Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Mama... Aku Siap Kawin...


__ADS_3

Kedekatan Mereka kian terasa


Pak Raden seperti biasa, setiap paginya akan berangkat kepasar untuk membuka toko perabotnya


Tapi hari ini berbeda


Pak Raden sedikit males-malesan untuk berangkat kepasar


"Duduk Win" Pak Raden menepuk-nepuk sofa kosong yang ada disisinya


"Pa-an sih" Jawabnya ketus dan bersedekap


"Duduk, Win" Suruhnya lagi saat Winda terlihat malas dan berwajah cemberut


Winda duduk dengan kasar


"Wajahnya jangan ditekuk gitu. Aku ngelihatnya pusing, Win"


"Heh, pusang-pusing. Aku juga pusing lihat Situ masih dirumah"


"Makanya, amunisi dong, Win. Punyaku pusing, lihat" Tunjuknya pada pangkal paha yang sedikit terlihat mencuat dibalik celana jeansnya yang telah Pak Raden pakai


Winda menatapnya tajam "Ya Allah, ya rosul...!! Ini masih pagi !!! Situ nggak malu, ya"


"Malu sama siapa, Win. Kita kan suami istri"


"Ya suami istri. Tapi Aku terima Situ, demi Anakku. Terpaksa deh Aku menikah dengan rentenir"


"Aku sudah bukan rentenir lagi, Win"


Winda menatap


"Kamu nggak percaya?" Kini Pak Raden yang menatap Winda sambil memegang jemari Winda


Winda menggeleng ragu. Setelah sadar tangannya dipegang oleh Raden "Ini apa-an sih. Modus aja" Winda mengibaskan tangannya agar terlepas dari Raden


Raden tersenyum sambil bersandar di sofa "Ayo, dandan sana"


"Mau apa dandan"


"Ikut denganku"


"Ogah"


Raden mengeluarkan kalung dari sakunya "Kalung, Win"


"Situ ingin pamer?"


"Kamu sama Suami kok gitu, sih Win. Jika ingin kasih hadiah, bilangnya pamer. Dikit-dikit pamer"


"Lah iya kok"


"Yaudah deh. Sebaiknya dewa dilarang kemari. Aku menolak" Putus Raden biar tahu rasa


"Kok gitu"


"Kamu susah. Kuncinya ada pada Kamu. Kalau Kamu tolak Aku, Aku juga bisa tolak Dewa"


"Ya nggak bisa gitu dong"


"Makanya, layani Aku dong. Apa susahnya"


Winda berdiri dihadapan Raden "Sekarang??"


Raden mendongak "Iya. Masa tahun depan"


"Tapi nungging. Aku nggak mau lihat wajahnya Situ"


"Astaga, Win Win"


-


Jam 9 pagi Dewa sudah bertamu dirumah Nara


Tiba-tiba Pak Raden keluar dengan rambut klimis

__ADS_1


"Ehem" Sapa Pak Raden saat melintas diruang tamu ada tamu


Dewa langsung berdiri "Selamat siang, Pak" Ucap Dewa sambil menjabat tangan Pak Raden sembari membungkuk


Pak Raden menyambutnya mengangguk


Nara ikut berdiri "Kok Bapak masih ada dirumah, tumben"


Dewa dan Pak Raden sudah terurai


"Kirain Bapak dah berangkat tadi pagi" Masih Nara yang protes


"Tadi Bapak nggak enak badan" Jawab Pak Raden asal


"Nggak enak badan kok mandi. Keramas lagi"


"Kan biar pusingnya hilang Nduk"


Dewa yang masih berdiri sedikit geli dengar pertanyaan Nara


"Bapak nggak pernah mandi basah gini kalau lagi pusing loh"


Pak Raden hanya menggaruk pelipis yang tak gatel "Kan udah baikan Nduk"


Nara mendekat dan memegang baju Pak Raden "Terus ini udah rapih. Bapak mau kemana"


"Bapak mau kepasar. Mau cari duit. Biar bisa mantuin Kamu"


"Ish, Bapak" Nara tersenyum malu


Begitupun Dewa. Artinya, Dia sudah direstui 'Mama.... Aku siap kawin Ma.... ' Soraknya dalam hati


"Sendiri?" Masih Nara yang terkepo-kepo pada Bapak nya


"Iya. Suaib kan sudah ada disana"


-


Kabar kedekatan Dewa dan Nara juga sudah terdengar ditelinga Pak Yudha dan Bu Fitri


"Sabar dong Ma, lamar dulu baru nikah. Kalau buru-buru nikah, kesannya Mereka sudah hamil duluan"


"Itu menurut Papa. Kalau menurut Mama, Lebih cepat, lebih baik"


"Kita kan sudah tua Pa. Dewa juga sudah dewasa. Saatnya membina rumah tangga dan buatkan cucu untuk Kita. Kalau Dewa tidak nikah-nikah, kapan Kita akan menggendong cucu, Pa" Sambung Fitri pada akhirnya


"Ya ya. Terserah Mama"


-


Seminggu setelah Dewa berkunjung kerumah Nara, kedua orang tua Dewa datang berkunjung untuk mengadakan lamaran


"Win, Kita nggak usah kayak yang sudah-sudah ya. Aku maunya, hari ini lamaran, besok nikah"


"Kok cepet banget, Pit"


"Kok cepet gimana, sih. 12 tahun loh Win, Anakmu Kami gantung statusnya. Pokoknya besok nikah. Hari ini lamaran" Putus Fitri


"Yalah Pit. Terserah Kamu"


Mobil box yang membawa segala makanan sudah dibawa masuk kerumah Nara


"Pit, banyak banget makanannya Pit" Winda berdiri menyaksikan para pekerja Dewa membawa seserahan untuk Putrinya


"Bagi sama tetanggalah, Win. Ini kan kabar gembira"


"Paham lah, Pit. Aku pasti bagi sama tetangga"


"Yang dibagi makanannya saja. Seluruh sandang, itu untuk mantuku. Jangan dibagi"


"Iya-iya Pit"


-


Hari pernikahanpun tiba

__ADS_1


Nara sudah memakai kebaya berwarna putih pemberian Bu Fitri sang mertua. Sedangkan Dewa, menggunakan pakaian lengkap yaitu baju kemeja putih yang ditumpuk dengan jas berwarna hitam


Anggun dan gagah


Pak penghulu dan seluruh jajarannya sudah hadir di kediaman Pak Raden


Si penghulu mulai membaca arsip biodata sang mempelai


"Krishna Dewa Yudhayana bin Sandi Yudha. Betul?"


"Betul, Pak" Jawab Dewa


"Anda akan menikahi gadis..." Sipenghulu membaca usia pengantin yang terpaut lumayan banyak "Tujuh tahun. Kalian terpaut 7 tahun. Kalian kenal dimana?" Gurau Pak Penghulu


"Yo kenal dirumah to, Pak" Saut Winda


"Sebenarnya mereka sudah menikah sejak mereka masih kecil. Jadi ya, Kami nemunya dirumah orang tuanya hehe" Bu Fitri juga ikut komentar


Pak penghulu manggut-manggut, tetapi saat mendengar menikah masih kecil, Pak penghulu langsung berkomen "Oh, salah Bu. Masih kecil sudah dinikahin. Terus sekarang kok menikah lagi. Gimana ceritanya"


"Kami ingin melegalkan, Pak. Karena dulu hanya menikah Kyai"


"Waduh... Terpaksa nggak ini kayaknya"


"Nggak pak" Kini Dewa yang menjawab


"Ih, pengantinnya yang bales. Kayaknya yang nggak tahan cowoknya ini" Gurau sipenghulu lagi


"Saya yang mertuanya saja sudah nggak tahan, Pak"


Gerrrrr


Semuanya tertawa


"Ya sudah, Saya tanya sekali lagi. Sekarang gantian sama pengantin perempuan. Oh, iya Saya penasaran nih, masih kecil sudah menikah itu tidurnya gimana?"


"Pisah pak"


"Lah, rugi dong. Walah.... Berarti keduanya masih perjaka dan perawan?" Kini netra Pak penghulu berfokus pada kedua pengantin


"Iya, Pak masih bersegel"- Dewa


"Mas Dewa.." Nara mencubit lengan Dewa


"Eh eh eh, jangan main cubit-cubitan didepan Kami. Meskipun katanya kalian sudah menikah, waktu 12 tahun itu lama. Jika ini pernikahan sama-sama orang dewasa, itu Kalian sudah berpisah namanya. Karena tidak ada nafkah apapun"


"Nah, Naraya Meheswari bin Ali Dawam, sediahkah Kau menerima Krishna Dewa Yudhayana ini menjadi suamimu?" Sambung Pak penghulu


"Saya terima pak"


"Nggak ada paksaan berarti loya"


"Nggak ada"


"Baiklah Kita lanjut saja keacara inti. Krishna Dewa yudhayana.." Mereka berjabat tangan "Waduh tangannya dingin banget ini pengantinnya. Haha"


Setelah sedikit bergurau, akhirnya Mereka


Sah


Sah


Sah


"Alhamdulillah"?


Dewa menyelipkan cincin permata dijari manis sang istri. Begitupun Dengan Nara. Ia menyelipkan cincin yang terbuat dari perunggu untuk Dewa


"Kalung Kalian, ayo dipakai lagi" Ujar Bu Fitri


"Tapi Ma, ini kan emas" Tolak Dewa


"Nggak pa-pa nanti dilepas. Itu buat simbol saja, bahwa Kalian telah berjodoh sejak masih kecil"


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2