menciummu?" Tanya Dewa tanpa sadar


Naraya menoleh "Mas. Kenapa sampai ke Mas Ghani"


"Kamu kan pernah menjadi istrinya"


"Mas cemburu?"


Dewa tersenyum miring "Pernah tidak? Tinggal jawab ya atau tidak. Itu saja yang ingin Aku dengar"


Naraya tersenyum tipis. Sangat tipis "Belum Mas. Mas Ghani belum pernah menciumku" Jelasnya tenang


Dewa menoleh lagi "Yakin??"


"Yakinlah. Aku kan yang merasakan. Ayo.. Mas Dewa cemburu ya..." Ledek Naraya


Dewa mengembikkan bibirnya "Mana ada cemburu. Memangnya Aku siapa?"


"Bapaknya Juna. Mantan suamiku"


Dewa berdiri, Naraya mendongak


"Ayo Juna, Kita pulang"


"Tapi ini sudah malam Mas" Naraya merengkuh Juna dalam pangkuan "Biarkan Juna nginep disini, Mas" Rengeknya menggemaskan. Tapi Dewa tidak ingin terpengaruh begitu saja


"Kalau Juna menangis, bagaimana?"


"Ya Mas Dewa nginep aja disini. Disini kan ada baju Mas Dewa" Naraya keceplosan


"Baju?? Baju apa? Baju kapan?"

__ADS_1


Ternyata, Naraya diam-diam menyimpan salah satu baju Dewa, yang ia suka untuk dibawa kemana-mana


Naraya menggeleng cepat "Angkat Juna kekamarku Mas. Aku sudah ngantuk"


"Aku juga sudah ngantuk"


"Ya sudah angkat. Ngapain berdiri aja"


Dewa mengambil Juna dari pangkuan Naraya. Tetapi, tak sengaja tangan Dewa menyentuh paha Naraya


"Mas" Pekiknya


"Nggak sengaja"


-


Di hari berikutnya, Dewa sudah tak pernah lagi merayunya atau mengirim pesan kepada Naraya


Naraya benar-benar kesal. Kemudian menghubungi Dewa lewat telepon "Mas, Aku ingin ketempatmu"


"Aku dijalan, Nara"


"Jemput Aku diklinik"


"Untuk apa? Aku nggak bisa"


"Mas!!"


Dewa langsung mematikan sambungannya


Kini, Naraya kalang kabut "Begini amat ya. Kemarin-kemarin menyebalkan. Sekarang jual mahal" Gerutunya terus mendengung hingga tanpa sadar, Dewa sudah berdiri diambang pintu


Naraya menatap sepatu fantopel pria yang ada didepannya, kemudian netra Naraya merangkak naik keatas mengikuti seseorang yang memakai sepatu tersebut "Mas Dewa" Pekiknya dengan tangan yang masih berkacak dipinggangnya


"Ada apa, ada masalah?" Tanyanya datar seperti disengaja


Tiba-tiba Naraya memberikan petisi kepada Dewa, untuk mengajukan ke pengadilan mengenai hak asuh anak.


"Kau mau merawat Juna? Mampu?" Tantang Dewa


"Mas!!" Naraya membanting pantatnya di sofa sambil bersedekap "Aku tidak rela jika Juna memiliki Ibu tiri"


"Jangan diam Mas. Kau pasti sudah mencari calon istri baru, yang akan Kau jadikan Ibu tiri untuk Juna kan?"


Dewa baru faham


"Baik, jika itu permasalahannya, Aku akan berusaha untuk mencari pendamping hidup, dan juga pengacara"


"Mas!! Beneran Mas akan mencari penggantiku? Mas tega ??" Naraya maju dan memukul dada Dewa dengan serta merta


Dewa menangkap tangan Naraya "Terus maumu apa?"


"Huhhhhh... Aku ingin mengambil Juna dari tangan Mas Dewa"


"Ambil-ambil aja. Tapi Juna mau nggak??"


"Mau nggak mau, Juna harus jatuh ditanganku"


"Silakan kalau bisa. Dan ingat, jika Juna sampai ditanganmu, Aku akan pulang ke Jakarta. Aku ingin kesana dan membuka lembaran baru"


"Mas" Mata Nara sudah berkaca-kaca "Mas akan tinggal selamanya dengan Mama, atau..." Naraya mengusap air matanya "Istri Mas Dewa?"


"Istri" Saut Dewa cepat


"Mas!!" Naraya kembali memukul Dewa sambil menangis "Mas tega, Mas tega ingin ninggalin Aku"


Dewa sengaja diam, padahal hatinya bersorak


Naraya mengusap air matanya lagi. Ia mundur satu langkah "Baiklah Mas" Naraya berbelok membelakangi Dewa


Tetapi tiba-tiba, tangan besar memeluknya dari belakang


"Mas Dewa" Pekik Naraya lalu berbelok


Dewa mengangguk tersenyum. Naraya tidak tahan ingin memeluknya juga


Tangan Dewa membentang "Aku ingin mengajakmu ke Jakarta, untuk meminta restu pada Mama"


Naraya mendongak. Sedetik itu, Naraya memeluk Dewa erat

__ADS_1


Naraya terisak


Dewa memeluknya tak kalah erat  


Kangen. Dewa sangat kangen dengan tubuh mungil milik istri kecilnya yang sekarang sudah bukan istrinya


Mereka mengurai kemudian kembali kikuk


Dewa mendekat, mengusap air mata Naraya "Baiklah, ayo ikut Aku. Kita izin dulu dengan Putra Kita"


Naraya menatapnya bingung


Dewa menoel hidung Naraya "Anak Kita sudah besar. Dia harus menjadi saksi dipernikahan Kita"


Naraya tersenyum "Nggak kekecilan Mas"


"Biarpun kecil, Dia sudah faham. Betapa kesepiannya dan nelangsanya kehidupan Bapaknya"


"Is" Naraya mencubit Dewa, dan berakhir kepelukan


Dewa memeluknya kembali "Sayang, Aku tidak tahan. Kau jangan menyenggolku terus"


Naraya mendorong Dewa "Yang meluk erat kan Mas Dewa. Kenapa Mas Dewa nyalahin Aku"


"Karena Kamu, pusakaku berdiri tau" Dewa terkekeh


"Mas" Naraya sudah terjingkat-jingkat seperti singgat (Ulat yang ada didalam buah) yang kepanasan


Dewa tertawa "Ya sudah, ayo Kita pulang" Dewa merangkul Naraya


"Pulang kemana?"


"Kerumahku dulu, baru ke Jakarta"


-


Dirumah Dewa


Juna merasa sedih karena harus ditinggalkan oleh Ayahnya.


"Papa, Kenapa Juna akan ditinggal?"


Tiba-tiba pintu terbuka dan kedatangan seseorang yang istimewa yaitu Naraya


Dewa sengaja masuk kedalam rumah, tetapi tidak membawa Naraya ikut serta


"Mama..." Juna menghambur


"Ada apa sayang?" Tanya Naraya sambil memeluk Putranya


"Papa akan ke Jakarta, ketempat Oma. Tapi Papa bilang tidak mengajak Juna. Juna tidak mau ditinggal"


"Kalau perginya kita bertiga, bagaimana?"


"Kita??" Mata Juna berbinar


Naraya dan Dewa mengangguk bersamaan


Seketika


"Horeeeee.. Kita ke Jakarta bersama" Juna bersorak


"Ya sudah, kalau begitu, Mama pulang sekarang, ya" Pamitnya


Juna menatap Ayahnya "Papa"


Naraya hendak pergi meninggalkan rumah


"Nara, sudah malam. Menginaplah disini" Ucap Dewa meminta agar Naraya untuk tinggal bersamanya


"Tapi Mas. Kita kan belum nikah"


"Besok Kita nikah"


"Mas, gampang amat"


"Kalau ditunda, Aku takut gagal"


Dengan terpaksa, Narayapun akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama Dewa dan juga Juna

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2